Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Islamic Education Based on Higher Order Thinking Skills (HOTS) in The Perspective of Neuroscience Prihantoro, Wahyu Kholis; Suyadi, Suyadi
Al-Misbah (Jurnal Islamic Studies) Vol 9, No 1: April 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/al-misbah.v9i1.3711

Abstract

Education is not only the process of transferring knowledge. Then a student is asked to memorize, then is assessed based on the ability to memorize that knowledge. At the same time, a student at this time needs to have high-level thinking skills or HOTS. The launching and recommendation of the application of HOTS in the learning process is one of the strategic efforts to improve learning capacity, especially the learning of religious education in the HOTS of critical thinking. Logically, the problem of higk level thinking, which is the person's cognitive skills, is the upper front part, which is called the prefrontal cortex. The brain part of this part is known as the center of ecretutive control, or the student is a high-level thinking. Also, place of problem solving, regulation, create character and personality. Sciences strategic activities are carried out in Islamic Education so that they can get high-level ability to be enhanced with the HOTS indicator: (1) analysis level, (2) evaluation level, (3) level of integration. This research enriched scientific knowledge in other studies.
Islamic Education Based on Higher Order Thinking Skills (HOTS) in The Perspective of Neuroscience Wahyu Kholis Prihantoro; Suyadi Suyadi
Al-Misbah (Jurnal Islamic Studies) Vol. 9 No. 1: April 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/al-misbah.v9i1.3711

Abstract

Education is not only the process of transferring knowledge. Then a student is asked to memorize, then is assessed based on the ability to memorize that knowledge. At the same time, a student at this time needs to have high-level thinking skills or HOTS. The launching and recommendation of the application of HOTS in the learning process is one of the strategic efforts to improve learning capacity, especially the learning of religious education in the HOTS of critical thinking. Logically, the problem of higk level thinking, which is the person's cognitive skills, is the upper front part, which is called the prefrontal cortex. The brain part of this part is known as the center of ecretutive control, or the student is a high-level thinking. Also, place of problem solving, regulation, create character and personality. Sciences strategic activities are carried out in Islamic Education so that they can get high-level ability to be enhanced with the HOTS indicator: (1) analysis level, (2) evaluation level, (3) level of integration. This research enriched scientific knowledge in other studies.
The syawir method as a cooperative learning model of Islamic religious education in pesantren-based schools Fathurrohman, Rizal; Gafarurrozi, Muhammad; Prihantoro, Wahyu Kholis
TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic Education Vol 10, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/t.v10i2.60944

Abstract

The purpose of this study was to examine the use of the Syawir method as a representation of cooperative learning in PAI learning in Islamic Boarding Schools. This research is library research by taking the analysis and synthesis of several field study articles and literature reviews. The results of the study show that Islamic education learning in Islamic boarding schools is more holistic in terms of both curriculum and material. The Syawir method can be used as a cooperative learning model in the PAI learning process. This is based on the similarity of cooperative learning principles developed by educational experts, such as David and Roger Johnson. The application of Syawir in PAI learning at Islamic boarding schools can be carried out in several stages, namely group formation, assignment, group organizing, discussion, group accountability, evaluation, and reflectionTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan metode syawir sebagai representasi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran PAI di Sekolah Berbasis Pesantren. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan sumber pustaka sebagai objek penelitian. Penulis berkonsultasi dan mengambil analisis dan sintesis dari beberapa artikel kajian lapangan dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PAI di Sekolah Berbasis Pesantren lebih bersifat holistik dari segi kurikulum dan materinya. Metode syawir dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif dalam proses pembelajaran PAI. Hal itu, didasarkan pada kesamaan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh ahli pendidikan, seperti David and Roger Johnson. Penerapan syawir dalam pembelajaran PAI di Sekolah Berbasis Pesantren dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu pembentukan kelompok, pemberian tugas, pengorganisasian kelompok, kolaborasi dan diskusi, pertanggungjawaban kelompok, evaluasi dan refleksi.
Dynamics of Motivation in PAI Learning Study of McClelland's Theory of Motivation and Its Application in Improving Student Achievement Muhammad Gafarurrozi; Rizal Fathurrohman; Wahyu Kholis Prihantoro; Hendri Sugianto
Journal of Contemporary Islamic Education Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Contemporary Islamic Education
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jcie.v4i2.4585

Abstract

Motivasi belajar merupakan faktor kunci dalam mencapai prestasi belajar siswa, khususnya pada pembelajaran PAI yang memiliki peran penting dalam pembentukan nilai-nilai moral dan spiritual siswa. Akan tetapi, motivasi siswa pada saat proses pembelajaran sering mengalami masalah sehingga membuat siswa tidak mempunyai gairah untuk belajar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan kajian pustaka. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi pola-pola motivasi siswa berdasarkan motivasi-motivasi yang diajukan oleh teori motivasi McClelland. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi prestasi, kekuasaan, dan afiliasi memainkan peran yang berbeda dalam meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran PAI. Motivasi prestasi memberikan dorongan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi, motivasi kekuasaan mempengaruhi siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan kelompok di kelas, sedangkan motivasi afiliasi mengarahkan siswa untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman kelas dan guru. Implikasi dari penelitian ini adalah penerapan teori motivasi McCelland dapat meningkatkan strategi pembelajaran PAI. Guru dapat merancang pendekatan yang sesuai dengan motivasi siswa, seperti memberikan tantangan bagi siswa, mendorong kolaborasi, dan memberikan tanggung jawab. Namun perlu diketahui bahwa faktor-faktor lain seperti budaya, lingkungan, karakteristik materi pembelajaran juga berkontribusi terhadap motivasi belajar PAI. Penelitian ini memberikan pandangan tentang motivasi belajar PAI dan memberikan dasar bagi pendidikan untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif dan inklusif.
Edukasi MARANGGATUANTING sebagai Upaya Percepatan Penurunan Stunting melalui Pemberian Makanan Tambahan di Kelurahan Pesurungan Lor, Kota Tegal Adwiah, Rabiatul; Prihantoro, Wahyu Kholis; Naqiyah, Durrotun; Febriyanti, Indah; Al Munawwar, M. Zuhuud; Listiani, Ninik; Khasanah, Uswatun; Khasanah, Lusi Alfi; Astuti, Ika Widya; Novitasari, Novitasari; Al Hamid, Sayyid Umar Arrahmah; Saputra, Yuda Eka
Bangun Desa: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/jbd.2025.4(2).85-91

Abstract

Stunting adalah salah satu hambatan terbesar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di setiap negara.  Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan terjadi pada anak-anak dan balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dari usianya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Manggaratuanting di Kelurahan Pesurungan Lor serta menganalisis kontribusinya dalam meningkatkan pengetahuan gizi dan mendukung percepatan penurunan stunting. Dalam penelitian ini menggunakan metode partisipatif dan edukasi masyarakat melalui penyuluhan, diskusi interaktif, praktik pemberian makanan tambahan, serta distribusi media edukasi berupa leaflet dan buku saku. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi berbasis media sederhana seperti leaflet dan buku saku efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan balita serta pemberian PMT berbahan ikan tenggiri menjadi bentuk inovasi pemanfaatan sumber daya lokal. 
Ijtihad Fikih dalam Regulasi Konten Kecerdasan Artifisial: Analisis Maqāṣid al-Syarī‘ah terhadap Kebenaran, Amanah, dan Otoritas Keagamaan Digital Munjiyat, Siti Nurul; Prihantoro, Wahyu Kholis; Salsabil, Intan Aini; Saputri, Farahnaila Aulia; Amanah, Fitri Dewi; Stepani, Nadya
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan artificial intelligence (AI) dalam produksi konten digital telah membawa implikasi serius terhadap kebenaran, amanah, dan akuntabilitas informasi, khususnya di ruang keagamaan. Artikel ini bertujuan menganalisis urgensi ijtihad fikih dalam merespons regulasi konten AI-generated serta implikasi hukumnya terhadap penyalahgunaan informasi di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-kualitatif dengan analisis fikih kontemporer berbasis maqāṣid al-syarī‘ah, terutama perlindungan akal (ḥifẓ al-‘aql), harta (ḥifẓ al-māl), dan prinsip pencegahan kemudaratan. Hasil kajian menunjukkan bahwa AI tidak dapat diposisikan sebagai subjek hukum, melainkan sebagai alat yang penggunaannya berada dalam tanggung jawab manusia, sehingga diperlukan kerangka regulasi yang menjamin nilai kebenaran dan amanah informasi. Selain itu, kehadiran AI turut memengaruhi otoritas keagamaan di ruang digital, yang berpotensi mengalami pergeseran akibat desentralisasi pengetahuan dan bias algoritmik. Dalam konteks ini, mimbar digital menjadi arena baru bagi otoritas keagamaan tradisional untuk menegosiasikan ulang perannya, sehingga ijtihad fikih berperan penting sebagai instrumen etis dan normatif dalam menjaga legitimasi keilmuan Islam di era kecerdasan buatan.