Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DI KELAS XI1 SMA NEGERI 1 LAKUDO Fahrun, Fahrun; Amaluddin, La Ode; Nursalam, La Ode
Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Geografi
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jppg.v6i1.16483

Abstract

SMAN 1 Lakudo adalah salah satu sekolah di Kabupaten Buton Tengah yang menjadi objek peneliti karena hasil belajarnya masih rendah. Hal ini dikarenakan hanya 54% siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) untuk menentukan aktivitas belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Problem Solving, (2) untuk menentukan aktivitas mengajar guru dalam menerapkan model pembelajaran Problem Solving, (3) untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Solving. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI1 SMA Negeri 1 Lakudo yang terdaftar pada semester ganjil tahun ajaran 2019 yang berjumlah 23 siswa. Data penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut: (1) aktivitas belajar IPS-Geografi siswa kelas XI1 SMA Negeri 1 Lakudo yang diajar dengan menerapkan model pembelajaran Problem Solving pada setiap siklus terjadi peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 2,7 berada pada kategori cukup, dan meningkat pada siklus II sebesar 3,1 berada pada kategori baik; (2) aktivitas guru dengan menerapkan model pembelajaran Problem Solving pada setiap siklus terjadi peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata aktivitas guru pada siklus I sebesar 2,7 berada pada kategori cukup, dan meningkat pada siklus II sebesar 3,2 berada pada kategori baik; (3) deskripsi hasil belajar siswa kelas XI1 SMA Negeri 1 Lakudo pada siklus I menunjukkan bahwa nilai maksimum yang diperoleh siswa adalah 78,6 dan nilai minimum sebesar 28,6 dengan nilai rata-rata 63,2, sedangkan hasil deskripsi hasil belajar siswa pada siklus II menunjukkan bahwa nilai maksimum yang diperoleh siswa adalah 85,7 dan nilai minimum sebesar 60,7 dengan nilai rata-rata 77,2; (3) peningkatan hasil belajar siswa kelas XI1 SMA Negeri 1 Lakudo dengan menerapkan model pembelajaran Problem Solving adalah sebesar 14. Kesimpulan penelitian ini adalah model Problem Solving dapat menigkatkan hasil belajar peserta didik.
Reconfiguring National Health System Governance for Non-Military Threats: A Threat-Based Integrated Management Framework for Indonesia Nugroho, Anton; Sarjito, Aris; Setiawati, Deni; Lusianah, Lusianah; Fahrun, Fahrun; Hasanah, Oswati
Buletin Penelitian Kesehatan Vol. 54 No. 1 (2026)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/bpk.v54i1.4383

Abstract

Background: Emerging public health crises expose structural vulnerabilities within national health systems, particularly in governance coordination, workforce sustainability, supply chain stability, and digital integration. Indonesia’s COVID-19 experience revealed gaps between regulatory design and operational implementation across these domains. Strengthening governance alignment is therefore essential to enhance preparedness for future systemic shocks. Methods: This study employed systematic document analysis and triangulated synthesis of national regulatory instruments, administrative records, and peer-reviewed studies published between 2019 and 2025. Using iterative cross-domain coding, four analytical domains were examined: crisis governance architecture, workforce resilience, strategic supply chain capacity, and digital health integration. Results: Findings indicate regulatory completeness but operational fragmentation. Temporary dual coordination structures during the pandemic reflected governance misalignment between central and subnational authorities. Persistent psychosocial strain among healthcare workers signals risks to long-term workforce sustainability. Structural dependence on imported pharmaceutical inputs and uneven logistics infrastructure exposed supply chain vulnerabilities. Although digital integration initiatives have progressed, subnational analytic capacity remains uneven. Cross-domain synthesis suggests that institutional alignment gaps, rather than policy absence, constitute the primary systemic challenge. Conclusion: Enhancing Indonesia’s health system resilience requires structural integration across governance, workforce protection, supply chain strategy, and digital capacity. The proposed Integrated Resilience Management Framework offers a policy-oriented pathway to improve institutional coherence and preparedness for future public health crises. This study contributes to health policy scholarship by translating cross-domain structural gaps into actionable system reform strategies.