Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Papan Komposit Termoset Serat Sabut Kelapa Hendri Sawir
Jurnal Pembangunan Nagari Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Badan Penelitian and Pengembangan (Balitbang), Padang, West Sumatra, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.461 KB) | DOI: 10.30559/jpn.v2i2.32

Abstract

Telah dilakukan penelitian pemanfaatan limbah sabut kelapa pada pembuatan papan komposit (partikel) serat sabut kelapa. Hasil yang didapatkan dari bagian sabut kelapa yaitu serat sabut adalah dalam bentuk papan komposit. Papan komposit diperoleh dengan menentukan panjang serat sabut kelapa jenis CHF.2, menentukan banyak bahan perekat jenis Urea formaldehyde. Perekat untuk pengujian keteguhan tekan adalah lem FOX. Untuk pengkilapan adalah melamin formaldehide jenis impra. Ukuran panjang serat sabut kelapa yang paling cocok untuk membuat papan komposit dari serat sabut kelapa adalah 9 cm dan pemakaian perekat urea formaldehide 10 % dari berat kering serat. Dari hasil penelitian ini didapatkan berdasarkan Analisis Ragam (Anova), Papan komposit yang dihasilkan memenuhi standar SNI. No. 03-2105-96, dan FAO. 1958. Untuk pengkilapan, jumlah (berat labur) melamin formaldehide yang terbaik untuk menjadikan papan lebih bercorak adalah 200 gram/m2 . Sifat fisis dan mekanis papan komposit yang telah dilapisi dengan melamin formaldehide tidak diamati.
ANALISIS KUALITAS PUPUK CAIR DARI AMPAS KOPI DAN TEH Maftukhoh Cergia; Hendri Sawir
JURNAL AERASI Vol 1, No 2 (2019): JURNAL AERASI
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.679 KB) | DOI: 10.36275/jaerasi.v1i2.328

Abstract

Semakin meningkatnya cafe kopi dan teh di Kota Padang dari tahun ke tahun akan berbanding lurus dengan produktivitas dari ampas kopi dan teh ini. Salah satu upaya terbaik untuk pengolahan ampas-ampas tersebut adalah dengan cara menjadikan pupuk organik/kompos. Untuk proses dekomposisi bahan organik menjadi kompos serta pupuk cair, diperlukan bahan dekomposer. Bahan dekomposer yang umum digunakan adalah Effective Mikroorganisme (EM-4). Proses pengomposan dilakukan dengan metode anaerob. Komposter yang digunakan ada 8 macam (P1, P2, P3, P4, P5, P6, P7, P8) dengan volume yang sama, komposisi berbeda. Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penggunaan ampas kopi dan teh sebagai pupuk cair yang optimum dan menunjukkan bahwa campuran antara ampas kopi dan teh (P2) lebih efektif menjadi pupuk cair daripada komposter lain, yakni dengan komposisi ampas kopi 375 gram + teh 125 gram + 250 larutan EM-4. Analisa yang dilakukan meliputi Nitrogen (N), Timbal (Pb), pH, C-Organik (Bahan Organik), dan Jumlah Total Koloni (Mikroba). Dari hasil uji laboratorium didapatkan pengaruh signifikan dan didapatkan komposisi optimum. Dari hasil tersebut didapatkan nilai kandungan Nitrogen (N) 1,12%; Timbal (Pb) 0,089 ppm; pH 5,67; C-Organik (Bahan Organik) 21,80%; dan Jumlah total koloni 154x103 cfu/ml, sehingga dari hasil tersebut jika dibandingkan dengan standart SNI 19-7030-2004 hasil dari pengomposan dan pupuk cair sudah memenuhi standart. 
PENGARUH KOMPOSISI PLASTIK MULTILAYER DAN PLASTIK HDPE TERHADAP SIFAT FISIK PAPAN POLIMER Vina Lestari Riyandini; Wathri Fitrada; Hendri Sawir
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol 21, No 2 (2021): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/stsp.v21i2.385

Abstract

Jumlah timbulan sampah plastik di laut sebesar 521,540 ton, dikarenakan belum optimlanya pengolahan sampah plastik di darat. Hal ini menjadi perhatian khusus dalam pengolahan sampah plastik. Pengolahan sampah plastik salah satunya dilakukan dengan proses daur ulang (recycle). Salah satu jenis plastik yang dikeluhkan oleh banyak pemilik bank sampah karena tidak dapat dijual ke pengepul yaitu sampah plastik multilayer. Plastik multilayer merupakan plastik dilapisan bahan aluminium foil maupun bahan lainnya (multilayer). Pada umumnya, sampah plastik multilayer hanya di daur ulang menjadi prakarya seperti tas, sandal, dompet dan lain-lainl dengan tujuan memperlambat proses masuknya sampah plastik multilayer ke TPA. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan proses daur ulang sampah plastik multilayer menjadi papan polimer. Dimana papan polimer ini dibuat dengan kombinasi sampah plastik HDPE sebagai matrik. Sampah plastik HDPE dan plastik multilayer dicacah, dan dicetak dan dipanaskan menggunakan hotpress. Untuk mendapatkan kualitas papan polimer yang baik perlu dilakukan penentuan komposisi yang tepat antara filler dan matrik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi efektif agar didapatkan kualitas papan polimer, dengan memvariasikan komposisi penyusun papan polimer dengan variasi (90%multilayer :10%HDPE), (50% multilayer :50%HDPE), (30% multilayer :70% HDPE) dan (10% multilayer: 90% HDPE). Hasil penelitian menunjukkan papan polimer dengan menunjukkan komposisi yang terbaik pada variasi 10% Multilayer: 90% HDPE) dengan nilai uji keteguhan patah sebesar 60 kgf/cm2, nilai uji kerapatan sebesar 0,94 dan nilai kadar air 0,6. Dari kualitas tersebut papan polimer yang dihasilkan belum memenuhi standar nasional indonesia untuk papan partikel. Namun papan dengan kualitas dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk produk rumah tangga dengan kombinasi bahan lainnya.
ANALISIS SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH MENGGUNAKAN EPANET 2.0 DI PDAM TIRTA LANGKISAU UNIT PELAYANAN LUMPO Sri Yanti Lisha; Wathri Fitrada; Hendri Sawir; Teguh Pujangga Putra
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol 22, No 2 (2022): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/stsp.v22i2.555

Abstract

Lumpo Service Unit is one of the clean water service units in PDAM Tirta Langkisau, Pesisir Selatan Regency, which serves parts of IV Jurai District. The Lumpo Service Unit currently has a production capacity of 3 l/sec or still 24% of the total served population and a fairly high water loss rate (35% or 2,671 m3). This study aims to analyze the clean water needs of the community in the Lumpo Unit area from 2021 and 2025 and analyze the condition of the clean water distribution network system in the Lumpo Service Unit in 2021 and 2025. Analysis of the water distribution system network was carried out using Epanet 2.0. It was found that the water demand in 2021 was 5.45 l/s (22.51 l/s at a service level of 100%) and there was an increase in 2025, namely 28.23 l/s. Analysis of the piping distribution network in 2025 shows that 27 out of a total of 49 junctions have water pressure below the minimum limit for distribution pipe criteria from PERMEN PU No. 18/PRT/M/2007, as well as 13 out of 50 total pipes with water flow rates below the minimum limit of the same criteria of 0.3 m/s.
Hubungan Parameter Lingkungan terhadap Kelimpahan Bakteri Bacillus pada Ekosistem Perairan di Sumatra Barat Handayani, Suci; Fitria Rahmadhani Z, Suci; Andi Irawan; Hendri Sawir
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/j9aa2w46

Abstract

Ekosistem perairan merupakan komponen penting yang rentan terhadap perubahan lingkungan akibat aktivitas antropogenik yang dapat memengaruhi keberadaan mikroorganisme, termasuk bakteri Bacillus. Bacillus memiliki peran ekologis penting dalam siklus biogeokimia, sehingga penting untuk memahami keterkaitannya dengan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara parameter lingkungan dengan kelimpahan Bacillus pada sedimen perairan di Sumatra Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional dengan pengambilan sampel sedimen di 12 titik yang mewakili ekosistem pantai, muara, sungai, dan danau. Parameter lingkungan yang dianalisis meliputi pH, suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), total organic carbon (TOC), ammonium, nitrit, nitrat, fosfat, dan sulfat. Identifikasi Bacillus dilakukan mengacu pada ISO 7218:2007, sementara analisis statistik menggunakan uji ANOVA/Kruskal-Wallis dan korelasi Pearson/Spearman. Hasil penelitian menunjukkan Bacillus terdeteksi di seluruh lokasi dengan variasi kelimpahan. Korelasi positif yang kuat ditemukan antara Bacillus dan amonium (r = 0,725; P < 0,05), sedangkan parameter lain seperti pH, salinitas, dan sulfat hanya menunjukkan hubungan positif lemah (r = 0,084-0,473; p >0,05). Sebaliknya, DO, suhu, TOC, nitrit, nitrat, dan fosfat berkorelasi negatif namun tidak signifikan (r = (-0,072) - (-0,321); P > 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa dinamika Bacillus lebih dipengaruhi oleh ketersediaan senyawa nitrogen, khususnya amonium, dibandingkan parameter lainnya. Berdasarkan penelitian ini, Bacillus berpotensi sebagai bioindikator kualitas perairan dan mendukung pengelolaan lingkungan serta aplikasi bioteknologi perairan.
Uji Kualitas Parameter Kadar Air dan Rasio C/N Pada Pupuk Kompos Organik Campuran Sampah Rumah Tangga dengan Kotoran Kambing Syahyuda, Nelsy Mariza; Fauziah Gabriela; Hendri Sawir; Andi Irawan
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/mk8esk45

Abstract

Dalam menghadapi persoalan serius pengelolaan sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang belum dikelola secara optimal, serta pemanfaatan limbah kotoran kambing sebagai kompos. Perlu dilakukannya upaya yang mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, penelitian ini bertujuan untuk uji kualitas pupuk kompos dari campuran sampah rumah tangga dengan kotoran kambing, berdasarkan parameter standar kualitas SNI 19-7030-2004. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan variasi komposisi campuran sampah organik dan kotoran kambing (50:50, 75:25, dan 25:75) dengan mengidentifikasi waktu yang diperlukan dalam membuat kompos. Kompos diuji berdasarkan parameter fisik dan kimia: kadar air, rasio C/N, Aktivator yang digunakan adalah EM4 untuk mempercepat proses dekomposisi. Proses fermentasi dilaksanakan menggunakan metode semi-anaerobik dalam reaktor berbentuk drum 25 liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran terbaik berdasarkan kualitas pupuk yang sesuai SNI adalah komposisi 25% sampah organik dan 75% kotoran kambing pada waktu fermentasi selama 21 hari. Kompos yang dihasilkan pada komposisi ini menunjukkan ciri-ciri yang sesuai SNI: kadar air <50%, serta rasio C/N dalam kisaran 10–20. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya pengelolaan limbah organik rumah tangga dan limbah pertenakan seperti kotoran kambing.