Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Effect of Crude Jackfruit (Artocarpus heterophyllus) Leaf Extract on Pseudomonas fluorescens Bacteria In Vitro Nilakandhi, Tania; Laily, Anggita Noer; Hidayati, Desy Amalia; Sumiana, I Kadek; Riyadi, Farid Mukhtar; Fauzi, Arini Resti
Journal of Fish Health Vol. 5 No. 4 (2025): Journal of Fish Health
Publisher : Aquaculture Department, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jfh.v5i4.8673

Abstract

Cultivation activities often experience obstacles due to bacterial disease attacks, one of which is caused by P. fluorescens bacteria. Commercial treatment efforts include the use of antibiotics, but this can cause bacterial resistance. Therefore, an alternative treatment that is more environmentally friendly but can still be used as medicine is needed, namely the use of natural ingredients such as jackfruit (A. heterophyllus) leaves. This study aims to determine the effect of crude jackfruit (A. heterophyllus) leaf extract on P. fluorescens bacteria in vitro. This study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 5 treatments, 2 controls, and 3 replications. The control treatment consisted of a positive control (Tetracycline 30 ppm), and a negative control (only using disc paper), as well as 5 different extract dose treatments, namely treatment A (60 ppm), treatment B (120 ppm), treatment C (180 ppm), treatment D (240 ppm) and treatment E (300 ppm). The results of the study showed that the use of crude jackfruit (A. heterophyllus) leaf extract affected P. fluorescens bacteria. The relationship between the use of crude jackfruit (A. heterophyllus) leaf extract with different doses and the resulting inhibition zone showed a quadratic regression pattern with the equation y = -0.0001x2 + 0.05x + 6.327.
Potensi Antibakteri Ekstrak Daun Sambung Nyawa terhadap Aeromonas Hydrophila Secara In Vitro Riyadi, Farid Mukhtar; Takwin, Bagus Ansani; Sugiarto, Sugiarto
Jurnal Aquaculture Indonesia Vol 5, No 1 (2025)
Publisher : Prodi Akuakultur Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jai.v5i1.7195

Abstract

Sektor perikanan memainkan peran penting dalam pembangunan nasional, khususnya melalui budidaya perikanan yang kini mengalami pergeseran dari sistem tradisional ke sistem intensif. Namun, sistem intensif ini rentan terhadap serangan penyakit seperti Aeromonas hydrophila. Penggunaan antibiotik sebagai solusi menimbulkan berbagai permasalahan, seperti resistensi bakteri, tingginya biaya, dan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman, salah satunya pemanfaatan bahan alami seperti daun sambung nyawa (Gynura procumbens) yang masih jarang dipergunakan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan dosis optimal ekstrak daun sambung nyawa dalam menghambat pertumbuhan A. hydrophila. Penelitian dilaksanakan bulan Desember–Januari 2018 di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan dosis (300–1500 ppm), dua kontrol (positif 5000 ppm dan negatif), serta tiga kali pengulangan. Hasil studi menunjukkan bahwa dosis 1500 ppm menghasilkan zona bening terbesar sebesar 13,94 mm, sedangkan dosis 300 ppm menghasilkan zona terkecil yaitu 8,75 mm. Penyusutan zona bening setelah 48 jam menunjukkan bahwa ekstrak bersifat bakteriostatik. Terdapat hubungan linier antara peningkatan dosis dan daya hambat dengan persamaan Y = 0,002x+8,43 dan nilai koefisien determinasi R² sebesar 0,5906, yang mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak G. procumbens berbanding lurus dengan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila.
POLA PEMANFAATAN EKOSISTEM LAMUN OLEH MASYARAKAT PESISIR DI KABUPATEN BUTON SELATAN S, La Suriadi; Riyadi, Farid Mukhtar; Sugiarto, Sugiarto; Thamrin, Meliyanti; Djai, Suhaiba
Jurnal Salamata Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v7i2.17590

Abstract

Ekosistem lamun memiliki peran vital bagi keberlanjutan pesisir, baik sebagai penyedia pangan, pelindung habitat, maupun penopang sosial-ekonomi masyarakat. Namun, pemanfaatannya yang tidak seimbang berpotensi menurunkan daya dukung ekosistem. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola pemanfaatan ekosistem lamun oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Buton Selatan pada dimensi ekonomi, sosial-budaya, dan ekologi, serta menilai faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian dilaksanakan pada Maret–Juni 2024 di Pulau Siompu, Pulau Kadatua, dan Teluk Lande dengan pendekatan survei rumah tangga, wawancara, dan pemantauan lapangan. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis menggunakan metode deskriptif, ANOVA satu arah, serta transformasi MSI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan lamun masih rendah, dengan dominasi pada dimensi ekonomi berupa konsumsi dan penjualan ikan, sedangkan pemanfaatan sosial-budaya dan ekologi belum berkembang optimal. Terdapat perbedaan signifikan antar lokasi, di mana masyarakat di wilayah kepulauan (Siompu dan Kadatua) lebih intensif memanfaatkan lamun dibandingkan Teluk Lande. Sementara itu, tingkat pendidikan formal tidak berpengaruh nyata terhadap pola pemanfaatan, yang lebih banyak dipengaruhi kebutuhan subsisten, pengalaman praktis, dan tradisi lokal. Temuan ini menegaskan bahwa strategi pengelolaan lamun perlu mempertimbangkan konteks sosial-ekonomi masyarakat setempat agar dapat mendukung keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan pesisir.Seagrass ecosystems play a crucial role in supporting coastal sustainability by providing food resources, protecting habitats, and sustaining the socio-economic life of local communities. However, unbalanced utilization threatens their ecological resilience and long-term productivity. This study aims to describe the utilization patterns of seagrass ecosystems by coastal communities in South Buton Regency across economic, sociocultural, and ecological dimensions, as well as to identify the influencing factors. The research was conducted from March to June 2024 in Siompu Island, Kadatua Island, and Lande Bay through household surveys, key informant interviews, and field monitoring. Data were collected using Likert-scale questionnaires and analyzed with descriptive statistics, one-way ANOVA, and MSI transformation. The findings reveal that seagrass utilization remains relatively low, dominated by economic activities such as fish consumption and sales, while sociocultural and ecological uses are still underdeveloped. Significant differences were found among locations, with island communities (Siompu and Kadatua) utilizing seagrass more intensively than those in Lande Bay. Furthermore, formal education level did not significantly affect utilization patterns, which were mainly shaped by subsistence needs, practical experience, and local traditions. These results highlight the importance of integrating socio-economic contexts into seagrass management strategies to ensure ecosystem sustainability and enhance coastal community livelihoods.