Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Analisis Sebaran Lokasi Bangunan Kolonial Di Kota Bandung Menggunakan Getis-Ord Gi* Hot Spot Analysis Tamimi, Nadhil; Fatimah, Indung Sitti; Hadi, Akhmad Arifin
Jurnal Arsitektur dan Perencanaan (JUARA) Vol 4, No 1 (2021): Februari (Jurnal Arsitektur dan Perencanaan)
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/juara.v4i1.1715

Abstract

Salah satu periode yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia adalah periode kolonial. Terdapat berbagai macam bentuk peninggalan bersejarah berasal dari periode tersebut, salah satunya ialah langgam atau gaya arsitektur kolonial. Bangunan yang memiliki karakter arsitektur kolonial dapat dikategorikan sebagai bangunan yang penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Penelitian dilakukan untuk melihat persebaran bangunan kolonial dan pada wilayah mana yang memiliki intensitas tertinggi di kota Bandung. Metode penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang terdiri dari studi literatur, observasi lapang, dan analisis spasial menggunakan metode Getis-Ord gi* hot spot analysis. Dari penelitian ini diidentifikasi bangunan kolonial di kota Bandung berpusat di kelurahan Braga sebanyak 15 titik lokasi. Dengan demikian diharapkan dapat menjadi bahan rujukan pengembangan di kawasan tersebut sehingga karakter kolonial yang telah ada tidak rusak atau menghilang.
TIPOLOGI ARSITEKTUR KOLONIAL DI INDONESIA Nadhil Tamimi; Indung Sitti Fatimah; Akhmad Arifin Hadi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v10i1.006

Abstract

Salah satu periode yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia adalah periode kolonial. Terdapat berbagai macam bentuk peninggalan bersejarah berasal dari periode tersebut, salah satunya ialah langgam atau gaya arsitektur kolonial. Bangunan yang memiliki karakter arsitektur kolonial dapat dikategorikan sebagai bangunan yang penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kajian yang dilakukan membahas tipologi dan pelestarian arsitektur kolonial yang berada di Indonesia. Metode yang digunakan pada kajian ini adalah studi pustaka atau literatur dengan  tujuan untuk menjelaskan arsitektur kolonial di Indonesia dan dapat bermanfaat sebagai dasar kategorisasi bangunan kolonial. Dari kajian ini dapat disimpulkan arsitektur kolonial merupakan salah satu gaya arsitektur yang ada di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda dimana gaya, karakter, dan ciri arsitektur kolonial dipengaruhi oleh perpaduan antara budaya Belanda dan budaya Indonesia serta memiliki dua metode konservasi yaitu teknik konservasi bersifat fisik (preservasi, restorasi, dan rekonstruksi) dan non fisik. One period that has big influence on the development in Indonesia is the colonial period. There are various forms of historical relics from this period, one of which is the style of colonial architecture. Buildings that have colonial architectural character can be categorized as important buildings to be preserved because they have high historical value. The study was conducted to discuss typology and preservation of colonial architecture in Indonesia. Literature study is used in this study with the aim of explaining colonial architecture in Indonesia and can be useful as a basis for the categorization of colonial buildings. From this study it can be concluded that colonial architecture is one of the architectural styles that existed in Indonesia since the Dutch Colonial period where the style, character, and features of colonial architecture were influenced by a combination of Dutch and Indonesian culture, it also had two conservation methods, namely physical conservation techniques (preservation , restoration and reconstruction) and non-physical.
ANALISIS DISTRIBUSI PAPARAN SINAR MATAHARI BERDASARKAN ORIENTASI DAN WAKTU MENGGUNAKAN APLIKASI FORMA AUTODESK: STUDI KASUS GEDUNG ARSITEKTUR UNIVERSITAS TADULAKO Mustakima, Dui Buana; Tamimi, Nadhil; Gamalia, Audita Nurul; Sudyatama, Andi Farid; Munarsi, Munarsi
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 1 (2025): JJoA : Juni 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i1.31518

Abstract

Building orientation is an important aspect of modern architectural design that affects thermal comfort and energy efficiency. This study aims to analyze the influence of various building orientations on solar exposure in buildings located in Palu, Indonesia, which is situated near the equator. The methods used include data collection through physical measurements of buildings, the creation of 3D models, and analysis using the Forma application to measure the duration and intensity of sunlight across different orientations. The research findings indicate that the east-west orientation has the highest potential for optimal sunlight exposure, with 18-22% of the area receiving more than nine hours of sunlight per day, while 57-66% of the other areas only receive 0-1 hour of solar exposure. This study also recommends further research that integrates solar radiation measurements to gain a deeper understanding of the impacts that building orientation can create. It is hoped that these findings will provide significant contributions to planners, developers, and stakeholders, particularly for the city of Palu and areas with similar characteristics.
Tipologi Karakteristik Arsitektur Kolonial di Kota Bandung: Typology of Colonial Architecture Characteristics in the City of Bandung Tamimi, Nadhil
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 10: Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8656

Abstract

Penelitian ini mengkaji tipologi dan karakteristik arsitektur kolonial di Kota Bandung, Jawa Barat, yang berkembang pesat sejak akhir abad ke?19 sebagai pusat administrasi dan rekreasi Hindia Belanda. Berdasarkan studi literatur, berdasarkan bangunan—Vila Isola (1933), Gedung Sate (1920), deretan ruko Braga ditelaah untuk mengidentifikasi ciri khas arsitektur kolonial Bandung. Hasil kajian menunjukkan bahwa arsitektur kolonial Bandung ditandai oleh (1) fasad simetris dan ornamentasi bergaya Art Deco atau Neoklasik yang menyiratkan status dan fungsi administratif, (2) adaptasi iklim tropis melalui ventilasi silang, teras/balkon terbuka, dan overhang lebar, (3) kombinasi material lokal (bata ekspos, kayu, marmer) dengan beton bertulang dan kaca besar, serta (4) hibridisasi ornamen Eropa dan motif lokal (tusuk sate, batik keramik). Temuan ini menjadi landasan strategis bagi pedoman konservasi bangunan kolonial Bandung agar nilai estetika dan historisnya terjaga.
Analisis Persepsi Pengunjung terhadap Kualitas Ruang Taman Nasional Hasanuddin Menggunakan Metode Semantic Differential Tamimi, Nadhil; Dyah Permata, Nike; Munandar, Munarsi; Mustakima, Dui Buana; Nugroho, Isti; Hikmah, Nurul
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 4: April 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i4.10790

Abstract

Ruang terbuka publik berupa taman kota memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan serta mendukung aktivitas sosial dan rekreasi masyarakat. Penilaian kualitas taman tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik, tetapi juga oleh persepsi pengunjung terhadap pengalaman ruang yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap kualitas Taman Hasanuddin di Kota Palu menggunakan metode semantic differential. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan instrumen kuesioner yang terdiri atas sepuluh pasangan kata bipolar, yaitu buruk–indah, sempit–lapang, kotor–bersih, berantakan–rapi, tidak aman–aman, monoton–unik, membosankan–menyenangkan, buatan–alami, panas–teduh, dan tidak menarik–menarik. Data diperoleh dari 30 responden yang merupakan pengunjung taman dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan nilai rata-rata pada setiap indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator memperoleh nilai rata-rata di atas 4,50 yang menunjukkan persepsi masyarakat berada pada kategori sangat positif terhadap kualitas taman. Indikator tidak menarik–menarik memperoleh nilai tertinggi (4,93), diikuti indikator berantakan–rapi (4,90), serta sempit–lapang dan panas–teduh (4,86). Sementara itu, indikator tidak aman–aman, membosankan–menyenangkan, dan buatan–alami memperoleh nilai relatif lebih rendah meskipun tetap berada pada kategori positif. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas visual, keteraturan ruang, dan kelapangan taman menjadi faktor utama yang memengaruhi kepuasan pengunjung. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi taman kota perlu mempertimbangkan persepsi pengguna sebagai dasar dalam peningkatan kualitas ruang terbuka publik.
PENILAIAN KUALITAS VISUAL RTH PERMUKIMAN DENGAN PENDEKATAN VISUAL RESOURCES ASSESSMENT PROCEDURE (VRAP) DI TAMAN MEBERE Dyah, Nike; Tamimi, Nadhil; Amalia, Nazirah
Arsitekno Vol. 13 No. 1 (2026): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v13i1.26135

Abstract

Perkembangan kawasan perkotaan yang pesat berimplikasi pada berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH), sehingga diperlukan evaluasi kualitas RTH sebagai ruang publik yang berfungsi ekologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pengunjung dan kualitas visual lanskap RTH Taman Mebere, Kelurahan Lasoani, Kota Palu, sebagai dasar perumusan rekomendasi penataan dan pengelolaan RTH. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, pengukuran tapak, dokumentasi, serta wawancara dengan pengunjung pada waktu kunjungan aktif. Analisis kualitas visual lanskap menggunakan metode modifikasi Visual Resources Assessment Procedure (VRAP) dengan pembagian zona visual, yaitu zona visual dan tepi, zona inti bawah, zona inti atas, dan zona pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas visual Taman Mebere bervariasi antar zona. Zona inti bawah memiliki kualitas visual tertinggi yang didukung oleh keberadaan elemen air, keragaman vegetasi, dan intensitas aktivitas pengguna. Zona inti atas dan zona pendukung menunjukkan kualitas visual sedang hingga tinggi yang berfungsi menjaga kesinambungan pengalaman visual. Sementara itu, zona visual dan tepi memiliki kualitas visual rendah–sedang dan memerlukan penguatan identitas visual. Secara keseluruhan, keberagaman vegetasi, elemen air, dan aktivitas pengguna merupakan faktor utama pembentuk kualitas visual taman. Rekomendasi perbaikan diarahkan pada penguatan identitas kawasan, peningkatan kualitas vegetasi, optimalisasi zona transisi, serta integrasi fungsi ekologis dan sosial untuk mewujudkan RTH yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.