Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Faktor Determinan Lingkungan Fisik Rumah terhadap Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Juwita Suma; Sulastri Pua Age; Indra Haryanto Ali
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v12i4.1434

Abstract

TB (Tuberculosis) is still a world health problem that requires special attention. TB is a common infectious disease and can be deadly if not treated properly. TB is an infectious disease that is the number two killer in the world. This study aims to determine the determinants of the physical environment on the incidence of pulmonary tuberculosis in the Kabila Community Health Center. This study was an analytic observational study with a case control study design. The research was conducted for 3 months from September to November 2020 and the location of this research was carried out in the Work Area of the Kabila Health Center, Bone Bolango Regency. The research subjects were 30 cases recorded and reported during the months of May - September 2020, and the number of controls were houses of non-sufferers who were located in the work area of the Kabila Community Health Center, totaling 30 samples. The physical environment factor variables of the house that have a significant relationship to the incidence of pulmonary tuberculosis are house humidity and floor type. Meanwhile, occupancy density, natural lighting, and ventilation area are variables of physical environmental factors that have no significant relationship with the incidence of pulmonary tuberculosis in the working area of the Kabila Community Health Center. The factor most related to the incidence of pulmonary tuberculosis is the type of floor. Health agencies are expected to be able to take health promotion measures as a preventive measure for the community against the incidence of pulmonary TB disease. The community is expected to pay attention to the condition of the environment in which they live in order to avoid the transmission of pulmonary TB disease and immediately go to the Puskesmas if there are symptoms of TB disease.Keywords: physical environment; house humidity; floor type; pulmonary tuberculosisABSTRAKTB (Tuberkulosis) masih menjadi masalah kesehatan dunia yang memerlukan perhatian khusus. TB merupakan penyakit menular yang umum dan bersifat mematikan jika tidak ditangani dengan benar. TB merupakan penyakit infeksi yang menjadi pembunuh nomor dua di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor determinan lingkungan fisik rumah terhadap kejadian penyakit TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain penelitian case control. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan mulai September sampai dengan November 2020 dan lokasi penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango. Subyek penelitian adalah jumlah kasus yang tercatat dan terlaporkan selama bulan Mei-September 2020 sebanyak 30 penderita, dan jumlah kontrol adalah rumah penduduk yang bukan penderita bertempat di wilayah kerja Puskesmas Kabila berjumlah 30 sampel. Variabel faktor lingkungan fisik rumah yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian TB Paru yaitu kelembaban rumah dan jenis lantai. Sedangkan kepadatan hunian, pencahayaan alami, dan luas ventilasi merupakan variabel faktor lingkungan fisik yang tidak ada hubungan signifikan terhadap kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Kabila. Faktor yang paling berhubungan terhadap kejadian penyakit TB Paru yaitu jenis lantai. Instansi kesehatan diharapkan agar dapat melakukan tindakan promosi kesehatan sebagai tindakan pencegahan bagi masyarakat terhadap kejadian penyakit TB Paru. masyarakat diharapkan dapat memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggal agar dapat terhindar dari penularan penyakit TB Paru dan segera memeriksakan diri ke Puskesmas apabila terdapat gejala-gejala penyakit TB.Kata kunci: lingkungan fisik; kelembaban rumah; jenis lantai; tuberkulosis paru
Pengetahuan dengan Sikap Penanganan Dismenore Pada Remaja Putri Ahmad Aswad; Juwita Suma; Nurul Nadya Supono
Journal Nursing Care Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Gorontalo Vol 7, No 1 (2021): JOURNAL NURSING CARE
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jnc.v7i1.397

Abstract

In some woman who experience menstruation, there will be pain during the menstruation. A knowledge influences handling menstrual pain. The more a person’s knowledge increases, the more effective it will be in handling menstrual pain.The study was conducted to find out the relationship of knowledge with an attitude of handling dysmenorrhea on adolescent girls at SMPN 1 Suwawa.This a quantitative descriptive research by using study sectional cross approach. The Independent variable is knowledge of dysmenorrheal,and the dependent variable is an attitude of handling dysmenorrhea.The population of this study is the adolescent girls or students of class VIII SMPN 1 Suwawa.There are 73 students as the sample which is selected by using total sampling technique. Univariate and bivariate then analyze the data.Research finding:based on the analysis result using chi-square test, it shows the X2  value is 4,933, because of the X2 value <0,05 where the significance level α= 5%, so the H0 is rejected.Conclusion: there was a significant relationship between the level of knowledge with the attitude of handling dysmenorrheal on adolescent girls at SMPN 1 Suwawa
PEMBERDAYAAN PERAN PMO MELALUI EDUKASI PENULARAN SERUMAH DAN PEMBERIAN VITAMIN DALAM MENURUNKAN ANGKA PENDERITA TB PARU DI KECAMATAN KABILA Juwita Suma; Bun Yamin Badjuka; Sulastri Pua Age; Ruslin Hasan
Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 3, No 2 (2022): November: Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jpkm.v3i2.16426

Abstract

Di Indonesia Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit yang menimbulkan masalah kesehatan di masyarakat. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycrobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Salah satu factor yang menjadi penyebab utama TB paru yaitu lingkungan. TB akan lebih mudah menular pada orang dengan tempat tinggal yang berada di kawasan perumahan padat penghuni, kurang adanya pencahayaan sinar matahari yang masuk kerumah dan ventilasi serta struktur bangunan rumah yang tidak memadai. Kebaruan kegiatan ini karena melakukan pemberdayaan PMO melalui edukasi penularan serumah dan pemberian vitamin. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan solusi yang tepat kepada masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit TB paru dan pengendalian terhadap penderita TB paru untuk hidup lebih sehat. Metode kegiatan pengabdian masyarakat berupa Edukasi, pembagian vitamin, leaflet, dan pemberian masker diberikan kepada masyarakat/keluarga penderita TB paru. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini di peroleh tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi yaitu terdapat peningkatan pengetahuan PMO mengenai Peran PMO dan pengetahuan tentang TB Paru setelah diberikan edukasi dari 7% menjadi 57% memiliki pengetahuan baik. Diperoleh diagram angka kesembuhan penderita TB Paru setelah diberikan vitamin yaitu 53% mencapai angka kesembuhan. Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan peningkatan pengetahuan PMO mengenai Peran PMO dan pengetahuan tentang TB Paru.Kata Kunci : Edukasi; Vitamin; TB paru.  
MIDWIFE'S EXPERIENCE IN PROVIDING ANTENATAL CARE DURING THE COVID-19 PANDEMI AT PUBLIC HEALTH CENTER OF BONE BOLANGO DISTRICT Ika Suherlin; Juwita Suma; Febri Dwi Yanti; Rahma Dewi Agustini; Hasnawatty Surya Porouw
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 5, No 1 (2023): JANUARI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v5i1.15574

Abstract

Menurut data Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Jakarta (POGI) terdapat 13,75 ibu hamil lebih mudah terinfeksi COVID-19 dibandingkan ibu tidak hamil. Pada kondisi ibu hamil melalui Pregnancy Care (ANC) dikenal istilah kunjungan K1, K2, K3 dan K4, pada masa COVID-19 untuk mengurangi kunjungan ibu hamil pelayanan dilakukan dengan tele-konsultasi. Namun, merancang tele-konsultasi menjadi tantangan tersendiri agar dapat dimanfaatkan oleh semua pihak dan efektif dalam pelaksanaannya. Kebaruan penelitian ini karena peneliti mengangkat masalah telekonsultasi pada asuhan antenatal selama panemi Covid-19. Tujuan penelitian adalah untuk mengeksplorasi pengalaman bidan dalam memberikan asuhan antenatal melalui telekonsultasi selama pandemi COVID 19. Metode studi kualitatif fenomenologis, 8 bidan yang bekerja di  Puskesmas Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango yang merupakan bidan pelaksana asuhan antenatal. Hasilnya informan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi untuk janji temu/teleregistrasi dengan ibu hamil. Ibu hamil tidak menyadari pentingnya memeriksakan kehamilannya dan data yang disampaikan ibu hamil diragukan. Seluruh bidan menjalankan protokol kesehatan saat memberikan asuhan antenatal selama pandemi COVID-19. Tidak adanya pendokumentasian asuhan antenatal melalui media komunikasi sehingga cakupan kunjungan ibu hamil mengalami penurunan dan temuan kecemasan bidan dalam memberikan asuhan antenatal saat ibu hamil datang berkunjung. Kesimpulan bidan masih mengalami kesulitan berkomunikasi untuk janji temu/teleregistrasi dengan ibu hamil.  Kata kunci: Antenatal care; COVID-19; Tele konsultasi; Pengalaman bidan. AbstractA phenomenological qualitative study method, 8 midwives who work at the Tilongkabila Health Center, Bone Bolango Regency, an antenatal midwife. According to data from the Jakarta Obstetrics and Gynecology Association (POGI), 13.75 pregnant women are more easily infected with COVID-19 than non-pregnant women. In the condition of pregnant women through Pregnancy Care (ANC), known as K1, K2, K3, and K4 visits, during the COVID-19 period to reduce visits to pregnant women, services are carried out by teleconsultation. However, designing teleconsultations is a challenge in itself so that it can be utilized by all parties and effective in its implementation. The novelty of this study is that researchers raised the issue of teleconsultation in antenatal care during the Covid-19 pandemic. The study aimed to explore midwives' experiences in providing antenatal care through teleconsultation during the COVID-19 pandemic. All midwives follow health protocols when providing antenatal care during the COVID-19 pandemic. As a result, informants had difficulty communicating for appointments/teleregistration with pregnant women. Pregnant women do not realize the importance of checking their pregnancy, and the data submitted by pregnant women is doubtful. There is no documentation of antenatal care through communication media, so the scope of visits to pregnant women has decreased, and the findings of midwife anxiety in providing antenatal care when pregnant women come to visit. Conclusion midwives still have difficulty communicating for appointments/teleregistration with pregnant women.  Keywords: Antenatal care; COVID-19; Tele consultation; Midwife experience.
ANALYSIS OF WORK DURATION AND WORK LOAD WITH COMPLAINTS OF MUSCULOSCELETAL DISORDERS (MSDS) ON LAUNDRY WORKERS IN DUNGINGI DISTRICT THE CITY OF GORONTALO Irwan Irwan; Juwita Suma; Deliyana I Katili; Tirsa Khairunisa Madjowa
International Journal of Health Science & Medical Research Vol 2, No 2 (2023): August 2023
Publisher : UNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/ijhsmr.v2i2.13565

Abstract

Musculoskeletal Disorders (MSDs) are disorders of the musculoskeletal system that cause symptoms such as pain. MSDs complaints occur in parts of the skeletal muscles that a person feels, ranging from very mild to very painful. The novelty of this research is that it examines the length of work and workload with complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs). This study aimed to analyze the relationship between work duration and workload with complaints of Musculoskeletal Disorders (MSDs) among laundry workers in Dungingi District, Gorontalo City. This study uses quantitative research with an analytic survey approach with a cross-sectional design. The sample in this study was 82 respondents, namely laundry workers with a working period of ≥ 2 years in Dungingi District, Gorontalo City. Data analysis using Chi-Square test analysis. The results show a relationship between the length of work and complaints of Musculoskeletal Disorders with a value (p = 0.006 0.05). There is also a relationship between workload and complaints of musculoskeletal disorders with a value (p = 0.007 0.05). In conclusion, the longer the duration of a person's work can increase the incidence of MSDs complaints, and the heavier the workload workers receive can raise MSDs complaints.
KECERMATAN PELAYANAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN GORONTALO Sylva Flora Ninta Tarigan; Juwita Suma; Nikmatisni Arsad
Jambura Health and Sport Journal Vol 5, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/jhsj.v5i2.21143

Abstract

Setiap organisasi yang berhubungan dengan masyarakat secara luas atau publik, maka akan selalui berhubungan dengan pelayanan. Pelayanan sangat erat hubungannya dengan memberikan kepuasan kepada (provide costmer satisfaction). Pemberian pelayanan yang baik kepada pelanggan, maka pelanggan akan mendapatkan kepuasan dan pelanggan juga merasa diperhatikan keberadaaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kecermatan petugas dalam pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada kantor cabang BPJS Kesehatan Gorontalo. Jenis penelitian observasional deskriptif. Populasi dalam penelitian ini yaitu masyarakat yang berkunjung pada kantor cabang BPJS Kesehata Gorontalo dengan menggunakan Purposive Samplingdengan sampel berjumlah 30 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian bahwa efektivitas pelayanan petugas berdasarkan faktor kecermatan (81,4%) dan faktor gaya pemberi layanan (88,5%). Kesimpulan dari 2 variabel pengukuran pelayanan petugas BPJS Kesehatan Cabang Gorontalo berada pada kategori sangat baik. Disarankan bagi BPJS Kesehatan Cabang Gorontalo untuk terus konsisten dalam memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat Gorontalo. 
IMPLEMENTASI PILAR STBM UNTUK MENINGKATKAN PHBS DAN MENURUNKAN ANGKA BABS DI KECAMATAN BULAWA KAB. BONE BOLANGO Bun Yamin M. Badjuka; Juwita Suma; Sulastri Pua Age
Journal of Hulonthalo Service Society (JHSS) Vol. 4 No. 1 (2025): Journal of Hulonthalo Service Society (JHSS)
Publisher : LPPM Universitas Bina Mandiri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47918/jhss.v4i1.2518

Abstract

Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu Implementasi pilar STBM untuk meningkatkan PHBS dan menurunkan angka BABS di Kecamatan Bulawa Kabupaten Bone Bolango, yang terdiri dari 5 pilar melalui upaya edukasi dan intervensi fisik. Metode pelaksanaan terdiri dari dua tahap yaitu tahap persiapan: melakukan koordinasi dengan beberapa pihak terkait, dan tahap pelaksanaan: melakukan sosialisasi, pembuatan dan distribusi alat cuci tangan dan tempat sampah di bengkel kerja Sanitasi Lingkungan Poltekkes Gorontalo, dan pemilihan lokasi pembangunan jamban di Desa Kaidundu Barat dan Desa Pinomontiga. Hasil: Pilar 1 (Stop BABS): 3 desa telah mencapai status ODF (Open Defecation Free) setelah program pembangunan Jamban yang memenuhi syarat. Pilar 2 (Cuci Tangan Pakai Sabun/CTPS): Terjadi peningkatan praktik CTPS menjadi 70% dari 40% sebelum program. Pilar 3-5 (Pengelolaan Air Minum dan makanan RT yang aman, Pengelolaan Sampah RT yang benar, Pengelolaan Limbah Cair RT yang aman): Terjadi peningkatan kesadaran masyarakat dengan adanya perubahan perilaku masyarakat terhadap pilar 3-5 tersebut. Saran: perlunya kolaborasi lintas sektor dan kapasitas lokal serta menerapkan strategi komunikasi yang efektif untuk mengatasi hambatan budaya, memotivasi perubahan perilaku, dan memastikan keberlanjutan program.