World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa TB Paru menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia. Secara Global kasus baru TB Paru sebesar 6,4 juta atau setara dengan 64%. Hasil laporan Kementerian Kesehatan RI memperlihatkan terjadinya peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2014-2023 sebesar 45-55%, dan kematian anak akibat TB Paru diperkirakan mencapai 17%. Pengobatan TB Paru tahun 2006-2022 belum memenuhi target yang diinginkan Kementerian Kesehatan (Target SR 90%). Penelitian ini merupakan analisis studi data Riskesdas tahun 2018, dilakukan pada bulan Januari-Februari dengan pendekatan kuantitatif desain studi Cross Sectional, menggunakan analisis univariat dan bivariat. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 105.163 jiwa usia 5-9 Tahun. Dengan sampel dalam penelitian ini sebanyak 399 responden yang diambil dengan random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat (p-value 0,000), perilaku merokok (p-value 0,000), kontak serumah (p-value 0,000), aktivitas fisik berat (p-value 0,000), pencahayaan rumah (P-value 0,009), dan akses fasilitas Kesehatan (p-value 0,000) dengan kejadian TB Paru anak. Serta tidak ada berhubungan yang signifikan pada pendidikan orang tua (p-value 0,875), pekerjaan orang tua (p-value 0,743), ventilasi rumah (p-value 0,133), dan kebiasaan membuka jendela (p-value 0,496) dengan kejadian TB Paru Anak. Bagi instansi kesehatan di setiap daerah agar dapat meningkatkan promosi kesehatan melalui media sosial, iklan-iklan menarik di berbagai platform media sosial, website jurnal kesehatan, dan artikel kesehatan yang mudah diakses bagi masyarakat agar dapat meningkatkan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat mengenai penyakit menular TB Paru.