Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBEDAAN PENGARUH AKTIVITAS LATIHAN AEROBIK RINGAN DAN SEDANG TERHADAP KADAR SITOKIN PROINFLAMASI TUMOR NECROSIS FACTOR (TNF-α) PADA REMAJA evy noorhasanah
CNJ: Caring Nursing Journal Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.162 KB)

Abstract

Angka kesakitan dan rendahnya tingkat kebugaran pada remaja masih sangat tinggi yang berdampak terhadap aktivitas remaja sehari-hari. Remaja akan memiliki tingkat kebugaran adekuat dengan melakukan latihan fisik secara reguler dengan intensitas, durasi, jenis, dan frekuensi yang tepat tanpa kelelahan yang berlebihan. Olahraga memiliki pengaruh terhadap fungsi biologis, pengaruh positif yaitu memperbaiki fungsi tubuh, pengaruh negatif yaitu menghambat atau merusak fungsi biologis tubuh terutama pada usia remaja. Latihan fisik dapat menjadi sebuah stresor yang akan merangsang kerusakan atau cedera pada otot yang disebabkan peradangan lokal. Intensitas dan durasi olah raga yang sesuai dapat berdampak terhadap sistem imun tubuh yaitu sitokin proinflamasi TNF-α. TNF-α dapat dijadikan sebagai marker biologis untuk mengaktivasi peradangan lokal sehingga mengaktivasi sistem imun lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan rancangan acak kelompok kontrol post test pada 31 responden yang terdiri dari kelompok latihan aerobik ringan 9 orang, aerobik sedang 12 orang dan kontrol 10 orang. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan bermakna pada kadar TNF-α pada kelompok latihan aerobik ringan, sedang, dan kontrol dengan nilai p= 0.036 < 0.05). Sehingga sitokin proinflamasi TNF-α dapat dijadikan marker biologis untuk mengetahui intensitas olahraga yang tepat, olahraga ringan dan sedang dapat disarankan untuk dilakukan secara teratur agar dapat meningkatkan sistem imun.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG STATUS GIZI SEIMBANG DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAAMANG I KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR Mika Aprianti; Evy Noorhasanah; Rita Kirana; Muhammad Anwari; Agus Rachmadi
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 4 No. 3: Nopember 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on the Ministry of Health's Riskesdes in 2018, the stunting prevalence rate in Kotim Regency was 48.84%, the highest in Central Kalimantan. But in 2022 referring to the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) data from the Indonesian Ministry of Health the stunting prevalence rate in Kotim district was 27.9% and based on the results of the Indonesian Health Survey (SKI) in 2023 the stunting prevalence rate decreased to 18.24% (Central Kalimantan Provincial Health Office, 2023). The type of research used is descriptive analytic with a cross sectional approach, where data collection is done only once to analyze the relationship between the level of education and knowledge of mothers about balanced nutritional status with the incidence of stunting. There is a relationship between knowledge and the incidence of stunting. Stunting is caused by several factors, one of which is maternal factors (maternal knowledge about nutritional status, exclusive breastfeeding and complementary foods (TNP2K, 2017). Lack of maternal understanding about nutrition, exclusive breastfeeding and complementary foods greatly affects the nutritional status of children. Nutrient intake before, during and after childbirth can put children at risk of impaired growth and development, brain structure and function, low productivity, and chronic diseases in adulthood.
HUBUNGAN SCREEN TIME DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 10 KOTA BANJARMASIN Khairunnisa; Evy Noorhasanah; Nor Isna Tauhidah; Lukman Harun
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v5i1.1822

Abstract

Screen time yang tinggi dan aktivitas fisik yang rendah sering dikaitkan dengan masalah status gizi pada remaja, tercermin dari prevalensi obesitas usia 13–15 tahun di Kalimantan Selatan sebesar 3,91% dengan angka tertinggi di Kota Banjarmasin yaitu 8,38%, yang melampaui rata-rata provinsi dan mendekati target nasional RAN-PG dan SDGs (<15%). Perubahan gaya hidup akibat penggunaan gawai dan kurangnya aktivitas fisik berpotensi memengaruhi keseimbangan energi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan screen time dan aktivitas fisik dengan status gizi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 101 siswa dengan sampel sebanyak 81 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengukuran screen time dilakukan menggunakan QueST, aktivitas fisik diukur dengan IPAQ-SF, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki screen time kategori tinggi sebanyak 61 siswa (75,3%), hampir setengah responden memiliki aktivitas fisik rendah sebanyak 41 siswa (50,6%), dan sebagian besar responden memiliki status gizi kategori baik sebanyak 31 siswa (38,3%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara screen time dengan status gizi (p value=0,622; r=-0,056) maupun antara aktivitas fisik dengan status gizi (p value=0,427; r=0,090). Pendekatan kesehatan yang komprehensif perlu diperkuat untuk mendukung pemeliharaan status gizi remaja. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain longitudinal serta mempertimbangkan faktor lain, seperti pola makan dan penyakit guna memperoleh gambaran hubungan yang lebih komprehensif.