Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SYMBOLIC SPEECH AND RITUAL DISCOURSE: A DISCOURSE ANALYSIS OF SHAMANIC AUTHORITY IN THE PACU JALUR TRADITION OF KUANTAN SINGINGI Albetro, Albetro; Zulfa, Zulfa; Nazmi, Ranti; Kaksim, Kaksim; Meldawati, Meldawati; Yasin, Faisal; Jamurin, Jamurin
Journal of Pragmatics and Discourse Research Vol 6, No 1 (2026)
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jpdr.v6i1.1535

Abstract

This paper explores the role and identity of the Jalur Shaman within the Pacu Jalur rowing tradition inKuantan Singingi Regency, Indonesia. While the original approach adopts a historical-biographicalmethod, this revision reframes the study through a discourse-analytic lens to better interrogate how theshaman’s role, ritual language, and spiritual objects function as symbolic practices. The central figure,Jasri, a renowned shaman, guides the spiritual preparation of rowing teams through ritual prayers,protective symbols, and oral transmission of traditional values. Drawing from interviews and culturalobservation, the study investigates how speech, artifacts, and biography co-construct the Jalur Shaman'slegitimacy. Adopting theoretical insights from Critical Discourse Analysis and Ritual Theory, the studyanalyzes prayers as performative speech acts and the shaman’s tools (e.g., knives, necklaces) as culturaltexts encoding meanings of defense, identity, and cosmological belief. The article reveals how theauthority of a shaman is not inherited, but constructed through community narratives, ritualperformance, and symbolic alignment with ancestral power. Findings suggest that the shaman’s discoursesustains a sacred space where tradition is enacted, remembered, and renewed. Beyond preservingheritage, Jasri’s role reflects resistance against modern secularization and provides a platform forcollective spiritual identity in the postcolonial context. The study recommends incorporating discourse-sensitive approaches to analyze spiritual roles in Indigenous communities and preserving oral texts as partof intangible cultural heritage. Future research could explore the tension between institutional religiousframeworks and localized spiritual discourse in similar traditions across Southeast Asia.
Peran Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VIII.2 di SMP Negeri 44 Sijunjung Nelma, Wiwin Amelia; Juliardi, Budi; Jamurin, Jamurin
Indonesian Research Journal on Education Vol. 4 No. 3 (2024): irje 2024
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v4i3.942

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kurangmya minat siswa kelas VIII.2 dalam belajar dan cenderung pasif dalam menanggapi pelajaran. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan metode deskriptif, informan penelitian ialah guru PKn, kepala sekolah, wakil kurikulum dan siswa siswa kelas VIII.2 SMP Negeri 44 Sijunjung. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengolahan data dengan pengumpulan data, redukasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran guru dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas VIII.2 di SMP Negeri 44 Sijunjung sekolah sudah mulai menggunakan pembelajaran berbasis ilmu teknologi contohnya penggunaan canva, quizis dan kahoot serta  mengikuti pelatihan mandiri di PMM guna untuk mencari metode yang menarik siswa agar terciptanya minat belajar siswa. Adapun faktor pendukung dan penghambat peran guru dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas VIII.2 di SMP Negeri 44 Sijunjung, (1). Faktor pendukung ialah SMP Negeri 44 Sijunjung telah melengkapi sarana pendidikan dengan baik, seperti Infokus, laptop yang disediakan oleh sekolah, dan memberi izin bagi siswa untuk membawa handphone jika diperlukan untuk keperluan pembelajaran. (2). Faktor penghambat ialah yang terkadang mengurangi semangat belajar siswa di siang hari dan masih terjadinya kendala hilang sinyal dan mati lampu. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan Peran guru dalam meningkatkan minat belajar siswa pada Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII.2 di SMPN 44 Sijunjung yaitu dengan guru melakukan ice breaking di sela-sela pembelajaran dan juga menggunakan media dan metode pembelajaran yang bervariasi. Faktor pendukung yaitu SMP Negeri 44 Sijunjung telah melengkapi sarana pendidikan dengan baik, seperti Infokus, laptop yang disediakan oleh sekolah, dan memberi izin bagi siswa untuk membawa handphone jika diperlukan untuk keperluan pembelajaran. Sedangkan faktor penghambat yang terkadang mengurangi semangat belajar siswa di siang hari dan masih terjadinya kendala hilang sinyal dan mati lampu.