Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Inovasi Kuliner Peranakan Chinese-Indonesia Sienatra, Randy; Sulistyawati, Anastasia; Kusumaningrum, Ni Ketut Veri
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 3 No 2 (2020): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v3i2.80

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tampilan dan citarasa masakan Chinese-Indonesia setelah diinovasikan dengan berbagai bahan lokal khas Indonesia. Penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Penulis menggunakan kuesioner/angket untuk mendapatkan data tentang inovasi masakan peranakan Chinese-Indonesia. Panelis pada penelitian ini meliputi dua orang ahli dibidang kuliner dan mahasiswa dibidang kuliner. Peneliti menginovasi 10 jenis masakan peranakan Chinese-Indonesia yang telah ada dengan cara memadukan masakan tersebut dengan berbagai bahan makanan lokal yang memiliki citarasa unik dan belum lumrah. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu 10 masakan yang di uji coba: kwetiauw goreng sosis jeruk nipis, mie tek-tek tumis asparagus, nasi goreng hongkong belimbing wuluh, ayam saus mentega jeruk nipis, sapo tahu bali, pare szehchuan, udang mentega jeruk nipis, misoa iga babi, ifumie kepiting belimbing wuluh, capcay daun kelor yang sudah diinovasikan memiliki citarasa yang unik dan mampu memberikan pembaharuan pada rasa masakan peranakan, namun tetap mempertahankan rasa yang otentik/asli dari masakan tersebut karena metode dan bumbu yang digunakan tetap mempertahankan bumbu asli dari masakan tersebut. Dari data uji hedonik disimpulkan bahwa, para panelis menyukai modifikasi makanan Indonesia masakan peranakan Chinese-Indonesia. Hasil rata-rata yang diperoleh sebagai berikut, untuk warna diperoleh nilai 3,7 yang menunjukan peserta agak suka terhadap hasil modifikasi, lalu untuk rasa diperoleh nilai 3,9 yang menunjukkan peserta suka, untuk aroma diperoleh nilai 4,1 yang menunjukan peserta agak suka, untuk tekstur diperoleh nilai 4,2 yang menunjukkan peserta suka, dan yang terakhir diperoleh nilai 3,8 untuk keseluruhan yang menunjukan peserta suka. Dari hasil keseluruhan dapat disimpulkan bahwa masakan modifikasi peranakan Chinese-Indonesia ini disukai dan bisa diterima oleh para panelis.
Berbagai Makna Sate Pada Upakara Umat Hindu Di Bali Sulistyawati, Anastasia
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 3 No 2 (2020): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v3i2.86

Abstract

Salah satu budaya kuliner yang terkenal dan banyak jenisnya di Bali adalah kuliner jenis sate. Sate pada filosofi Hindu Bali bukan hanya hidangan, tetapi juga diperuntukkan bagi Dewa-Dewi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan inventarisasi mengenai berbagai jenis sate yang dikenal umat Hindu di Bali, mengenali makna filosofi penggunaan dari jenis sate yang ada pada upakara umat Hindu di Bali, dan mengetahui berbagai bahan dan bumbu serta cara pengolahan jenis sate di Bali. Teori yang digunakan adalah teori gastronomi dan semiotika. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Hasil penelitian adalah sate di Bali mempunyai dwi fungsi, yaitu sate persembahan dan sate hidangan. Dari segi bentuknya terdapat 13 jenis sate. Dari segi dagingnya, ada sate ayam, bebek, babi, dan penyu. Sate merupakan simbolisme Lingga/Brahma Purusa (Tuhan Maha Pencipta). Sate juga merupakan simbol senjata Dewata Nawa Sanga yang dipakai Dewi Durga mengalahkan Kala. Bumbu sate yang disebut basa genep/base gede mengandung simbol nyasa (pemusatan pikiran). Jadi, keberadaan semua jenis sate adalah salah satu bentuk pemahaman filosofi Siwa Sidhanta di Bali yang berkaitan dengan bentuk simbol (nyasa) atribut Dewi Durga (sakti Dewa Siwa sebagai Dewa tertinggi). Jadi, sate menyimbolkan sifat Purusa. Data dapat digunakan sebagai masukan untuk peneliti lain.
Dekonstruksi Kue Khas Kalimantan Menjadi Western Dessert Putri, Rizqy Prasetyani; Sulistyawati, Anastasia; Tanius, Billy
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 5 No 1 (2022): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v5i1.100

Abstract

Kue tradisional kurang populer jika dibandingkan dengan western dessert yang dipasarkan di Indonesia sehingga generasi muda Indonesia merasa kue tradisional tidak bisa bersaing di pasar internasional. Pada karya kompetensi kreatif ini, penulis mendekonstruksi kue khas Kalimantan menjadi western dessert agar kue tradisional terlihat lebih menarik. Penulis menggunakan kue khas Kalimantan karena memiliki sejarah yang unik dan masih kurang dikenal masyarakat Indonesia. Metode pada penelitian ini menggunakan research and development (R&D) dengan model 4D yaitu (define, design, development dan dissemination). Teori yang digunakan yaitu teori dekonstruksi pada makanan dari Ferran Adrià. Uji coba produk dalam penelitian ini menggunakan uji hedonik dengan menguji kesukaan seseorang terhadap warna, rasa, tekstur, aroma dan penampilan keseluruhan makanan. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini berupa kuesioner yang disebarkan pada 6 panelis ahli dan 42 panelis umum. Hasil dari penelitian ini berupa 10 resep antara lain: kararaban swiss roll, amparan tatak mousse, gegicak coconut cake, puracit choux au craquelin, bingka tartlet, putri keraton bundt cake, pisang gapit cheesecake, putri selat panna cotta, hintalu karuang flan cake, jendral mabok soufflé. Hasil nilai rata-rata keseluruhan dari penilaian uji hedonik adalah 4.32 untuk warna, 4.39 untuk rasa, 4.33 untuk aroma, 4.36 untuk tekstur, dan 4.56 untuk keseluruhan. Dapat disimpulkan dari hasil nilai rata-rata bahwa para Panelis memberi respon positif dan menyukai 10 menu hasil dekonstruksi.
Bebek Betutu Sebagai Kuliner Upakara Umat Hindu, Dalam Kaitan Budidaya Bebek Bali Dan Revitalisasinya Saat Ini Sulistyawati, Anastasia
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 5 No 1 (2022): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v5i1.102

Abstract

Dalam agama Hindu di Bali, bebek betutu memiliki peran penting sebagai sarana upakara untuk mendapatkan berkah. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan inventarisasi mengenai berbagai cara tradisional untuk membuat jenis kuliner upakara bebek betutu, memahami alasan filosofi dan etika penggunaan sarana upakara dari hewan bebek dalam yadnya umat Hindu di Bali termasuk jenis pengolahannya, dan mengetahui fungsi menggunakan bebek betutu dalam kaitan budidaya bebek Bali dan revitalisasinya di Bali sampai saat ini. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan pengumpulan data melalui studi kepustakaan.Hasil penelitian adalah bebek betutu merupakan olahan daging dalam bentuk utuhan, yang bakar di dalam bara api (sekam) dalam jangka panjang. Pada awalnya fungsi utamanya sebagai lauk upakara/banten yang bernama Suci (Ben Banten Suci). Banten suci dengan lauk bebek betutu termasuk banten upasaksi (simbol saksi upacara) yadnya menempati posisi sebagai ulu (tempat tertinggi). Dipilihnya bebek karena sifat-sifat baik yang dimiliki bebek. Penggunaan bebek betutu dalam kurban suci tergolong yadnya jenis janggama dan mantiga. Revitalisasi menu bebek sebagai kuliner khas Bali yang dilakukan dengan modifikasi teknik pengolahan dan penyajiannya telah menjadikan kuliner bebek betutu mendunia.
Lawar Kuliner Bairawa Menuju Kuliner Pariwisata Khas Bali Margaretha, Esther Lia; Sulistyawati, Anastasia
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 5 No 1 (2022): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v5i1.105

Abstract

Bali memiliki sejumlah keunggulan yang pantas untuk diperkenalkan ke kancah dunia, salah satunya adalah segi kuliner. Keunikan Bali sebagai destinasi wisata kuliner unggulan karena memiliki sejarah dan budaya kuliner yang cukup kental. Salah satu kuliner bali yang kental akan sejarah dan budaya bali adalah lawar. Lawar, salah satu makanan khas Bali yang biasanya terbuat dari parutan kelapa, daging cincang, basa genep, dan darah segar atau setengah matang sebagai pewarnanya, ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Dunia (WBTB ICH UNESCO). Selain merupakan hidangan favorit dalam setiap kegiatan upacara adat Hindu di Bali, lawar ternyata memiliki filosofi tersendiri dan berkaitan dengan persebaran suatu ajaran sekta agama (Bairawa). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis kuliner lawar serta filosofinya sebagai sarana upakara umat Hindu di Bali, serta mengetahui proses komodifikasi kuliner lawar dalam kaitan pengembangan kuliner pariwisata khas Bali saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis, dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan lawar awalnya berasal dari peninggalan kuliner sekta Bairawa yang berhasil mempengaruhi paham Siwa Sidhanta Hindu di Bali, namun sifat kreatif masyarakat Bali yang begitu tinggi menyebabkan lahirnya berbagai jenis lawar tradisional khas lainnya. Lawar, masakan khas bali mengandung filosofi keseimbangan dan keselarasan atau keharmonisan dalam hidup. Adaptasi menu lawar yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan diperlukan untuk membangun paradigma kuliner pariwisata khas Bali yang toleran, sehingga bisa menjadikan kuliner lawar mendunia.
Perubahan Budaya Kuliner Dan Adaptasi Bisnis Kuliner Di Masa Pandemi Covid-19 Sulistyawati, Anastasia
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 5 No 2 (2022): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v5i2.124

Abstract

Dampak Pandemi COVID-19 terjadi dihampir segala bidang kehidupan, termasuk kondisi sosial, budaya, pendidikan, dan perekonomian. Gastrodiplomasi yang memberikan manfaat ekonomi sebuah negara tidak berjalan normal karena lumpuhnya pariwisata dunia. Berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sangat berpengaruh pada berbagai sektor, termasuk kuliner. Adaptasi dari pelaku bisnis kuliner, salah satunya dengan menerapkan strategi pemasaran yang tepat, mengikuti perkembangan jaman dan teknologi dan terus berinovasi untuk tetap eksis dalam bidang kuliner di Indonesia. Penelitian bertujuan mendalami perubahan budaya kuliner dalam menghadapi pandemi COVID-19, memahami berbagai usaha yang telah dilakukan para pelaku bisnis kuliner dalam menyelamatkan usahanya, serta memahami kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah RI untuk membuat bisnis kuliner di Indonesia tetap eksis di tengah pandemi dunia ini. Metode penelitian adalah kualitatif, dengan pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Hasil dari penelitian adalah COVID-19 telah mengubah perilaku konsumen, selain lebih memilih membeli secara daring (online) untuk memenuhi kebutuhan pangannya juga lebih memilih take-away food. Pemilik bisnis kuliner dapat melakukan beberapa langkah praktis untuk dapat tetap bertahan, seperti menerapkan sistem daring untuk delivery order, tetap fokus pada promosi take-away, membudayakan transaksi non-tunai, serta meningkatkan kepercayaan konsumen terkait higienitas. Presiden juga melakukan langkah praktis untuk menyelamatkan bisnis kuliner di Indonesia dengan mengeluarkan Kebijakan Pemerintah.
The History Of Babi Guling In The Tradition Of Banten To Become A Typical Balinese Culinary Sulistyawati, Anastasia
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 6 No 1 (2023): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v6i1.154

Abstract

The existence of Balinese suckling pig cannot be separated from the existence of offerings from guardians or offerings, which require using suckling pig as one of the ingredients. Babi guling is one of the important means of offering in certain temples at ceremonies asking for mass village prosperity. The tendency of the Balinese people to consume Babi Guling in the past cannot be separated from the blessings of offerings (paridan or prasadam) because many Hindu ceremonies in Bali use Babi Guling as a ceremony, and after it is offered it must be enjoyed and grateful for as a blessing. Starting from the tradition of offerings, but in line with the development of the paradigm of cultural commodification in Balinese society, then transformed into a commercial commodity for suckling pig culinary menu, which is sold to the public every day. This study aims to find out the historical traces of suckling pig in the offering tradition of Hindus in Bali and to find out the religious function of suckling pig in Hinduism so that it becomes one of Balinese specialties. This type of research is descriptive analytic with in-depth analysis techniques. This study concludes that the historical traces of suckling pig in the Hindu tradition of offerings until it develops as a typical Balinese culinary business commodity which is currently rife cannot be separated from the factors of natural resources, climate and Balinese culture in the past. The use of pork as a means of offering cannot be separated from the influence of the Bairawa and tantrayana sects where the worship of Durga has been strengthened again, which has resulted in the strengthening of the culinary position of pork as a complement to the religion of Hindus in Bali, especially in Galungan celebrations until now.