Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

YURISDIKSI ICC TERHADAP PENANGKAPAN BENJAMIN NETANYAHU DAN YOAV GALLANT PADA KONFLIK BERSENJATA ANTARA ISRAEL DAN PALESTINA Hadi, Ahmad Maula; Hazim Khabiri, Muhammad; Nelina Rahayu, Naswa
VARIA HUKUM Vol. 6 No. 2 (2024): VARIA HUKUM: Jurnal Forum Studi Hukum dan Kemasyarakatan
Publisher : Ilmu Hukum, Sharia and Law Faculty, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/vh.v6i2.43776

Abstract

Abstract The aim of this research is to analyze and discover war crimes and humanity that occurred in the armed conflict between Israel and Palestine, as well as analyze and discover the jurisdiction of the International Criminal Court which has issued arrest warrants for Benjamin Netanyahu and Yoav Gallant in this armed conflict. The method used in this research is a qualitative method with a normative juridical approach which examines research issues using various international legal instruments and doctrines from experts. The results of the analysis state that the war and humanitarian crimes that occurred in the Israeli and Palestinian conflict did not use and pay attention to restrictive legal instruments in international law, human rights principles, the ius cogen principle, and the Martens clause principle which prioritize the interests of peace, and prevent so that the conflict does not escalate further. The ICC as one of the institutions that has the authority to take action against perpetrators of international crimes has the opportunity to optimize its steps in making arrest warrants based on the 1998 Rome Statute, although it was found that the political element is still very strong considering that UN Security Council Resolutions are often "vetoed" by the United States which made effective steps towards the ICC facing obstacles, and solidarity from states party to the 1998 Rome Statute which was dichotomized by the refusal attitude of Hungary and Argentina, as well as the weak trend of international law as a law that has binding and coercive power against countries. Keywords: Jurisdiction, Arrest Warrant, International Criminal Court Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menemukan kejahatan perang dan kemanusiaan yang terjadi dalam konflik bersenjata antara Israel dan Palestina, serta menganalisis dan menemukan yurisdiksi International Criminal Court yang telah membuat surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant dalam konflik bersenjata tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif yang mengkaji isu penelitian menggunakan berbagai instrumen hukum internasional, dan doktrin-doktrin dari para ahli. Hasil analisis menyatakan bahwa kejahatan perang dan kemanusiaan yang terjadi dalam konflik Israel dan Palestina tidak menggunakan dan memperhatikan instrumen-instrumen hukum pembatasan dalam hukum internasional, prinsip hak asasi manusia, prinsip ius cogen, dan prinsip martens clause yang mengedepankan kepentingan-kepentingan perdamaian, dan mencegah agar eskalasi konflik tidak semakin meluas. ICC sebagai salah satu lembaga yang memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan terhadap pelaku kejahatan internasional memiliki peluang untuk mengoptimalisasi langkahnya yang telah membuat surat perintah penangkapan berdasarkan Statuta Roma 1998, meskipun ditemukan bahwa unsur politis masih sangat kental mengingat Resolusi Dewan Keamanan PBB yang sering di “veto” oleh Amerika Serikat yang membuat langkah efektif ICC menghadapi hambatan, dan solidaritas dari negara pihak Statuta Roma 1998 yang terdikotomi oleh sikap menolak dari Hungaria dan Argentina, serta lemahnya tren hukum internasional sebagai hukum yang memiliki daya ikat dan daya paksa terhadap negara-negara. Kata Kunci: Yurisdiksi, Surat Perintah Penangkapan, International Criminal Court
Hak Penghasilan Akun Konten Kreator Sebagai Harta Waris Dalam Persfektif Fikih Kontemporer Mutakin, Jeni; Hasana, Nurul; Hadi, Ahmad Maula
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i3.64073

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan ekonomi digital yang melahirkan bentuk kekayaan baru berupa pendapatan dari aktivitas konten kreator di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Facebook. Fenomena ini menimbulkan persoalan hukum baru dalam hukum Islam mengenai apakah penghasilan digital tersebut dapat dikategorikan sebagai harta waris yang sah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis status hukum penghasilan akun konten kreator sebagai harta waris dalam perspektif fikih kontemporer serta menjelaskan implikasi hukumnya bagi para ahli waris. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif yang bersumber pada literatur fikih klasik dan kontemporer, serta berbagai kajian ilmiah terkait harta digital dan kewarisan Islam. Data penelitian diperoleh melalui studi pustaka dan dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghasilan konten kreator memenuhi kriteria māl mutaqawwim, yaitu memiliki nilai ekonomi, kepemilikan yang jelas, manfaat yang nyata, serta diperoleh melalui cara yang halal selama konten yang dihasilkan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Oleh karena itu, penghasilan digital tersebut dapat dikategorikan sebagai tirkah yang wajib dibagikan kepada ahli waris sesuai ketentuan faraidh setelah dipenuhi kewajiban pewaris. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hukum Islam memiliki fleksibilitas dalam merespons perkembangan ekonomi digital dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan kemaslahatan.