Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN

PENDIDIKAN SEBAGAI PARADIGMA PEMBEBASAN (Telaah Filsafat Pendidikan Paulo Freire) -, Siswanto
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 2, No 2 (2007)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Substansi pemikiran pendidikan Freire terletak pada pandangannya tentang manusia dan dunianya yang kemudian ditransformasikan ke dalam dunia pendidikan.  Model pendidikan yang ditawarkannya adalah model pendidikan yang membebaskan. Pembebasan bermakna transformasi atas sebuah sistem realitas yang saling terkait dan kompleks, serta reformasi beberapa individu untuk mereduksi konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilakunya. Langkah awal yang paling menentukan dalam upaya pendidikan pembebasannya adalah proses penyadaran yang inherent dan merupakan proses inti atau hakikat dalam keseluruhan proses pendidikan itu sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut, kebiasaan pendidikan deskriptif diharapkan digeser ke arah pendidikan dialogik-transformatif, agar pendidikan tidak dirasakan sebagai pendidikan yang membelenggu. Pendidikan diharapkan dapat menghasilkan perubahan terdiri siswa baik perubahan dalam kualitas berfikir, kualitas pribadi, kualitas sosial, kualitas kemandiriannya dan kualitas kemasyarakatannya.
PTAI SEBAGAI BASIS PEMBANGUNAN MORAL (Menuju Wawasan Akademik yang Lebih Islami) -, Siswanto
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 2, No 1 (2007)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Gaya hidup global telah menjadikan nilai-nilai kemanusiaan yang berdimensi spiritual terdegradasi oleh proses teknologi, yang merupakan hasil rekayasa dan kemampuan rasio. Gejala split personality pun dipahami sebagai konsekuensi logis dari semakin jauhnya pembangunan intelektual dari arahan dan kontrol nilai moral dan spiritual. Dalam perannya sebagai directive system, agama ditempatkan sebagai referensi utama dalam proses perubahan. Agama akan berfungsi sebagai supreme morality yang memberikan landasan dan kekuatan elit-spiritual masyarakat ketika mereka berdialektika dengan perubahan. Demikian halnya sebagai defensive system, agama menjadi semacam kekuatan resistensial bagi masyarakat ketika berada dalam lingkaran persoalan kehidupan yang semakin kompleks di tengah derasnya arus perubahan. Untuk itu, sebagai perguruan tinggi berciri khas keagamaan, PTAI dituntut memainkan peran sebagai basis pembangunan moral bangsa di tengah masyarakat global. Salah satunya, menciptakan tradisi kehidupan kampus yang lebih islami, sebagai wadah realisasi amaliah keagamaan.
FILSAFAT PROGRESSIVISME DAN DEMOKRASI PENDIDIKAN (Menggagas Pembelajaran Demokratis) -, Siswanto
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 1, No 2 (2006)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Demokrasi sebagai ungkapan lain dari penghormatan hak-hak asasi manusia, telah diterjemahkan dalam dunia pendidikan, yaitu dengan menciptakan kebebasan intelektual antara pendidik dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Filsafat progresivisme–yang diklaim sebagai the  liberal road of the culture–pun mengajarkan agar  akal dan kecerdasan peserta didik harus dikembangkan dengan baik, dengan menciptakan suasana yang dialogis, harmonis dan demokratis. Karena sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi juga berfungsi sebagai transfer of value (pemindahan nilai), sehingga peserta didik menjadi terampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Kurikulum yang diinginkan bersifat dinamis, fleksibel dan eksperimental.
TEOLOGI PENDIDIKAN ISLAM (Diskursus Unity of Knowledge Perspektif Ismail Raj’i Al-Faruqi) -, Siswanto
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 1, No 1 (2006)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Peradaban modern sebagai budaya antroposentris yang diperkenalkan Barat telah banyak mempengaruhi budaya masyarakat Islam, termasuk munculnya dualisme (dikotomi) pendidikan yang telah memancing terbelahnya pe­mi­kiran intelektual muslim. Dengan menggunakan pendekat­an dialektif-kreatif, al-Faruqi menegaskan agar dualisme ter­sebut dihilangkan sekaligus menawarkan epistemologi penge­ta­huan baru yang didasarkan atas prinsip tauhid sebagai esensi ajaran Islam. Sistem pengetahuan yang akan dibangun adalah sebuah sintesis kreatif dari dua kutub pengetahuan, Barat dan Islam.
BUDAYA MADRASAH: STRATEGI PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN -, Siswanto
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 7, No 2 (2012)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembaga pendidikan madrasah mengalami kompleksitasmasalah dan kurang berdaya menghadapi tuntutan dan tantanganperubahan, baik tantangan internal maupun eksternal. Maka dari itu,pengembangan madrasah yang bermutu membutuhkan perubahan,terutama budaya madrasah. Budaya madrasah yang kondusif ditandaidengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dantertib, sehingga pembelajaran dapat berlangsung efektif. Budayamadrasah yang kondusif mendorong semua warga madrasah untukbertindak dan melakukan sesuatu yang terbaik yang mengarah padaprestasi siswa yang tinggi serta dapat meningkatkan kinerja gurusehingga produktivitas madrasah lebih baik dan lebih tinggi.
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI-NILAI RELIGIUS -, Siswanto
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 8, No 1 (2013)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan pendidikan yang terlalu berlebihan dalam memberipenekanan pada dimensi kognitif dan mengabaikan dimensi-dimensi lainternyata telah melahirkan manusia dengan kepribadian pecah (splitpersonality). Lulusan pada saat ini cenderung bersikap sekuler,materialistik, rasionalistik, hedonistik, dan kurang terbina mentalspiritualnya dan kurang memiliki kecerdasan emosional. Berdasarkan haltersebut, pendidikan karakter sangat tepat dicanangkan pada semua linidan jenjang pendidikan. Pendidikan karakter diproyeksikan sebagai core(inti) dari pendidikan nasional, yakni membentuk manusia yang beriman,bertakwa, dan berakhlak mulia. Untuk itu, pendidikan karakter dapatdilaksanakan melalui empat strategi, yaitu: pertama, strategi inklusif dapatdilakukan oleh guru mata pelajaran apapun ke dalam penyusunan silabusdan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); kedua, strategi budayasekolah; ketiga, strategi eksplorasi diri (self explorer); dan keempat, strategipenilaian teman sejawat (peer group evaluation).