Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Suhu Peyimpanan dan Penambahan Berbagai Jenis dan Konsentrasi Stabilizer pada Pengaplikasian Edible Coating Gel Lidah Buaya (Aloe Vera Linn.) Terhadap Mutu Cabai Merah (Capsicum Annuum L.) Rahayu, Fitriyani Dwi; Santosa, Arif Prashadi; Dewanto, Hamami Alfasani
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v7i.1197

Abstract

Cabai termasuk dalam produk hasil pertanian klimaterik, dimana cabai masih mengalami proses respirasi yang terus berlangsung bahkan saat setelah dipanen. Upaya untuk memperpanjang umur simpan cabai dengan mengurangi laju respirasi melalui penyesuaian kondisi penyimpanan, pengemasan dan penanganan fisik produk seperti edible coating. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan edible coating adalah lidah buaya. Untuk meningkatkan edible coating lidah buaya maka perlu di tambahkan suatu bahan sebagai bahan penstabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi pengaruh antara suhu penyimpanan dan penambahan berbagai jenis dan konsentrasi stabilizer pada pengaplikasian edible coating gel lidah buaya terhadap mutu cabai merah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan tiga kali ulangan. Masing-masing sampel diuji kadar vitamin C, susut bobot, kadar air, tingkat kekerasan, total mikroba dan analis sensoris. Data dianalisis secara statistik menggunakan Analysis of variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan Duncan 5%. Hasil penelitian menujukan bahwa selama 12 hari penyimpanan terbaik pada perlakuan S2E7 dan S2E3 dapat memperkecil penurunan kadar vitamin C, kadar air, tingkat kekerasan dan memperkecil kenaikan susut bobot dan total mikroba serta apat mempertahankan tekstur, aroma warna dan kesegaran cabai merah.
Karakteristik Fisikokimia dan Sensoris Susu Biji Kecipir (Psophocarpus Tetragonolobus L.) pada Penambahan Berbagai Taraf Konsentrasi CMC (Carboxy Methyl Cellulose) dan Lama Waktu Blansir Saputri, Windy Adistya; Santosa, Arif Prashadi; Purnawanto, Agus Mulyadi
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v7i.1209

Abstract

Susu kecipir memiliki nilai gizi yang sama dengan susu lainnya dan memiliki sumber protein nabati yang baik. Susu kecipir bisa dijadikan sebagai pilihan bagi orang yang sedang mengurangi mengkonsumsi protein hewani karena alasan Kesehatan. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia masih kurang menyukai susu kecipir dikarenakan baunya yang kurang sedap (bahasa Jawa: Langu). Oleh karena itu, untuk meningkatkan cita rasa, aroma, dan mutu susu biji kecipir diperlukan perlakuan dan penambahan bahan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan CMC, lama waktu blansir, dan interaksi terhadap karakteristik fisikokimia dan sensoris susu biji kecipir. Penelitian ini menggunakan RAL 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama terdiri dari C1 = kontrol; C2 = 0.25%; C3 = 0.75%. faktor kedua terdiri dari B1 = 15 menit; B2 = 20 menit; B3 = 25 menit dan data diuji dengan menggunakan analisis sidik ragam ANOVA pada taraf 5% dan apabila terjadi perbedaan yang nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%. Kemudian masing-masing sampel diuji karakteristik fisikokimia meliputi kadar protein, kadar lemak, kadar air, dan kadar serat serta sensorinya meliputi warna, aroma, rasa, dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan CMC dan lama waktu blansir berpengaruh nyata terhadap analisis proksimat kadar protein, kadar lemak, dan kadar serat sedangkan kadar air tidak berbeda nyata. Kemudian pada analisis sensoris susu kecipir berpengaruh nyata terhadap semua variabel.
Production of High Protein MOCAF (Modified Cassava Flour) Using Papain and Lactic Acid Bacteria Afifah, DIni Nur; Ma'ruf, Anwar; Putri, Regita Nanda; Santosa, Arif Prashadi; Hamad, Alwani
Molekul Vol 19 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2024.19.1.9712

Abstract

Wheat is one of Indonesia's primary sources of carbohydrates. However, the need for wheat still depends on imports. So, developing local flour based on Indonesia's natural resources is necessary. One source of carbohydrates easily found in Indonesia is cassava (Manihot esculenta crantz). Although there are many in Indonesia, the diversification of cassava-based products is still limited. In this research, MOCAF flour was developed and produced by fermenting cassava tubers with lactic acid bacteria. The enzymatic activity during the MOCAF (Modified Cassava Flour) production process is believed to change the physicochemical properties of cassava so that MOCAF products have characteristics similar to wheat flour and are expected to meet the gap between the demand and availability of flour. Even though it can potentially substitute wheat, MOCAF flour only has about 1% protein content, influencing dough rheology. According to the problem, a process modification was done by adding the enzyme papain (PAP) as a support enzyme to improve the performance of lactic acid bacteria (LAB). In order to study the effect of the papain enzyme, variations were made on the ratio of lactic acid starter: papain enzyme (LAB: PAP) and fermentation time. The ratio of (LAB: PAP) was varied to 40:1, 40:3, 40:5, 40:7, and 40:9, while the fermentation period was varied to 24, 48, 72, 96, and 120 hours. The fermentation was conducted by using cassava varieties of Singkur aerobically. The primary starter contained Lactobacillus, sp, developed by PT. Rumah Mocaf Indonesia and the papain enzyme used have an activity of 100,000 U/g. Data analysis showed that the addition of papain enzyme doses with a ratio to the lactic acid starter of 40:7 was able to produce MOCAF with the best characteristics: protein content, starch content, and swelling power of 3.72%, 9.99%, 16.00%, respectively. The data trend of research also showed that the number of papain enzymes only significantly affects starch content and swelling power. On the other hand, fermentation time has a significant effect on these three characteristics (protein, starch, swelling power).
[RETRACTED] KARAKTERISTIK MINUMAN SINBIOTIK SOYGHURT KEDELAI KUNING (Glycine max) DAN KEDELAI HITAM (Glycine soja L.) DENGAN PENAMBAHAN INULIN PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA Santosa, Arif Prashadi; Afifah, Dini Nur; Purnawanto, Agus Mulyadi
Jurnal Gizi dan Pangan Soedirman Vol 6 No 2 (2022): JURNAL GIZI DAN PANGAN SOEDIRMAN
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi, Jurusan Kesmas Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.114 KB) | DOI: 10.20884/1.jgipas.2022.6.2.6933

Abstract

Synbiotic drinks are beverages that contain probiotic bacteria as well as prebiotics as a substrate for probiotic bacteria. This study aims to determine the type of soybean, the concentration of inulin, and the interactions that affect the proximate and organoleptic characteristics of soyghurt synbiotics. The research was conducted at the basic Agrotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture and Fisheries, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, from April to June 2022. This study used a Completely Randomized Design (CRD) of two factors. The first factor is soybean type: Yellow soybean (Glycine max) not peeled (K1), yellow soybean (Glycine max) peeled (K2), black soybean (Glycine Soja L.) peeled (K3), and black soybean (Glycine Soja L.) not peeled (K4). The second factor was the concentration of Inulin: 0% (I0), 3% (I1), 5% (I2), and 7% (I3). Observation variables measured pH, water content, protein content, ash content, carbohydrate content, fat content, fiber content, lactic acid bacteria viability test, antioxidant and organoleptic activity. The results showed that K4I3 (unpeeled black soybean) between soybean type and inulin concentration affected the proximate and organoleptic characteristics. The values were pH 4.30, water content 84.29, protein 6.29, ash content 0.21, carbohydrates 8 .32, fat 0.89, fiber 12.39, BAL 25x108 CFU/ml, antioxidant 50.93, color 3.95 (Neutral), aroma 4.5 (Neutral), taste 4.4 (Neutral), Softness 4 .3 (Neutral) and a total of 4.25 (Neutral).
Karakteristik Minuman Sinbiotik Soyghurt Kedelai ( Glycine Max ) Dan Edamame ( Glycine Max (L) Merill ) Dengan Penambahan Inulin Pada Konsentrasi Yang Berbeda Santosa, Arif Prashadi; Purnawanto, Agus Mulyadi; Salsabilah, Anggi Maulida
Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jiphp.v6i1.11822

Abstract

Minuman sinbiotik merupakan minuman yang mengandung bakteri probiotik sekaligus prebiotik sebagai bahan pangan bakteri probiotik. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis kedelai, konsentrasi inulin dan interaksinya terhadap kandungan proksimat dan organoleptik minuman sinbiotik soyghurt. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agroteknologi dasar Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto mulai bulan Oktober hingga November 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama jenis kedelai: Kedelai ( Glycine max ) (K1) dan Edamame ( Glycine max L. Merill ) (K2). Faktor kedua konsentrasi Inulin: 0% (I0), 3% (I1), 5% (I2), dan 7% (I3). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jenis kedelai (K) berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar lemak, karbohidrat, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan warna soyghurt. Variasi konsentrasi inulin (I) berpengaruh nyata terhadap kadar air, pH, kadar protein, karbohidrat, viabilitas bakteri asam laktat (BAL), dan tingkat kesukaan warna, aroma, rasa, kekentalan, dan kesukaan keseluruhan. Interaksi K dan I berpengaruh nyata terhadap analisis proksimat pada variabel kadar air, pH, kadar protein, kadar lemak, karbohidrat dan viabilitas bakteri asam laktat. Sedangkan terhadap analisis sensoris berpengaruh nyata terhadap variabel warna, aroma, rasa, kekentalan dan kesukaan. Perlakuan terbaik berdasarkan uji proksimat dan sensoris adalah perlakuan kedelai edamame dengan penambahan konsentrasi inulin 3% ( K2I1 ) dengan kadar air 85,2%, pH 4,45%, kadar abu 0,32%, kadar protein 3,14%, kadar lemak 2,78%, kadar serat 0,021%, karbohidrat 8,55% dan viabilitas BAL 4,2x108 CFU/ml. Warna 4.35 ( Netral ), aroma 4,05 ( Netral ), rasa 3,6 ( Netral ), kekentalan 4,25 ( Netral ) dan kesukaan keseluruhan 3,95 ( Netral ).