Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORENER PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD ANDI MAKKASAU KOTA PAREPARE Suciana; Henni Kumaladewi Hengky; Usman, Usman
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v4i2.612

Abstract

Penyakit Jantung Koroner pada tahun 2020 diperkirakan menjadi pembunuh pertama tersering yakni sebesar 36% dari seluruh kematian. Sedangkan Penderita DM untuk negara Indonesia menduduki peringkat ke-6 dengan jumlah 10,3 juta penderita. Tujuan penelitian ini untuk melihat faktor risiko penyakit jantung koroner pada penderita diabetes melitus tipe 2 di RSUD Andi Makkasau Parepare. Metode penelitian anlitik dengan desain pendekatan Case Control. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Stanley Lameshow dan jumlah 48 orang terdiri dari 24 kasus dan 24 kontrol. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Odds Rasio (OR). Hasil penelitian yang didapatkan dari faktor risiko penyakit jantung koroner pada penderita diabetes melitus tipe 2 adalah umur (p= 0,002 : OR=2.6), Hipertensi (p =0,020 : OR = 4,048) dan Lama menderita DM ( p= 0.017 : OR = 4.491). Sedangkan yang bukan faktor risiko adalah obesitas (p= 0.003 : OR = 0.143) dan merokok ( p = 0.221 : OR=0.467). Faktor risiko penyakit jantung koroner pada penderita diabetes melitus tipe 2 adalah umur, hipertensi dan lama menderita DM. Saran untuk penelitian ialah, perlunya kesadaran diri serta pemeriksaan dan pengobatan secara rutin dan melakukan pola hidup yang lebih sehat lagi.
Perbandingan Program Rehabilitasi Jantung Terpusat (Tersupervisi) dengan Rehab Jantung Mandiri Terhadap Kapasitas Fungsional ada Penderita Penyakit Jantung Koroner Pasca Intervensi Koroner Per Kutan Heriansyah, Teuku; Fithriany; Lestari, Inda; Suciana
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.281

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) termasuk salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Intervensi koroner per kutan (IKP) merupakan prosedur untuk melebarkan arteri yang menyempit sehingga aliran darah ke jantung dapat normal kembali. Prosedur  ini  merupakan terapi definitif untuk mengatasi PJK. Namun setelah menjalani IKP pasien mengalami penurunan dalam aktivitas fisik dan stamina. Program rehabilitasi jantung yang terstruktur membantu pasien untuk secara bertahap meningkatkan aktivitas fisik mereka melalui latihan yang aman dan efektif, sehingga dapat memperbaiki fungsi kardio-pulmonal, daya tahan tubuh serta meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup. Rehabilitasi jantung dapat dilakukan secara terpusat dengan pengawasan profesional kesehatan atau secara mandiri oleh pasien yang dilakukan di rumah. Untuk membandingkan efektivitas program rehabilitasi jantung terpusat dengan program rehabilitasi jantung mandiri terhadap kapasitas fungsional pasien pasca IKP. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi-eksperimental. Subjek penelitian dibagi dalam dua kelompok, yaitu satu kelompok menjalani program rehabilitasi jantung terpusat yang dilaksanakan di unit rehabilitasi jantung RSUDZA dan kelompok lainnya melakukan rehabilitasi jantung mandiri di rumah. Subjek penelitian terdiri dari pasien yang telah menjalani intervensi koroner per kutan dan memenuhi kriteria inklusi. Uji paired samples t-test menunjukkan peningkatan kapasitas fungsional yang signifikan pada kedua kelompok dengan nilai rata-rata 6MWT akhir lebih tinggi daripada 6MWT awal dengan p value <0.0001 (<0.05), menandakan bahwa program rehabilitasi jantung baik terpusat maupun mandiri efektif meningkatkan kapasitas fungsional pasien. Selain itu, hasil uji menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam peningkatan kapasitas fungsional pasien pada kelompok rehabilitasi jantung terpusat (tersupervisi) dengan kelompok rehabilitasi jantung mandiri dengan p value 0.058. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua modalitas rehabilitasi jantung memberikan manfaat yang serupa dalam perbaikan kapasitas fungsional pada pasien PJK pasca IKP, memberikan fleksibilitas dalam pilihan program rehabilitasi berdasarkan preferensi dan kesediaan pasien, sehingga memudahkan pasien yang ingin menjalani rehabilitasi jantung.