Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Edukasi Penularan Penyakit Zoonosis dari Bahan Pangan asal Hewan pada Masyarakat di Wilayah Antapani Bandung ., Septiyani; Windria, Sarasati; Krissanti, Ita
Farmers: Journal of Community Services Vol 6, No 1 (2025): Farmers: Journal of Community Services
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/fjcs.v6i1.61159

Abstract

Zoonosis merupakan penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Penularan penyakit zoonosis seperti toksoplasmosis, rabies, dan antraks dari hewan, khususnya hewan ternak dan peliharaan, dapat terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Salah satu bentuk penularan yang sering tidak disadari adalah melalui bahan pangan yang berasal dari hewan, seperti daging, susu, dan telur yang terkontaminasi. Konsumsi bahan pangan hewani yang tidak diolah dengan baik atau tidak higienis dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis pada manusia. Risiko penularan penyakit ini dapat diminimalkan apabila masyarakat mengetahui hal terkait dengan penyakit zoonosis. Tujuan dilaksanakannya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pada masyarakat tentang penyakit zoonosis, khususnya yang berhubungan dengan bahan pangan asal hewan, cara penularannya, serta langkah pencegahannya melalui edukasi dalam bentuk webinar. Sasaran kegiatan ini yaitu masyarakat dari komunitas perempuan yang berada di wilayah Antapani Bandung. Kegiatan ini disertai dengan pemberian pre-test dan post-test untuk mengetahui apakah tujuan kegiatan tercapai. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test terjadi peningkatan pengetahuan sebelum diberikan edukasi yaitu sebesar 50% dan setelah diberikan edukasi yaitu sebesar 83.3%. Setelah peserta mendapatkan edukasi diharapkan peserta mampu menyebarluaskan informasi yang telah diperoleh kepada anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya sehingga tingkat kesadaran masyarakat terhadap zoonosis dapat meningkat.
Malaria and Related Haemosporidian Parasites of Wildlife in Southeast Asia: A Risk for Global Health Khairani, Shafia; Setyowati, Endang Yuni; Krissanti, Ita
Jurnal Medik Veteriner Vol. 8 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol8.iss1.2025.199-222

Abstract

Malaria and related haemosporidian parasites are widespread diseases that can inflict severe harm on both humans and animals. These parasites are protozoans classified within the order Haemosporidia, which encompasses four families: Garniidae, Haemoproteidae, Leucocytozoidae, and Plasmodiidae. The majority of species belong to three primary genera—Haemoproteus, Leucocytozoon, and Plasmodium—which have the capacity to infect a diverse array of animal species, including birds, reptiles, snakes, and mammals. Diagnostic techniques, such as light microscopy and molecular methods like polymerase chain reaction (PCR), have been extensively developed to identify these infections. Despite these advancements, research on the prevalence of malaria in wildlife across Southeast Asia remains sparse. This review article examines the significance of malaria and related haemosporidian parasites in wildlife within Southeast Asia and their potential implications for global human health. A total of 285 articles were reviewed, with 42 qualitative studies being included in this analysis. The majority of these studies were conducted in Malaysia, Indonesia, Thailand, the Philippines, Singapore, Myanmar, Laos, and Cambodia. Among the reviewed studies, 27 out of 42 (64.28%) focused on non-human primates, while 15 out of 42 (35.71%) addressed other wildlife such as birds and bats. Macaca fascicularis (long-tailed macaque) was the primary subject in 18 studies (66.66%), followed by M. nemestrina, Pongo pygmaeus, and various other macaque species and gibbons. In contrast, studies involving other wildlife, including birds and bats, exhibited considerable variability in species and sample sizes, ranging from a minimum of 4 individuals to a maximum of 400 individuals. Molecular diagnostics are predominantly used for non-human primates and other wildlife, as opposed to conventional methods like blood smears. Zoonotic malaria has emerged as a significant concern due to factors such as deforestation, agricultural expansion, and forest fragmentation, which increase human-wildlife interactions and facilitate mosquito breeding, thereby heightening the risk of Plasmodium knowlesi malaria. In summary, malaria and related haemosporidian parasites represent a substantial public health threat in Southeast Asia.
Demam tifoid sistemik yang disebabkan oleh Salmonella gallinarum pada ayam broiler: Bukti patologis dan mikrobiologis Azzahra, Tiara; Maharani, Devina Aisyah; Tsevaot, Amar Adonay; Hartady, Tyagita; Prayugo, Armanda Dwi; Windria, Sarasati; Krissanti, Ita; Satrio, Faisal Amri
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 4 (2025): ARSHI Veterinary Letters - November 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.4.99-100

Abstract

Salmonella gallinarum, the causative agent of fowl typhoid, is a highly pathogenic bacterial disease associated with substantial mortality in poultry, predominantly affecting adult chickens and turkeys. This study aimed to describe the pathological lesions and microbiological characteristics of S. gallinarum infection in chickens with fowl typhoid. S. gallinarum is a gram-negative, rod-shaped, facultative anaerobic bacterium with an optimal growth temperature of 37 °C and the ability to survive across a broad pH range (4.0–9.0). Necropsy findings in affected chickens revealed interstitial pneumonia of the lungs, intestinal hyperemia with petechial hemorrhages, hepatomegaly, splenomegaly, and fatty degeneration of the cardiac tissue. Bacterial culture of intestinal swab samples on MacConkey agar demonstrated the growth of pale-yellow colonies consistent with S. gallinarum. Microscopic examination confirmed Gram-negative bacilli, while biochemical testing showed an alkaline/acid reaction, absence of gas and H₂S production, non-motility, and negative indole and urease reactions
Uji In vitro Aktivitas Antiparasit Minyak Esensial Chamomile (Anthemis nobilis L.) terhadap Tungau Otodectes cynotis Putri Ruchiyat, Shafira Permata; Waskita, Pranyata Tangguh; Krissanti, Ita; Khairani, Shafia; Hiroyuki, Andi; Rosdianto, Aziiz Mardanarian
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.86846

Abstract

Parasitic otitis adalah penyakit pada telinga yang biasa ditemukan pada hewan kecil, salah satunya adalah kucing. Penyakit ini disebabkan oleh tungau otodectes cynotis. Terdapat pengobatan alami yang bisa dijadikan peluang sebagai alternatif lain dalam membantu mengatasi penyakit otitis pada kucing yang salah satunya adalah minyak esensial chamomile (Anthemis nobilis l.)(MEC) karena memiliki efektifitas sebagai antiparasit, antibakteri, dan antijamur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui potensi MEC sebagai antiparasit khususnya terhadap tungau otodectes cynotis serta mengetahui konsentrasi MEC yang berpotensi untuk menangani kasus parasitic otitis pada kucing. Penelitian ini dilakukan uji in vitro berupa uji aktivitas antiparasit untuk menentukan konsentrasi terbaik yang berpotensi membunuh tungau otodectes cynotis. Pada uji aktivitas antiparasit didapatkan konsentrasi MEC terbaik yaitu 5% dengan hasil daya hambat tetas telur (62,5%), persentase mortalitas tungau otodectes cynotis pada siklus larva (90%), nimfa (90%), dan dewasa (82,50%). Hal ini menunjukkan bahwa MEC 5% memiliki potensi sebagai antiparasit.