Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Ekstraksi Citra Foto Udara untuk Pemetaan Morfologi Bangunan Pada Kawasan Rawan Banjir (Studi Kasus:Keluíahan 9 Ilir, Kota Palembang): Morfologi bangunan, pemetaan udara, drone Shalihat, Annisa Kurnia Shalihat; Haidir, Hala; Natul, Al Shida
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i01.5068

Abstract

ABSTRACT  Mapping using drones has been widely used to fulfill various jobs because it is very important effective in terms of time, cost and map quality. The results of drone mapping really meet the needs of the cases certain areas that require up-to-date but quickly obtained high-detail images, which can then be translated into information and are effective enough to replace field surveys. Palembang city is an area that is mostly formed on swamp land which is almost always flooded throughout the year. On Initially, the settlement culture of the Palembang community was influenced by the presence of rivers, soft soil and areas tidal swamp, thus forming a pattern of two residential cores that developed from the interaction of indigenous communities north of the river and settlers to the south. river. Population growth and increasingly intensive activities Humans in Palembang City have a big impact on land use changes on a large-scale magnitude. The aim of this research is to identify building typologies in the city of Palembang. The method used is to extract geometric information from aerial photo image data (orthophoto). Then data These are classified based on building typology criteria, namely: stilt houses/pyramid houses, buildings 1-story residence, 2-story residential building, shophouse/office building, educational facilities building, buildings for religious facilities, cultural heritage buildings.  Keywords : Building morphology, aerial mapping, drone   ABSTRAK Pemetaan dengan menggunakan drone sudah banyak dilakukan untuk memenuhi berbagai pekerjaan karena sangat efektif dari segi waktu, biaya dan kualitas peta. Hasil pemetaan drone sangat memenuhi kebutuhan pada kasus-kasus tertentu yang membutuhkan gambar dengan detail tinggi terkini namun cepat diperoleh, yang kemudian dapat diterjemahkan menjadi informasi dan cukup efektif untuk menggantikan survei lapangan. Kota Palembang merupakan daerah yang sebagian besar terbentuk pada lahan rawa yang hampir selalu tergenang air sepanjang tahun. Pada awalnya budaya permukiman masyarakat Palembang dipengaruhi oleh keberadaan sungai, tanah lunak, dan Kawasan rawa pasang surut, sehingga membentuk pola dua inti permukiman yang berkembang dari interaksi masyarakat adat di utara sungai dan pendatang di selatan. sungai. Pertambahan jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas manusia di Kota Palembang memberikan dampak yang besar terhadap perubahan tata guna lahan secara besar-besaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipologi bangunan di kota Palembang. Metode yang digunakan adalah dengan mengekstrak informasi geometri dari data citra foto udara (ortofoto). Kemudian data tersebut diklasifikasi berdasarkan kriteria tipologi bangunan yaitu: rumah panggung/rumah piramida, bangunan tempat tinggal 1 lantai, bangunan tempat tinggal 2 lantai, ruko/gedung perkantoran bangunan sarana pendidikan, bangunan sarana peribadatan, bangunan cagar budaya.   Kata Kunci : Morfologi bangunan, pemetaan udara, drone
Pelatihan Geotagging dan Layout Peta untuk Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ogan Ilir: Geotagging and Map Layout Training for Regional Apparatus Organizations in Ogan Ilir Regency Natul, Al Shida; Sastra, Ahmad Ridho; Aryantoni, Johan
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 8 (2024): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v9i8.7006

Abstract

Geospatial data and technology are critical in a country's sustainable development process. Regional Apparatus Organizations (OPD) are essential in implementing regional government, which requires knowledge and understanding of geospatial data and technology to support better decision-making in a region. One way is through Geotagging training for ODP to increase knowledge, utilization, and competency in human resources in the geospatial field. The target of this training is the Ogan Ilir Regency OPD in South Sumatra Province. Training is held face-to-face using lecture and practice methods. Participants are given modules and receive direct guidance during the training process. The output of this training shows a significant increase in participants' understanding of geospatial data and the use of geotagging both theoretically and practically, which can be assessed from the presentation of the results of the tasks they have completed. This activity is a provision for ODP Kab. Ogan Ilir to be able to manage geospatial data and information.
Pemetaan Kerentanan Tanah Longsor di Kabupaten Lahat Muhammad Rijalullah; Natul, Al Shida; Shalihat, Annisa Kurnia
Jurnal Tekno Global Vol. 12 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v12i02.3378

Abstract

ABSTRACT Lahat Regency is one of the areas in Indonesia that is prone to landslides. Efforts to minimize the risk of landslides are by mapping landslide-prone areas. The aim of this research is to determine the distribution of landslide-prone areas in Lahat Regency and to find out appropriate mitigation measures for landslide-prone areas. This research utilizes a geographic information system (GIS) using scoring, weighting and overlay methods. The data used is administrative data, rainfall data, geological data, soil type data, elevation data and land cover data for Lahat Regency. The results of the data processing are a landslide hazard map for Lahat Regency which is grouped into four levels of vulnerability classes, namely low, medium, high and very high levels. Landslide-prone areas in Lahat district with a low level covering 5.2%, a medium level covering 56.32%, a high level covering 32.94%, and a very high level covering 5.54%. The high level of vulnerability includes the sub-districts of Tanjung Sakti Pumi, Tanjung Sakti Pumu, West Merapi, South Merapi, Mulak Ulu, Pagar Gunung, Gumay Ulu, South Kikim, Gumay Talang, East Kikim, Pseksu, Pajar Bulan, Pulau Pinang, Tanjung Tebat, Jarai Sukamerindu and Kota Agung. The very high level of vulnerability includes the sub-districts of Kota Agung, Pagar Gunung, Tanjung Sakti Pumi, Mulak Ulu, Tanjung Sakti Pumu, South Merapi, Jarai, South Kikim, Pajar Bulan, Pseksu, Sukamerindu and Gumay Ulu. Mitigation efforts for areas that have a high level of vulnerability to landslides include installing an Early Warning System (EWS), compiling a database of potential disaster areas, providing information to the community, training and simulating disasters in the community, making terraces, reforesting with deep-rooted plants and avoiding disaster-prone areas to build settlements.  Keywords : Landslide, Geographic Information System, Mitigation, Scoring, Overlay   ABSTRAK Kabupaten Lahat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Upaya untuk meminimalisir risiko dari longsor yaitu dengan pemetaan daerah rawan longsor. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk menentukan sebaran daerah rawan longsor Kabupaten Lahat serta mengetahui upaya tindakan mitigasi yang tepat terhadap daerah rawan longsor. Penelitian ini memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG) menggunakan metode skoring, pembobotan, dan overlay. Data yang digunakan berupa data administrasi, data curah hujan, data geologi, data jenis tanah, data elevasi dan data tutupan lahan Kabupaten Lahat. Hasil pengolahan data tersebut berupa peta rawan tanah longsor Kabupaten Lahat yang dikelompokkan menjadi empat tingkatan kelas kerentanan yaitu tingkat rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Daerah rawan longsor kabupaten Lahat dengan tingkat rendah mencakup 5,2%, tingkat sedang mencakup 56,32%, tingkat tinggi mencakup 32,94% , dan tingkat sangat tinggi mencakup 5,54%. Tingkat kerentanan tinggi mencakup daerah Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Tanjung Sakti Pumu, Merapi Barat, Merapi Selatan, Mulak Ulu, Pagar Gunung, Gumay Ulu, Kikim Selatan, Gumay Talang, Kikim Timur, Pseksu, Pajar Bulan, Pulau Pinang, Tanjung Tebat, Jarai Sukamerindu dan Kota Agung. Tingkat kerentanan sangat tinggi mencakup daerah Kecamatan Kota Agung, Pagar Gunung, Tanjung Sakti Pumi, Mulak Ulu, Tanjung Sakti Pumu, Merapi Selatan, Jarai, Kikim Selatan, Pajar Bulan, Pseksu, Sukamerindu dan Gumay Ulu. Upaya mitigasi terhadap wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terjadi terhadap bencana longsor yaitu pemasangan Early Warning System (EWS), penyusunan database daerah potensi bencana, pemberian informasi pada masyarakat, pelatihan dan simulasi bencana pada masyarakat, pembuatan terasering, penghijauan dengan tumbuhan berakar dalam dan menghindari daerah rawan bencana untuk membangun pemukiman. Kata Kunci : Tanah Longsor, Sistem Informasi Geografis, Mitigasi, Skoring, Overlay
PENINGKATAN KOMPETENSI MAHASISWA KEHUTANAN MELALUI PELATIHAN PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS sondang, virgus ari; Natul, Al Shida; Sastra, Ahmad Ridho; Putri, Debi Nadia; Aryantoni, Johan
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 9 No. 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v9i3.6145

Abstract

Seiring dengan kemajuan teknologi, Sistem Informasi Geografis (SIG) di masa kini memiliki peran penting dan dapat diterapkan di berbagai bidang, termasuk dalam bidang kehutanan. Dalam konteks kehutanan, pemanfaatan Sistem Informasi Geografis memberikan kemudahan dalam memantau kondisi hutan, memetakan titik-titik hotspot, membangun basis data untuk perencanaan serta pengelolaan hutan, dan mengidentifikasi wilayah yang rentan terhadap kebakaran hutan. Namun, banyak mahasiswa program studi (prodi) kehutanan masih belum mengenal konsep geospasial dan belum memahami cara penggunaan software Sistem Informasi Geografis (SIG). Melalui pelatihan software SIG, diharapkan mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Muhamadiyah Palembang mampu memahami serta memanfaatkan informasi geospasial secara efektif untuk mendukung kegiatan di bidang kehutanan. Pelatihan SIG diselenggarakan secara luring dengan metode ceramah dan praktik secara langsung. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) meningkatkan pemahaman dasar geospasial, kemampuan menggunakan software pemetaan, serta keterampilan georeferencing, digitasi, dan pembuatan layout peta pada mahasiswa. Luaran dari pelatihan ini memperlihatkan bahwa ketertarikan mahasiswa kehutanan dalam penggunaan software SIG untuk kehutanan sangat tinggi dinilai dari hasil tugas peserta. Kegiatan ini sebagai bekal mahasiswa prodi kehutanan tidak hanya memahami aspek ekologi dan pengelolaan hutan, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi pemetaan dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mendukung perencanaan, pengambilan keputusan, serta pemantauan kondisi hutan di masa depan.