Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Sebuah Study Kasus tentang Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan : Cedera Kepala Ringan Elisabeth Wahyu Savitri
Elisabeth Health Jurnal Vol 6 No 2 (2021): Vol. 6 No. 2, Edisi Desember 2021 : Elisabeth Health Jurnal
Publisher : STIKes Santa Elisabeth Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52317/ehj.v6i2.343

Abstract

Abstrak Cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Cedera kepala (trauma capitis) adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak langsung megenai kepala yang mengakibatkan luka dikulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak, serta mengakibatkan gangguan neurologis (Putri Rahayu 2016) Pasien yang menggalami cedera kepala akan menggalami pembengkakan otak atau terjadi perdarahan di tengkorak, tekanan intrakardinal akan meningkat dan tekanan perfusi otak akan menurun. Saat keadaan semakin menurun atau kritis maka denyut nadi menurun (bradikardia) dan bahkan frekuensi respirasi berkurang. Tekanan darah dalam otak terus meningkat hingga titik kritis tertentu dimana cedera kepala memburuk dan semua tanda vital terganggu dan berakhir pada kematian (widyawati, 2012). _______________________________________________________ Menurut WHO meperkirakan bahwa pada tahun 2020 kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab dan trauma ke tiga terbanyak di dunia. Trauma kepala merupakan penyakit yang sering terjadi di zaman modern seperti sekarang . jadi seharusnya setiap individu harus patuh terhadap peraturan dan undang-undang lalu lintas. Menurut Riskesdas 2018, prevalensi kejadian cedera kepala di Indonesia berada pada angka 11,9 %. Cedera kepala pada anggota gerak bawah dan bagian anggota gerak atas dengan prevalensi masing-masing 67,9% dan 32,7%. Kejadian cedera kepala yang terjadi di provinsi bali memiliki prevalensi sebesar 10,7% , dimana provinsi dengan cedera kepala tertinggi yaitu provinsi gorontolo dengan prevalensi 17,9 (Kementrian Kesehatan RI, 2019) Insiden cedera kepala di Kalimantan Barat khususnya di kota Pontianak angka kejadian cedera kepala kepala 11,3% ( RISKESDAS 2018 ). Menurut penelitian yang di lakukan oleh Sutarjo dan Budijanto (2017) cedera kepala dapat menyebabkan pasien dan keluarga mengalami perubahan fisik maupun psikologis. Untuk itu perlu penanganan yang serius dalam memberi Asuhan Keperawatan. Dalam hal ini perawat memegang peranan yang penting terutama dalam pencegahan komplikasi
Pengaruh Weight Bearing Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Elisabeth Wahyu Savitri; Usu Sius
JIKP Jurnal Ilmiah Kesehatan PENCERAH Vol 9 No 02 (2020)
Publisher : LPPM STIKES Muhammadiyah Sidrap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.092 KB) | DOI: 10.12345/jikp.v9i02.189

Abstract

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi yang menetap, dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, ketika diukur paling tidak pada dua kali pengukuran dan pada dua kondisi yang berbeda dengan jarak dua minggu. Penyebab hipertensi secara garis besar dibedakan pada 2 faktor resiko yaitu faktor yang tidak dapat diubah (non modifiable risk factor) dan faktor yang dapat diubah. Hipertensi yang tidak terkontrol sebagai faktor penyebab dalam morbiditas dan mortalitas akibat timbulnya gangguan pada kardiovaskuler. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Weight Bearing Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi. Metode penelitian adalah quasi eksperiment dengan hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa weight bearing exercise selama 1 dan 2 hari tidak berpengaruh terhadap tekanan darah sistol sedangkan weight bearing exercise selama 3 hari berpengaruh terhadap tekanan darah sistol. Hasil ini lain menunjukkan bahwa weight bearing exercise selama 1, 2, dan 3 hari berpengaruh menurunkan tekanan darah diastole pada pasien hipertensi. Perawat sebagai petugas kesehatan pada garda terdepan dapat membantu pasien untuk melakukan suatu hal dalam memodifikasi faktor penyebab yang dapat diubah agar pasien tidak mengalami komplikasi yang berat dari penyakitnya dengan melakukan weight bearing exercise cara turun tangga dan naik tangga.
Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat dan Faktor Yang Mempengaruhinya di masa Pandemi Covid-19 Dwi Kurniasih; Elly Marce Titihalawa; Elisabeth Wahyu Savitri
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.593 KB) | DOI: 10.33024/mnj.v4i4.6099

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Hubungan perawat dengan  klien merupakan relasi timbal balik yang saling menguntungkan dalam asuhan  keperawatan.Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi faktor dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat di ruang rawat inap sebuah RSU Santo Antonius Pontianak dimasa pandemic corona virus - 19.Metode: Desain penelitian adalah analisis deskriptif crossectional. Di RSU Santo Antonius Pontianak, pada 1-31  Mei 2021. Sasarannya perawat di ruang inap menggunakan tehnik total sampling 154 orang. Instrument yang digunakan adalah kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah Uji Fisher.Hasil:  Hasil dari penelitian ini  adalah  96,1 % pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dalam kategori baik; fase pra-interaksi sebanyak 94,8 % dalam kategori baik; fase orientasi sebanyak 95,5% dalam kategori baik; fase kerja sebanyak 96,1% dalam kategori baik; fase terminasi sebanyak 92,9% dalam kategori baik. Ada dua fator yang memiliki hubungan dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik dimasa pandemi covid 19. Faktor tersebut adalah jenis kelamin perempuan p= 0.000 0.05 dan perawat pasien covid 19; p= 0.009. 0.05Kesimpulan : Pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat diruang rawat inap RSU Santo Antonius Pontianak dimasa pandemi Covid -19 dalam kategori baik. Jenis kelamin perempuan serta peran perawat pasien covid 19 memiliki hubungan melakukan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik terus dilakukan guna meningkatkan kesehatan pasien. Kata Kunci: Faktor, komunikasi, perawat, terapeutik  ABSTRACT Background: The nurse-client relationship is a reciprocal relationship that is mutually beneficial in nursing care. Purpose: The purpose of this study is to identify factors in the implementation of nurse therapeutic communication in the inpatient room of Santo Antonius General Hospital Pontianak during the corona virus-19 pandemic.Subjects and Methods: The research design was a cross-sectional descriptive analysis. At the Santo Antonius General Hospital, Pontianak, on 1-31 May 2021. The target is the nurses in the inpatient room using a total sampling technique of 154 people. The instrument used is a questionnaire. The analytical method used is Fisher's exact test.Results: The results of this study were 96.1% of nurses' therapeutic communication implementation in the good category; the pre-interaction phase was 94.8% in the good category; orientation phase as much as 95.5% in the good category; working phase as much as 96.1% in good category; termination phase as much as 92.9% in the good category. There are two factors that have a relationship with the implementation of therapeutic communication during the covid 19 pandemic. These factors are female gender p = 0.000 0.05 and nurses for covid 19 patients; p= 0.009. 0.05Conclusion: The implementation of therapeutic communication between nurses in the inpatient room at the Santo Antonius General Hospital in Pontianak during the Covid-19 pandemic was in good category. The female gender and the role of the nurse for COVID-19 patients have a relationship in conducting therapeutic communication. Therapeutic communication continues to be carried out to improve patient health. Keywords: Factors, communication, nurses, therapeutic
Hubungan efek samping OAT dengan motivasi pasien TB paru untuk melanjutkan pengobatan Elisabeth Wahyu Savitri; Usu Sius; Martinus Sudarso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 3 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i3.5298

Abstract

Motivation to follow up on the intensive phase treatment with occurrence side effects of anti-tuberculosis drugs (ATD) among  patients with pulmonary tuberculosis Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium mycobacterium tuberculosis, which attacks various organs, especially the lungs. Transmission of TB disease through the air from droplets of infected patients. The main reason for treatment failure is the patient does not want to take medication regularly. Pulmonary TB cases in west kalimantan were not only contributed by new patients (97.5%) but also re-treatment patients (2.5%) in 2015. TB patients in sanggau district in 2011 were 390 people. There were only 39 patients with pulmonary TB who managed to get treatment in the work area of the damai center health center in 2017, while most were unsuccessful.Purpose:To find out the relationship between Motivation to follow up on the intensive phase treatment with occurrence side effects of anti-tuberculosis drugs (ATD) among  patients with pulmonary tuberculosisMethod: A quantitative approach with a case study research strategy. The sample in the study was 39 respondents. The data obtained were then analyzed using the chi square test.Results: There was a relationship between itching (p value = 0.005), pain in the joints (p value = 0.018), reddish urine (p value = 0.001), nausea (p value = 0.000), impaired vision (p value = 0.001), and abdominal pain / hearTBurn (p value = 0.000) after taking oat with the motivation of pulmonary TB patients to continue treatment. On the other hand, there was no relationship between lack of appetite (p value = 0.055), dizziness (p value = 0.345), headache (p value = 0.257), and tingling (p value = 0.795) after taking oat with motivation. Pulmonary TB patients to continue treatment.Conclusion: There is a relationship between itching, pain in the joints, red urine, nausea, impaired vision, and abdominal pain after drinking oatsKeywords: Motivation; Follow up; Intensive phase treatment; Occurrence; Side effects of anti-tuberculosis drugs (ATD); Patients; Pulmonary tuberculosisPendahuluan: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis, menyerang berbagai organ, terutama paru - paru.  Penularan penyakit TB melalui udara dari droplet pasien terinfeksi.  Alasan utama gagal pengobatan adalah pasien tidak mau minum obat secara teratur. Kasus TB paru di kalbar tidak hanya disumbang oleh pasien baru (97,5%) tetapi juga pasien pengobatan ulang (2,5%) di tahun 2015.  Penderita TB di kabupaten sanggau tahun 2011 sebanyak 390 orang.  Penderita TB paru yang berhasil melakukan pengobatan di wilayah kerja puskesmas pusat damai tahun 2017 hanya 39 orang, sedangkan sebagian besar tidak berhasil.Tujuan: Mengetahui hubungan efek samping OAT dengan motivasi pasien TB paru untuk melanjutkan pengobatanMetode: Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan strategi penelitian case study research.  Sampel dalam penelitian 39 orang.  Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji chi square.Hasil: Ada Hubungan antara rasa gatal (p value = 0,005), rasa nyeri pada persendian (p value = 0,018), urine berwarna kemerahan (p value = 0,001), rasa mual (p value = 0,000), penglihatan terganggu (p value = 0,001), dan rasa sakit perut / sakit ulu hati (p value = 0,000) setelah minum oat dengan motivasi pasien TB paru untuk melanjutkan pengobatan.  Sebaliknya, tidak ada hubungan antara rasa kurang nafsu makan (p value = 0,055), rasa pusing (p value = 0,345), rasa sakit kepala (p value = 0,257), dan rasa kesemutan (p value = 0,795) setelah minum oat dengan motivasi pasien TB paru untuk melanjutkan pengobatan.Simpulan:Ada Hubungan antara rasa gatal, rasa nyeri pada persendian,urine bewarna kemerahan, rasa mual, penglihatan terganggu, dan rasa sakit perut setelah minum OAT  
DASH (DIETARY APPROACH TO STOP HYPERTENSION) DALAM UPAYA PENURUNAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI Elisabeth Wahyu Savitri; Fransiska Romina
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 12 No 2 (2021): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JKK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.947 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v12i2.160

Abstract

DASH (DIETARY APPROACH TO STOP HYPERTENSION) DALAM UPAYA PENURUNAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI Ketua Peneliti : Ns. Elisabeth Wahyu Savitri.M.Kep Anggota Peneliti: NS. Fransiska Romina. M.Kep (1111038401) Pemenang Hibah Penelitian Dosen Pemula Tahun 2021 AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA INSAN PONTIANAK ABSTRAK Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi yang menetap, dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, ketika diukur paling tidak pada dua kali pengukuran dan pada dua kondisi yang berbeda dengan jarak dua minggu (deWit & Kumagai, 2013: 398). Sedangkan menurut Joint National Comitte 7 tahun 2003 dalam Ignatavicius 2010, hipertensi di definisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah distolik ≥ 90 mmHg. Penyebab hipertensi secara garis besar dibedakan pada 2 faktor resiko yaitu faktor yang tidak dapat diubah (non modifiable risk factor) dan faktor yang dapat diubah ( modifiable risk factor) ( Moser & Riegel, 2008: 435). Faktor yang dapat diubah seperti gaya hidup (life style) yang tidak baik, misalnya mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak dan tinggi garam, obesitas, merokok, alkohol, sendentary life style dan stress. Sedangkan faktor yang tidak dapat di ubah adalah bertambahnya umur dan proses penuaan, gender atau jenis kelamin, riwayat hipertensi dalam keluarga atau hereditas dan ras atau etnik tertentu ( deWit & Kumagai, 2013: 399). Di seluruh dunia diperkirakan ada 8 juta jiwa meninggal setiap tahun berhubungan dengan hipertensi dan terus meningkat setiap tahunnya. Di Amerika, di prediksi ada 1 orang dari 3 penduduk Amerika yang menderita hipertensi ( Sood et al, 2010: 1) dan data lain menyebutkan hipertensi telah diderita lebih dari 70 juta jiwa pada usia > 20 tahun di Amerika ( Weir et al, 2011: 1). Di Indonesia prevalensi penderita hipertensi juga cenderung terus meningkat, dimana penderita hipertensi 31.7% dari populasi usia 18 tahun keatas ( Depkes RI, 2012 ). Hipertensi yang tidak terkontrol sebagai faktor penyebab dalam morbiditas dan mortalitas akibat timbulnya gangguan pada kardiovaskuler (Hediyati, 2011: 1061). Hipertensi juga dikaitkan sebagai penyebab terjadinya stroke, penyakit jantung, gagal ginjal dan penyakit non vaskuler lainnya ( Moser & Riegel, 2008: 439). Melihat demikian besarnya akibat hipertensi maka perlu dilakukan penanganan yang efektif pada penderita hipertensi terutama dalam hal memodifikasi faktor penyebab yang dapat diubah atau modifiable risk factor salah satu hal yang dapat penderita lakukan adalah dengan melakukan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) atau dapat di definisikan sebagai suatu pendekatan diet dalam pencegahan hipertensi dimana diet yang dapat dilakukan yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang rendah garam dan rendah lemak, maka berdasarkan beberapa latar belakang diatas, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti pengaruh DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) terhadap penurunan tekanan darah penderita hipertensi Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh DASH pada upaya penurunan tekanan darah penderita hipertensi dan sebagai Tujuan khusus penelitian ini untuk mengetahui data demografi pasien yang menderita hipertensi, Metode penelitian yang digunakan adalah dengan eksperimental, yaitu dengan melakukan DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) pada setiap kali makan selama 30 hari baik pada saat sarapan, makan siang dan makan malam dan akan dilihat efeknya terhadap penurunan tekanan darah penderita hipertensi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik penderita hipertensi pada pretest dan postest setelah hari ke-30 yang bermakna (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa Diet DASH yang dilakukan selama 30 hari secara signifikan berpengaruh untuk menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik penderita hipertensi Luaran yang ditargetkan dalam penelitian ini adalah publikasi di jurnal nasional terakreditasi yang ber ISSN dan dan buku ber ISBN serta TKT penelitian ini adalah 3
Pendidikan Kesehatan Tentang Penanganan Hipertensi Kepada Penderita di Graha Werdha Marie Joseph Pontianak: Health Education for Hypertension Patient in Graha Werdha Marie Joseph in Pontianak Elisabeth Wahyu Savitri; Fransiska Romina; Agnes Dwiana Widi Astuti
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat : Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIKES Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.835 KB)

Abstract

Abstrak: Hipertensi beresiko dua kali lebih besar mengalami Coronary Disease seperti infark miokard dan Sudden Death  serta tiga kali lebih besar mengalami gagal jantung. Iskemia miokard terjadi  akibat  ketidakseimbangan  antara supply dan kebutuhan oksigen miokard. Hipertensi mengurangi supply oksigen dan meningkatkan kebutuhan oksigen miokard yang pada akhirnya akan meningkatkan kejadian  infark miokard. Penyebab hipertensi secara garis besar dibedakan pada 2 faktor resiko yaitu faktor yang tidak dapat diubah (non modifiable risk factor) dan faktor yang dapat diubah (modifiable risk factor). Faktor yang dapat diubah seperti gaya hidup (life style) yang tidak baik, misalnya mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak dan tinggi garam, obesitas, merokok, alkohol, sendentary life style dan stress. Kegiatan Pengabdian Masyarakat adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada penderita hipertensi tentang bagaimana penanganan penyakit yang dideritanya, dimana pendidikan kesehatan dilakukan sekali dengan metode ceramah dan selanjutnya para peserta diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum jelas dan peserta diberi leaflet agar dapat mengulang untuk membaca materi yang diberikan. Peserta dalam pengabdian masyarakat ini sebanyak 13 orang. Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan penderita tentang hipertensi dengan demikian diharapkan tekanan darah penderita menurun dan komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakitnya tidak terjadi sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. Abstract:  Hypertension has two times greater risk of experiencing coronary disease such as myocardial infarction and sudden death and three times greater risk of experiencing heart failure. Myocardial ischemia results from an imbalance between myocardial oxygen supply and demand. Hypertension reduces oxygen supply and increases myocardial oxygen demand, which in turn will increase the incidence of myocardial infarction. The causes of hypertension are broadly divided into non modifiable risk factor and modifiable risk factor. The modifiable risk factor are  lifestyle: for example consuming foods that are high in fat and salt, obesity, smoking, alcohol, sendentary life style and stress. This Activities are to provide health education to people with hypertension about how to handle their illness, this health education is carried out once with the lecture method and then Participants are given the opportunity to ask questions and given leaflets so that they can repeat to read the material that has been given. The Participants are 13 person. The results obtained from this activity are increased knowledge about hypertension so it is hoped that the patient's blood pressure can decrease and complications that can occur due to the disease do not occur and optimal health status can be achieved.       
Effects of music on sleep quality among elderly people with hypertension: A randomised controlled trial Elisabeth Wahyu Savitri; Florida Listavia Panggus; Yustina Riki Nazarius; Rita Purnamasari
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol 6, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v6i4.12223

Abstract

Background: Hypertension is a condition in which an individual has persistently high blood pressure with systolic blood pressure > 140 mmHg and diastolic blood pressure > 90 mmHg when measured at least twice under two different conditions with a two-week interval. The causes of hypertension are broadly categorized into two risk factors: non-modifiable and modifiable. The prevalence of hypertension is still relatively high in both developed and developing countries, with a prevalence of 35% in developed countries and 40% in developing countries among the adult population. The highest prevalence of hypertension is found in the United States, at 46% of the adult population. It is estimated that 1 billion people worldwide suffer from hypertension, and it is predicted that by 2025, around 29% of the global population will have hypertension.Purpose: To understand the community's perspective on the importance of improving sleep quality through listening to classical music among individuals with hypertension.Method: This qualitative research employed a case study approach, focusing on describing and understanding phenomena in the social world and the perspectives of individuals with experience. The study concentrated intensively and in detail on cases of patients with hypertension experiencing sleep quality disturbances. The research was conducted on hospital patients in Pontianak City from June 23 to 26, 2023, with a total of two respondents, and it was carried out at the respondents' homes. Data collection utilized purposive sampling through interviews, observations, and documentation over three days. The inclusion criteria were patients with a diagnosis of hypertension, stable medical conditions, compos mentis consciousness, and sleep quality disturbances. The exclusion criteria were non-cooperative patients and their families, no comorbid diseases, and patients unable to communicate in Indonesian.Results: It was found that all hypertensive patients were elderly. Both hypertensive patients at Perumnas 1 Community Health Center were female. Respondents' systolic blood pressure ranged from 140-159 mmHg or higher, and diastolic blood pressure ranged from 90-99 mmHg, indicating that women are more prone to stress. Psychologically, women have lower coping mechanisms than men in dealing with problems. If there are physical and psychological disturbances, women will experience more severe sleep disturbances than men. There was an improvement in sleep quality after classical music therapy was administered to patients with sleep quality disturbances. Therefore, classical music therapy is effective and can be utilized by individuals such as nurses or healthcare workers in Perumnas 1 Community Health Center, Pontianak City, for the advancement of nursing and healthcare knowledge.Conclusion: Appropriate classical music can have an impact on the sleep quality of elderly individuals suffering from hypertension in Pontianak City in 2023.
Penerapan Sunbathing dan Exercise pada Penderita Hipertensi Savitri, Elisabeth Wahyu; Pitri, Angela Dwi; Kristian, Eben Haezar
Amare Vol. 2 No. 2 (2023): Juli - Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/ja.v2i2.217

Abstract

Sunbathing merupakan suatu aktivitas berdiri atau duduk di bawah pancaran sinar matahari untuk menghasilkan respon fisiologis terhadap perubahan tekanan. Exercise atau latihan adalah pergerakan otot-otot rangka yang bertujuan meningkatkan suplai darah perifer dan meningkatkan fungsi otak dalam mengatur tekanan darah. Sunbathing dan Exercise adalah penggabungan dua metode Cognitive Behavioral Therapy untuk mendapatkan efek rileksasi dan memaksimalkan sirkulasi darah yang mampu mempertahankan kebugaran penderita hipertensi. Tujuan tindakan tersebut untuk menciptakan rutinitas yang bermanfaat sebagai terapi yang dapat menstabilkan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan memanfaatkan sinar matahari dan exercise. Mitra pengabdian kepada masyarakat ini adalah Graha Werdha Marie Joseph – Siantan Pontianak yang merawat lebih 90% penderita hipertensi. Metode yang diberikan kepada penderita adalah edukasi atau Pendidikan Kesehatan dan sekaligus dengan melaksanakan atau mencontohkan langsung tindakan sunbathing dan exercise tersebut bersama para penderita. Sebelum dilakukan tindakan seluruh penderita diukur tekanan darahnya demikian juga setelah dilakukan tindakan, pengaruh tindakan secara langsung tidak akan langsung menurunkan tekanan darah para penderita tetapi dengan edukasi dan diberi Pendidikan Kesehatan tentang pentingnya tindakan untuk dilakukan secara teratur dan terus-menerus diharapkan para penderita mengalami penurunan tekanan darah dan tidak mengalami komplikasi dari penyakitnya. Demikian penting dan bermanfaatnya tindakan yang sangat murah dan mudah ini untuk dilakukan, maka kami sebagai tenaga kesehatan merasa sangat pentingnya pengabdian kepada masyarakat ini untuk dilakukan.
Exploration of the benefits of sunshine in hypertension sufferers: a literature review Dwi Pitri, Angela; Wahyu Savitri, Elisabeth; Dwiana Widi Astuti, Agnes
Journal of Pubnursing Sciences Vol 1 No 02 (2023): Journal of Pubnursing Sciences (JPS)
Publisher : PT. Pubsains Nur Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69606/jps.v1i02.31

Abstract

Sunbathing consecutively every day for 15 days is a method to obtain benefits from sunlight. The purpose of this writing is to investigate the impact of sunlight on individuals with hypertension. This research involves a literature study of 15 articles published between 2022 and 2022, utilizing a combination of qualitative, quantitative, and correlation research methods. The findings indicate that 30-40% of hypertension cases take place during adulthood, with risk factors including habitual alcohol consumption leading to addiction, microvascular vasomotion failure triggered by excess sodium, arterial stiffness resulting from a lack of physical exercise, and calcium deficiency affecting peripheral vascular resistance. Sunbathing can result in a localised heating mechanism and an increase in lipid levels, which may lower blood pressure. From a nursing perspective, it is essential to consider the psychological aspects of hypertensive patients during treatment and encourage changes in their behaviour. This is a key aspect of cognitive-behavioural therapy. Conclusion: sunbathing may be a way of harnessing the benefits of sunlight to control blood pressure while encouraging behavioural change through a cognitive-behavioural therapy approach.
PENANGANAN HIPERTENSI DENGAN WEIGHT BEARING EXERCISE DI GRAHA WERDHA MARIE JOSEPH SIANTAN Savitri, Elisabeth Wahyu; Sari, Bella Nopita; Fania, Evi; Monalisa, Monalisa; Melysa, Trifonia; Arto, Laurdes Billy; Desi, Mila Fransiska
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2025: SIKesNas 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/jg3x9p78

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh weight bearing exercise (WBE) terhadap tekanan darah lansia hipertensi di Graha Werdha Marie Joseph Siantan Pontianak. Latar belakang masalah adalah meningkatnya angka hipertensi pada lansia tetapi lansia mengalami ketidakmampuan untuk melakukan Tindakan mandiri untuk mengatasi penyakitnya sehingga perlunya penanganan non-farmakologis yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode quasi-eksperimen pre-post test tanpa kelompok kontrol. Intervensi dilakukan selama delapan minggu dengan frekuensi tiga kali per minggu. Hasil menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada sebagian besar peserta. Rata-rata tekanan darah sebelum intervensi adalah 117,5/75,5 mmHg dan sesudah menjadi 112/75,25 mmHg. Temuan ini mengindikasikan bahwa WBE efektif dan aman sebagai intervensi tambahan dalam pengelolaan hipertensi pada lansia.