Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN EFISIENSI ADSORPSI KARBON AKTIF (VARIASI MASSA ADSORBEN) DAN AERASI UNTUK PENGOLAHAN AIR LIMBAH DI UNIT API (American Petroleum Institute) II PPSDM MIGAS Anggraeni, Veronika Nirmala Mei; Ayunisa, Nazilla; Kusuma, Rieza Mahendra
Swara Patra Vol 15 No 2 (2025): Swara Patra : Majalah Ilmiah PPSDM Migas
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/sp/2025-2/1182

Abstract

Air limbah dari industri minyak dan gas bumi (migas) mengandung polutan yang dapat mencemari lingkungan. Penelitian ini membandingkan efektivitas adsorpsi karbon aktif (dengan variasi massa adsorben) dan aerasi dalam mengolah air limbah di Unit API II PPSDM Migas. Sampel air limbah dianalisis untuk parameter COD, sulfida terlarut (H₂S), amonia (NH₃-N), fenol, dan pH, kemudian hasilnya dievaluasi berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 19 Tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode adsorpsi dengan 400 gram karbon aktif paling efektif menurunkan COD hingga 54,4 mg/L dan fenol hingga 0,133 mg/L, keduanya memenuhi baku mutu. Untuk sulfida, aerasi (0,188 mg/L) sedikit lebih efektif dibanding adsorpsi 400 gram (0,199 mg/L), sementara aerasi juga lebih baik dalam menurunkan kadar amonia (0,1195 mg/L) dibanding adsorpsi. Semua perlakuan menghasilkan pH dalam kisaran baku mutu (6–9). Dengan demikian aerasi lebih unggul dalam menurunkan sulfida dan amonia sedangkan adsorpsi karbon aktif lebih unggul dalam menurunkan COD dan fenol.
Karakterisasi Isoterm Adsorpsi Zeolit Alam terhadap Hidrogen Sulfida dalam Air Limbah Industri Migas: Optimasi Konsentrasi dan Massa Adsorben untuk Efisiensi Maksimal Dini, Natasya Aisyah; Widyaputri, Safira Wahda; Kusuma, Rieza Mahendra
Swara Patra Vol 15 No 2 (2025): Swara Patra : Majalah Ilmiah PPSDM Migas
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/sp/2025-2/1199

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik isoterm adsorpsi zeolit alam dalam menghilangkan hidrogen sulfida (H2S) dari air limbah industri minyak dan gas (migas). Variabel yang dianalisis meliputi konsentrasi awal H2S dan massa adsorben. Uji adsorpsi dilakukan dalam batch reactor pada suhu kamar dengan variasi konsentrasi H2S (10–100 ppm) dan massa zeolit (1–10 gram). Zeolit dikarakterisasi menggunakan XRD, SEM, dan BET untuk memahami struktur pori dan luas permukaan. Data hasil adsorpsi dianalisis menggunakan model isoterm Langmuir dan Freundlich. Hasil menunjukkan bahwa model Freundlich memberikan kesesuaian yang lebih baik (R² = 0.987) dibandingkan Langmuir (R² = 0,932), menandakan sifat adsorpsi bersifat multilayer dan heterogen. Efisiensi penyerapan optimum mencapai 93,5% pada konsentrasi 50 ppm dengan massa zeolit 8 gram. Penelitian ini menunjukkan potensi besar pemanfaatan zeolit alam sebagai adsorben murah dan efektif dalam pengolahan air limbah migas.
Pengaruh Variasi Zeolit terhadap Adsorpsi H₂S di Kilang PPSDM Migas Cepu: Tinjauan Visual dan Perspektif Fisika Material Sekar Wangi, Dewi; Wibi, Diva Apreliani; Kusuma, Rieza Mahendra
Swara Patra Vol 15 No 2 (2025): Swara Patra : Majalah Ilmiah PPSDM Migas
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/sp/2025-2/1293

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas zeolit dalam menyerap gas H₂S dari larutan limbah melalui indikator perubahan warna larutan iodin dan tiosulfat. Reaksi redoks antara H₂S dan iodin menyebabkan larutan coklat memudar, sementara titrasi dengan tiosulfat menghilangkan warna biru sebagai bukti bahwa iodin telah sepenuhnya bereaksi. Fenomena ini menunjukkan bahwa H₂S berhasil diadsorpsi oleh zeolit. Mekanisme ini sejalan dengan teori difusi molekuler, di mana molekul H₂S bergerak menuju permukaan dan pori-pori zeolit, kemudian berikatan secara fisik dan kimiawi pada situs aktif di dalam material. Keberhasilan adsorpsi ditandai oleh hilangnya warna-warna indikator secara visual, mengonfirmasi efektivitas difusi dan kapasitas adsorpsi. Hasil menunjukkan bahwa semakin baik difusi dan kontak antara zeolit dan H₂S, semakin cepat dan jelas perubahan warna terjadi. Studi ini menegaskan bahwa metode pengamatan berbasis visual dan reaksi kimia dapat digunakan sebagai pendekatan kualitatif untuk mengamati efisiensi adsorpsi berdasarkan prinsip fisika permukaan dan material berpori.
pen EVALUASI EFEKTIVITAS UNIT API II TERHADAP PENCAPAIAN BAKU MUTU AIR LIMBAH DI PPSDM MIGAS CEPU Fahmi, Ami; Kusuma, Rieza Mahendra
Swara Patra Vol 16 No 1 (2026): Swara Patra : Majalah Ilmiah PPSDM Migas
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/sp/2026-1/1611

Abstract

Air limbah hasil kegiatan pengolahan minyak bumi mengandung berbagai senyawa organik dan anorganik yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak ditangani secara memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja Unit API II dalam menurunkan kadar berbagai parameter pencemar utama pada air limbah di PPSDM Migas. Contoh uji air limbah diambil pada lokasi masuk (inlet) dan keluar (outlet) Unit API II menggunakan metode grab sampling, kemudian dianalisis di Laboratorium Lindungan Lingkungan PPSDM Migas. Parameter yang diuji meliputi pH, suhu, BOD₅, COD, minyak dan lemak, amonia, serta fenol. Setiap parameter diuji berdasarkan standar nasional dan internasional, antara lain SNI 6989.72:2009 untuk BOD₅, SNI 6989.73:2009 untuk COD, SNI 06-6989.10:2004 untuk minyak dan lemak, APHA 4500-NH₃ Fenat untuk amonia, serta APHA 5530-Phenols untuk fenol. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Unit API II memiliki efektivitas tinggi dalam menurunkan kadar pencemar, dengan efisiensi penurunan BOD₅ sebesar 43,55%, COD sebesar 25%, minyak dan lemak sebesar 28,53%, fenol sebesar 22,07%, dan amonia sebesar 24,65%. Nilai pH (6,87–7,15) dan suhu (32,8–31,3°C) juga masih berada dalam rentang ambang batas sesuai ketentuan Peraturan menteri LH No. 19 Tahun 2010. Secara umum, Unit API II terbukti mampu menghasilkan efluen yang memenuhi standar lingkungan. Optimalisasi kinerja masih dapat dilakukan melalui penambahan inclined plate separator serta pemeliharaan rutin untuk meningkatkan efisiensi pemisahan minyak dan padatan tersuspensi.
Interpretasi Parameter Mikrobiologi pada Evaluasi Snapshot Limbah Klinik melalui Indikator Coliform dan Aktivitas Biologis Berbasis BOD Widya Arum Prastanti; Kusuma, Rieza Mahendra
Swara Patra Vol 16 No 1 (2026): Swara Patra : Majalah Ilmiah PPSDM Migas
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/sp/2026-1/1806

Abstract

Air limbah fasilitas pelayanan kesehatan berpotensi mengandung mikroorganisme dan bahan organik yang dapat berdampak terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, sehingga evaluasi kualitas air limbah menjadi aspek penting dalam pengelolaan lingkungan. Evaluasi kualitas air limbah sering dilakukan melalui pendekatan snapshot dengan menggunakan parameter mikrobiologi sebagai indikator utama, meskipun setiap parameter kualitas air merepresentasikan aspek biologis yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan peran parameter mikrobiologi dalam evaluasi snapshot air limbah klinik melalui perbandingan antara indikator total coliform dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) sebagai representasi aktivitas biologis secara umum. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif-analitis menggunakan metode observasional pada air limbah Klinik Pratama instansi XYZ, dengan pengambilan sampel sesaat (grab sampling) pada titik keluaran limbah. Parameter yang dianalisis meliputi total coliform dan BOD₅, yang diuji sesuai dengan prosedur baku laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total coliform tidak terdeteksi pada seluruh sampel selama masa inkubasi, sementara nilai BOD₅ masih terukur dengan rata-rata sebesar 9,9825 mg/L. Perbedaan hasil antara indikator coliform dan BOD mengindikasikan bahwa tidak terdeteksinya bakteri indikator mikrobiologi tidak serta-merta mencerminkan ketiadaan aktivitas biologis dalam air limbah. Penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan parameter mikrobiologi tunggal dalam evaluasi snapshot berpotensi menghasilkan interpretasi yang parsial, sehingga diperlukan pendekatan multi-parameter untuk memperoleh gambaran kondisi biologis air limbah klinik yang lebih komprehensif dan kontekstual.