Pradnyandika, I Putu Krisna Ardhia
Laboratorium Bedah Dan Radiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemberian Jamu Daun Ashitaba pada Ayam Kampung Tidak Memengaruhi Respons Antibodi terhadap Flu Burung Subtipe H5N1 Pradnyandika, I Putu Krisna Ardhia; Sudira, I Wayan; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.604

Abstract

Flu burung (Avian Influenza) atau AI merupakan penyakit zoonosis berbahaya dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi. Pencegahan penyakit flu burung dilakukan dengan cara melakukan vaksinasi. Permasalahan di lapangan, tidak semua vaksin dapat menghasilkan titer antibodi yang tinggi akibat berbagai faktor. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebutadalah pemberian bahan yang mampu merangsang sistem imun (imunostimulator). Bahan alami yang mempunyai sifat sebagai imunostimulator adalah chalcone yang banyak terkandung pada tanaman ashitaba (Angelica keiskei). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian jamu daun ashitaba untuk meningkatkan titer antibodi pada ayam kampung pascavaksinasi flu burung. Penelitian ini menggunakan 25 ekor ayam kampung yang dibagi menjadi lima perlakuan yang terdiri dari: P0 (kontrol), P1 (50 mg/ekor/hari), P2 (100 mg/ekor/hari), P3 (200 mg/ekor/hari) dan P4 (400 mg/ekor/hari). Pemberian jamu daun ashitaba dilakukan satu kali sehari selama dua minggu. Pada hari ke-21 dilakukan vaksinasi dengan vaksin flu burung subtipe H5N1. Minggu ke-1, ke-2 dan ke-3 pascavaksinasi dilakukan pengambilan darah. Pemeriksaan titer antibodi flu burung dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Hasil penelitian menunjukkan rataan titer antibodi setiap perlakuan yaitu 2,4 HI log 2; 2,6 HI log 2; 3,8 HI log 2; 3,4 HI log 2; dan 1,8 HI log 2 yang artinya pemberian jamu daun ashitaba tidak dapat meningkatkan titer antibodi, sedangkan waktupengambilan darah berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan titer antibodi pada minggu ketiga pascavaksinasi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jamu daun ashitaba pada ayam kampung tidak meningkatkan titer antibodi flu burung subtipe H5N1.
External hysterectomy to treat uterine prolapse in a domestic cat Pradnyandika , I Putu Krisna Ardhia; Insanillahia , Yuniq; Wandia , I Nengah
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 2 (2025): ARSHI Veterinary Letters - May 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.2.39-40

Abstract

Prolaps uterus adalah eversi uterus melalui serviks ke dalam vagina. Ini adalah komplikasi pascapersalinan yang jarang terjadi pada kucing. Laporan ini bertujuan untuk menggambarkan presentasi klinis, diagnosis, dan penanganan bedah prolaps uterus. Seekor kucing domestik betina berusia 2 tahun datang dengan prolaps uterus bikornuata yang menonjol melalui vulva. Kucing tersebut memiliki riwayat melahirkan, dan prolaps terjadi segera setelah kelahiran anak kucing ketiga. Prolaps uterus diobati dengan histerektomi eksternal dan ovariektomi. Perawatan pascaoperasi termasuk pemberian antibiotik natrium sefotaksim dengan meloksika antiinflamasi. Satu minggu setelah operasi, kucing tersebut telah pulih sepenuhnya, dan tidak ada komplikasi yang dilaporkan.
SURGICAL TREATMENT OF SQUAMOUS CELL CARCINOMA IN A MALE CROSSBREED DOG Ni Ketut Vonny Vonny; I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Putu Krisna Ardhia Pradnyandika
Buletin Veteriner Udayana Bul. Vet. Udayana. June 2025 Vol. 17 No. 3
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2025.v17.i03.p23

Abstract

Squamous cell carcinoma is a non-melanoma malignant tumor originating from suprabasal epidermal keratinocyte cells. This tumor often occurs in elderly dogs in tropical countries due to ultraviolet radiation, viral infections, trauma, and immune status. The purpose of this article is to find out how to diagnose and treat squamous cell carcinoma cases in dogs. The case animal is a mixed breed dog, male, 10 years old, and weighs 21 kg. Clinical signs showed a lump with a solid consistency in the lateral left abdomen since 2 years. Based on the results of histopathological examination, the case dog was diagnosed with squamous cell carcinoma with a dubious prognosis. Treatment was carried out through surgical excision of tumor tissue, using general anesthesia with a combination of xylazine and ketamine with a total dose of xylazine 1.9 mg/kg BW and ketamine 9.5 mg/kg BW intravenously. Postoperatively, the dog was given cefotaxime antibiotic at a dose of 20 mg/kg BW intravenously (q12h) for 3 days and continued with oral cefixime antibiotic at a dose of 10 mg/kg BW (q12h) for 6 days. The dog was also given oral analgesic mefenamic acid at a dose of 10 mg/kg BW (q12h) for the first 3 days and continued with oral anti-inflammatory methylprednisolone at a dose of 0.4 mg/kg BW (q12h) for 6 days due to inflammation. On the 12th day, the surgical wound had healed as indicated by the skin had fused, was not swollen, the wound was dry, and the dog was actively moving. Further studies are needed on squamous cell carcinoma in dogs, and consideration should also be given to radiotherapy and/or chemotherapy to obtain better results.
SURGICAL MANAGEMENT OF FELINE CYSTOLITHIASIS: A CASE REPORT OF BLADDER STONE REMOVAL IN A PERSIAN CAT Dewa Ayu Sinthya Devi; I Putu Krisna Ardhia Pradnyandika; I Gusti Agung Gde Putra Pemayun
Buletin Veteriner Udayana Bul. Vet. Udayana. August 2025 Vol. 17 No. 4
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2025.v17.i04.p31

Abstract

Bladder calculi (cystolithiasis) may cause dysuria, pollakiuria, and hematuria in animals.  This case report aims to describe the diagnostic approach and therapeutic management of cystolithiasis in a feline patient.  A 3-year-old female Persian cat (3.17 kg) presenting with stranguries and hematuria was diagnosed via ultrasonography and radiography, revealing vesical calculi with a fausta prognosis. Surgical management through cystotomy was performed, followed by postoperative therapy including intravenous cefotaxime, subcutaneous meloxicam, and subsequent oral cefixime, meloxicam, and Kejibeling extract to prevent urolith recurrence.  Clinical improvement was observed within 8 days postoperatively, evidenced by normal micturition without hematuria or discomfort.  Combined surgical and medical intervention proved effective for resolving cystolithiasis in this case. Long-term monitoring and dietary modification are advised to minimize recurrence risk.
Laporan Kasus: Herniorafi Hernia Umbilikalis pada Anjing Ras Shih-Tzu Betina Umur Empat Bulan I Made Dharma Kusuma Wandira; I Putu Krisna Ardhia Pradnyandika; I Wayan Wirata
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i6.64720

Abstract

Hernia umbilikalis merupakan kondisi pada anjing yang ditandai oleh penonjolan dari lapisan perut, lemak perut atau Sebagian dari organ abdominal melalui daerah sekitar umbilikus (pusar). Secara umum disebabkan factor kongenital akibat dari penutupan cincin umbilical yang tidak lengkap setelah lahir. Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses diagnosis, penanganan, dan perawatan pascaoperasi hernia umbilikalis pada anjing Shih-Tzu betina berumur empat bulan. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan fisik, hematologi, dan radiografi. Tindakan bedah dilakukan menggunakan metode herniorafi di bawah anestesi umum dengan premedikasi atropine sulfate, serta induksi menggunakan ketamin dan xylazine. Kantong hernia dibuka, isinya direposisi ke dalam rongga abdomen, dan cincin hernia diinsisi untuk merangsang vaskularisasi. Penjahitan dilakukan dengan benang yang dapat diserap. Terapi pascaoperasi meliputi pemberian cefotaxime secara intravena dosis 20 mg/kg dua kali sehari selama 3 hari, dilanjutkan cefixime dosis 10 mg/kg per oral dua kali sehari selama 5 hari, serta meloxicam 0,5 mg/kg satu kali sehari selama 5 hari untuk mengatasi nyeri dan peradangan. Pada hari ke-7 pascaoperasi, anjing menunjukkan aktivitas meningkat, nafsu makan dan defekasi normal, serta luka operasi tampak mengering. Pada hari ke-10, luka telah sembuh total tanpa tanda peradangan.