Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Jurnal Artefak

POLITIK LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA PADA MASA KONFRONTASI INDONESIA-MALAYSIA TAHUN 1963-1966 Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 4, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.324 KB) | DOI: 10.25157/ja.v4i1.732

Abstract

Tindakan Indonesia dalam pengunduran diri sebagai anggota PBB pada tanggal 7 Januari 1965 ketika Malaysia dinyatakan menjadi anggota tidak tetap dewan keamanan PBB. Tujuan penulisan ini untuk menganalisi peristiwa terjadinya politik nuar negeri pada tahun 1963-1966. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Politik luar negeri Indonesia pada masa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia tahun 1963-1966 melenceng dari garis politik luar negeri bebas aktif. Namun jika dilihat dari sisi positif, tindakan Presiden Soekarno melakukan konfrontasi kepada Malaysia sangat tepat. Sesuai dengan garis kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, Indonesia tidak menghendaki negara tetangganya menjadi antek-antek negara kolonialis dan imperialis. Apabila sebuah negara di Asia Tenggara dapat dikuasai oleh kekuatan kolonialis dan imperialis, maka wilayah tersebut akan dijadikan basis bagi penyebaran pengaruh mereka dan bahkan penguasaan mereka atas bangsa-bangsa dan negara-negara di sekitarnya. Jika dilihat dari sisi negatif, konfrontasi ini telah menyebabkan bangsa Indonesia melenceng dari garis kebijakan politik luar negeri bebas dan aktif. Terbukti pada waktu itu Indonesia menyatakan keluar dari keanggotaan di PBB, dan setelah itu ada kesan bahwa bangsa Indonesia dikucilkan dari pergaulan dunia internasional. Selain itu pula, peristiwa konfrontasi Indonesia-Malaysia ini dimanfaatkan oleh PKI untuk kepentingannya mendekatkan negara Indonesia dengan negara-negara komunis seperti USSR, Korea Utara dan RRC.Indonesia's actions in resignation as a member of the United Nations on 7 January 1965 when Malaysia was declared a non-permanent member of the UN security council. The purpose of this paper is to analyze the occurrence of national politics in the year 1963-1966. This research method uses a historical approach. Indonesia's foreign policy during the Indonesian confrontation with Malaysia in 1963-1966 deviated from the line of active free foreign policy. However, if viewed from the positive side, the action of President Soekarno to confrontation to Malaysia is very appropriate. In accordance with the line of active foreign policy of Indonesia, Indonesia does not want its neighbors to be agents of the colonialist and imperialist countries. If a country in Southeast Asia can be dominated by colonialist and imperialist forces, then the region will serve as a basis for the spread of their influence and even their control over the surrounding nations and nations. If viewed from the negative side, this confrontation has caused the Indonesian nation deviated from the line of free and active foreign policy. Evident at that time Indonesia declared out of membership in the United Nations, and after that there is the impression that the Indonesian nation is ostracized from the international community. In addition, Indonesia-Malaysia confrontation event is utilized by the PKI for its interests to bring the country of Indonesia with the communist countries such as the USSR, North Korea, and the PRC.
"GALUH” DAN CIAMIS: SEBUAH TINJAUAN HISTORIS DAN FILOSOFIS DALAM URGENSI PERUBAHAN NAMA KABUPATEN Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 9, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.033 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i1.6981

Abstract

Panjangnya rentang waktu kekuasaan Galuh baik dimulai dari Kerajaan sampai ke Kabupaten menjadi perkara sulit untuk menentukan sejak kapan kita mesti mengubah nama Kabupaten Ciamis menjadi Galuh. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan empat tahapan kerja, yaitu, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Semenjak Kabupaten Galuh diubah menjadi Kabupaten Ciamis pada tanggal 12 Juni 1642 merupakan idiom negatif yang semestinya sudah kita tinggalkan. Bagaimana semangat bisa dihadirkan jika sampai saat ini kita menggunakan etimologi kata negatif untuk membangun sebuah peradaban yang sejak abad ke-7 berdiri tegak dan berkuasa hampir seribu tahun lebih. Aspek etimologi Galuh menjadi lebih baik dan positif dari berbagai segi, seperti aspek historis, filosofis, psikologis, sosial budaya, agama, ekonomi dan politik. Dengan diubahnya nama Kabupaten Ciamis menjadi Galuh sebaiknya tidak menggunakan landasan atau latar belakang yang salah atau tidak sesuai dengan kajian ilmiah dalam penelusuran sumber sejarah. The long span of Galuh's power from the Kingdom to the Regency is a difficult matter to determine since when we have to change the name of Ciamis Regency to Galuh. This study uses the historical method with four stages of work, namely, heuristics, criticism, interpretation and historiography. Since Galuh Regency was changed to Ciamis Regency on June 12, 1642, it is a negative idiom that we should have abandoned. How can the spirit be presented if until now we have used the etymology of negative words to build a civilization that since the 7th century has stood tall and reigned for almost a thousand years. The etymological aspects of Galuh have become better and more positive from various aspects, such as historical, philosophical, psychological, socio-cultural, religious, economic and political aspects. By changing the name of Ciamis Regency to Galuh, it is better not to use a base or background that is wrong or not in accordance with scientific studies in tracing historical sources.
EKSISTENSI MASYARAKAT ETNIK SUNDA DI DESA CIMRUTU KECAMATAN PATIMUAN KABUPATEN CILACAP Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 3, No 2 (2015): Agustus (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.909 KB) | DOI: 10.25157/ja.v3i2.1098

Abstract

Secara garis besar, hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : Keberadaan gerakan DI/TII yang bersifat radikal sedikit banyak telah membuat keresahan di kalangan warga masyarakat, khususnya wilayah Kecamatan Parigi. Hal inilah yang mendorong masyarakat Sunda dari Parigi bermigrasi ke Desa Cimrutu Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap sekitar tahun 1949-1950. Akibat pembauran antara masyarakat etnik Sunda dan suku Jawa, maka terjadi akulturasi, baik dalam hal bahasa, perkawinan antar suku, kesenian, dan bentuk-bentuk rumah. Manfaat yang hendak dicapai dari hasil penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang berarti bagi perkembangan sejarah lokal dan sejarah nasional, khususnya tentang sejarah sosial dan budaya. Selain itu, hasil penelitian diharapkan pula dapat dijadikan bahan informasi bagi para peneliti lain yang tertarik untuk mengkaji permasalahan ini lebih lanjut.Kata Kunci: Etnik Sunda dan Akulturasi BudayaABSTRACTBroadly speaking, the results of this study are as follows: The existence of motion DI / TII that are radical to some extent has made anxiety among residents, especially the District of Parigi. This has encouraged the Sundanese people migrated to the village of Parigi Cimrutu Patimuan District of Cilacap circa 1949-1950. As a result of mixing between ethnic communities Sundanese and Javanese, then there acculturation, both in terms of language, intermarriage, the arts, and other forms of home. The benefits to be achieved from the results of this study are expected to provide a meaningful contribution to the development of local history and national history, especially about the social and cultural history. In addition, the research is also expected to be used as information for other researchers who are interested to study this matter further.Keywords: Ethnic Sundanese and Acculturation
SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI PRIANGAN 1900-1942 Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 4, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.374 KB) | DOI: 10.25157/ja.v4i2.908

Abstract

Kebijakan pemerintah kolonial di Hindia Belanda (Indonesia) ketika memasuki awal abad ke-20 berubah. Diawali dengan kebijakan konservatif (kebijakan pemerintah kolonial sebelum tahun 1870, kemudian beralih ke kebijakan liberal (dengan menerapkan sistem politik pintu terbuka), dan terakhir kebijakan etis. Kebijakan politik etis ini didasari karena balas jasa dari hutang budi tanah jajahan Hindia Belanda yang telah membantu Negara induk (Belanda) secara ekonomi. Kebijakan pemerintah kolonial sebelumnya (politik etis) dinilai sangat merugikan penduduk pribumi, eksploitasi tanah dan tenaga diberlakukan ketika pemerintah kolonial masih menerapkan sistem konservatif atau tanam paksa (cultuurestelsel). Awal abad ke-20 tepatnya tahun 1902, Hindia Belanda resmi menerapkan sistem politik etis dengan memperbaharui tiga poin penting untuk kemajuan penduduk pribumi, tiga poin tersebut adalah: 1. Pendidikan, 2. Irigasi (perbaikan dalam sistem pertanian), 3. Emigrasi (perbaikan dalam masalah pemerataan penduduk). Semangat politik etis atau politik balas jasa oleh pemerintah kolonial di Hindia Belanda akhirnya melahirkan penduduk pribumi yang berpendidikan. Melalui Pendidikan, penduduk pribumi akhirnya mengetahui hal-hal yang dipelajari oleh orang-orang Belanda. Lebih jauhnya para penduduk pribumi yang berfikiran kritis akhirnya melahirkan satu kelas sosial baru di Hindia Belanda yang mengingkan sebuah kemerdekaan. Pentingnya perkembangan sejarah pendidikan pada masa politik etis ini menjadi sebuah dasar dari perubahan tatanan sosial di Hindia Belanda. Lahirnya kelas intelektual pribumi membuat perjuangan menuju kemerdekaan tidak lagi menggunakan segala bentuk kekerasan, angkat senjata dan peperangan. Perjuangan intelektual pribumi akhirnya berubah kedalam bidang politik dan pendidikan.
EKSISTENSI PEDAGANG ASONGAN DI LOKASI OBYEK WISATA PANTAI PANGANDARAN Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 2, No 2 (2014): Agustus (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.358 KB) | DOI: 10.25157/ja.v2i2.1067

Abstract

Hasil Penelitian ini secara garis besar dapat disimpulkan bahwa para pedagang asongan kebanyakan mereka berasal dari penduduk yang ada di sekitar wilayah pantai Pangandaran mereka tergabung dalam sebuah wadah yang bernama Paguyuban Pedagang Aksesoris Pangandaran (PPAP) dengan tujuan agar terjalin solidaritas diantara para pedagang asongan. Jenis dagangan yang mereka pasarkan bervariasi mulai dari oleh-oleh berupa souvenir ciri khas pantai Pangandaran, makanan yang sudah jadi sampai pada jenis-jenis ikan yang berasal dari laut. Melalui wadah PPAP (Paguyuban Pedagang Aksesoris Pangandaran) dan HPAP (Himpunan Pedagang Asin Pangandaran) telah memberikan kontribusi kesejahteraan bagi para pedagang asongan utamanya dalam pemberian modal untuk berdagang, sehingga mereka bisa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan anak-anaknya bersekolah. Keberadaan pedagang asongan telah meramaikan wilayah Pangandaran dengan menjajakan dagangannya kepada para wisatawan yang memerlukan oleh-oleh dari Pangandaran, mereka mendatangi para wisatawan utamanya ke penginapan dikala mereka sedang nyantai beristirahat sehingga terjalin hubungan baik diantara mereka. Pemerintah setempat berupaya menertibkan para pedagang asongan ini agar tertib tidak merusak suasana kenyamanan para wisatawan melalui penyuluhan yang insidental mereka lakukan. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan adanya upaya dari aparat pemerintah setempat agar memberikan bantuan rutin kepada PPAP dn HPAP serta melakukan penyuluhan secara rutin kepada para pedagang asongan agar mereka dalam menjajakan barang dagangannya secara baik dan membuat nyaman para pembeli dalam hal ini para wisatawan di Pangandaran.Kata Kunci: Pedagang Asongan, Paguyuban dan Sosial EkonomiABSTRACTThis research result marginally inferential that tradesmans asongan majority they come from citizen exist in around coast area Pangandaran they be  merged into a container that named accesories tradesman society Pangandaran with a purpose to so that intertwin solidarity between tradesmans asongan. Merchandise kind whom they market to vary to begin from souvenir shaped souvenir coast individuality Pangandaran, food that ready made come up with fish kinds that come from sea. Pass container Accesories Tradesman Society Pangandaran and Salty Tradesman Collection Pangandaran give welfare contribution to all tradesman asongan predominantly in capital gift to trade, so that they can earn life to fulfill family alive need and the children goes. Tradesman existence asongan enliven area pangandaran with peddle the merchandise to tourists that need souvenir from pangandaran, they are visiting tourists predominantly to when are they nyantai taking so that intertwining good connection between they. Local government copes to put in order tradesmans asongan this so that orderly doesn't botch freshment atmosphere tourists passes elucidation insidental they do. As to benefit from this research result is efforts existence supposed from local government apparatus so that give routine aid to ppap dn hpap with does elucidation routinely to tradesmans asongan so that they are in peddle the merchandise goods well and make pleasant purchases in this case tourists at Pangandaran.Keywords: Hawkers, Society and Social Economy
ANALISIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN WISATA SITUS GUNUNG MARAPI UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN EKONOMI MASYARAKAT (Studi Kasus di Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis) Wulan Sondarika; Yadi Kusmayadi; Dewi Ratih
Jurnal Artefak Vol 8, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.122 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i2.5944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan wisata situs Gunung Marapi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Populasi penelitian adalah pemerintahan Desa Tanjungsari. Hasil dari penelitian ini yaitu situs Gunung Marapi ini adalah situs bangunan keagamaan yang bersifat suci. Keberadaan situs memberi dampak positif dengan adanya perubahan yang besar dalam kehidupan masyarakat, baik itu dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang sosial. Dengan demikian, maka perlu dikembangkan karena memiliki potensi besar untuk wisata sejarah budaya. Dalam upaya pengembangan wisata situs Gunung Marapi perlu dikembangkan budaya lokal, home indutri, publikasi keindahan alam, pembuatan booklet, pembuatan iklan situs Gunung Marapi, penulisan sejarah situs.This study aims to analyze the potential for tourism development of Gunung Marapi site to improve the economic welfare of the community. The research population is the government of Tanjungsari Village. The result of this research is that the site of Gunung Marapi is a sacred religious building site. The existence of the site has a positive impact with major changes in people's lives, both in the economic and social fields. Thus, it needs to be developed because it has great potential for cultural history tourism with. In an effort to develop tourism on the Gunung Marapi site, it is necessary to develop local culture, home industry, publication of natural beauty, making booklets, making advertisements for Gunung Marapi sites, writing site history.
MOTIF RAGAM HIAS DAN NILAI-NILAI FILOSOFIS BATIK CIAMIS Herdiana Herdiana; Uung Runalan Soedarmo; Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.088 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3366

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motif ragam hias batik Ciamis dan Nilai filosofis batik Ciamisan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode historis yang terdiri dari empat tahapan yaitu, heuristik (pengumpulan sumber), kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini secara garis besar menunjukan bahwa motif ragam hias pada batik Ciamis mempunyai banyak yang merupakan hasil perpaduan serta pengaruh dari kebudayaan lain. Warna batik Ciamisan semula memiliki dua jenis warna yaitu, coklat soga dan hitam dengan dasarnya putih. Namun seiring perkembangannya batik Ciamis tampil dengan beragam warna. Dari segi coraknya batik Ciamisan dipengaruhi dari lingkungan alam sekitar Ciamis. Sementara nilai filosofis pada batiknya tampil dengan jiwa masyarakat Ciamis yang tenang, ramah dan tidak bergejolak. Sedangkan dari segi nilai filosofis serta corak dan motifnya terinspirasi dari tumbuhan, hewan-hewan yang berada disekitar Ciamis, kebudayaan serta yang berkaitan dengan sejarah Ciamis atau sejarah Galuh seperti Motif Ciungwanara, Motif Onom, Motif Lepan Kukupu, dan Motif Rereng Taleus.
SEJARAH RUNTUHNYA DINASTI MANTSU AWAL ABAD KE 20 Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 5, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.28 KB) | DOI: 10.25157/ja.v5i2.1938

Abstract

Hasil penelitian, sampai tahun 1912, Cina selalu diperintah oleh Dinasti (raja-raja dari satu keturunan). Dinasti yang terakhir berkuasa adalah Dinasti Mantsu dari Manchuria yang juga disebut Dinasti Ching (1644-1912) Maka dikalangan bangsa Cina, terutama golongan terpelajarnya timbul keinginan untuk membebaskan diri dari kekuasaan asing Manchu. Ketika pedagang-pedagang Eropa memasuki Asia, Cina pun berhubungan dagang dengan mereka diantaranya pedagang Inggris. Dalam perdagangan tersebut Inggris selalu mengalami kerugian sehingga untuk menutupinya Inggris menyelundupkan candu yang diperolehnya dari India. Setelah diketahuinya kegiatan Inggris sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa Cina, Kaisar Mantsu memerintahkan supaya pedagang candu dilarang. Akibat perbuatan kaisar tersebut menimbulkan kemarahan Inggris yang menimbulkan terjadinya perang candu. Kekalahan dalam perang tersebut memaksa Cina harus membayar ganti rugi dan membuka beberapa pelabuhan bagi Inggris juga bangsa Eropa lainnya, sehingga Cina terbagi atas beberapa daerah pengaruh yang dikuasai bangsa-bangsa Barat dengan tidak tunduk kepada hukum yang berlaku di Cina. Puncak perasaan tidak senang terhadap Dinasti Mantsu dan bangsa Barat semakin berkembang sehingga melahirkan perasaan nasional yang dipelopori oleh golongan terpelajar. Tokoh utama yang mempelopori lahirnya cita-cita nasional tersebut adalah Sun Yat Sen.AbstractThe results of the study, until 1912, China was always ruled by the Dynasty (kings of one country). The last dynasty in power was the Mantsu Dynasty of Manchuria which was also called the Ching Dynasty (1644-1912). So among the Chinese, most of the educated groups emerged because they could be shared by the Manchus themselves. When European traders launched Asia, China traded with British traders. In this trade, Britain always incurred losses so that it covered Britain with smuggling of opium obtained from India. After it was discovered that British activities were very challenging for the survival of the Chinese people, Emperor Mantsu could ask permission from traders. As a result of the emperor's behavior which led to British opposition which led to the rejection of war. The defeat in the Chinese war must pay compensation and be issued by several ports for Britain as well as Europeans so that China is divided into several regions controlled by Western nations without using applicable laws in China. The peak of unpleasant feelings towards the Mantsu Dynasty and the Western nation increasingly grew to accept national feelings pioneered by the educated class. The main character who pioneered the birth of the national ideals was Sun Yat-Sen.
EKSISTENSI PASAR WISATA DI LOKASI OBJEK WISATA PANGANDARAN KABUPATEN PANGANDARAN Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 3, No 1 (2015): Maret (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.271 KB) | DOI: 10.25157/ja.v3i1.1110

Abstract

Penelitian ini membahas tentang proses Perkembangan Pasar Wisata Di Objek Wisata Pangandaran Kabupaten dan dampaknya bagi masyararakat sekitar. Hasil penelitian ini bahwa Dampak perkembangan Pasar Wisata Di Objek Wisata Pangandaran bagi penduduk setempat disimpulkan sebagai berikut: Maraknya warung rmang-remang mulai dari tahun 2003 hingga sekarang justru memberikan image yang tidak baik bagi keberadaan Pasar Wisata. Banyak masyarakat setempat yang berjualan kerajinan, pakaian atau makanan dan minuman yang justru terganggu dengan keberadaan warung remang-remang ini. Image jelek bukan hanya terjadi pada masyarakat atau para pedagang yang ada di lokasi pasar wisata tetapi pada para pengunjung pun menjadi jelek pula. Banyak pengunjung yang enggan berbelanja ke Pasar Wisata karena mereka beranggapan bahwa tempat tersebut kurang baik dan merupakan tempat maksiat. Bukan itu saja, masyarakat setempat yang sengaja ingin berbelanja di Pasar Wisata juga suka menjadi gunjingan. Salah satu contoh konkret, seorang siswa pulang sekolah dengan masih menggunakan seragam sekolah masuk ke Pasar wisata untuk membeli aksesoris, ketika ada orang yang melihat mereka jalan di lokasi pasar wisata mereka menyangka bahwa siswa tersebut sedang “mencari mangsa” atau menganggap mereka sebagai “penjaja cinta”. Akibatnya siswa tersebut dipanggil oleh pihak sekolah karena ada laporan dari masyarakat. Image negatif inilah yang menghancurkan eksistensi para pedagang dan pengrajin yang mencari nafkah di tempat ini. Namun bagi para pemilik dan penghuni warung remang-remang ini adalah lahan usaha yang baik bagi mereka dalam mengais rezeki atau merupakan sumber pendapatan bagi keluarganya. Kontroversi ini sangat sulit diatasi. Satu sisi, keberadaan warung remang-remang yang makin marak dari mulai tahun 2006 membuat para pedagang dan pengrajin merasa dirugikan dengan menurunnya penghasilan mereka. Di sisi lain sebagai daerah wisata tentu hal ini akan terus berkembang. Keberadaan warung remang-remang juga merupakan salah satu daya tarik pengunjung wisata sesuai dengan motivasi mereka untuk sekedar menghilangkan penat. Kata Kunci : Pasar Wisata, Lokasi Objek Wisata Pangandaran.
Nilai-Nilai Filosofis Tradisi Ngabuku Taun di Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran Tahun 1948-2020 Estri Wida Yanti; Yadi Kusmayadi; Dewi Ratih
Jurnal Artefak Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i1.10069

Abstract

Tradisi Ngabuku Taun merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap setahun sekali pada awal bulan Muharram di Desa Cikalong, biasanya waktu pelaksanaan ditentukan oleh sesepuh adat dengan menggunakan sistem kalender abogé. Tradisi Ngabuku Taun adalah bentuk ungkapan rasa syukur kehadiran Alloh SWT yang telah melimpahkan rezeki.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik (ekstern dan intern), intepretasi, dan historiografi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Tradisi Ngabuku Taun sudah ada sejak zaman dulu hingga sekarang tidak ada perubahan dalam pelaksanaan, yaitu dimulai kepala desa pertama Pradjawidjajadiningrat atau yang dikenal dengan nama Eyang Dalem Sembah Dongkol. Namun, pada saat pandemi covid-19 ini dalam pelaksanaan tradisi Ngabuku Taun dengan mematuhi protokol kesehatan. Tradisi Ngabuku Taun ini tidak terlepas dengan lumbung persatuan. Lumbung ini didirikan bertujuan untuk ketahanan pangan masyarakat Cikalong di masa paceklik (gagal panen) serta untuk keperluan kepentingan bersama. Dalam tradisi Ngabuku Taun terdapat nilai-nilai filosofis diantaranya nilai religius nilai sosial nilai budaya, nilai historis, nilai pendidikan, dan nilai ekonomi.