Soebahar, Abd. Halim
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Reformulasi Pendidikan Agama Bagi Anak-Anak Jalanan: Reformulating Religious Education for Street Children Soebahar, Abd. Halim
Fenomena Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v1i1.266

Abstract

The growing number of street children in urban centres such as Jember poses a critical challenge to the effectiveness of religious education, which often fails to address their unique socio-economic realities. This study addresses the gap between conventional religious pedagogy and the lived experiences of marginalised youth by examining five key dimensions: their characteristics, religious knowledge, religious values, religious behaviour, and desired educational patterns. A qualitative approach was employed, involving life-history interviews, non-participant observation, and focus group discussions with 25 purposively selected street children from several locations in Kota Jember. The findings reveal that street children have developed a distinct and exclusive life philosophy, often ambivalent towards formal religious norms. Their religious knowledge remains limited and homogeneous, primarily derived from parents and schools, while peer influence leads to shifts in values and behaviours that mimic a "Si Boy" archetype—simultaneously pious and transgressive. Despite recognising the importance of religious education, they perceive educators as unfriendly and judgemental. The study concludes that a reformulation and revitalisation of religious education is urgently needed, grounded in empathy and an understanding of street children’s evolving paradigms, with recommendations for educators to adopt a more inclusive and context-sensitive approach. Meningkatnya jumlah anak jalanan di pusat-pusat perkotaan seperti Jember menghadirkan tantangan krusial bagi efektivitas pendidikan agama yang sering gagal menjangkau realitas sosial-ekonomi unik mereka. Penelitian ini menjawab kesenjangan antara pendekatan pedagogi agama konvensional dan pengalaman hidup anak marginal dengan mengkaji lima aspek utama: karakteristik, pengetahuan agama, nilai agama, perilaku beragama, dan pola pendidikan yang mereka harapkan. Metode kualitatif digunakan melalui wawancara riwayat hidup, observasi non-partisipan, dan diskusi kelompok terarah terhadap 25 anak jalanan yang dipilih secara purposif dari sejumlah lokasi di Kota Jember. Temuan menunjukkan bahwa anak jalanan mengembangkan filosofi hidup khas dan eksklusif yang ambivalen terhadap norma agama formal. Pengetahuan agama mereka terbatas dan homogen, berasal dari orang tua dan sekolah, sementara pengaruh teman sebaya memicu pergeseran nilai dan perilaku ala “Si Boy”—rajin beribadah sekaligus melakukan pelanggaran. Meskipun menyadari pentingnya pendidikan agama, mereka mempersepsikan pendidik sebagai pihak yang tidak ramah dan menghakimi. Penelitian ini menyimpulkan perlunya reformulasi dan revitalisasi pendidikan agama yang dilandasi empati serta pemahaman terhadap paradigma hidup anak jalanan, dengan rekomendasi agar pendidik mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dan peka konteks.
Kesiapan Madrasah Menyongsong Otonomi Daerah di Kabupaten Situbondo: The Readiness of Madrasahs in Facing Regional Autonomy in Situbondo Regency Soebahar, Abd. Halim
Fenomena Vol 2 No 1 (2003): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v2i1.317

Abstract

The implementation of regional autonomy in Indonesia requires a fundamental transformation of madrasah education to remain relevant and adaptive. This study examines the readiness of madrasah in Situbondo Regency to face regional autonomy, focusing on suprastructure, infrastructure, financial management, and curriculum. A qualitative approach was employed, using in-depth interviews, non-participant observation, documentation, and focus group discussions with madrasah heads, foundation administrators, and government officials from six state and thirty-two private madrasah. The findings reveal that madrasah have not yet developed adequate capacity and capability to welcome regional autonomy. While some progress exists in certain areas, most madrasah lack sufficient human resources, functional organizational infrastructure, accountable financial systems, and curricula oriented toward local excellence and stakeholder needs. The study concludes that madrasah require systematic empowerment through training in database management, school-based quality improvement, leadership, and financial administration. It is recommended that the local government and the Ministry of Religious Affairs facilitate regrouping or mergers of non-viable madrasah as a strategic, persuasive measure to ensure sustainability and accountability. Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia menuntut transformasi mendasar pendidikan madrasah agar tetap relevan dan adaptif. Penelitian ini bertujuan mengkaji kesiapan madrasah di Kabupaten Situbondo menyongsong otonomi daerah dengan fokus pada suprastruktur, infrastruktur, pembiayaan, dan kurikulum. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dokumentasi, dan diskusi kelompok terarah yang melibatkan kepala madrasah, pengurus yayasan, serta pejabat pemerintah dari enam madrasah negeri dan tiga puluh dua swasta. Temuan menunjukkan bahwa madrasah belum memiliki kapasitas dan kemampuan memadai dalam menyongsong otonomi daerah. Meskipun terdapat kemajuan pada sebagian aspek, sebagian besar madrasah masih kekurangan sumber daya manusia berkualitas, infrastruktur organisasi yang fungsional, sistem pembiayaan akuntabel, serta kurikulum yang berorientasi pada keunggulan lokal dan kebutuhan pemangku kepentingan. Penelitian menyimpulkan bahwa madrasah memerlukan pemberdayaan sistematis melalui pelatihan manajemen data, peningkatan mutu berbasis madrasah, kepemimpinan, dan administrasi keuangan. Pemerintah daerah dan Departemen Agama direkomendasikan memfasilitasi pengelompokan ulang atau merger madrasah yang tidak layak sebagai langkah persuasif strategis demi keberlanjutan dan akuntabilitas.
EXPLORING EDUCATION MODEL OF PESANTREN BASED LOCAL WISDOM: A CASE STUDY AT PESANTREN OF NURUL QARNAIN JEMBER Habibi, Erfan; Noor Harisudin, Muhammad; Chotib, Moch.; Soebahar, Abd. Halim; Holil, M.
Edupedia : Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam Vol. 9 No. 2 (2025): Edupedia: Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/edupedia.v9i2.6706

Abstract

This research was conducted at the Pesantren of Nurul Qarnain Jember. Based on initial observations, it was found that this Islamic boarding school has a peculiarity, namely being able to integrate local wisdom values in the education carried out in it, for example, in teaching Sufism, students are taught about the importance of harmony between themselves, society, and the environment. In addition, prayer activities involving students in Nasyid and Hadrah traditional art performances were packaged with the title Majlis Al Wishol. Through the qualitative-descriptive research conducted, it was found that the approach of integrating local values with Islamic teachings was proven to increase students' awareness of the importance of preserving cultural heritage while adhering to religious principles. Furthermore, the results of the evaluation showed that teaching methods involving local cultural practices, such as traditional performing arts and environmental wisdom, created a more engaging learning atmosphere.