Casdimin, Casdimin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pengembangan Pertanian Hortikultura Buah Nanas Berbasis Pemberdayaan Pemuda Desa Casdimin, Casdimin; Sjaf, Sofyan; Kolopaking, Lala M
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 8 No. 3 (2020): Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/8202033179

Abstract

Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) merupakan salah satu komoditas unggulan pertanian Indonesia. Salah satu daerah penghasil nanas terbesar di Indonesia adalah Subang, Jawa Barat. Selain memiliki potensi yang besar, pertanian nanas di Subang juga menghadapi berbagai permasalahan antara lain menurunnya produktivitas dan regenerasi petani. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan hortikultura buah nanas berbasis pemberdayaan pemuda desa. Perumusan strategi dilakukan melalui evaluasi terhadap program aksi pendampingan petani nanas oleh Dompet Dhuafa selama 2016-2018 dan survey mengenai persepsi pemuda desa dengan teknik purposif. Perumusan strategi penelitian menggunakan metode Logical Framework Approach (LFA). Hasil evaluasi program pada kasus petani nanas binaan Dompet Dhuafa menunjukkan nilai indeks kinerja sebesar 63.29 dari skala 1-100. Nilai ini menempatkan program Dompet Dhuafa sebagai program yang berada pada tingkat berkembang. Berdasarkan hasil survei persepsi pemuda Desa Cirangkong, 78% pemuda Desa Cirangkong tidak bekerja sebagai petani, tetapi 72% menyatakan keinginan kuat untuk dapat bekerja di pertanian nanas. Dalam rangka menjawab persoalan produktivitas dan regenerasi, penelitian ini merumuskan tujuh alternatif strategi program, yakni: pemberdayaan pemuda desa, penguatan kelembagaan petani, perluasan pasar, pembangunan industri pengolahan nanas, penguatan kapasitas petani, penguatan permodalan, dan penyediaan bibit unggul nanas. Berdasarkan pilihan prioritas strategi, maka basis utama rencana program aksi yang dituangkan dalam Matrik Perencanaan Program (MPP) adalah meningkatkan pemberdayaan petani muda desa untuk pengembangan hortikultura nanas.
Penyaluran Dana Zakat Sebagai Instrumen Pemberdayaan Ekonomi: Studi Kasus Program Mustahik Move To Muzakki (M3) Sentra Ternak Sapi Perah Merapi Abidin, Zainal; Casdimin, Casdimin; Iqbal, Iqbal; Sudarmi, Nurtania
CANTING: Indonesian Community Development and Social Investment Journal Vol 1 No 3 (2026): Canting: Indonesian Community Development and Social Investment Journal
Publisher : PT Sahabat Investasi Indotama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64895/r0nrd023

Abstract

Program Mustahik Move to Muzakki (M3) merupakan program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat produktif yang diimplementasikan oleh Karya Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama 26 bulan (November 2015–Desember 2017). Program ini menyasar 45 kepala keluarga mustahik terdampak erupsi Gunung Merapi melalui intervensi modal produktif berupa 71 ekor sapi perah dara bunting, pendampingan intensif, dan penguatan kelembagaan lokal. Artikel ini mengkaji efektivitas program dalam meningkatkan pendapatan mustahik relatif terhadap Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan menganalisis model tiga tahap pemberdayaan (perintisan–penguatan–pemandirian) sebagai kerangka transformasi sosial-ekonomi. Menggunakan pendekatan studi kasus evaluatif dengan analisis data longitudinal selama 26 periode bulanan, temuan menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan mitra meningkat dari Rp 895.195/bulan menjadi Rp 3.103.997/bulan, setara 2,59× UMK 2015, melampaui target 1,5× UMK. Estimasi Social Return on Investment (SROI) menghasilkan rasio 2,09:1. Studi ini menegaskan bahwa zakat produktif berbasis komunitas dengan pendampingan berlapis mampu mempercepat transisi mustahik menuju kemandirian ekonomi, meskipun keberlanjutan pasca-program memerlukan penguatan kapasitas manajerial kelembagaan lokal.