Soleh, Mochamad Arief
Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Respons Pertumbuhan dan Fisiologi Beberapa Varietas Tebu (Saccharum officinarum L.) Asal Kultur Jaringan yang Diberi Cekaman Genangan Air Mochamad Arief Soleh; Santi Rosniawaty; Erza Febrilla Sofiani
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.263 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24976

Abstract

Tanaman tebu merupakan komoditas utama penghasil gula. Produksi tebu dipengaruhi oleh faktor abiotik yaitu air. Sebaran curah hujan yang tidak merata akibat pemanasan global berpotensi terjadinya penggenangan di areal pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons sifat-sifat pertumbuhan dan fisiologis bibit tebu asal kultur jaringan yang diberikan cekaman genangan air. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan, 4 ulangan dan setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Perlakuan terdiri dari 4 jenis varietas yang berbeda yaitu PSJT 941, PS 862, PSJK 922 dan Kidang Kencana pada kondisi normal dan penggenangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat respons pertumbuhan dan fisiologi yang berbeda dari setiap varietas yang diuji. Varietas yang menunjukkan respons terbaik adalah PSJT 941 pada parameter tinggi tanaman yaitu 161,7 cm; varietas PS 862 pada parameter jumlah anakan 3,75 buah, bobot kering tajuk yaitu 38,68 g dan akar 48,70 g; varietas PSJK 922 pada konduktansi stomata (ks)yaitu 261,6 mmol H2O·m-2·s-1; dan varietas Kidang Kencana pada fv/fm yaitu 0,723.
Respons Tanaman Kentang terhadap Jenis Zat Pengatur Tumbuh pada Berbagai Kondisi Cekaman Kekeringan di Dataran Medium Nita Yuniati; Jajang Sauman Hamdani; Mochamad Arief Soleh
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.25726

Abstract

Peningkatan suhu global akibat peningkatan CO2 di atmosfer dapat menyebabkan cekaman kekeringan pada tanaman kentang. Aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) asam salisilat dan paclobutrazol mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman saat cekaman kekeringan melalui peningkatan aktivitas fotosintesis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi cekaman kekeringan dengan jenis ZPT terhadap indeks luas daun, nisbah pupus akar, dan hasil tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Jatinangor menggunakan rancangan split plot dengan tiga kali ulangan. Petak utama adalah interval penyiraman, terdiri dari 1, 4, 8, dan 12 hari, sedangkan anak petak yaitu jenis ZPT, terdiri dari tanpa ZPT, asam salisilat, paclobutrazol, dan kombinasi asam salisilat dan paclobutrazol. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat interaksi cekaman kekeringan dengan jenis ZPT. Perlakuan interval penyiraman 1 hingga 4 hari masih mampu memberikan indeks luas daun serta jumlah dan bobot ubi pertanaman paling baik. Aplikasi kombinasi ZPT asam salisilat dan paclobutrazol menurunkan indeks luas daun, namun mampu meningkatkan bobot ubi per tanaman.
Keragaan Fisiologis dan Morfologis Dua Kultivar Kedelai Asal Subtropis dan Tropis Akibat Cekaman Kekeringan Mochamad Arief Soleh; Ranu Manggala; Muhamad Kadapi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p111-116

Abstract

Strategi untuk memperbaiki sifat pertumbuhan tanaman budidaya adalah dengan melakukan penelusuran sifat tumbuh tanaman baik secara morfologi dan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan  pertumbuhan kultivar  kedelai asal subtropis yaitu Tambaguro dengan kedelai asal tropis yaitu Anjasmoro yang diberi cekaman kekeringan. Penelitian di lakukan di daerah tropis yaitu di Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Bandung menggunakan pot. Pertumbuhan tinggi tanaman kedelai kultivar Tambaguro berkisar 12 cm pada umur 2 MST (minggu setelah tanam) sampai 29 cm pada umur 6 MST, sedangkan tinggi tanaman kultivar Anjasmoro berkisar 10  cm pada 2 MST sampai 32 cm pada 6 MST. Tampilan konduktasi stomata untuk kedua kultivar menunjukkan penurunan seiring umur tanaman (2-6 MST) yaitu berkisar 1094 - 1042 mmol/m²•s untuk Tambaguro, dan 892-1319 mmol/m²•s untuk Anjasmoro. Kultivar Tambaguro memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dari kultivar Anjasmoro pada awal tumbuh, namun tidak pada pertumbuhan umur lanjut, sedangkan Kultivar Anjasmoro memiliki keunggulan dalam pertumbuhan tinggi pada umur lanjut. Tampilan fisiologis berupa respons konduktansi stomata dan fluoresensi klorofil kultivar Tambaguro lebih baik dari Anjasmoro disemua umur pengamatan, sedangkan dalam kodisi cekaman kekeringan, tampilan fisiologis kedua kultivar  cenderung sama menunjukkan ada potensi keunggulan genetik yang perlu dipertimbangkan, terlebih kultivar Tambaguro ini merupakan jenis kedelai berbiji besar sehingga memiliki keungulan secara ekonomis.Kata Kunci: 
AIR CUCIAN BERAS SEBAGAI SUPLEMEN BAGI PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT Rosafira Putri Zistalia; Mira Ariyanti; Mochamad Arief Soleh
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.533 KB)

Abstract

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah pemberian unsur hara. Unsur hara yang biasa diberikan pada bibit kelapa sawit yaitu unsur N, P, K. Unsur hara tersebut dapat diperoleh dari pemberian pupuk organik, salah satunya yaitu yang berasal dari limbah air cucian beras. Air cucian beras banyak mengandung unsur yang bermanfaat bagi pertumbuhan bibit kelapa sawit diantaranya unsur N, P, K Mg, dan karbohidrat. Percobaan ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air cucian beras dengan konsentrasi dan interval waktu berbeda terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang pada bulan Januari 2018 sampai dengan bulan April 2018. Jenis tanah yang digunakan adalah Inseptisol dengan tipe curah hujan bertipe C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 13 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali dan tiap ulangan berjumlah 2 tanaman. Perlakuan meliputi pemberian pupuk anorganik dan pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Interval waktu pemberian air cucian beras setiap hari, 3 hari sekali, 6 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 100% dan interval penyiraman 3 hari sekali pada bibit kelapa sawit berpengaruh baik terhadap pertumbuhan lilit batang dan jumlah daun.
Keragaan Fisiologis dan Morfologis Dua Kultivar Kedelai Asal Subtropis dan Tropis Akibat Cekaman Kekeringan Mochamad Arief Soleh; Ranu Manggala; Muhamad Kadapi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p111-116

Abstract

Strategi untuk memperbaiki sifat pertumbuhan tanaman budidaya adalah dengan melakukan penelusuran sifat tumbuh tanaman baik secara morfologi dan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan  pertumbuhan kultivar  kedelai asal subtropis yaitu Tambaguro dengan kedelai asal tropis yaitu Anjasmoro yang diberi cekaman kekeringan. Penelitian di lakukan di daerah tropis yaitu di Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Bandung menggunakan pot. Pertumbuhan tinggi tanaman kedelai kultivar Tambaguro berkisar 12 cm pada umur 2 MST (minggu setelah tanam) sampai 29 cm pada umur 6 MST, sedangkan tinggi tanaman kultivar Anjasmoro berkisar 10  cm pada 2 MST sampai 32 cm pada 6 MST. Tampilan konduktasi stomata untuk kedua kultivar menunjukkan penurunan seiring umur tanaman (2-6 MST) yaitu berkisar 1094 - 1042 mmol/m²•s untuk Tambaguro, dan 892-1319 mmol/m²•s untuk Anjasmoro. Kultivar Tambaguro memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dari kultivar Anjasmoro pada awal tumbuh, namun tidak pada pertumbuhan umur lanjut, sedangkan Kultivar Anjasmoro memiliki keunggulan dalam pertumbuhan tinggi pada umur lanjut. Tampilan fisiologis berupa respons konduktansi stomata dan fluoresensi klorofil kultivar Tambaguro lebih baik dari Anjasmoro disemua umur pengamatan, sedangkan dalam kodisi cekaman kekeringan, tampilan fisiologis kedua kultivar  cenderung sama menunjukkan ada potensi keunggulan genetik yang perlu dipertimbangkan, terlebih kultivar Tambaguro ini merupakan jenis kedelai berbiji besar sehingga memiliki keungulan secara ekonomis.Kata Kunci: 
Implementation of Islamic Religious Value on Governance of Law and Environmental Issue Mochamad Arief Soleh; Tubagus Chaeru Nugraha; Otong Nurhilal; Asep Agus Handaka Suryana
Islamic Research Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Kajian Peradaban Islam
Publisher : Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.951 KB) | DOI: 10.47076/jkpis.v3i1.24

Abstract

Social environment is changing rapidly coincide with rapid change of human thinking in solving any problems. The thinking is underlying human activity in their life, so that it needs a guidance of thinking in facing every change in the life. Padjadjaran University (Unpad) as part of educational state has a guidance to support national development which is presented in principal scientific pattern (PSP) consisted of strengthen law and environmental issue. The rise opinions to restore Islamic religious values in the social order such as growing of Islamic banking system have proven its superiority at any challenges of finance problem. Therefore this paper tries to illustrate the superiority of Islamic values that are integrally introduced into PSP of Unpad's vision and mission. One of Islamic religious value has been listed in maqasid sharia is to maintaining human mind (Hifz Al Aql) in thinking and behavior and also to maintaining harmonious environment for good living. Hopefully, all of activities in the academic community of Unpad could be able to rely on Islamic PSP as a guidance in every academic activities, moreover to bring Islam blessings and prosperity for all (rahmatan lilalamiin) at the Unpad.
Implementation of Islamic Religious Value on Governance of Law and Environmental Issue Mochamad Arief Soleh; Tubagus Chaeru Nugraha; Otong Nurhilal; Asep Agus Handaka Suryana
Islamic Research Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Kajian Peradaban Islam
Publisher : Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.951 KB) | DOI: 10.47076/jkpis.v3i1.24

Abstract

Social environment is changing rapidly coincide with rapid change of human thinking in solving any problems. The thinking is underlying human activity in their life, so that it needs a guidance of thinking in facing every change in the life. Padjadjaran University (Unpad) as part of educational state has a guidance to support national development which is presented in principal scientific pattern (PSP) consisted of strengthen law and environmental issue. The rise opinions to restore Islamic religious values in the social order such as growing of Islamic banking system have proven its superiority at any challenges of finance problem. Therefore this paper tries to illustrate the superiority of Islamic values that are integrally introduced into PSP of Unpad's vision and mission. One of Islamic religious value has been listed in maqasid sharia is to maintaining human mind (Hifz Al Aql) in thinking and behavior and also to maintaining harmonious environment for good living. Hopefully, all of activities in the academic community of Unpad could be able to rely on Islamic PSP as a guidance in every academic activities, moreover to bring Islam blessings and prosperity for all (rahmatan lilalamiin) at the Unpad.
Peningkatan Konsentrasi CO2 dan Suhu menyebabkan Penurunan Laju Pembukaan Stomata serta Hasil Berat Kering Tanaman Kedelai Mochamad Arief Soleh; Makie Kokubun
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.414 KB) | DOI: 10.33661/jai.v3i1.1164

Abstract

Fenomena global warming sejak dua dekade terakhir telah menyita waktu para peneliti tanaman untukmengevaluasi berbagai respon tanaman dalam ruang lingkup peningkatan CO2 dan temperatur. Peningkatankonsentrasi CO2 di atmosfer yang diikuti dengan peningkatan suhu akan menyebabkan perubahan respon tanamankearah penurunan produksi. Tanaman kedelai yang di tanaman di ruang terkendali dengan suhu 2°C dan konsentrasiCO2 200 ppm lebih tinggi dari keadaan ambient serta ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 ambient sebesar 380 ppm.Tanaman kemudian dipindahkan bergantian dari CO2 tinggi ke CO2 ambient dan sebaliknya (A-E atau E-A). Responspembukaan stomata (gs) tanaman kedelai di rejim CO2 lebih tinggi cenderung menurun signifikan dari sebesar 1400mmol H2O·m-2·s-1 menjadi 700 mmol H2O·m-2·s-1 pada umur 4 HSP (hari setelah pindah) dibandingkan dengan rejimCO2 ambient. Lebih jauh respon stomata makin menurun drastis pada umur 32 HSP atau 80 HST (hari setelah tanam)di rejim CO2 lebih tinggi. Sebelum dipindahkan yaitu pada umur 48 HST bobot kering tanaman di rejim CO2 tinggilebih tinggi 33% dibanding di rejim ambient, sedangkan setelah dipindahkan dari rejim ambinet ke rejim CO2 tinggipad umur 81 HST perbedaan berat kering hanya sebesar 7%. Pada awal tumbuh di rejim CO2 tinggi tanaman mampumemanfaatkan kelebihan CO2 untuk berfotosintesis sehingga bobot kering tanaman meningkat signifikan namum padatahap lanjutan yaitu pada 32 HSP peningkatan bobot tanaman mejadi tidak signifikan menandakan ada mekanismedownregulation yaitu peningkatan CO2 tidak lagi mampu lagi meningkatkan laju fotosintesis namum sebaliknya.Downregulation ini ditandai dengan semakin menurunnya aktivitas pembukaan stomata, dan akan semakin buruk biladisertai oleh peningkatan suhu.Kata kunci: Konduktansi Stomata, Peningkatan CO2, Kedelai, downregulation.