Budidaya bandeng (Chanos chanos) di tambak tradisional menghadapi tantangan ekologis yang berdampak pada produktivitas. Mitra kegiatan, kelompok tambak Cemara Indah di Desa Clering, mengalami masalah utama berupa kepadatan tinggi udang rebon (Acetes sp.) akibat sistem filtrasi air yang kurang memadai. Udang rebon berperan sebagai kompetitor dalam memanfaatkan pakan alami sehingga menekan pertumbuhan bandeng. Keberadaan hama kerang semakin memperburuk kondisi lingkungan dengan meningkatkan sedimentasi dan menurunkan kualitas dasar tambak. Di sisi lain, harga pakan komersial yang tinggi menjadi kendala tambahan bagi petambak tradisional. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penghambat tersebut serta merumuskan strategi pengendalian yang efektif. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, identifikasi organisme pengganggu, pengukuran parameter kualitas air, eksperimen pemeliharaan, serta wawancara dengan mitra. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingginya populasi udang rebon berbanding lurus dengan rendahnya laju pertumbuhan bandeng, sementara hama kerang menambah tekanan ekologis. Strategi pengendalian yang diterapkan berupa pemasangan filter alami pada saluran pemasukan air, penerapan bioflok sederhana, dan pemanfaatan pakan alternatif berbasis bahan lokal. Intervensi tersebut terbukti mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen. Dengan demikian, kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan ekologis dan ekonomis untuk mendukung keberlanjutan tambak bandeng tradisional.