Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Teknologi Informasi dan Pembebasan Perempuan: Feminisme dalam Kisah Serial “Layangan Putus” Yelly Elanda; Suharnanik Suharnanik; Lusi Rispita Asmara
The Journal of Society and Media Vol. 7 No. 1 (2023): Cultural Transformation in Media and Social
Publisher : Department of Social Science, Faculty of Social Science &Law, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jsm.v7n1.p72-88

Abstract

The woman in the film kite breaking up, which is the subject of this article, is Kinan. Kinan is the main character in the series Layangan Putus which airs on WeTV, telling a love triangle story. Kinan is played by Putri Marino, a woman who can use information technology to reveal the behavior of her cheating husband and then decide to separate. This study uses television program serial media that are trending topics as part of women's position in the household and women's ability to act and speak with their information technology capabilities. The method used in this research is critical discourse analysis or CDA, which is strengthened by a literature study. The results of this study indicate that the film kites break up has accommodated the point of view of women or the female gaze in telling their experiences. Women who are represented in the figure of Kinan are described as active subjects who have choices in determining their behavior and actions. Women use information technology to get out of unhealthy relationships in marriage. Women are better able to show their identity even though they collide with the values that develop in society
Relasi Gender Pada Keluarga Perempuan Miskin Di Kelurahan Wonokusumo Kota Surabaya Azizah Alie; Yelly Elanda; Ratih Retnowati
Sosioglobal Vol 7, No 2 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v7i2.42046

Abstract

Artikel ini mengkaji salah satu penyebab feminisasi kemiskinan, yaitu ketimpangan gender. Ketimpangan gender yang terjadi pada hubungan keluarga miskin semakin memperparah kondisi perempuan miskin di kota Surabaya. Relasi gender pada keluarga perempuan miskin di Surabaya akan dijelaskan melalui tiga hal, yaitu relasi gender di bidang reproduktif, produktif, dan manajemen komunitas. Dari relasi gender tersebut akan diketahui bentuk-bentuk ketimpangan gender yang dialami perempuan pada keluarga miskin di kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Lokasi ini dipilih karena Kecamatan Wonokusumo merupakan salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Peneliti melakukan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur dalam proses pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan teori analisis gender yang dikemukakan oleh Caroline Moser sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ketimpangan gender pada keluarga perempuan miskin di kota Surabaya. Kontribusi dan kehadiran perempuan dalam keluarga miskin di Surabaya kurang diakui, tetapi perempuanlah yang harus menanggung beban produksi, reproduksi, dan pengelolaan masyarakat. Perempuan dalam keluarga miskin di Surabaya mengalami triple burden, dan mengalami bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender lainnya, termasuk subordinasi, marginalisasi, kekerasan, dan stereotip negatif.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MENUJU DESA ADAT: PEMETAAN POTENSI SUMBER DAYA LOKAL DI DESA SENDURO KABUPATEN LUMAJANG Yelly Elanda; Abdus Sair; Azizah Alie
Jurnal Abdimas UNU Blitar Vol 5 No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1, Juli 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jppnu.v5i1.185

Abstract

Desa adat mulai diakui keberadaannya secara hukum sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Desa Senduro merupakan salah satu desa yang direncanakan dan dicanangkan menjadi desa adat di Jawa Timur. Desa Senduro memiliki adat istiadat yang sudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun adat istiadat tersebut seringkali luput dari kajian akademik sebagai modal pembentukan lembaga desa adat. Oleh karena itu, penting kiranya melakukan pemetaan dan penetapan sumber daya lokal dalam bentuk naskah akademik. Metode yang digunakan dalam pengabdian di desa Senduro yaitu metode pemberdayaan Participatory Rural Appraisal (PRA). Metode ini melibatkan masyarakat dalam seluruh kegiatan dan menjadikan masyarakat sebagai aktor utama dalam menyelesaikan masalah. Hasil pengabdian masyarakat ini berupa naskah akademik mengenai pemetaan dan penetapan potensi sumber daya lokal yang dimiliki oleh desa Senduro. Naskah akademik ini bisa menjadi materi yang dapat melengkapi dokumen untuk pengajuan desa Senduro sebagai desa adat. Selain itu, naskah akademik ini juga berfungsi sebagai dasar pemerintah dan masyarakat desa Senduro dalam pemanfaatan dan pengoptimalan sumber daya lokal sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, menjaga dan melestarikan budaya, lingkungan serta sumber daya alam yang dimiliki.
Perempuan dan Perangkap Kemiskinan di Kelurahan Wonokusumo Kota Surabaya Yelly Elanda; Azizah Alie
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v12i3.67009

Abstract

Kemiskinan dan ketidaksetaraan gender merupakan isu krusial yang ada dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).   Ketidaksetaraan gender menjadi salah satu akar penyebab kemiskinan sehingga keduanya saling terkait. Tujuan penelitian ini yaitu mendeksripsikan kehidupan dan penyebab perempuan yang terjebak dalam perangkap kemiskinan di kota Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi feminis dengan jenis kualitatif. Metode ini dipilih agar dapat mengungkap pengetahuan dan pengalaman perempuan yang terjebak dalam perangkap kemiskinan di perkotaan. Data diperoleh dari hasil wawancara dengan 6 informan dengan menggunakan purposive. Selain itu, data juga didapat dari hasil observasi dan studi literature.  Teori perangkap kemiskinan Robert Chambers dan teori feminis menjadi pisau analisis dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua golongan perempuan yang terperangkap dalam jerat kemiskinan. Golongan pertama adalah perempuan yang berstatus janda (sebagai kepala keluarga). Golongan kedua merupakan perempuan yang statusnya menikah, sebagai ibu rumah tangga. Tingkat kemiskinan yang dialami oleh kepala rumah tangga perempuan lebih dalam dibandingkan dengan perempuan sebagai ibu rumah tangga, terlebih jika kepala keluarga perempuan merupakan generasi sandwich. Perempuan miskin yang sudah menikah lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga, jarang sekali ibu rumah tangga yang memiliki usaha atau pekerjaan. Tingkat kemiskinan yang dialami oleh ibu rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang memiliki usaha (pekerjaan). Penyebab terjadinya perangkap kemiskinan pada perempuan di kota Surabaya adalah kemiskinan, keterisolasian, ketidakberdayaan, kelemahan fisik dan kerentanan. Namun faktor dominan yang menyebabkan perempuan terjerat perangkap kemiskinan adalah feminisasi kemiskinan dan relasi gender dalam keluarga yang tidak setara.
Komodifikasi Agama pada Perumahan Syariah di Surabaya Yelly Elanda
Jurnal Al-Hikmah Vol. 17 No. 2 (2019): Ilmu Dakwah dan Pengembangan Masyarakat
Publisher : Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/alhikmah.v17i1.3

Abstract

Syariah housing has now penetrated the city of Surabaya. The syariahisation project is a form of the commodification of religion that marries business and religious symbols. The rise of syariah housing will result in spatial and social segregation. This paper will discuss the forms of the commodification of religion in syariah housing and the impact of the commodification of religion in syariah housing in the Surabaya area. This research uses descriptive qualitative method. Data collection techniques through literature studies by collecting all material or data that corroborate and are related to the study of sharia housing and the commodification of religion. The results of this study indicate that there are four forms of the commodification of religion in syariah housing. First, from the facilities offered by the use of religious labels in the form of an Islamic environment, there are regular studies, tahfidz houses, mosques, archery areas. Second, the marketing strategy by using a tagline that contains elements of Islam; inviting customers to the concept of religious seminars, using the names of housing that is closely attached to the nuances of Islam. Third, "Islamic" fashion used by marketing agents and models in the brochure. Fourth, syariah-based payment systems. With the concept of sharia housing this will have an impact on the formation of social identity and creating a gated community.