Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kehutanan Masyarakat, Hutan Wakaf dan Komunitas Epistemik Veriasa, Thomas Oni; Muttaqien, Widhyanto
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 7 No 2 (2025): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0702.1297-1306

Abstract

Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan mengatur hutan di lahan milik pribadi dengan status hutan hak. Namun, kebijakan ini belum jelas mengatur penyelenggaraan hutan hak dan kaitannya dengan pengelolaan hutan nasional, termasuk Perhutanan Sosial (PS). Kebijakan lebih fokus pada hutan negara dan hutan adat. Padahal, pengelolaan hutan hak seperti hutan rakyat, yang dilakukan individu atau kelompok, terbukti lebih berhasil. Konsep hutan wakaf (HW) berpeluang menjadi model pengembangan hutan hak yang konstruktif, gerakan sosial pelengkap PS, membangun komunitas epistemik, mengurangi ketergantungan donor, dan menjamin keberlanjutan. Pada 2023, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan peta jalan “Pengelolaan Hutan Lestari”. Muhammadiyah memandang isu hutan bagian dari “amar ma’ruf nahi munkar”. HW dipandang sebagai wujud “Islam Berkemajuan”. Tiga target HW adalah: (1) membangun komunitas epistemik Muhammadiyah sebagai role model Kehutanan Masyarakat (KM); (2) menguatkan komunikasi, pengetahuan, dan akses informasi publik terkait HW; (3) menjadikan HW role model pengelolaan hutan hak dalam agenda nasional. HW diharapkan mendorong gerakan filantropi lingkungan berbasis agama yang dapat diadopsi umat lain di Indonesia. Rekomendasi HW meliputi: (1) pengembangan konsep dan desain HW; (2) implementasi HW Muhammadiyah; (3) lingkar belajar dan komunikasi kebijakan publik.
Multi-criteria decision analysis for optimal sugarcane land allocation in Merauke, South Papua, Indonesia RUSDIANA, OMO; KUSDARYANTO, SELAMET; MUTTAQIEN, WIDHYANTO; MACHFUD, MACHFUD; DJAJA, IRBA
Asian Journal of Agriculture Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Smujo International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/

Abstract

Abstract. Rusdiana O, Kusdaryanto S, Muttaqien W, Machfud, Djaja I. 2025. Multi-criteria decision analysis for optimal sugarcane land allocation in Merauke, South Papua, Indonesia. Asian J Agric 9: 689-701. Achieving sustainable sugarcane expansion requires integrating biophysical suitability with social and environmental considerations. This study applied a Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) using the Simple Additive Weighting (SAW) method to identify optimal areas for sugarcane cultivation in Merauke, South Papua, Indonesia. The analysis incorporates multiple criteria, including biophysical factors (climate, soil type, topography), land use policies (zoning, conservation areas), and social factors (land rights, indigenous communities' territories). Data were collected through field surveys, stakeholder interviews, and spatial analysis using Geographic Information Systems (GIS). The results indicate that approximately 80% of the study area is biophysically suitable for sugarcane cultivation. However, when considering land use policies, the available area reduces to 43.77% due to the presence of protected areas, forests, and risk-prone zones. After factoring in the rights of indigenous communities and areas of cultural significance, the land available for sugarcane cultivation shrinks further, leaving only 38.16% of the land as suitable for development. This highlights the trade-off between agricultural expansion and environmental conservation, as well as the importance of respecting indigenous land rights in land use planning. The study highlights the importance of combining geospatial analysis and stakeholder input for policymakers, land planners, and agricultural and forest developers to guide evidence-based, sustainable agricultural expansion in emerging regions.