Articles
Description of the Implementation of Pneumonia Diagnosis Coding Based on Education, Knowledge and Work Period of the Coder (Dr. M. Yunus Hospital Bengkulu)
Budiarti, Anggia;
Harmanto, Deno;
Ayu, Dinda
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 8 No. 2 (2023): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51851/jmis.v8i2.422
Coders are fully responsible for the accuracy of diagnosis coding, therefore officers must have good knowledge and high experience so that coding activities can be carried out well, based on a survey conducted by researchers at RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, pneumonia ranks 3rd out of the 10 most common illnesses in inpatients at RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, by checking the entry and exit sheets in the medical record files for those diagnosed with pneumonia, there were 11 diagnoses whose diagnosis codes were incorrect, which would hamper the claim process and would affect the quality of medical record services. The purpose of this research is to determine the knowledge and work experience of coders in carrying out codefication of pneumonia diagnoses at RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. The type of research carried out is descriptive research, namely describing the results of the data obtained. The research objects were 65 medical record files for pneumonia diagnosis and the research subjects were 5 coders. The method used is observation using a check list sheet and questionnaire sheet. Data collection uses secondary and primary data. Of the 65 medical record files for pneumonia diagnosis, 54 or (70%) had correct codes and 11 or (30%) had incorrect codes. 5 people or (100%) coders have worked for ≥3 years. 2 respondents or (40%) had good knowledge, and 3 people or (60%) officers had sufficient knowledge.
Gambaran Kejelasan Penulisan Diagnosa dan Keakuratan Kodefikasi Gangguan Sistem Cardiovasculer Berdasarkan ICD-10 Di Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu
Harmanto, Deno;
Budiarti, Anggia;
Sri Rahayu, Dinda
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kodefikasi diagnosis Gangguan Sistem Cardiovasculer sangat penting dilakukan secara tepat dan akurat, ketidakakuratan kode yang sering ditemukan pada berkas rekam medis seperti tidak jelas penulisan diagnosa bahkan tidak lengkap dokumen pendukung serta tidak ada kode karkter ke-4 pada diagnosa Hearth Filure. Jika kodefikasi tidak dilaksanakan dengan akurat akan berdampak pada kesalahan indeks pencatatan penyakit dan tindakan. Data informasi informasi laporan tidak akurat serta ketidaktepat tarif INA-CBG's. Penelitian ini bertujuan untuk Gambaran Kejelasan Penulisan Diagnosa dan Keakuratan Kodefikasi Gangguan Sistem CardiovasculerBerdasarkan ICD-10 Di Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu. Jenis penelitian adalah deskriptif data yang digunakan adalah data primer dan data skunder yang diolah secara univariat, cara pengumpulan data melalui wawancara dan observasional. Alat yang digunakan kuisioner dan lembar ceklis dengan pengamatan secara langsung dengan objek 176 berkas rekam medis diagnosa Hearth Filure. Dari 176 berkas rekam medis diagnosa Gangguan Sistem Cardiovasculer terdapat keakuratan kode berdasarkan ICD-10 sebagian besar 64 berkas (36%) yang akurat dan sebanyak 112 berkas (64%) tidak akurat, pada kejelasan penulisan diagnosa pada resume medis sebagian kecil 56 berkas (32%) jelas, tetapi sebagian besar 120 berkas (68%) tidak jelas. Sebaiknya petugas koder sebelum melaksanakan kodefikasi cek kelengkapan dokumen pendukung terlebih dahulu dan mengikuti pelatihan kodefikasi untuk menambah pemahaman tentang pelaksanaan klasifikasi dan kodefikasi penyakit.
Clarity of Diagnosis Writing and Accuracy of Coding in Heart Failure Based on ICD-10 at Hospital X: Kejelasan Penulisan Diagnosa dan Keakuratan Kodefikasi pada Heart Failure Berdasarkan ICD-10 di Rumah Sakit X
Harmanto, Deno;
Budiarti, Anggia;
Rahayu, Dinda Sri
Procedia of Engineering and Life Science Vol. 7 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Rakernas PORMIKI X
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21070/pels.v7i0.2098
It is very important to code the diagnosis of Heart Failure correctly and accurately, inaccuracies in codes are often found in medical record files such as unclear writing of the diagnosis or even incomplete supporting documents and the absence of a 4th character code in the diagnosis of Heart Failure. If coding is not carried out accurately, it will result in errors in disease recording indexes and actions, inaccurate report information data and inaccurate INA-CBG rates. The purpose of this study aims to determine the clarity of writing diagnoses and the accuracy of heart failure coding based on ICD-10 at Rafflesia Hospital, Bengkulu. The type of research is descriptive. The data used are primary data and secondary data which are processed univariately, data collection methods are through interviews and observation. The tool used is a checklist sheet with direct observation of 176 medical record files for the diagnosis of heart disease. Of the 176 medical record files for the diagnosis of Heart Failure, there is clarity in writing the diagnosis on the medical resume, a small number of 56 files (32%) are clear, but the majority of 120 files (68%) are unclear and the accuracy of codes based on ICD-10 is mostly 64 files (36% ) were accurate and as many as 112 files (64%) were inaccurate.
Factors Supporting the Accuracy of External Cause Codes Traffic Accident Injury Cases: Faktor Pendukung Keakuratan Kode External Cause Kasus Cedera Kecelakaan Lalu Lintas
Budiarti, Anggia;
Harmanto, Deno;
Rahayu, Dinda Sri
Procedia of Engineering and Life Science Vol. 7 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Rakernas PORMIKI X
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21070/pels.v7i0.2102
Injuries due to traffic accidents are one of the third largest causes of death in Indonesia after HIV/AIDS and TB. Based on WHO data (2015), injuries due to traffic accidents are the main cause of death and disability throughout the world, deaths due to traffic accidents worldwide amounted to 1.25 million in 2013. In Indonesia, injuries due to traffic accidents and deaths occurred has become a very serious problem (Djaja et al, 2016). Based on data from the Traffic Accident Unit of the Bengkulu Police Traffic Unit, in 2019 the number of traffic accidents recorded was 33 cases of serious injuries and 173 minor injuries (Munte et al, 2022). Implementation of external cause coding of traffic accident injury cases is very important to be done accurately, because the coding results external cause can be said to be accurate if it has the 4th and 5th characters. If coding is not carried out accurately it will have an impact on disease and action recording index errors, inaccurate report information data and inaccurate INA-CBG rates. all officers provide external cause coding and it is hoped that the head of the medical records unit will make a policy for filling in external cause codes.
EDUKASI PETUGAS TERKAIT KETEPATAN KODE DIAGNOSA OBTETRI DALAM MENDUKUNG KELANCARAN KLAIM BPJS DI RS.X
Heltiani, Nofri;
Budiarti, Anggia;
Agusianita, Agusianita
Indonesian Journal of Health Information Management Services Vol. 5 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Information Management Services (IJHIMS)
Publisher : APTIRMIKI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33560/ijhims.v5i1.131
Ketepatan kode tindakan memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran klaim dan menjadi dasar disetujuinya penagihan biaya oleh BPJS kepada Rumah Sakit, namun berkas klaim kasus obstetric RS.X Kota Bengkulu selalu mengalami pending setiap kali pengajuan klaim BPJS yang disebabkan mayoritas kode diagnosa tidak tepat. Hal ini disebabkan informasi koding (berkaitan dengan tindakan dan kode yang diinputkan tidak sesuai dengan aturan koding pada Surat Edaran BPJS Kesehatan 2023 dan Berita Acara Kesepakatan ketika verifikasi klaim oleh verifikator BPJS Kesehatan, yang berdampak terlambatnya proses pembayaran klaim sehingga menyebabkan kerugian material bagi Rumah Sakit. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi kepada petugas terkait pentingnya ketepatan kode diagnose obstetri dalam mendukung kelancaran klaim BPJS. Kegiatan ini menggunakan metode sosialisasi dan diskusi interaktif melalui tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanan dan tahap monitoring evaluasi dengan sasaran petugas casemix sebanyak 8 orang. Dari hasil evaluasi, diketahui bahwa pengetahuan petugas casmix sebelum dan sesudah diberikan sosialisasi meningkat menjadi 70%, dimana sebelum diberikan edukasi, rerata pretest sebesar 56 dan setelah diberikan edukasi rerata nilai posttest menjadi 95. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan petugas casemix dalam melakukan identifikasi penyebab tidak tepatnya kode diagnosa obstetri berdasarkan ICD 10 dan ICD-9CM serta INA-CBG’s.
Tracing Diabetes Mellitus Readmission Incidence Through Medical Records at Bhayangkara Hospital, Bengkulu
Budiarti, Anggia;
Heltiani, Nofri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 10 No. 1 (2025): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51851/jmis.v10i1.744
Readmission can occur for all diseases, including diabetes mellitus. A preliminary survey showed an increase in readmission rates over the past three years. If readmissions occur more than once within a 30-day period, and within a short period of time, the hospital cannot claim funding. The BPJS (Social Security Agency) claims payment system for healthcare services is based on a per-case payment within a predetermined timeframe of ≤30 days. If the time limit is exceeded, the hospital bears the costs. The purpose of this study was to determine the incidence of diabetes mellitus readmissions at Bhayangkara Hospital, Bengkulu. This study was a descriptive quantitative study, with 25 medical records of inpatient diabetes mellitus readmissions collected from January to December 2023 as the population and sample. The data used in this study were secondary data using observation sheets. The data were then processed and analyzed univariately using frequency distribution. The results of the study showed that the incidence of readmission of diabetes mellitus was 100% with the majority being 48% in the 56 - ≥65 years age group, 64% female gender and 52% family history of the disease.
Gambaran Pengelolaan Rekam Medis Tebal (Volumenious Bulky) di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu
Heltiani, Nofri;
Evendy, Nova;
Budiarti, Anggia
Jurnal Rekam Medis & Manajemen Infomasi Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Universitas Nasional Karangturi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53416/jurmik.v2i2.95
Rekam medis tebal (volumenious bulky) merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada penyimpanan dan penjajaran, diketahui terjadi peningkatan volumenious bulky setiap tahunnya ±10% dengan tingkat ketebalan yang berbeda antara 3,7 s.d 4,5 cm pada masing-masing rekam medis dengan kodisi map rekam medis yang mulai robek karena tidak mampu menopang isi rekam medis, hal ini disebabkan pasien gangguan jiwa sering kontrol rutin dan dirawat cukup lama, serta RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu belum memiliki standar ketebalan rekam medis sebagai pedoman untuk memisahkan volumenious bulky. Dampak yang terjadi apabila volumenious bulky tidak dipecah menjadi beberapa bagian dapat mengakibatkan kerusakan map dan riwayat penyakit pasien tercecer/tidak utuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengelolaan volumenious bulky di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 693 volumenious bulky dengan sampel sebanyak 87 yang diambil secara random sampling. Data yang digunakan adalah data primer dengan teknik pengumpulan data dilakukan secara observasi dan wawancara yang diolah secara univariat. Pengelolaan rekam medis tebal (volumenious bulky) di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu dilakukan dengan cara dipecah menjadi beberapa map rekam medis Bengkulu dan diberi identitas pasien (nama dan No.RM) yang sama dengan map sebelumnya akan tetapi tidak diberi keterangan volume/bagian pada map rekam medis sebanyak 62 (71,3%), penempatan volumenious bulky yang telah dipecah menjadi beberapa map rekam ditempatkan terpisah antara volume 1 dengan volume 2 sebanyak 78 (89,7%) dan penggunaan sarana pengganti (tracer) pada saat salah satu bagian volumenious bulky yang keluar dari rak penyimpanan sebanyak 61 (70,1%).
Kelengkapan Pengisian Formulir Informed Consent di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu
Gufran, Azmi;
Budiarti, Anggia
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 5 No. 2 (2020): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51851/jmis.v5i2.148
Sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 129/Menkes/Per/2008 tentang standarpelayanan minimal kelengkapan pengisian lembar informed consent adalah 100%, artinyapengisian dari setiap komponen pada variabel identitas berdasarkan studi pendahuluan diPuskesmas Betungan Kota Bengkulu didapatkan hasil analisis kelengkapan pengisianinformed consent tidak mencapai 100%. Diketahui Kelengkapan pengisian variabelidentifikasi dan autentikasi informed consent di Puskesmas Betungan Kota Bengkulu Tahun2017. Metode : Jenis penelitian adalah deskriptif, sampel dalam penelitian ini adalah 79lembar informed consent tindakan medis dan pengambilan sampel menggunakan sistemrandom sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian dari 79sampel yang diteliti didapatkan presentase ketidaklengkapan tertinggi pada variabelidentifikasi yaitu komponen nomor RM 80% dan terendah yaitu nama pasien 6%.Ketidaklengkapan tertinggi pada variabel autentikasi yaitu nama terang dokter 85%, danterendah yaitu TTD pasien 19%. Diharapkan kepada Puskesmas Betungan Kota Bengkuluuntuk memperhatikan kelengkapan pengisian formulir informed consent yang di isi olehdokter dan tenaga medis, dimana formulir informed consent yang disimpan dalam rekammedis dapat digunakan sebagai alat bukti dalam keabsahan masalah hukum. Sertamensosialisasikan kepada dokter dan tenaga medis ruangan tentang kelebgkapan, pengertiandan manfaat formulir informed consent yang terisi dengan lengkap sebagai perlindunganhukum terhadap diri sendiri dan puskesmas. Dan memberi sanksi bagi petugas yang mengisirekam medis dengan tidak lengkap dan tidak benar, seperti memberikan teguran, memberikansurat peringatan dari kepala puskesmas, diberikan sanksi sesuai dengan hukum kesehatan dankode etik profesi.
Gambaran Kelengkapan Engisian Lembar Ringkasan Masuk dan Keluar pada Berkas Rekam Medis Rawat Inap di RSUD Bengkulu Tengah
Nopriza, Eke;
Budiarti, Anggia
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 4 No. 1 (2019): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51851/jmis.v4i1.159
Lembar ringkasan masuk dan keluar memuat informasi tentang identitas pasien, prosedurmasuk, ringkasan riwayat keluar serta nama dan tanda tangan dokter. Ketidaklengkapanpengisian lembar ringkasan masuk dan keluar akan berpengaruh kepada mutu dan pelayanan.Menurut Permenkes RI No. 129 standar kelengkapan pengisian rekam medis yaitu 100%.Berdasarkan survei awal yang dilakukan di RSUD Bengkulu Tengah pada 5 Berkas didapatiketidaklnegkapan pengisian lembar ringkasan masuk dan keluar pada item – item. Diketahuikelengkapan pengisian pada lembar ringkasan masuk dan keluar padaberkas rekam medisrawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Bengkulu Tengah Tahun 2018. Jenis penelitianadalah deskriptif dan desain cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah berkas rekammedis rawat inap, teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Menggunakandata sekunder, diolah secara univariat. hasil analisis univariat dari 171 berkas rekam medisrawat inap pengisian lembar ringkasan masuk dan keluar 171 (100%) tidak lengkap, idetitaspasien 171 (100%) tidak lengkap, laporan penting 171 (100%) tidak lengkap, serta autentikasi102 (60%) tidak lengkap. Diharapkan tenaga rekam medis dapat mengadakan pengawasan,pengoreksian dan membuat standar operasional prosedur tentang pengisian rekam medis agarketidaklengkapan ringkasan masuk dan keluar tidak terjadi.
Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Komunikasi Petugas Pendaftaran Rawat Jalan Di RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu
Budiarti, Anggia;
Harmanto, Deno
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 7 No. 1 (2022): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51851/jmis.v7i1.320
Salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien adalah komunikasi, dalam hal ini jugatermasuk perilaku, tutur kata, keacuhan, senyum, sapa dan salam diawal pelayanan dan responpembicara kepada lawan bicara serta Kemudahan mendapatkan informasi dan komunikasi mendudukiperingkat yang tinggi dalam persepsi kepuasan pasien rumah sakit tidak larang walaupun pasienkeiuarga merasa outcome tak sesuai dengan harapannya,pasien/keluarga merasa cukup puas karenadilayani dengan sikap yang menghargai perasaan. Melihat gambaran tingkat kepuasan pasien terhadapkomunikasi pendaftaran rawat jalan Bengkulu. Penelitian mi merupakan penelitian deskriptif denganpendekatan cross sectional yaitu dengan cara pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu dengantujuan untuk mencari kepuasan pasien pada komunikasi petugas pendaftaran rawat jalan RSUD Dr.M. Yunus Bengkulu. Dari 20 responden diketahui 12 (60%) menyatakan cukup puas terhadapkepuasan pasien dan dan 20 responden diketahui 12 (60%) menyatakan komunikasi petugas cukupbaik dan komunikasi petugas cukup baik dalam penyampaiannya komunikasi yang di gunakankomunikasi 2 arah yaitu petugas dan pasien dan mendapatkan sedikit kendala dalam komunikasi yaitukebisingan