p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Tekno Global
Putri, Debi Nadia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI BANGUNAN YANG BERADA DALAM KAWASAN SEMPADAN SUNGAI MUSI (BANGUNAN STATUS QUO) KOTA PALEMBANG Putri, Debi Nadia; Sastra, Ahmad Ridho
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i01.4463

Abstract

ABSTRACT Palembang City is a city located in South Sumatra Province and has the status as the capital of South Sumatra Province. Palembang City is geographically crossed by the Musi River. The Musi River is iconic in the city of Palembang. This is marked by the direction of development of the Musi River bank area as a tourism area which is regulated in Palembang City Regional Regulation Number 15 of 2012 concerning Regional Spatial Planning (RTRW) of Palembang City for 2012-2032. Along with the development of Palembang City which is marked by increasing development around the banks of the Musi River, areas in the Musi Riverbank area have been used as residences or settlements by residents. This is certainly in conflict with the Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing Number 28/PRT/M/2015 of 2015 concerning the Determination of River Border Lines and Lake Border Lines. Article 15 paragraph 1 states that buildings located on the riverbank are declared in "status quo" and need to be regulated by the government so that the riverbank functions properly again. This study aims to identify the number of buildings located in the Musi River area that are included in the Musi River basin using the buffer method. The results of this study obtained that the buildings located in the Musi River basin amounted to 641 buildings spread across 10 (ten) sub-districts located around the Musi River. The sub-district with the most buildings located in the river basin area is Kertapati sub-district with 301 buildings. The sub-district with the fewest buildings in the river basin area is Bukit Kecil sub-district with 7 buildings. Keywords: River Equivalent, Buffer, Status Quo   ABSTRAK Kota Palembang adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan dan berstatus sebagai ibukota dari Provinsi Sumatera Selatan. Kota palembang secara geografis dilewati sungai musi. Sungai musi merupakan iconik di kota palembang. Hal ini ditandai dengan diarahkannya pembangunan kawasan tepi sungai musi sebagai kawasan pariwisata yang diatur pada Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Recana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palembang Tahun 2012-2032. Seiring berkembangnya Kota Palembang yang ditandai dengan meningkatnya pembangunan yang ada disekitar bantaran sungai musi mengakibatkan daerah-daerah yang berada di area sempadan sungai musi dijadikan tempat tinggal atau permukiman oleh warga. Hal ini tentunya bententangan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2015 Tahun 2015 Tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai Dan Garis Sempadan Danau. Pada pasal 15 ayat 1 menyatakan bangunan-bangunan yang terdapat pada sempadan sungai dinyatakan dalam “status quo” dan berlu diberlakukan penertiban oleh pemerintah agar sempadan sungai berfungsi kembali sebagaimana mestinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah bangunan yang berada dikawasan sungai musi yang masuk dalam wilayah sempadan sungai musi dengan menggunakan metode buffer. Hasil peneltian ini memperoleh bangunan yang berada pada kawasan sempadan sungai musi berjumlah 641 bangunan yang tersebar di 10 (sepuluh) kecamatan yang berada di sekitar sungai musi. Kecamatan yang paling banyak memiliki bangunan yang berada dalam kawasan sempadan sungai adalah kecamatan kertapati dengan 301 bangunan. Kecamatan yang paling sedikit memiliki bangunan di kawasan sempadan sungai adalah kecamatan bukit kecil dengan 7 bangunan. Kata Kunci : Sempadan Sungai, Buffer, Status Quo
Analisis Jangkauan Jarak Fasilitas Kesehatan Terhadap Pemukiman Kumuh di Kecamatan Bukit Kecil Palembang (Studi Kasus: Rumah Susun 24 Ilir) Muhammad Fikri Ramadhan; Shalihat, Annisa Kurnia; Putri, Debi Nadia
Jurnal Tekno Global Vol. 12 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v12i02.3377

Abstract

ABSTRACT  One of the impacts of high levels of urbanization is the increase in the number of urban residents. This problem causes an increase in the need for housing. If this is not balanced with residential development, it will lead to illegal or slum housing. The increasing number of urban residents will also encourage the emergence of various urban activities. To accommodate and support various emerging activities, adequate land is needed, especially for low-income communities (MBR). To fulfill the need for affordable housing for MBR, certainty of ownership and control is provided in the form of a Sarusun Building Ownership Certificate (SKBG Sarusun) for Flats (sarusun) for MBR. Flat 24 Ilir, Bukit Kecil District is one of the flats in Palembang where most of the people living there have economic limitations or are classified as poor. However, the existence of health facilities around the 24 Ilir flats is not evenly distributed so that the community's ability to access health facilities is limited. This research discusses the gap between health facilities and slum areas. The aim of this research is to determine the distribution pattern and distance of accessibility of health facilities in the 24 Ilir flats, Bukit Kecil District, Palembang. This research uses the nearest neighbor method and buffer analysis using a Geographic Information System. The data collection technique used is primary and secondary data collection. Based on the results of the research and discussion, it was concluded that the distribution of health facilities in the 24 Ilir flats, Bukit Kecil District, Palembang has a uniform pattern. Meanwhile, only 2 health facilities are affordable with 24 ilir flats with a reach of 0-300 m. And there are 3 health facilities that are difficult to reach and take quite a long time with a range of 600-1200 m and 1200-3000 m.  Keywords: Nearest Neighbor, Distribution Pattern, Accessibility Distance, Buffer    ABSTRAK Salah satu dampak dari tingginya tingkat urbanisasi adalah bertambahnya jumlah penduduk perkotaan. Permasalahan ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan perumahan. Jika hal ini tidak diimbangi dengan pembangunan pemukiman maka akan menimbulkan perumahan liar atau kumuh. Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan juga akan mendorong munculnya berbagai aktivitas perkotaan. Untuk menampung dan mendukung berbagai kegiatan yang bermunculan, diperlukan lahan yang memadai, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Untuk memenuhi kebutuhan hunian terjangkau bagi MBR, diberikan kepastian kepemilikan dan penguasaan dalam bentuk Surat Keterangan Pemilikan Bangunan Gedung Sarusun (SKBG Sarusun) untuk Rumah Susun (sarusun) bagi MBR. Rumah Susun 24 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil merupakan salah satu rumah susun di Palembang yang sebagian besar masyarakatnya yang tinggal di sana memiliki keterbatasan ekonomi atau tergolong miskin. Namun keberadaan fasilitas kesehatan di sekitar rumah susun 24 Ilir belum merata sehingga kemampuan masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan terbatas. Penelitian ini membahas kesenjangan antara fasilitas kesehatan dan permukiman kumuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran dan jarak aksesibilitas fasilitas kesehatan di rumah susun 24 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang. Dalam penelitian ini menggunakan metode nearest neighbor dan analisis buffer dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data primer dan sekunder. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan bahwa persebaran fasilitas kesehatan di rumah susun 24 ilir, Kecamatan Bukit Kecil Palembang memiliki pola yang seragam. Sedangkan keterjangkauan fasilitas kesehatannya hanya 2 yang terjangkau dengan rusun 24 ilir dengan jangkauan 0-300 m. Dan fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau dan memerlukan waktu lumayan lama ada 3 dengan jangkauan 600-1200 m dan 1200-3000 m. Kata Kunci: Nearest Neighbor, Pola Persebaran, Jarak Keterjangkauan, Buffer