Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENDIDIKAN KARAKTER SISWA KELAS VII MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MTS NURUL MUSTHAFA KOTABARU Mahfuz, Ahmad; Fitrianoor, Wahyu; Fadillah, Nor; Juhsairiyah, Juhsairiyah
ADDABANA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3, No 1 (2020): February
Publisher : Program Studi PAI STAI Al Falah Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/adb.v3i1.358

Abstract

Abstract: This research discusses "Character Education of Students VII Through Learning Islamic Cultural History". The formulation of the problem in this study is How is the process of implementing learning carried out by Islamic cultural history teachers in shaping student character through learning Islamic cultural history at MTs. Nurul Musthafa Kotabaru. What are the supporting and inhibiting factors in the character building of seventh grade students through the learning process of Islamic cultural history at MTs. Nurul Musthafa Kotabaru.The subjects of this research are Islamic cultural history subject teachers, Head of Madrasah, and seventh grade students at MTs Nurul Musthafa, the object of this research is Character Education of seventh grade students through Islamic cultural history learning at MTs Nurul Musthafa Kotabaru. as well as supporting and inhibiting factors in Character Education of seventh grade students through Islamic Cultural History Learning at MTs Nurul Musthafa Kotabaru. In extracting data, researchers use qualitative descriptive types and approaches, interview techniques, observation and documentation. Data processing techniques are carried out by collecting data, classifying data, editing and interpreting data, then analyzing with qualitative descriptive analysis and drawing conclusions inductively.The results of the research The process of implementing Islamic cultural history learning includes learning planning, learning implementation and learning evaluation, learning Islamic cultural history for student character building has gone well and as expected. This is evidenced by the increase in student character in Islamic cultural history lessons by making the Prophet Muhammad SAW a good role model including compassion for others, religion, honesty, diligence, responsibility, tolerance, and discipline. Supporting and inhibiting factors in the process of implementing character education in the learning process of Islamic cultural history are: teacher, family, environment and student factors. Keywords: Character Education, Students, Islamic Cultural History. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang “Pendidikan Karakter Siswa VII Melalui Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru sejarah kebudayaan Islam dalam pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di MTs. Nurul Musthafa Kotabaru. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pembentukan karakter siswa kelas VII melalui proses pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di MTs. Nurul Musthafa Kotabaru.Subjek penelitian ini adalah guru mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam, Kepala Madrasah, dan siswa kelas VII di MTs Nurul Musthafa, Objek pada penelitian ini yaitu Pendidikan Karakter Siswa Kelas VII Melalui Pembelajar sejarah kebudayaan Islam di MTs Nurul Musthafa Kotabaru. serta faktor pendukung dan penghambat dalam Pendidikan Karakter Siswa Kelas VII Melalui Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurul Musthafa Kotabaru. Dalam penggalian data, peneliti menggunakan jenis dan pendekatan deskriftif kualitatif, teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik pengolahan data dilakukan dengan pengumpulan data, klasifikasi data, editing dan interpretasi data, selanjutnya dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif dan ditarik simpulan dengan induktif.Hasil penelitian Proses pelaksanaan pembelajaran sejarah kebudayaan Islam meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran, pembelajaran sejarah kebudayaan Islam untuk pembentukan karakter siswa sudah berjalan dengan baik dan sesuai yang diharapkan. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan karakter siswa pada pelajaran sejarah kebudayaan Islam dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suritauladan yang baik diantaranya yaitu kasih sayang terhadap sesama, religius, jujur, rajin, tanggung jawab, toleransi, dan disiplin. Faktor pendukung dan penghambat dalam proses pelaksanaan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran sejarah kebudayaan Islam yaitu: faktor guru, keluarga, lingkungan dan siswa. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Siswa, Sejarah Kebudayaan Islam.
PENDIDIKAN AKHLAK ANAK PANTI ASUHAN DI KABUPATEN TAPIN Mahfuz, Ahmad
AL-FALAH: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 25, No 1 (2025): Published in March of 2025
Publisher : STAI AL FALAH Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/alfalahjikk.v25i1.547

Abstract

Children need to be educated as fully as possible, so that they become complete individuals, so that moral education in children is a guide that is in accordance with the teachings of the Islamic religion so that children become perfect human beings. Moral education for children in orphanages is non-formal education which also applies moral education, especially as children can be supervised in their daily lives because they are in an orphanage environment. The purpose of this research is that researchers want to know the moral education of children in orphanages in Tapin Regency. This can be seen from the point of view of the objectives of moral education, educators or caregivers, students or foster children, moral education materials or materials for foster children, moral education methods and the moral education environment. The research was carried out at 4 orphanages in Tapin Regency by looking at each sub-district representative, namely Budi Akhlakul Karimah, Siti Khadijah, Miftahussalam and Izzul Hasan Orphanages.The results of national research illustrate that the objectives of moral education for children in orphanages in Tapin Regency are in accordance with educational objectives. Then the educator, who is meant as a caregiver for orphanage children, has a role as a teacher in guiding daily moral education. Then, in research studies, the material for moral education is about honesty, tolerance and courtesy. The caregiver's method of moral education is taught by example and habituation. This exemplary and habituation method can also be combined with other methods such as emotional, functional and rational experiences. However, the advice method is the mainstay method for every caregiver. Keywords: Moral Education, Moral Education Orphanage Children, Orphanage Children, The Moral Environment Of Orphanage Children.                     Anak perlu dididik semaksimal mungkin, supaya menjadi pribadi yang utuh, sehingga pendidikan akhlak pada anak adalah sebuah tuntunan yang sesuai ajaran agama islam agar anak menjadi insan yang sempurna. Pendidikan akhlak pada anak panti asuhan yang merupakan pendidikan nonformal yang juga menerapkan pendidikan akhlak, terlebih keseharian anak dapat di awasi karena dalam lingkungan panti asuhan. Tujuan dilakukannya penelitian ini ialah peneliti ingin mengetahui pendidikan akhlak anak panti asuhan yang ada di Kabupaten Tapin. Hal ini dapat dilihat berdasarkan sudut pandang tujuan pendidikan akhalaknya, pendidik atau pengasuh, peserta didik atau anak asuh, materi atau bahan pendidikan akhlak anak asuh, metode pendidikan akhlak serta lingkungan pendidikan akhlak. Penelitian dilaksanakan pada 4 Panti asuhan yang ada di Kabupaten Tapin dengan melihat pada masing-masing perwakilan kecamatan yaitu Panti asuhan Budi Akhlakul Karimah, Siti Khadijah, Miftahussalam dan Izzul Hasan. Adapun hasil penelitian menggambarkan bahwa Tujuan pendidikan akhlak anak panti asuhan di Kabupaten Tapin sudah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Kemudian pendidik yang dimaksud pengasuh anak panti memiliki peran sebagai guru dalam membimbing pendidikan akhlak sehari-hari. kemudian dalam kajian penelitian yang menjadi materi pendidikan akhlak adalah tentang jujur, toleransi dan sopan santun. Adapun metode pengasuh dalam pendidikan akhlak tersebut diajarkan dengan metode keteladanan dan pembiasaan. Metode keteladanan dan pembiasaan tersebut, bisa juga dikombinasikan dengan metode yang lain seperti emosional, fungsional pengalaman dan rasional,. Namun, metode nasihat merupakan metode andalan setiap pengasuh. Kata Kunci: Anak Panti Asuhan, Lingkungan Akhlak Anak Panti Asuhan, Pendidikan Akhlak, Pendidikan Akhlak Anak Panti Asuhan.
PERNIKAHAN BEDA AGAMA Ardim, Alhuda; Barkah, Putri Rahimatul; Ramadhania, Syaila; Ajzahra, Silvina; Nurwidianti, Putri; Mahfuz, Ahmad
MAQASHIDUNA: JURNAL HUKUM KELUARGA ISLAM Vol 1, No 1 (2023): June 2023
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Falah Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/maqashiduna.v1i1.405

Abstract

Interfaith marriages represent a complex phenomenon involving social, cultural, and legal dynamics in contemporary society. This research explores the consequences of interfaith marriages from various perspectives to illustrate the challenges faced by couples who decide to overcome their religious differences. Social and cultural aspects involve pressures from the environment and the integration of differing family traditions. Meanwhile, positive law plays a crucial role in determining marriage requirements, the approval of authorities, and legal protection for couples and their children.Keywords: Interfaith marriages, social consequences, cultural dynamics, positive law, communication, marriage consensus, mutual respect, family tradition integrationPernikahan dibawah tangan adalah pernikahan yang telah memenuhi unsur syarat dan Pernikahan beda agama menjadi fenomena kompleks yang melibatkan dinamika sosial, budaya, dan hukum positif dalam masyarakat kontemporer. Penelitian ini menjelajahi konsekuensi pernikahan beda agama dari berbagai perspektif untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh pasangan yang memutuskan untuk mengatasi perbedaan keyakinan mereka. Aspek sosial dan budaya melibatkan tekanan dari lingkungan dan integrasi tradisi keluarga yang berbeda. Sementara itu, hukum positif memainkan peran penting dalam menentukan persyaratan pernikahan, persetujuan pihak berwenang, dan perlindungan hukum bagi pasangan dan anak-anak mereka.Kata Kunci: Pernikahan beda agama, konsekuensi sosial, konsekuensi budaya, hukum positif, komunikasi, kesepakatan pernikahan, rasa saling menghormati, integrasi tradisi keluarga
IMPLEMENTASI BIMBINGAN KEAGAMAAN REMAJA DALAM MEMBENTUK MENTAL SPIRITUAL DI PANTI PERLINDUNGAN DAN REHABILITASI SOSIAL ANAK DAN REMAJA (PPRSAR) MULIA SATRIA KOTA BANJARBARU Mahmudatuzzahra, Mahmudatuzzahra; Mahfuz, Ahmad; Arief, Muhammad Ihsanul
ADDABANA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 8, No 2 (2025): AUGUST
Publisher : Program Studi PAI STAI Al Falah Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/adb.v8i2.797

Abstract

Abstract: In today's era, strong mental fortitude among Generation Z is highly essential in facing the demands of various aspects of life. One way to strengthen their mental resilience is through spiritual avenues. Such efforts require specific approaches tailored to Generation Z to guide them, considering the challenges and opportunities in achieving success. The focus of this study is on how the implementation of religious guidance for adolescents shapes their spiritual mentality at the Mulia Satria Social Protection and Rehabilitation Center for Children and Adolescents (PPRSAR) in Banjarbaru city, as well as the supportive and inhibiting factors involved. In data collection, the researcher utilized interview techniques, observation, and documentation. The findings reveal that the implementation of religious guidance for adolescents in shaping their spiritual mentality at the Mulia Satria PPRSAR in Banjarbaru city is progressing well. This includes the presence of religious guidance objectives, content, and methods. Supportive factors include leadership support, well-managed time, complete facilities, and experienced religious instructors. Inhibiting factors include the diverse backgrounds of the foster children. Keywords: Foster Children, Guidance, Religious. Abstrak: Di zaman saat ini mental generasi Z yang kuat sangat diperlukan dalam menghadapi tuntutan aspek kehidupan. Salah satu yang dapat menguatkan mental adalah melalui jalan spritual. Upaya demikian perlu cara khusus untuk generasi Z dalam melakukan bimbingan mengingat tantangan dan peluang untuk mencapai keberhasilan. Fokus kajian membahas bagaimana implementasi bimbingan keagamaan remaja dalam membentuk mental spiritual di Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak dan Remaja (PPRSAR) Mulia Satria kota Banjarbaru serta apa saja faktor pendukung dan penghambatnya. Di dalam penggalian data, peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil temuan bahwa implementasi bimbingan keagamaan remaja dalam membentuk mental spiritual di Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak dan Remaja (PPRSAR) Mulia Satria kota Banjarbaru sudah berjalan dengan baik, meliputi adanya tujuan bimbingan keagamaan, materi bimbingan keagamaan serta metode bimbingan keagamaan. Faktor pendukung adalah dukungan pimpinan, waktu yang termanajemen, sarana dan prasarana yang lengkap, serta ustadz atau pembimbing keagamaan yang berpengalaman dan faktor penghambatnya adalah latar belakang anak asuh yang berbeda beda. Kata Kunci: Anak Asuh, Bimbingan, Keagamaan.