Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH KOMUNIKASI KERJA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN RUMAH SAKIT (RS) KHUSUS DAERAH DUREN SAWIT DI JAKARTA TIMUR Setiasih, Nenden Lilis
JMBA Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol 1 No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Institut Bisnis dan Multimedia asmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh atau komunikasi kerja, dan budaya organisasi secara bersama-sama terhadap kepuasan kerja karyawan Rumah Sakit Daerah Khusus Duren Sawit di Jakarta Timur. Data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder yang dikumpulkan melalui dokumentasi dan keperpustakaan. Data yang dikumpulkan dianalisis secara kuantitatif dengan statistik seperti korelasi pearson, analisis regresi, dan uji hipotesis masing-masing variable. Metodologi penelitian yang digunakan adalah uji reliabilitas, uji validitas untuk setiap pertanyaan pada setiap variabel, dan analisis statistik deskriptif dan data statistik inferensial atau induktif menggunakan SPSS 21 dalam bentuk uji regresi sederhana untuk variabel komunikasi di tempat kerja pada kepuasan kerja karyawan, variabel budaya organisasi pada kepuasan kerja karyawan, dan uji regresi untuk variabel komunikasi kerja dan budaya organisasi pada kepuasan kerja karyawan sehingga untuk mengetahui korelasi, koefisien determinasi, uji hipotesis, dan persamaan linear sederhana maupun linear berganda. Kesimpulan yang dapat diambil untuk pengaruh komunikasi kerja, budaya organisasi, kepuasan kerja karyawan setuju yang masih dapat ditingkatkan ke sangat setuju. Hasil korelasi dan regresi linier sederhana baik pekerjaan komunikasi pada kepuasan kerja karyawan dan budaya organisasi pada kepuasan kerja karyawan adalah positif, kuat, dan memiliki pengaruh signifikan. Demikian pula dengan korelasi dan regresi linier berganda dari kepuasan kerja, budaya organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit di Jakarta adalah Positif, kuat, dan serta memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan Daerah Rumah Sakit Khusus Duren Sawit Daerah di Jakarta Timur.
Faktor Risiko Reaksi Kusta: Tinjauan Terhadap Reaksi Tipe 1 dan Tipe 2 pada Pasien Kusta Astiningtyas, Widya Ayu; Wilanti, Nesa Wike; Setiasih, Nenden Lilis
JURNAL KEBIDANAN, KEPERAWATAN DAN KESEHATAN (BIKES) Vol 5, No 2 (2025): J-BIKES NOVEMBER
Publisher : Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-bikes.v5i2.144

Abstract

Kusta masih menjadi masalah kesehatan global karena dapat menimbulkan reaksi imunologis akut yang menyebabkan kerusakan saraf dan kecacatan permanen. WHO pada 2024 melaporkan 172.717 kasus baru di 188 negara, termasuk Indonesia yang masih menjadi salah satu dari tiga negara dengan kasus tertinggi di dunia. Tinjauan literatur dilakukan melalui PubMed dan Google Scholar dengan kata kunci “kusta”, “leprosy”, “reaksi kusta”, dan istilah terkait lainnya, mencakup publikasi berbahasa Indonesia dan Inggris tahun 2019–2025 yang relevan dengan faktor risiko reaksi tipe 1 dan tipe 2 pada pasien kusta. Hasil menunjukkan bahwa reaksi tipe 2 lebih sering terjadi pada pasien multibasiler dengan indeks bakteri ≥4+, ditandai dengan dominasi imunitas humoral dan pembentukan kompleks imun. Sementara reaksi tipe 1 lebih banyak ditemukan pada spektrum borderline akibat ketidakstabilan imunitas seluler. Faktor risiko internal meliputi bentuk klinis, BI tinggi, usia, jenis kelamin, genetik, kehamilan, serta defisiensi nutrisi, sementara faktor eksternal meliputi stres, infeksi penyerta, terapi MDT, dan stimulasi imun dari vaksinasi. Deteksi dini dan pengawasan faktor risiko sangat penting untuk mencegah reaksi berulang dan kecacatan pada pasien kusta.
Kelainan Kuku dan Relevansinya Terhadap Kondisi Kesehatan: Suatu Tinjauan Literatur Syahanti, Zahraan Nisriinaa; Lusiana, Lusiana; Setiasih, Nenden Lilis
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 4 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss4.2034

Abstract

Kuku adalah struktur keratin yang berperan melindungi ujung jari, mendukung gerakan motorik halus, dan mencerminkan kondisi kesehatan tubuh. Berbagai kelainan kuku tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga dapat menjadi tanda adanya penyakit kulit, infeksi, gangguan metabolik, atau kelainan sistemik. Studi ini merupakan literature review yang disusun melalui analisis sumber ilmiah dari PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar mengenai anatomi, fungsi, dan berbagai gangguan pada kuku. Hasil telaah menunjukkan bahwa kelainan infeksi seperti onikomikosis dan paronikia akut umumnya disebabkan oleh mikroorganisme dan dapat menimbulkan nyeri, perubahan bentuk, serta infeksi jaringan sekitarnya, sedangkan kelainan non-infeksi seperti psoriasis kuku, liken planus, dan paronikia kronis berkaitan dengan proses inflamasi atau iritasi jangka panjang. Kesimpulannya, kelainan kuku bersifat multifaktorial sehingga memerlukan diagnosis komprehensif, dan terapi harus disesuaikan dengan penyebab dasarnya untuk mencegah perburukan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Gambaran Klinis Candidiasis Intertriginosa pada Pasien Geriatri dengan Diabetes: Laporan Kasus Putri, Adinda Devara; Yenni, Yenni; Setiasih, Nenden Lilis
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 5 No 1 (2026): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol5.Iss1.2255

Abstract

Candidiasis intertriginosa adalah infeksi jamur superfisial yang sering mengenai lipatan kulit, terutama pada lansia dengan faktor predisposisi seperti diabetes tidak terkontrol, kebersihan diri yang kurang, dan lingkungan lembap. Laporan kasus ini mendeskripsikan seorang perempuan 73 tahun dengan lesi eritema lembap dan satelit pada lipatan paha, bawah payudara, dan tangan, yang dipicu kombinasi faktor usia, hiperglikemia, kelembapan tinggi, dan kebiasaan higienis yang kurang optimal. Penatalaksanaan melibatkan terapi antijamur serta intervensi pada faktor risiko, termasuk edukasi kebersihan, pengurangan kelembapan, dan pengendalian gula darah. Temuan utama menegaskan bahwa pada pasien geriatri dengan diabetes, infeksi dapat lebih luas dan berisiko kambuh jika faktor predisposisi tidak diperbaiki. Implikasi klinisnya menunjukkan bahwa strategi pengelolaan candidiasis intertriginosa pada kelompok ini harus terpadu, mencakup pengobatan jamur dan modifikasi perilaku serta lingkungan untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi.