Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Bil Hikmah

Pragmatik dan Hermeneutik sebagai Kerangka Analisis Komunikasi Politik dalam Organisasi Islam Azizi, Muhammad Hildan
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 3 No 2 (2025)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v3i2.71

Abstract

Kajian pragmatika dan hermeneutika yang kompleks perlu didudukkan dengan tepat agar kerangka keterampilan analisis komunikasi politik pada organisasi keislaman dapat diterapkan secara tepat dan cepat. Studi ini bertujuan mendudukkan kedua perangkat ilmu itu dengan menganalisis kasus pidato Ahok (2017) dan Abdullah bin Ubay (Ekspedisi Musthaliq). Berdasarkan metode kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini mengkaji pendapat ahli linguistik dan ahli komunikasi dalam memaknai teks politik yang didapatkan datanya dari salinan putusan pengadilan di website Mahkamah Agung dan artikel jurnal ilmiah nasional. Temuan menunjukkan bahwa pragmatika efektif mengidentifikasi tindak tutur terselubung seperti kampanye atau provokasi, sementara hermeneutika membantu memahami konteks di balik teks. Namun, kedua pendekatan memiliki kelemahan: analisis fragmen teks (hermeneutika) berisiko mengabaikan keseluruhan pesan, sedangkan pragmatika sering gagal mengaitkan tuturan dengan strategi politik. Studi ini menekankan pentingnya integrasi kedua pendekatan secara interdisipliner dengan teori kekuasaan untuk mengungkap relasi bahasa, konteks, dan agenda politik.
Kesantunan Berbahasa Perspektif Islam: Tinjauan Teoritis Azizi, Muhammad Hildan
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 1 No 1 (2023)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/hikmah.v1i01.2

Abstract

Masih terdapat kritik atas ragam prinsip kesantunan berbahasa yang dikaji oleh ilmuwan Barat sehingga ilmuwan Islam mencoba menawarkan alternatif baru prinsip kesantunan berdasarkan Al-Qur'an. Namun ternyata kajian itu masih bersifat uraian saja, belum terdapat kejelasan hubungan-kedudukan antarprinsip kesantunan yang diproposisikan. Juga paradigma yang mendasari prinsip-prinsip itu masih belum terjelaskan. Sehingga standar santun/tidaknya suatu bahasa masih sulit didefinisikan dan diterapkan dalam dakwah atau komunikasi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menjelaskan paradigma yang mendasari teori kesantunan berbahasa perspektif Islam serta menjelaskan kedudukan dan hubungan antarprinsip kesantunan itu agar tidak tumpang tindih. Metode integrative literature review digunakan untuk mengkaji teori-teori kesantunan berbahasa yang telah terpublikasi dan diuji transferabilitas berdasarkan kasus berbeda. Kajian ini menyimpulkan qawlan sadīdā sebagai prinsip kesantunan utama yang berkedudukan sebagai “substansi” isi pesan. Hal ini menunjukkan bahwa teori kesantunan perspektif islam menggunakan paradigma theological, berbeda dengan perspektif Barat yang menekankan paradigma social/conversational. Sedangkan prinsip lain seperti qawlan ma’rūfā, layyinā, maysūrā, karīmā, dan balīghā; merupakan prinsip kesantunan penunjang yang bersifat opsional karena berkedudukan sebagai "kemasan" pesan. Derajat kesantunan dalam prinsip penunjang dapat disesuaikan dengan paradigma yang telah berkembang, sehingga kelebihan pada kesantunan perspektif Barat dapat digunakan pada prinsip yang bersifat kemasan sejauh disesuaikan dengan kondisi pragmatik/sosiolinguistik.   Abstract: There is still criticism of the various politeness principles studied by western scientists so that Islamic scientists try to offer new alternatives to politeness principles based on the Qur'an. However, it turns out that the study is still only descriptive in nature, there is no clarity about the relationship between the proposed politeness principles. Also the paradigm underlying the principles is still not explained. So that the standard of politeness or not in a language is still difficult to define and apply in da'wah or daily communication. This study aims to explain the paradigm that underlies the theory of politeness in an Islamic perspective and explain the position and relationship between the politeness principles so that they do not overlap. The integrative literature review method is used to examine theories of language politeness that have been published and tested for transferability based on different cases. This study concludes that qawlan sadīdā is the main principle of politeness which has a position as the "substance" of the message content. This shows that the Islamic perspective of politeness theory uses a theological paradigm, in contrast to the western perspective which emphasizes the social/conversational paradigm. While other principles such as qawlan ma'rufā, layyinā, maysūrā, karīmā, and balighā; is a supporting politeness principle that is optional because it is positioned as a "packaging" of messages. The degree of politeness in supporting principles can be adapted to the paradigm that has developed, so that the advantages of politeness from a western perspective can be used in packaging principles as long as they are adapted to pragmatic/sociolinguistic conditions. Keywords: Linguistics, Politeness, Language, Islam, Theoretical Review    
Narasi Dakwah dalam Film Pendek 3T (Tafakur, Tadabur, Tasyakur) Karya Jejak Cinema Amelia, Delvira; Azizi, Muhammad Hildan
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 2 No 1 (2024)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v2i1.21

Abstract

Dakwah melalui film mesti diproduksi berdasarkan narasi yang terkonstruksi dengan baik. Alih-alih efektif menyampaikan pesan dakwah, bisa jadi mad'uw hanya akan menikmati cerita namun mengabaikan pesan dakwahnya. Jejak Cinema berhasil memproduksi film berjudul 3T (Tafakur, Tadabur, Tasyakur) yang sarat muatan pesan dakwah dalam konstruksi narasinya. Tak pelak film itu mendapatkan impresi positif dari mad'uw. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan narasi dakwah dalam film itu guna ditarik pelajaran bagi filmmaker dakwah lainnya. Menggunakan konsep narasi dakwah sebagai pisau analisis, film itu dikaji berdasarkan pendekatan kualitatif berjenis deskriptif, serta ditunjang teknik peningkatan ketekunan untuk menguji keabsahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi dakwah dalam film "3T (Tafakur, Tadabur, Tasyakur)" membawa audiens untuk merefleksikan peran Sabar sebagai tokoh utama muslim miskin yang bertafakur dan bertadabur secara mendalam tentang dampak mencuri. Melalui tafakur dan tadabur yang diperankan oleh Sabar, film itu mengajak audiens untuk mensyukuri nikmat yang dimiliki. Artinya ekspresi rasa syukur merupakan hasil dari perenungan dan pemikiran yang mendalam. Selain itu, narasi dakwah disusun dengan alur maju-mundur guna memperdalam pengalaman tafakur dan tadabur. Pilihan tokoh dan latar disusun secara logis untuk mempertahankan kausalitas alur, memungkinkan audiens terhanyut dalam cerita, sehingga pesan dakwah tetap efektif tersampaikan dan menciptakan kesan positif mad'uw terhadap Islam.
Komunikasi Konsolidasi Organisasi Dakwah di Indonesia saat Merespons Tantangan Politik Azizi, Muhammad Hildan
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v3i1.64

Abstract

Artikel ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis bentuk komunikasi konsolidasi pada Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang bertujuan menjaga eksistensi organisasi ketika menghadapi tantangan politik internal maupun eksternal. Kajian menggunakan metode kualitatif dengan jenis deskriptif, serta melibatkan analisis isi dengan menggunakan pendekatan hermeneutika dalam mengkaji wacana dokumen-dokumen teks komunikasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat terjadi infiltrasi dari partai politik dan komunikasi Rais Aam PBNU saat menghadapi dinamika politik internal saat Muktamar NU ke-33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi konsolidasi politik dilakukan dengan mengedepankan ikatan sosial dan loyalitas anggota melalui komunikasi yang menyeluruh. Teknik konsolidasi yang digunakan meliputi penguatan nilai-nilai dasar organisasi, penggunaan sumber kekuasaan internal, serta penerapan instrumen konsolidasi struktural dan kultural. Kajian ini menyimpulkan bahwa konsolidasi dalam organisasi dakwah tidak hanya berfungsi untuk mengatasi konflik internal, tetapi juga sebagai upaya memperkuat ikatan sosial-politik dalam organisasi. Kajian ini menyarankan pengembangan lebih lanjut mengenai variasi teknik komunikasi konsolidasi yang sesuai dengan jenis masalah organisasi dakwah.
Pemetaan Pemangku Kepentingan dalam Komunikasi Organisasi Nabi Muhammad pada Peristiwa Sebab Turunnya QS. ‘Abasa: 1-17 Azizi, Muhammad Hildan
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.116

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan standar prioritas pemangku kepentingan organisasi dakwah berdasarkan studi kasus peristiwa yang melatarbelakangi turunnya QS. ‘Abasa 1–17. Kajian terhadap ayat tersebut selama ini cenderung berfokus pada aspek pendidikan dan inklusivitas bagi kaum difabel, sedangkan studi ini menegaskan adanya pelajaran mengenai praktik komunikasi organisasi. Penelitian berangkat dari asumsi bahwa kegiatan dakwah Nabi Muhammad berlangsung secara terorganisir. Teori stakeholder mapping digunakan sebagai pisau analisis dengan penekanan pada kuadran power–interest, attitude, dan relasi kuasa antarpemangku kepentingan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari kajian Asbabun Nuzul, tafsir, dan sumber sejarah yang memuat profil pemangku kepentingan terkait peristiwa tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa subject yang memiliki interest tinggi, power rendah, dan sikap positif jauh lebih menjadi prioritas dibandingkan context setter yang memiliki power tinggi tetapi tidak memiliki interest serta bersikap negatif terhadap organisasi. Prioritas ini juga lebih tinggi dibandingkan key player dengan sikap ambivalen. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa organisasi dakwah skala kecil bergantung pada penguatan subject positif internal, sambil menunda komunikasi intens yang lebih kompleks dengan key player ambivalen atau koalisi context setter negatif yang berpotensi menimbulkan tekanan politik yang berbahaya bagi organisasi dakwah kecil.