Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

E-contract Consensus in Indonesian Contract Law Sulistyaningrum, Helena Primadianti
Batulis Civil Law Review Vol 5, No 2 (2024): VOLUME 5 ISSUE 2, JULY 2024
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47268/ballrev.v5i2.1930

Abstract

Introduction: In the era of Society 5.0, the use of IT in implementing agreements in Indonesia is inevitable. The development of e-contracts, becoming increasingly necessary in society, is demanding the business world's attention. Particularly in Indonesia's Treaty Law, the concept of consensual e-contracting emerged, suggesting that even in the absence of direct meetings, parties could still realize an agreement through the e-contract. Purposes of the Research:  This study aims to analyze and describe the existence of e-contract consensus in contract law in Indonesia from the point of view of contract theory. Methods of the Research: This specific type of investigation is doctrinal law research, which endeavors to uncover the truth by employing legal principles, foundational doctrines, and doctrinal law as supporting material. This work utilizes an inductive methodology, first presenting specific assertions and then drawing a general conclusion from them.Results of the Research: One of the legal prerequisites for an agreement is consensus. The study's findings indicate that legislative regulations in Indonesia have incorporated e-contract consensus into contract law. We apply Uitings theory, Verzending theory, and Ontvangs theory as agreement theories to determine the existence of e-contract consensus. The legislation contains provisions that specifically address the maintenance of electronic transactions. In general, it establishes that an electronic transaction has taken place when the parties to an electronic contract (e-contract) issue a statement of acceptance of an offer.
Pendampingan Keterampilan Pengelolaan Keuangan Berbasis Aplikasi Bagi UMKM Makanan dan Minuman Di Kota Palembang Gozali, Efva Octavina Donata; Hamzah, Ruth Samantha; Pratiwi, Trie Sartika; Sulistyaningrum, Helena Primadianti
Sricommerce: Journal of Sriwijaya Community Services Vol. 5 No. 1 (2024): Sricommerce: Journal of Sriwijaya Community Services
Publisher : Faculty of Economics, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29259/jscs.v5i1.158

Abstract

UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di sektor makanan dan minuman di Kota Palembang memiliki potensi besar untuk berkembang, namun seringkali dihadapkan pada tantangan dalam mengelola keuangan dengan efisien dan efektif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan keterampilan pengelolaan keuangan kepada UMKM makanan dan minuman dengan memanfaatkan aplikasi berbasis teknologi. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan berbagai metode, seperti ceramah, tutorial, diskusi interaktif, dan simulasi. Aplikasi berbasis teknologi digunakan sebagai alat bantu untuk membantu UMKM dalam mencatat transaksi, mengelola inventaris, menghitung pendapatan dan biaya, serta menyusun laporan keuangan. Selain itu, pelatihan melibatkan aspek pengelolaan keuangan, pengembangan bisnis, dan pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan keterampilan pengelolaan keuangan berbasis aplikasi berdampak positif terhadap UMKM makanan dan minuman di Kota Palembang. Mereka dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih efisien, meningkatkan akurasi pelaporan keuangan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Selain itu, pemanfaatan aplikasi berbasis teknologi juga membantu meningkatkan aksesibilitas informasi keuangan dan memudahkan pemilik UMKM dalam mengambil keputusan strategis. Saran yang dapat diberikan, yaitu diperlukan pendampingan yang berkelanjutan agar UMKM dapat terus mengembangkan dan mengimplementasikan keterampilan pengelolaan keuangan mereka. Target selanjutnya adalah mengadakan lokakarya lanjutan yang lebih spesifik dalam penggunaan fitur-fitur lanjutan dalam aplikasi tersebut.
KEPASTIAN HUKUM BAGI KONSUMEN TERHADAP PENJUALAN THRIFTING FASHION IMPOR DALAM MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN KONSUMEN Sulistyaningrum, Helena Primadianti; Afrilia, Dian; Y, Annalisa; Murty, Theta; Zulaikha, Almira Novia
CREPIDO Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Crepido November 2023
Publisher : Bagian Dasar-Dasar Ilmu Hukum & Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/crepido.5.2.229-244

Abstract

Perdagangan Indonesia semakin maju, berbagai peluang bisnis menjadikan pelaku usaha semakin banyak menjalankan aktivitas dagang yang mendatangkan banyak keuntungan, seperti halnya penjualan thrifting fashion impor (jual beli pakaian bekas). Semakin berkembangnya Bisnis Thrifting Fashion impor ini dianggap mematikan industry local dalam negeri di Indonesia. Tujuan penelitian ini menelaah problematika hukum apa yang terjadi sehingga penjualan thrifting fashion impor ini semakin berkembang walaupun sudah ada peraturan terkait Larangan Impor Pakaian Bekas. Sejauhmana kepastian hukum yang diberikan kepada konsumen terhadap penjualan thrifting fashion impor ini dalam kaitan mewujudkan kesejahteran masyarakat selaku konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan-peraturan yang mengatur impor pakaian bekas ini telah diatur dengan tegas. Namun setelah dikaji, ada peraturan yang saling bertentangan yang membuat celah untyk dapat menyimpangi peraturan yang lainnya khususnya terhadap impor pakaian bekas ini. Kepastian hukum akan peraturan yang ada sebenarnya sudah cukup dilakukan, namun yang terpenting adalah sinkronisasi peraturan-peraturan yang ada dilapangan yang dapat menindaklanjuti berkembanganya penjualan Thrifting Fashion impor ini yang mungkin dapat memberikan dampak negative bagi masyarakat sebagai konsumen.
ASAS ITIKAD BAIK DALAM MEMORANDUM OF UNDERSTANDING: TINJAUAN TERHADAP HUKUM PERJANJIAN DI INDONESIA Prima, Muzdalifah Karsa; Sulistyaningrum, Helena Primadianti
Sriwijaya Journal of Private Law Volume 2, No.1 : April 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sjpl.v2i1.4814

Abstract

This research aims to provide in-depth insight into the role of the principle of good faith in Memorandums of Understanding (MoU) in Indonesia and how this principle supports fair and sustainable relations between the parties. The principle of good faith is the legal principle that underlies the formation, implementation and cancellation of agreements, including MoUs. In the context of the MoU, the principle of good faith provides an ethical and legal basis that must be adhered to by the parties involved. This research explains how the principle of good faith influences the process of forming an MoU by emphasizing the importance of transparency, good intentions and mutual understanding between the parties. Apart from that, the principle of good faith also plays an important role in ensuring parties comply with their commitments in accordance with the objectives of the agreement. Within the framework of contract law in Indonesia, this study explains the relevance of the principle of good faith to applicable regulations. Thus, this journal provides an understanding of contract law in Indonesia and the principles underlying it.
TANGGUNG JAWAB HUKUM NOMINEE ATAS SAHAM DALAM PERJANJIAN PINJAM NAMA AKIBAT WANPRESTASI Tiara Annisa Abdillah; Sulistyaningrum, Helena Primadianti
The Officium Nobile Journal Vol. 2 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : The Officium Nobile Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/tonji.v2i2.600

Abstract

Abstract The practice of nominee agreements in the ownership of shares in Limited Liability Companies has become a growing legal phenomenon alongside the increasing complexity of business and investment activities in Indonesia. In this arrangement, shares are formally registered under the nominee’s name, while the economic benefits and actual control belong to the beneficial owner. This separation between formal ownership and substantive interest often leads to legal disputes, particularly when a default occurs and questions arise regarding the legal liability of the nominee. This study aims to analyze the legal regulation of nominee share agreements and to examine the legal responsibility of nominees in the event of default. The research employs a qualitative legal method with a descriptive approach, using library research through the examination of primary legal materials such as statutory regulations and court decisions, as well as secondary legal materials including legal literature and scholarly journals. The findings indicate that Indonesian company law adheres to the principle of formal share ownership, whereby the party whose name is recorded in the shareholders register is legally recognized as the legitimate shareholder with all corresponding rights and obligations. The legal relationship between the nominee and the beneficial owner exists solely within the realm of private law and depends on the validity of the nominee agreement. If such an agreement is made for purposes contrary to statutory provisions, particularly those concerning investment regulations and transparency of share ownership, it may be declared null and void. In cases of default, the nominee may still be held legally accountable both internally to the beneficial owner and externally to third parties. This research concludes that nominee share agreements involve significant legal risks and do not provide adequate legal certainty or protection. Keywords: Nominee, Agreement, Nominee, Default Abstrak Praktik perjanjian pinjam nama (nominee agreement) dalam kepemilikan saham Perseroan Terbatas merupakan fenomena hukum yang berkembang seiring meningkatnya aktivitas investasi dan kebutuhan fleksibilitas dunia usaha di Indonesia. Dalam praktiknya, kepemilikan saham dicatat secara administratif atas nama nominee, sementara kepentingan ekonomi dan pengendalian berada pada beneficial owner. Kondisi ini menimbulkan persoalan hukum ketika terjadi wanprestasi, khususnya terkait tanggung jawab hukum nominee atas saham yang secara formal berada atas namanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum perjanjian pinjam nama saham serta menelaah tanggung jawab hukum nominee dalam hal terjadinya wanprestasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan, serta bahan hukum sekunder berupa literatur dan jurnal ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum perseroan Indonesia menganut prinsip kepemilikan saham secara formal, sehingga nominee yang tercatat dalam daftar pemegang saham diakui sebagai pemegang saham yang sah dengan seluruh hak dan kewajibannya. Hubungan hukum antara nominee dan beneficial owner berada dalam ranah perdata dan bergantung pada keabsahan perjanjian pinjam nama. Apabila perjanjian tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, khususnya terkait penanaman modal dan keterbukaan kepemilikan saham, maka perjanjian dapat dinyatakan batal demi hukum. Dalam hal wanprestasi, nominee tetap dapat dimintai pertanggungjawaban hukum baik dalam hubungan internal maupun terhadap pihak ketiga. Penelitian ini menegaskan bahwa perjanjian pinjam nama saham mengandung risiko hukum yang tinggi dan tidak memberikan perlindungan hukum yang optimal. Kata Kunci: Perjanjian Pinjam Nama, Nominee, Wanprestasi
Perlindungan Hukum terhadap Data Pribadi Konsumen dalam Fitur PayLater pada Platform E-Commerce Angraini, Oktavia Salsabila; Sulistyaningrum, Helena Primadianti
Consensus : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 4 No. 3 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46839/consensus.v4i3.1821

Abstract

The advances in digital technology have driven increased use of the PayLater feature on e-commerce platforms because it offers consumers convenience in transactions. However, this convenience also poses risks to personal data protection, particularly regarding the collection, storage, and potential misuse of data by service providers. This study aims to examine the legal protection of consumers’ personal data in the use of the PayLater feature and to assess the effectiveness of existing regulations, particularly Law No. 27 of 2022 on Personal Data Protection. The study employs a normative legal method with a juridical and conceptual approach through a literature review. The findings indicate that while regulations have established obligations for businesses to protect personal data, their implementation still faces shortcomings, particularly regarding transparency, user consent, and oversight. The misuse of personal data also has the potential to lead to various criminal acts, such as theft, online fraud, the creation of fake accounts, money laundering, and illegal transactions. Therefore, it is necessary to strengthen oversight and increase legal awareness among both businesses and consumers so that personal data protection within the digital ecosystem can function optimally.
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN DAN PELAKU USAHA DALAM PERDAGANGAN ONLINE Sari, Indah Kumala; Cahyani, Putri Dwi; Marpaung, Ruth Jelita O.; Sulistyaningrum, Helena Primadianti
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.1676

Abstract

Studi ini meneliti perlindungan hukum bagi konsumen dan pelaku usaha dalam perdagangan daring, khususnya dengan pesatnya pertumbuhan teknologi digital. Perdagangan elektronik (e-commerce) membuat transaksi lebih mudah dan efisien, tetapi juga menimbulkan masalah hukum seperti penipuan, ketidak sesuaian produk, dan pelanggaran kontrak. Studi ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan regulasi dan tinjauan pustaka, khususnya berfokus pada Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 dan peraturan terkait tentang hukum informasi dan transaksi elektronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kerangka hukum untuk perdagangan daring telah tersedia, implementasinya masih menghadapi tantangan di bidang seperti pengawasan, penegakan hukum, dan dinamika transaksi digital yang terus berkembang. Oleh karena itu, perlu untuk memperkuat regulasi dan peran lembaga untuk memastikan kepastian hukum yang seimbang bagi konsumen dan pelaku usaha dalam perdagangan daring.
Efektivitas Mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dalam Menjaga Kelangsungan Usaha Koperasi Pasca Pandemi Covid-19 Najmatus Sifarani; Siti Rohmawati; Dinda Deswita; Sulistyaningrum, Helena primadianti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dalam menjaga kelangsungan usaha koperasi pasca pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan kemampuan finansial masyarakat, termasuk koperasi, yang berdampak pada meningkatnya kredit macet, gangguan likuiditas, serta kesulitan koperasi dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang. PKPU hadir sebagai instrumen hukum yang memberikan kesempatan kepada debitur untuk menunda pembayaran dan menyusun rencana perdamaian guna menghindari kepailitan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan melalui analisis terhadap ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU serta Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, serta literatur dan yurisprudensi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKPU cukup efektif sebagai upaya pencegahan kepailitan apabila koperasi masih memiliki prospek usaha dan mampu menyusun skema restrukturisasi yang rasional serta disetujui oleh kreditur. Efektivitasnya dipengaruhi oleh kondisi keuangan koperasi, kualitas tata kelola, serta itikad baik debitur dalam menjalankan kesepakatan. Penelitian ini juga menemukan adanya kelemahan normatif, seperti belum adanya batas maksimal jangka waktu pelunasan utang dalam rencana perdamaian yang telah dihomologasi, yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum. Dengan demikian, PKPU dapat menjadi instrumen penyelamatan koperasi, tetapi bukan solusi yang bersifat mutlak, sehingga diperlukan penguatan regulasi serta peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi untuk menjamin keberlanjutan usaha pasca pandemi.