Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Urgency of Institutional Development of Cassava Industry in Daerah Istimewa Yogyakarta and Jawa Tengah Maulida, Yuhan Farah; Subejo; Hardyastuti, Suhatmini
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 9 No. 2 (2021): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/9202133369

Abstract

The study shows that there was variation in the process of cassava-based food production. In Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) and Central Java, the farming systems were still subsistence oriented as the members still carried out traditional farming and worked without practicing intensive farming. However, the cassava-based food processing had already been commercially oriented. Some farmers have successfully collaborated with the larger cassava industry who were profit and commercially oriented. Some agribusiness units required specific varieties, but others opened to any varieties of cassava. The various arrangements have created different patterns of partnership. There were three types of business partnerships namely (1) growers and small-scale manufacturers; (2) partnership among growers, raw material processors, food manufacturers, and distributors or sellers; and (3) partnership among growers, small or large manufacturers and distributors or sellers. Among those three patterns, some enterprises had already performed a business-oriented processing method and quality assurance which requires best quality of raw cassava. This is resulted in a better selling price. Business partnerships can guarantee the sustainability of business relationships among business units. A better upstream-downstream relation needs to be developed to prevent the risks of raw materials supply.
Faktor Penentu Regenerasi Petani di Daerah Istimewa Yogyakarta Wati, Ratih Ineke; Maulida, Yuhan Farah; Subejo, Subejo
Jurnal Kawistara Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.95740

Abstract

Keberlanjutan sektor pertanian sangat tergantung pada keberhasilan dalam mempersiapkan regenerasi petani. Pada banyak negara berkembang termasuk Indonesia, secara umum sektor pertanian kurang populer karena generasi muda menilai sektor ini memiliki skala usaha sangat kecil, dijalankan secara konvensional, sulit memperoleh akses pembiayaan, lemah terhadap akses perlindungan, dan terbatas dalam layanan penyuluhan dan pendampingan. Namun demikian, usaha pertanian pada berbagai sub-sektor memiliki karakteristik yang berbeda yang nampaknya juga menjadi isu penting dalam proses regenerasi petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan faktor renerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengkajian fenomena regenerasi petani dilakukan di tiga komoditas yang berbeda, yaitu komoditas tanaman pangan, komoditas hortikultura, dan komoditas perkebunan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Responden merupakan petani muda di ketiga kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo. Hasil penelitian menujukkan bahwa tingkat regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta tergolong tinggi dan faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah umur petani muda, dukungan orang tua, dan dukungan pemuda tani lainnya. Faktor-faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah tingkat pendidikan, luas lahan, pendapatan, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), inisiatif bertani, dukungan pemerintah, dukungan kepemimpinan lokal, kepastian pasar dan harga, dan permodalan. Saran yang dapat dilakukan untuk mendorong regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah (1) pelibatan pemuda tani dalam pengambilan keputusan baik di tingkat kelompok tani hingga ke program pemerintah ataupun stakeholders eksternal lainnya; (2) adanya pendampingan melalui perkumpulan pemuda sehingga terjadi pertukaran informasi, pengalaman, motivasi dari petani senior kepada petani muda; dan (3) Orang tua sebaiknya sudah mulai melibatkan petani muda sejak dini untuk mengenalkan dan memberi bekal terkait kegiatan usaha pertanian.
Faktor Penentu Regenerasi Petani di Daerah Istimewa Yogyakarta Wati, Ratih Ineke; Maulida, Yuhan Farah; Subejo, Subejo
Jurnal Kawistara Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.95740

Abstract

Keberlanjutan sektor pertanian sangat tergantung pada keberhasilan dalam mempersiapkan regenerasi petani. Pada banyak negara berkembang termasuk Indonesia, secara umum sektor pertanian kurang populer karena generasi muda menilai sektor ini memiliki skala usaha sangat kecil, dijalankan secara konvensional, sulit memperoleh akses pembiayaan, lemah terhadap akses perlindungan, dan terbatas dalam layanan penyuluhan dan pendampingan. Namun demikian, usaha pertanian pada berbagai sub-sektor memiliki karakteristik yang berbeda yang nampaknya juga menjadi isu penting dalam proses regenerasi petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan faktor renerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengkajian fenomena regenerasi petani dilakukan di tiga komoditas yang berbeda, yaitu komoditas tanaman pangan, komoditas hortikultura, dan komoditas perkebunan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Responden merupakan petani muda di ketiga kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo. Hasil penelitian menujukkan bahwa tingkat regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta tergolong tinggi dan faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah umur petani muda, dukungan orang tua, dan dukungan pemuda tani lainnya. Faktor-faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah tingkat pendidikan, luas lahan, pendapatan, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), inisiatif bertani, dukungan pemerintah, dukungan kepemimpinan lokal, kepastian pasar dan harga, dan permodalan. Saran yang dapat dilakukan untuk mendorong regenerasi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah (1) pelibatan pemuda tani dalam pengambilan keputusan baik di tingkat kelompok tani hingga ke program pemerintah ataupun stakeholders eksternal lainnya; (2) adanya pendampingan melalui perkumpulan pemuda sehingga terjadi pertukaran informasi, pengalaman, motivasi dari petani senior kepada petani muda; dan (3) Orang tua sebaiknya sudah mulai melibatkan petani muda sejak dini untuk mengenalkan dan memberi bekal terkait kegiatan usaha pertanian.