Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) DI PANTAI KUALO KOTA BENGKULU Yar Johan; Person Pesona Renta; Ali Muqsit; Dewi Purnama; Leni Maryani; Pinsi Hiriman; Fahri Rizky; Anggini Fuji Astuti; Trisela Yunisti
JURNAL ENGGANO Vol 5, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.5.2.273-289

Abstract

Sampah laut (marine debris) adalah bahan sisa-sisa produk yang ditinggalkan atau dibuang ke laut oleh manusia baik dengan sengaja maupun tidak sengaja ditinggalkan di dalam lingkungan laut. Penelitian Sampah laut (marine debris) di Pantai Kualo Kota Bengkulu diharapkan dapat memberikan informasi dan data kepada mahasiswa, peneliti, pemerintah dan masyarakat umum sebagai informasi ilmiah awal tentang jenis dan bobot serta laju pertambahan sampah laut (marine debris) yang tersebar di Pantai Kualo Kota Bengkulu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui observasi untuk mendapatkan komposisi sampah laut, laju pertambahan sampah laut (marine debris) dengan 3 kriteria yaitu adanya muara sungai, aktifitas masyarakat dan tumpukan sampah. Sampah laut (marine debris) di Pantai Kualo Kota Bengkulu terdapat 2 jenis yaitu sampah organik dan sampah anorganik, sampah organik didominasi oleh kayu, dan sampah anorganik didominasi oleh plastik.ANALYSIS OF MARINE DEBRISH IN KUALO BEACH, BENGKULU CITY. Marine debris is material from the remnants of the product left or thrown into the sea by human either intentionally or unintentionally dumped of in the marine environment. The research of marine debris in Kualo Beach Bengkulu city was expected to provide information and data to the students, researcher, goverment and general public as initial scientific information about types, weight, and the rate of increasing in marine debris that were scattered. The data collection was carried out by using purposive sampling technique through observation to get composition of marine debris, the rate of increasing in marine debris had three criterias namely existence of a river mouth, community activities, and pile of debris. Marine debris in Kualo Beach Bengkulu City had two types namely organic and inorganic debris. Organic debris was dominated by wood while inorganic debris was dominated by plastic.
IDENTIFIKASI JENIS MAKROALGA DI PANTAI LINAU, KABUPATEN KAUR, PROVINSI BENGKULU Astini, Lita; Nur, Syarifudin; Yamadipo, Yusarwan; Astuti, Anggini Fuji
Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan Vol 22 No 2 (2024): Jurnal Agroqua
Publisher : University of Prof. Dr. Hazairin, SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/ja.v22i2.4851

Abstract

Macroalgae is a biological resource that has great potential to be developed and is distributed in intertidal areas, consisting of various types with different characteristics. This research aims to determine the morphological characteristics of macroalgae types on Linau Beach, Kaur Regency, Bengkulu Province. The method used in this research is the observation and survey method, as well as the identification stage carried out in the intertidal zone of the beach. The results of research carried out at Linau Beach, Kaur Regency, Bengkulu Province, are that there are 14 species of macroalgae on sand, seagrass sand, sandstone, rock and coral substrates, consisting of 5 (five) species of the Chlorophyta (green algae) division, namely Ulva lactuca , Padina minor, Boergesenia forbesii, Chaetomorpha crassa, and Chaetomorpha antennina. The Phaeophyta (brown algae) division has 5 (five) species, namely Turbinaria ornata,, Sargassum polycystum, Sargassum cristaefolium, Sargassum paniculatum and Euchema denticulatum species E. and the Rhodophyta (red algae) division has 4 (four) species, namely Glacilaria salicornia, Achantophora spicifera, Khappaphycus alvarezii, and Gracilaria spp.
Meta Analisis Pengaruh Kedalaman Terhadap Life Form Karang Astuti, Anggini Fuji; Hanami, Cindy Claudea; Madduppa, Hawis; Astini, Lita; Nur, Syarifudin; Agustini, Nella Tri
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2025): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v7i1.11325

Abstract

AbstractTerdapat beberapa faktor fisik dan kimia yang dapat mempengaruhi distribusi pertumbuhan karang diantaranya suhu perairan, kecepatan arus, salinitas, kecerahan perairan, pH, dissolved oxygen (DO), nitrat, fosfat, sulfida, dan TSS . Faktor lingkungan tidak hanya menentukan pola sebaran dan kelimpahan karang, tetapi juga mempengaruhi bentuk morfologi pertumbuhannya. Penelitian ini memiliki dua tujuan utama yaitu mengetahui sebaran dan kelimpahan karang pada tiap kedalaman, dan menganalisis pengaruh kedalaman terhadap life form karang. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan meta-analisis. Analisis data menggunakan uji statistik non- parametrik Mann-Whitney. Data yang digunakan berasal dari data sekunder yang diperoleh dari beberapa jurnal atau karya tulis ilmiah lainnya. Hasil penelitian menunjukkan sebaran dan jenis karang yang ditemukan di seluruh lokasi pengamatan yaitu Acropora Branching, A. Encrusting, A. Submassive, A. Digitae, A. Tabulate, Coral Encrusting, C. Foliose, C. Massive, C. submassive, C. Heliopora, C. Millepora, dan C. Mushroom. Kelompok terumbu karang jenis C. Massive merupakan jenis yang paling mendominasi dengan nilai persentasi sebesar 7,90%. Berdasarkan hasil uji statistik, Z hitung lebih besar dari Z tabel maka H0 ditolak dan dapar disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bentuk pertumbuhan karang terhadap perubahan kedalaman perairan.
Identifikasi Jenis Lamun Di Pantai Cukoh dan Pantai Linau Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu Astini, Lita; Nur, Syarifudin; Astuti, Anggini Fuji; Purnama, Dewi
Jurnal Laut Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): July
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lkuntan.v8i2.92527

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan laut yang hidup di wilayah pasang surut yang memiliki fungsi ekologis yang penting bagi biota dan perairan laut. Beberapa fungsi ekologis lamun sebagai tempat tinggal berbagai biota ikan, alga, udang, teripang, beberapa kerang dan gastropoda. Pantai Cukoh dan Pantai Linau merupakan pantai yang ada di Kabupaten Kaur yang memiliki tumbuhan lamun. Sampai saat ini informasi terbaru tentang spesies lamun yang ada di pantai Cukoh dan Pantai Linau masih belum dilaporkan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengiventarisasi tentang jenis-jenis lamun di Pantai Cukoh dan Pantai Linau, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Metode penelitian ini menggunakan metode survei dilakukan secara langsung pada bulan November 2024, Pengambilan data lamun menggunakan transek garis dengan bantuan transek kuadrat sedangkan data parameter suhu dan pH diukur menggunakan pH digital, pengukuran salinitas menggunakan refraktometer sedangkan parameter substrat diamati secara langsung. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 4 spesies lamun yang ditemukan di lokasi penelitian terdiri dari Thallasia hemprichii, Syringodium isotifolium, Cymodocea rotundata dan Halodule uninervis. Jenis substrat yang ditumbuhi lamun dilokasi yaitu tipe substrat berapasir dan karang berpasir, parameter lingkungan suhu berkisar 26"“30 °C, salinitas 32"“35"° dan pH 7- 8.
Meningkatkan Ketahanan Karang Melalui Evolusi Terbantu: Tinjauan Pemuliaan Selektif Dan Manipulasi Holobion Alina, Dining Nika; Astuti, Anggini Fuji; Maqbul, Ismail
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v7i2.13125

Abstract

Terumbu karang, ekosistem laut yang sangat produktif namun rentan, menghadapi ancaman parah dari perubahan iklim, terutama pemutihan karang akibat peningkatan suhu laut dan pengasaman. Konservasi konvensional tidak lagi memadai, sehingga diperlukan pendekatan inovatif seperti evolusi terbantu (assisted evolution) untuk mempercepat adaptasi karang. Literatur review ini membahas dua strategi inti evolusi terbantu: pemuliaan selektif (selective breeding) dan manipulasi holobion (meliputi manipulasi simbion dan mikrobioma). Pemuliaan selektif melibatkan persilangan karang toleran stres untuk menghasilkan keturunan yang tangguh, sementara manipulasi holobion berfokus pada rekayasa komunitas alga simbion (Symbiodiniaceae) dan mikrobioma bakteri untuk meningkatkan ketahanan. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, studi awal menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan kelangsungan hidup karang. Dalam konteks Indonesia, yang kaya akan keanekaragaman hayati laut, terdapat potensi besar untuk penerapan evolusi terbantu. Inisiatif seperti lokakarya toleransi termal dan program restorasi skala besar menunjukkan kesiapan, meskipun sebagian besar upaya restorasi masih konvensional. Untuk memajukan pendekatan ini, diperlukan studi percontohan lokal, pengumpulan data genetik yang komprehensif, keterlibatan masyarakat, dan kerangka regulasi yang mendukung. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi pemimpin regional dalam penelitian dan aplikasi evolusi terbantu untuk memastikan masa depan terumbu karang yang lebih tangguh.
Isolasi Senyawa Saponin dari Mangrove Rhizophora Mucronata dan Pemanfaatannya sebagai Pestisida Nabati Pada Larva Nyamuk Dewi Purnama; Rizky Suryaman Simbolon; Bertoka Fajar SP Negara; Maya Anggraini Fajar Utami; Lita Astini; Firdha Iresta Wardani; Nurlaila Ervina Herliany; Anggini Fuji Astuti
JURNAL ENGGANO Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.10.1.8-19

Abstract

Senyawa saponin merupakan metabolit sekunder tumbuhan yang berperan dalam mekanisme pertahanan terhadap tekanan lingkungan serta memiliki potensi aplikasi sebagai antikanker, antijamur, antibakteri, dan pestisida nabati. Salah satu jenis mangrove yang diketahui mengandung saponin adalah Rhizophora mucronata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan saponin pada ekstrak daun, akar, dan kulit batang R. mucronata serta mengevaluasi potensi toksisitasnya sebagai pestisida nabati terhadap larva nyamuk. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan bagian tumbuhan dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi rendemen ekstrak, identifikasi saponin menggunakan uji busa, serta uji toksisitas terhadap larva nyamuk selama 24 jam pada beberapa konsentrasi ekstrak. Data uji toksisitas dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saponin terdeteksi pada ekstrak daun, akar, dan kulit batang R. mucronata, namun saponin pada ekstrak daun bersifat kurang stabil. Ekstrak akar dan kulit batang menunjukkan karakteristik busa yang lebih stabil serta persentase kematian larva yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak daun. Meskipun demikian, hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa pemberian berbagai ekstrak saponin dari daun, akar, dan kulit batang R. mucronata tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat kematian larva nyamuk. Hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak kulit batang dan akar R. mucronata memiliki potensi sebagai sumber saponin, namun efektivitasnya sebagai pestisida nabati masih memerlukan optimasi metode ekstraksi dan pengujian lanjutan.
Karakteristik Reproduksi Kerang Lokan (Geloina erosa) Berdasarkan Indeks dan Tingkat Kematangan Gonad di Muara Jenggalu, Kota Bengkulu Nella Tri Agustini; Firdha Iresta Wardani; Ayub Sugara; Ayub Sugara Anggini Fuji Astuti
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 21 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/04yjrn49

Abstract

Kerang lokan Geloina erosa merupakan bivalvia bernilai ekonomis yang banyak dimanfaatkan di Muara Jenggalu, Kota Bengkulu. Peningkatan eksploitasi tanpa memperhatikan kondisi reproduksi berpotensi mengancam keberlanjutan populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik reproduksi G. erosa berdasarkan Indeks Kematangan Gonad (IKG) dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG). Pengambilan sampel dilakukan pada Mei–Oktober 2023 di ekosistem mangrove Muara Jenggalu. Sampel dikumpulkan secara manual saat kondisi surut, selanjutnya dibawa ke Laboratorium Perikanan, Universitas Bengkulu untuk analisis lebih lanjut. Gonad diamati secara morfologis dan mikroskopis (100×–400×) untuk menentukan jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad. Nilai IKG dihitung sebagai perbandingan berat gonad terhadap berat tubuh total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IKG pada betina berkisar 0,145–0,538 (rata-rata 0,336) dan jantan 0,048–0,931 (rata-rata 0,325), yang menunjukkan perkembangan gonad relatif sinkron. Distribusi TKG didominasi TKG I pada jantan dan TKG II pada betina, dengan variasi TKG I–III. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas reproduksi yang berlangsung secara terus menerus sepanjang tahun.   The mangrove clam Geloina erosa is an economically important bivalve widely utilized in the Jenggalu Estuary, Bengkulu City, Indonesia. Increasing exploitation without considering reproductive conditions may threaten the sustainability of its population. This study aimed to analyze the reproductive characteristics of G. erosa based on the Gonadosomatic Index (GSI) and gonadal development stages. Sampling was conducted from May to October 2023 in the mangrove ecosystem of the Jenggalu Estuary. Specimens were collected manually during low tide and transported to the Fisheries Laboratory, University of Bengkulu for further analysis. Gonads were examined morphologically and microscopically (100×–400× magnification) to determine sex and gonadal development stages. The GSI was calculated as the ratio of gonad weight to total body weight. The results showed that GSI values ranged from 0.145–0.538 (mean 0.336) in females and 0.048–0.931 (mean 0.325) in males, indicating relatively synchronous gonadal development. The distribution of gonadal stages was dominated by Stage I in males and Stage II in females, with stages ranging from I to III. These findings indicate continuous reproductive activity throughout the year.
Variabilitas Mixed Layer Depth dan Karakteristik Massa Air di Perairan Barat Sumatera Berdasarkan Data CTD dan Argo Float Tahun 2010-2024 Syarifudin Nur; Mukti Dono Wilopo; Lita Astini; Anggini Fuji Astuti
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/5qe1ha04

Abstract

Perairan barat Sumatera yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia timur merupakan kawasan dengan dinamika oseanografi yang dipengaruhi secara kuat oleh faktor atmosfer-laut, termasuk sistem monsun, variabilitas angin permukaan, serta fenomena iklim global seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Mixed layer depth (MLD) menjadi parameter penting untuk memahami interaksi tersebut karena berperan dalam proses pertukaran energi, momentum, serta pengendalian stratifikasi kolom perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas MLD dan karakteristik massa air di perairan barat Sumatera dengan memanfaatkan data Conductivity-Temperature-Depth (CTD) dan Argo Float. Analisis dilakukan dengan mengolah data suhu, salinitas, dan tekanan untuk memperoleh profil vertikal, distribusi spasial, serta kedalaman MLD. Selanjutnya, stratifikasi laut divisualisasikan dalam bentuk section view, sedangkan karakteristik massa air dievaluasi melalui diagram suhu-salinitas (T-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa MLD di wilayah ini memiliki variabilitas musiman yang erat kaitannya dengan perubahan pola angin monsun. Pada periode monsun barat, peningkatan aktivitas konvektif atmosfer dan penguatan angin permukaan menghasilkan pendangkalan MLD, sedangkan pada monsun timur terjadi pendalaman akibat pengadukan vertikal yang lebih kuat. Variabilitas interannual juga teridentifikasi, di mana anomali ENSO dan IOD berkontribusi pada fluktuasi dan distribusi massa air. Profil T-S mengindikasikan keberadaan massa air tropis Samudra Hindia serta kemungkinan intrusi massa air dari lintang selatan. Studi ini menegaskan pentingnya pemahaman dinamika oseanografi fisis, khususnya variabilitas MLD, dalam kaitannya dengan proses atmosfer-laut di Samudra Hindia timur. Hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian meteorologi laut dan memperkuat basis ilmiah dalam pemodelan oseanografi regional.
Sustainability of Sea Cucumber Resources in Kaur Regency: A Review of Species Diversity, Market Value, and Management Strategies Lita Astini; Akbar Abdurrahman Mahfudz; Nurlaila Ervina Herliyani; Anggini Fuji Astuti; Annisa Fitria Edriani; Aini Safitri Si Butar-Butar
Sustainability: Theory, Practice and Policy Vol. 6 No. 1 (2026): Sustainability: Theory, Practice and Policy June Edition
Publisher : Pusat Kajian Berkelanjutan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/sdgs.61.3780

Abstract

This study aims to identify and analyse the potential of the economic value of sea cucumber resources in the waters of Kaur Regency, Bengkulu Province. The research was conducted in August-September 2025. The research was conducted in the seagrass ecosystems Sekunyit Beach, Linau Beach, Laguna Beach. Data were gathered by field sampling, direct observation and interviews with fishermen, local communities and local collectors involved in the sea cucumber trade. Three genera of sea cucumbers commonly traded in the research region were discovered namely Actinopyga spp., Holothuria spp. and Stichopus spp. Actinopyga spp. was observed in all observation sites, indicating a rather broad distribution in coastal waters of Kaur Regency. In contrast, the occurrence of Holothuria atra and Stichopus spp. varied among locations and appeared to be impacted by habitat factors. The market observation indicated that the stone sea cucumber (Actinopyga echinetis) was the most economically valuable, with the dried product being sold for around IDR 3,000,000 per kilogram during the high demand season, notably around the Chinese New Year. Sea cucumber harvesting in Kaur Regency is carried out all year round and is still dominated by traditional collection methods. Some of the bigger scale harvesting activities also use boats and compressors to reach deeper seas, however. The growing demand for sea cucumbers, particularly for food and medical purposes, has led to increased harvesting pressure on local resources. Therefore, the construction of a sea cucumber database and ecosystem-based management is important in Kaur Regency to support sustainable use and the formulation of evidence-based fisheries management policy.