Sadewa, Mohammad Aristo
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Konsep Jihad dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Komparatif Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim dan Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dalam Surat Al-Baqarah Ayat 190-193) Muwafiq, Ahmad; Sadewa, Mohammad Aristo
JURNAL ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP Vol. 3 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : STQINIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surah al-Baqarah ayat 192-193 menurut Ibnu Katsir bahwa ayat 192 ialah bahwa ketika mereka berhenti melakukan peperangan di tanah Haram(suci), mereka menyerah mau masuk Islam dan bertobat, sesungguhnya Allah akan mengampuni doosa-dosa mereka, sekalipun mereka telah memerangi kaum Muslimin di tanah suci. Dan ayat 193 ialah fitnah yang dimaksudkan adalah syirik dan agama Allah-lah yang menang lagi tinggi berada di atas agama lainnya.. Sedangkan menurut Sayyid Quthb bahwa ayat 192 ialah sungguh sangat mulia ketika orang-orang kafir Quraisy yang berhenti memerangi kaum muslimin itu tidak boleh ada qishah namun perlu digaris bawahi bahwa ampunan itu ialah sebuah penarik bagi kaum kafir untuk berpindah agama. Ayat 193 tujuan perang adalah supaya tidak terjadi fitnah karena fitnah itu lebih berbahaya atau lebih kejam daripada pembunuhan karena mereka (kaum kafir) menggangu umat Islam dalam melaksanakan kebaikan dan dan manhaj. Ibnu Katsir menurut Adz-Zahabi Tafsir Ibn katsir, menggunakan metode menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, menafsirkan al-Qur’an dengan hadis, menafsirkan al-Qur’an dengan melihat ijtihad-ijtihad para sahabat dan tabi’in. Dalam penyajian tafsir Ibn Katsir ini, menggunakan metode analitis (tahlili). Sedangkan Sayyid Qutbh dalam menafsirkan al-Qur’an ialah dengan menggunakan metode penafsiran dengan Tahlili, sedangkan sumber penafsiran terdiri dari dua tahapan yakni: mengambil penafsiran bil Ma’tsur, kemudian baru menafsirkan dengan pemikiran, pendapat ataupun kutipan pendapat sebagai penjelas dari argumentasinya. Keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat saat itu mendorongnya untuk menulis tafsir ini sebagai solusi bagi permasalahannya dengan kebijakan pemerintah Mesir pada saat itu membuatnya menuliskan tafsir bernafaskan pergerakan. Dengan demikian tafsir Fi Zhilalil Qur’an bisa digolongkan kedalam tafsir al-Adabi Ijtima’i (sastra, budaya dan kemasyarakatan).
Tradisi Pembacaan Surat Al-Mulk dalam Arisan Lailatul Ijtima’ MWCNU Kec. Bluto Kab. Sumenep (Studi Living Qur’an) ., Syaoki; Sadewa, Mohammad Aristo
JURNAL ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP Vol. 4 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : STQINIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi pembacaan Surah al-Mulk di arisan lailatul ijtima’ MWCNU Kec. Bluto Kab. Sumenep, merupakan sebuah kegiatan rutin yang diterapkan dalam arisan sebagai isi dari setiap perkumpulan berlangsung. tradisi yang didasari oleh kemuliaan Al-Qur’an dan keutamaan Surah al-Mulk yang diyakini oleh anggota di arisan tersebut. Di dalam tradisi ini, memiliki nilai-nilai agama dan sosial hidup anggota arisan lailatul ijtima’ MWCNU Kec. Bluto Kab. Sumenep, serta menyimpan barokah dariAl-Qur’an. Tradisi pembacaan Surah al-Mulk disepakati oleh 7 orang tokoh yang ada di Kec. Bluto, yang di ajukan oleh K. Fadal Gingging agar bisa diterapkan dalam arisan lailatul ijtima’ MWCNU Kec. Bluto Kab. Sumenep. Surah al-Mulk yang di usulkan tidak hanya berlandaskan pada kemauan semata akan tetapi hal ini diarahkan pada manfaat (faedah) pembacaan Surah al-Mulk, yang diyakini sebagai penghalang siksa kubur kelak serta beberapa manfaat lainnya dan menjadi pahala bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an.Tradisi ini diterapkan sejak diadakanya arisan lailatul ijtima’ MWCNU Kec. Bluto Kab. Sumenep yang diawali dengan perbincangan kecil di Podok Pesantren Nurul Huda Pakandangan Barat tepatnya dirumah alm. K. Sufyan Nawawi. Pada saat bincang kecil yang dilakukan dan di hadiri oleh 7 orang diantaranya K. Fathor Kokkoan Kapedi, K. Fadhal Gingging, dan 3 orang lainnya. Sejak tahun 2012 sampai saat ini arisan berjalan sesuai dengan keinginan yang rencanakan dari awal.
Makna Ukhuwah dalam Al-Qur’an Perspektif M.Quraish Shihab (Analisis Tafsir Tematik) Rahman, Abd. Sukkur; Sadewa, Mohammad Aristo
JURNAL ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR NURUL ISLAM SUMENEP Vol. 5 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : STQINIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukhuwah yang berasal dari kata ‘akh yang berarti persaudaraan dalam Al-Qur’an meliputi saudara kandung, ikatan saudara, saudara sebangsa waluapun tidak seagama, saudara kemasyarakatan walaupun sering terjadi selisih paham dan persaudaraan seagama. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an menjelaskan dalam hal persaudaraan hendaklah tidak saling mencela antar satu dan lainnya, karena hal tersebut akan memecah belah persaudaraan yang seharusnya dibangun dengan pondasi yang kokoh kemudian retak bahkan bermusuhan akibat permasalahan yang tidak dapat diatasi dengan pemikiran yang jernih. Menurut M.Quraish Shihab dalam tafsir tematiknya menyatakan bahwa ukhuwah bukan hanya saudara seibu, seayah ataupun seketurunan akan tetapi kesamaan unsur suku, bangsa Agama serta setanah air agar terciptanya ketentraman dan keharmonisan dalam hubungan manusia. Ukhuwah yang diajarkan oleh Islam yaitu saling menghargai, menghormati dan juga saling toleransi antar sesama Muslim dan sesama non Muslim. Agar orang-orang non Muslim tidak menganggap bahwa Islam adalah Agama yang kejam. Dengan demikian tetaplah menjaga hubungan persaudaraan dengan siapapun. Menurut beliau dalam ukhuwah terdapat empat macam yaitu ukhuwah ubudiyah, ukhuwah insaniyah atau basyariyah, ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab, dan ukhuwah fi din al-Islam. Faktor lahirnya persaudaraan adalah persamaan, semakin banyak persamaan maka akan semakin kokoh pula persaudaraan sehingga melahirkan persaudaraan yang hakiki. Dalam mematapkan ukhuwah dalam Islam mengenalkan konsep khalifah agar dapat memelihara, mengarahkan dan membimbing sesuatu agar mencapai tujuan, Islam juga memperkenalkan ajaran bagi pemeluk agama, menghindari sikap yang dapat memperkeruh suasana antar sesama. Konsep dalam berukhuwah ada tiga yaitu tanawwu’al-‘ibadah, al-mukhti’u fi al-ijtihad lahu ajr, dan la hukma lillah qabla ijthad al-mujtahid. Dalam prakteknya ukhuwah sebenarnya dalam QS. Al-Hujurat ayat 10 dapat dijadikan landasan karenanya harus ada ishlah (perbaikan hubungan).
Penafsiran Masa Sahabat, Di antara Perbedaan Pemahaman dan Perpecahan Umat. Sadewa, Mohammad Aristo
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.10014

Abstract

AbstractThis paper aims to trace the history of the development of interpretation in the time of the Companions. This research uses a comparative-descriptive method with a qualitative approach. So it can be concluded that the development of the interpretation of the Companions period cannot be separated from the different conditions of the Companions in understanding the Qur'an. In addition, at that time there was also a division among the friends. The differences in understanding and division of the people have implications for the interpretation carried out. Differences in understanding do not have such a big impact, while the division of the ummah has a very big impact on interpretation. The division of the ummah which resulted in the emergence of distorted interpretations under the pretext of justifying their sect. The sources of interpretation carried out are the Qur'an, Hadith, Ijtihad, and Ahl-Kitab. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk melacak sejarah perkembangan tafsir di masa sahabat. Penelitian ini menggunakan metode komparatif-deskriptif dengan pendekatan kulitatif.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan penafsiran masa sahabat tidak terlepas dari kondisi sahabat yang berbeda dalam memahami al-Qur’an. Ditambah lagi pada saat itu muncul juga sebuah perpecahan di antara para sahabat. Dari perbedaan pemahaman dan perpecahan umat tersebut berimplikasi kepada penafsiran yang dilakukan. Perbedaan pemahaman tidak berdampak begitu besar, sedangkan perpecahan umat dampaknya begitu besar bagi penafsiran. Perpecahan umat yang mengakibatkan munculnya penafsiran yang menyeleweng dengan dalih untuk menjustifikasi alirannya. Sumber-sumber penafsiran yang dilakukan ialah dengan al-Qur’an, Hadits, Ijtihad, dan Ahl-Kitab. Kata Kunci: Perbedaan Pemahaman; Perpecahan Umat; Tafsir Sahabat.