Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembelajaran Konstruktivisme dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada Mata Pelajaran IPAS SDN 28 Melayu Kota Bima Ardila, Nike; Ruslan, Ruslan; Kusumawati, Yayuk
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2024 (2)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v4i2.501

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran penting pembelajaran konstruktivisme dalam membentuk profil pelajar pancasila di SDN 28 Kota Bima. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Sumber data terdiri dari kepala sekolah, wakil kurikulum, guru IPAS, dan para siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data mengikuti pola Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga yaitu reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi pembelajaran konstruktivisme dalam membentuk profil pelajar pancasila di SDN 28 Kota Bima dilaksanakan dengan dua tahapan yaitu; Tahap pertama ialah sosialisasi P5 fase C sekolah penggerak. Kegiatan sosialisasi ini mengawalinya dengan mengadakan survey. Hasil survey terlihat bahwa ternyata masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan. Oleh karena itu, guru menawarkan kepada siswa untuk memanfaatkan sampah dengan cara mengolah sampah plastik menjadi Ecobrick. Tahap kedua ialah tahap Kontekstualisasi, yang dimana murid akan melakukan pengamatan mengenai projek penguatan profil pelajar pancasila. Siswa melakukan aktivitas antara lain mengamati jenis dan volume sampah disekitar lingkungan. Kemudian siswa melakukan pemilahan sampah dilingkungan rumah dan di lingkungan sekolah. Hasil penelitian didapatkan bahwasannya dalam pelaksanaan pembelajaran konstruktivis pada penguatan profil pelajar pancasila dalam materi IPAS berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan oleh sekolah.
Basodo: Tradisi Pemberian Uang Kondangan pada Pasangan Pengantin Ardila, Nike; Vera, Vety; Yuswalina; Areza, Chelsea Zia; Pranata, Eka Octavian; Smaradhani, Ika Indah
Al-Ijtima`i: International Journal of Government and Social Science Vol. 11 No. 1 (2025): Al-Ijtima`i: International Journal of Government and Social Science
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jai.v11i1.8678

Abstract

This study examines the tradition of giving wedding money to newlyweds, known locally as basodo, from the perspective of Islamic Economic Law. The practice, which has been passed down through generations in Ngulak Village, Sanga Desa District, reflects a social form of cooperation and solidarity among community members. However, differences in intention and purpose have led to two distinct legal understandings of the practice. Using a qualitative field research approach, data were collected through observation, interviews with community leaders and residents, and documentation of gift records. The findings reveal that the basodo tradition in Ngulak Village consists of two types of contracts. The first type, when given sincerely without expecting any return, is categorized as a hibah (grant). The second, when accompanied by an expectation of repayment during future social events, corresponds to a qardh (loan) contract. Both contracts are valid under Islamic law as long as they fulfill the pillars and conditions of mutual consent, sincerity, and absence of usury or coercion. Nevertheless, when the practice is influenced by social pressure or material expectation, it deviates from the Islamic principles of voluntarism (ikhlas) and mutual assistance (ta‘awun). Therefore, this study concludes that the basodo tradition remains permissible within Islamic Economic Law if carried out with sincere intention and willingness. The study also suggests strengthening community understanding of hibah and qardh concepts to ensure that customary practices continue to reflect the ethical and moral values of Islam.