Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Jurnal Anala

Perubahan Paon Pada Rumah Tradisional Di Desa Batuan Sukawati Putra, Putu Arya Wiastina; Yulianasari, Anak Agung Ayu Sri Ratih
Jurnal Anala Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.8.1.935.35-44

Abstract

Bali is an area famous for its million beauty and charm. The beauty of nature, the hospitality of the people and the sublime Customs and Culture are very valuable assets for Bali in particular and Indonesia in general. Of all the beauty and uniqueness, one thing that is important to note is about Balinese Traditional Architecture which is based on culture and breathes Hinduism. In the study of the construction of Balinese buildings, especially Paon or kitchens, this was carried out to understand more deeply some of the traditional Balinese architectural knowledge that approaches the truth, the direction of development, and the high noble values of our ancestral heritage to be strong and strong. a research was conducted on what changes occurred in the Paon building in the village of Batuan, Sukawati. So that it can be expressed to add to the nation's cultural treasury as a material for information and a comprehensive picture for the Balinese people in particular. The formulation of the problem raised is: How does Paon change in a traditional house in Batuan Village, Sukawati. This study uses an inductive approach to the concept formulated from several elements including: field observations and interviews with experts / experts. It can be concluded: The shape of the Paon building has not changed, but only in terms of materials have changed over time, such as the use of roof covering materials, which all use reeds to become tiles.
Sampah Sebagai Pembangkit Listrik Alternatif dalam Upaya Pengembangan Infrastruktur Pusat Kota Lama Singaraja Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari; Ni Putu Diah Permanasuri
Jurnal Anala Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.8.2.980.33-42

Abstract

Sampah merupakan permasalahan yang sering mucul di Kota manapun. Pada beberapa Negara Maju, sampah tidak lagi menjadi beban, namun sangat berpotensi dijadikan sebagai pembangkit listrik energi terbarukan. Dengan memanfaat gas metan yang dihasilkan, “sumber masalah” tersebut dapat terkelola sehingga tidak terbengkalai di TPA dan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Bercermin dari hal tersebut, beberapa Kota besar di Indonesia meniru sistem pengolahan sampah menjadi listrik namun dengan metode yang beragam, termasuk Kota Singaraja. Bekerjasama dengan Kementrian ESDM, Pemda Singaraja mencoba membangun Pilot Project PLTG Landfill Bengkala, tepatnya di TPA Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan. Akan tetapi, sampai saat ini project tersebut masih pada tahap penelitian dan beberapa waktu belakangan, belum dilanjutkan kembali. Dengan potensi TPA yang mampu menampung sampah hingga 165 ton, pengelolaan sampah berbasis sanitary landfill ini dapat menghasilkan listrik sebesar 2 MW. Apalagi dalam upaya pengembangan infrastruktur Pusat Kota Lama Singaraja, pemanfaatan gas metan dari sampah menjadi salah satu langkah inovatif, yang menjadikan kota tumbuh sebagai Kota yang mandiri karena dapat menghasilkan sumber energi listrik alternatif terbarukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan usulan mengenai sumber energi listrik terbarukan yang murah dan ramah lingkungan. Teknik Pengumpulan datanya, menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi literatur, dengan metode analisis deskriptif
MAKNA SETIAP BAGIAN PADA RUMAH ADAT SUMBA KABIZZU UMBU DEDO-SUMBA BARAT DAYA DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SETEMPAT Gerardus Ouda Ngara; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari, S.T., M.Ars
Jurnal Anala Vol 7 No 1 (2019): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.7.1.999.24-32

Abstract

“Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangga sampai Pulau Rote.”Demikian sebuah kalimat yang sering terdengar dalam acara Waktu Indonesia Timur (WIT), yang dipandu langsung oleh anak-anak comedian asal Indonesia Timur.Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan memang terbentang dari Sabang sampai Merauke.Beda pulau pulau, ragam Bahasa, dan ragam pula budaya dan karakter manusinya.Manusia Indonesia adalah manusia berbudaya.Setiap suku, agama dan dan ras selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya masing-masing.Sumba sebagai salah satu pulau bagian selatan di Indonesia pun sangat berbudaya.Bahasanya banyak, rumah adatnya pun sangat unik.Desain rumah ada dengan menara mencakar langit menjadi symbol tersendiri bagi masyarakat Sumba.Rumah adat orang Sumba memiliki nilai eksotik tersendiri.Bahannya sangat alamiah, yakni kayu, alang dan tali hutan.Bahan-bahan ini didesain sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah rumah dengan sebuah keindahan yang bagus dan sangat eksotik.Di dalam desain sebuah rumah adat berbentuk panggung ini, terkandung di dalamnya prinsip keseimbangan.Ada tempat yang Ilahi (Tingkat 3), ada tempat manusia (Tingkat 2) dan ada tempat bagi hewan piaraan (Tingkat 1).Namun demikian semuanya tetap membentuk sebuah kesatuan dan keutuhan. Allah (Marapu) melihat kehidupan manusia, manusia menjalankan perintah Ilahi dalam kerja sama dengan alam sekitar. Dan desain rumah adat ini sungguh mewakili kolaborasi tri dimensi kehidupan ini. Ada kerja sama yang mengagumkan antara yang insani dan yang Ilahi, Tuhan dan manusia. Allah memintal tali kehidupan manuai, manusia bergerak dalam tata dan nilai Ilahi, dengan cara memabngun kehidupan yang Tuhan berikan. Selalu terdapat norma-norma yang mengatur kehidupan bersama.Dan nilai-nilai itu, tergambar dan terukir pada setiap rumah adat.Ada rumah yang sangat pemali.Hanya para Rato (Imam Marapu) yang layak dan diperkenankan untuk masuk dalam rumah adat ini untuk menjalankan ritual keagamaan.Ada rumah yang merupakan rumah warga, tetapi di dalamnya tedapat koro Marapu (Kamar Marapu).Dan terkadang di rumah ini, selalu digunakan untuk menjalankan ritual keagamaan.Rumah adat orang Sumba ini, sudah memiliki bagian masing-masing.Setiap bagian selalu memiliki arti dan makna tersendiri.
Fungsi Dan Bentuk Angkul - Angkul Di Desa Gunaksa, Klungkung - Bali Ade Syawal Dwi Krisma; Dr. Ir. Putu Gde Ery Suardana, M.Erg; A.A. Ayu Sri Ratih Yulianasari, S.T., M.Ars
Jurnal Anala Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.7.2.1041.1-7

Abstract

Arsitektur merupakan salah satu unsur kebudayaan. Arsitektur tercipta dari ide (gagasan), cara mewujudkan, dan hasil perwujudan ide tersebut.tiga aspek tersebut, mengalami perubahan seiringin dengan perkembangan jaman, baik fungsi dari angkul –angkul, bentuk dan bahan yang di gunakan dalam membangunnya. Angkul – angkul merupakan bangunan tradisonal sebagai pintu masuk kepekaranganyang fungsi awalanya hanya sebagai akses keluar masuk manusia atau penghuni rumah, namum dalam perkembangan jaman fungsi angkul – angkul tidak lagi hanya sebagai akses keluar masuk manusia, namun juga sebagai akses keluar masuk kendaraan bermotor. Dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk identifikasi perubahan atau pelestarian angkul –angkul serta faktor – fakor yang melatar belakangi perubahan atau pelestarian angkul – angkul tersebut
Kenyamanan Warga Terhadap Ketersediaan Sarana dan Prasarana di Perumahan Griya Bama Raya Permai Palangka Raya Kalimantan Tengah Ni Putu Diah Agustin Permanasuri, ST., M.Ars; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari, ST., M.Ars
Jurnal Anala Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.9.1.1049.41-54

Abstract

Problema klasik suatu perumahan utamanya dilingkup perkotaan dengan penduduk yang heterogen antara lain usaha untuk penyediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga warga yang tinggal di perumahan tersebut merasa nyaman serta menciptakan suatu kualitas hidup yang baik demi keberlangsungan perumahan tersebut. Perumahan Griya Bama Raya Permai adalah salah satu perumahan yang ada di kota Palangka Raya Kalimantan Tengah, dengan jumlah warga sekitar 163 KK, dengan jumlah ini tentunya harus disediakan sarana dan prasarana perumahan yang memadai, beberapa sarana dan prasarana yang ada belum dikelola dengan baik sehingga berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan warga. Penelitian ini mengidentifikasi sarana dan prasarana yang ada di Perumahan Griya Bama Raya Permai dan dikaitkan dengan aspek kenyamanan warga penghuni perumahan. Metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan menganalisis data berdasarkan wawancara dengan warga perumahan dan data pengamatan lapangan langsung. Pada hasil penelitian, didapatkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana sudah cukup memenuhi standar SNI, masih terdapat sarana dan prasarana yang memerlukan perhatian khusus, diantaranya prasarana jalan (perkerasan aspal dan tanah), jaringan persampahan, jaringan/utilitas drainase, sarana pos keamanan dan sarana ruang terbuka umum. Ketidak nyamanan warga meliputi pada aspek berikut, tenaga kemananan (satpam) yang hanya bertugas pada malam hari, perkerasan jalan aspal yang berlubang, bergelombang dan rusak, pengelolaan sampah yang masing belum optimal, dan ruang terbuka yang kurang terawat. Warga merasa nyaman dengan sarana prasarana yang lain, karena sudah dikelola dengan baik. Sangat diharapkan partisipasi aktif dari warga untuk memelihara fisik lingkungan perumahan dan tugas dari pemerintah kota untuk memperbaiki fisik sarana prasarana yang rusak sehingga dapat lebih bermanfaat untuk warga.
KEUNIKAN ARSITEKTUR PURA DALEM SEGARA MADHU DESA PAKRAMAN JAGARAGA, SINGARAJA Ni Luh Ugi Surya Savitri; Desak Made Sukma Widiyani, S.T., M.T.; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari, S.T., M.Ars
Jurnal Anala Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.9.2.1155.22-28

Abstract

Pada umumnya pura satu dengan lainnya akan memiliki ciri khas ataupun keunikan yang berbeda. Seperti contohnya salah satu pura yang berlokasi di Buleleng. Pura Dalem Segara Madhu Desa Jagaraga tersebut salah satu pura yang menjadi destinasi pariwisata bagi turis lokal atau mancanegara. Keunikan Arsitektur dari pura ini memiliki daya tarik bagi para wisatawan. Tulisan ini mengungkapkan kekayaan dan keunikan arsitektur maupun sejarah yang terdapat pada Pura Dalem Segara Madhu tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, sebagai prosedur riset yang memanfaatkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Pura Dalem Segara Madhu tersebut menjadi saksi Perang Jagaraga yang terjadi pada tahu 1848-1849. Pura Dalem Segara Madhu juga memiliki keunikan di ragam hiasnya, seperti ragam hias yang cenderung meruncing ciri khas ukiran Buleleng atau ukiran dengan gaya Bali Utara berupa tumbuhan merambat dan motif bunga. Terdapat pula relief yang menggambarkan kapal laut yang diserang monster laut, orang yang mengendarai mobil. Keunikan tersebut menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat untuk berkunjung ke Pura Dalem Segara Madhu Desa Jagaraga. Relief yang terdapat di Pura Dalem Segara Madhu menceritakan kehidupan masyarakat Bali saat penjajahan Belanda. Keunikan tersebut yang menjadi sebuah identitas yang mecirikan Pura Dalem Segara Madhu
SEJARAH DAN MAKNA MENJANGAN SELUANGAN warel alit sabudi; Dr. Ir. PG. Ery Suardana, M.Erg.; Desak MD Sukma Widiyani, S.T, M.T.; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari, S.T., M.Ars.
Jurnal Anala Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.10.1.1218.48-53

Abstract

Bali merupakan mayoritas pemeluk Agama Hindu dimana pada jaman dahulu Hindu tidak terlepas dari kedatangan Majapahit dengan membawa pengaruh tatanan arsitektur, yaitu tatanan Kayangan Tiga dan Sanggah Pamerajan. Sanggah Pamerajan Memiliki beberapa pelinggih, salah satunya pelinggih menjangan seluang yang memiliki keunikan memiliki kepala menjangan (rusa) yang jarang masyarakat pahami makna dari Pelinggih Menjangan tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, sebagai acuan riset yang memanfaatkan data berupa kata-kata tulis atau lisan dan wawancara dengan beberapa orang yang memiliki pelinggih menjangan seluang , serta studi literatur berupa buku ataupun internet sehingga data yang terkumpul akan dilakukan analisis untuk menperoleh kesimpulan yang dapat menjawab permasalahan yang ditemukan penulis. Tujuan dari penelitian adalah membahas tentang sejarah dan makna pada pelinggih menjangan seluang dengan tujuan agar masyarakat dapat memahami sejarah pelinggih menjangan seluang
MITIGASI RISIKO PEKERJAAN PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG LOBBY DAN RENOVASI FASAD TK DWIJENDRA DENPASAR Ni Putu Yunita Laura Vianthi; Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja; Desak Made Sukma Widiyani; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari
Jurnal Anala Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.1.1522.46-56

Abstract

This article discusses risk mitigation in the construction project of the lobby building and facade renovation of TK Dwijendra Denpasar. In this project, risk identification is crucial to understand the potential risks of each activity and then analyze the impact on the continuity of the construction project. The author successfully identified as many as 81 risks from 11 possible risk sources in this project. To reduce the negative impact of the identified risks, the author suggests several risk mitigation strategies, such as retaining risk, reducing risk, transferring risk, and avoiding risk. These strategies can help manage uncertainties related to potential hazards in construction projects.
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT INDUSTRI KREATIF DI KABUPATEN BADUNG DENGAN PENDEKATAN DESAIN KONTEMPORER I Wayan Ariawan; I Ketut Adhimastra; Anak Agung Ayu Sri Ratih Yulianasari
Jurnal Anala Vol 12 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.12.2.1577.20-27

Abstract

Structural development in the economy is not only about the use of natural resources but has now spread to the use of human resources. In the 1990s the internet entered Indonesia and until now in 2024, the internet has changed a lot in the way people communicate, even changing the way people trade and work. Countries in the world are competing to dominate international markets by developing technology and developing human resources. Under the leadership of the 7th President of the Republic of Indonesia, Indonesia is targeted to become a developed country in 2045. To support the ideals of the Indonesian state, human resources need to be prepared and trained to compete with countries in the world. Indonesia needs to develop a creative industry sector that utilizes skills, creativity and talent. The creative industry has a positive impact on cultural, social and educational preservation. Preparations need to be planned from the village level to the national level. Every region in Indonesia needs to have a creative industry center to support and stimulate the creativity of the country's creative children. This research will plan a creative industry center in Badung Regency, Bali Province. Badung Regency is the district that has the highest tourism visits. According to the creative economy agency, in 2021 there are 17 creative industry sub-sectors. Of the 17 existing sub-sectors, the creative center will facilitate 4 sub-sectors starting from applications, visual communication design, photography and advertising which will be planned to create an ecosystem that will collaborate with MSMEs. is in Badung Regency. The creative center will be planned with the aim of being a gathering place for startup players, as a place for education and recreation. The creative center in Badung Regency is planned in the form of a building which will be planned to facilitate the activities of 4 subsectors and MSMEs. The creative center building needs to be designed to be more developed in line with current design developments. The contemporary design concept is a concept that will be applied to creative industrial building planning because contemporary design is an architectural style that has developed according to the times