Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Strategi Pembinaan Generasi Muda Hindu Dalam Meningkatkan Sradha dan Bhakti dikalangan Seka Teruna-Teruni Ni Wayan Murniti; Komang Dewi Susanti; Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.479 KB) | DOI: 10.37329/kamaya.v5i1.1446

Abstract

This study aims to improve the Sradha and devotion of the younger generation of Hindus as the next generation in order to become a young generation of virtuous character, and faith. As well as to describe the strategy of fostering the younger generation of Hindus with educational studies. Given that the younger generation of Hindus is currently experiencing a moral decline as a result of the influence of the waning of religious attitudes. This research is expected to be used as a contribution of thought in formulating policies and making decisions on similar problems faced in the future, besides that this research is also expected to be able to add scientific readings, as well as a reference for students who will conduct further research on the same problem. . This type of research is qualitative research. This research was conducted in Buleleng District by involving sekaa teruna- eruni as respondents. Data obtained through observation data, interviews, document recording, literature study. The results showed (1) The pattern and strategy of fostering the younger generation of Hindus in improving Sradha and devotional service among the sekaa teruna-teruni of the Buleleng Traditional Village (2) The obstacles faced in increasing Sradha and devotional service among the sekaa teruna-teruni in Desa Pakraman Buleleng were influenced by two factors, namely: (1) internal factors, including; (a) Individual sekaa teruna-teruni in the Buleleng Traditional Village, (b) individual sekaa administrator for teruna-teruni (3) Efforts are being made to overcome obstacles in fostering the younger generation of Hindus in improving Sradha and devotional service among sekaa teruna-teruni in Buleleng Traditional Village.
Nilai Filosofis Sampiyan Nagasari Dalam Upacara Yadnya Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti
Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/vidyadarsan.v3i1.2551

Abstract

Pelaksanaan upacara yadnya umat Hindu di Bali selalu didasari oleh Tiga kerangka dasar Agama Hindu yang melandasi penerapan aktivitas keagamaan dan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Tiga kerangka dasar itu adalah Tattwa (filsafat) yaitu hakikat suatu kebenaran, baik yang bersifat kongkret maupun yang abstrak termasuk hakikat Tuhan itu sendiri. Susila (etika) adalah prilaku yang baik, mulia, yang sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Kata Susila ini menekankan pada tingkah laku yang baik dan tidak baik. Upakara (ritual) adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kegiatan atau pelaksanaan dari suatu yadnya. Pelaksanaan agama akan terlaksana dengan adanya sarana pendukung salah satunya adalah banten. Dimana pada kesempatan ini peneliti lebih menekankan pada banten Sampiyan Nagasari dalam pelaksanan upacara yadnya. Dari hasil analisis, data yang diperoleh oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1) Upakara, 2) Jejahitan, reringgitan, dan tetuasan, 3) Sampiyan Nagasari, dan 4) Nilai filosofis Sampiyan Nagasari. Nilai filosofis Sampiyan Nagasari terdiri dari a) Nilai Tattwa, b) Nilai Etika, dan c) Nilai Estetika.
Spirit Kepemimpinan Entreprenuer Dalam Nawa Nata Laksana Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti
Pramana: Jurnal Hasil Penelitian Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Pramana: Jurnal Hasil Penelitian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jp.v2i2.2690

Abstract

Kepemimpinan adalah salah satu perkara yang sering dihadapi dalam sebuah organisasi. Pemimpin adalah penggerak utama suatu pekerjan yang memiliki keahlian untuk mengaplikasikan fungsi manajemen dalam organisasi yang dibentuk. Faktor yang penting dalam kepemimpinan, yakni dalam mempengaruhi atau mengontrol pikiran perasaan atau tingkah laku orang lain. Entrepreneur merupakan suatu intangible culture, suatu kemampuan struktural non fisikal yang mampu menggerakkan sosok fisikal. Menjalankan kepemimpinan entrepreneur dalam sebuah organisasi dilandasi atas prinsip Nawa Nata Laksana. Sehingga spirit kepemimpinan dalam menjalankan organisasi akan berjalan secara seimbang dan memperoleh kebahagiaan lahir bathin.
Buku Ajar berbasis Instructional Approach Learning pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Hindu Berwawasan Multikultural I Wayan Wira Darma; Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti; Komang Dewi Susanti
Journal for Lesson and Learning Studies Vol. 5 No. 3 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jlls.v5i3.52464

Abstract

Teaching materials are an essential component of the learning process. The existence of teaching materials that are by the characteristics and curriculum will foster good interaction in the learning process. This is the reason for the research, which aims to produce textbooks based on an instructional approach to learning in Hindu religious education courses with a multicultural perspective. Research and development methods (Research and Development). The sample is part or representative of the population that the researcher sampled. From the population determined above, the sample used in research is lecturers who teach Hindu religious education courses.Questionnaires are data collection techniques that are carried out by providing written questions to respondents to answer. The technique used to analyze the data is descriptive qualitative and quantitative analysis. The study results showed that the developed Hindu religious education textbooks were suitable for learning. It can be seen from material experts, media experts, user responses, lecturers’ responses, and students’ responses. The textbooks that the researchers developed included very feasible criteria and good categories. It is recommended that the developed teaching materials be used as learning resources.
Kurikulum Merdeka Belajar Terintegrasi Budaya Lokal Ni Luh Purnamasuari Prapnuwanti; Komang Dewi Susanti; I Wayan Wira Darma; Ketut Bali Sastrawan; Putu Wulandari Tristananda
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : LPPM Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jppp.v8i1.68661

Abstract

Pendidikan keagamaan Hindu saat ini sangat gencar dalam mengembangkan pendidikan pasraman formal. Namun keberadaan pasraman ini memerlukan pengimplementasian kurikulum yang sesuai dengan keberadaan pasraman. Penerapan kurikulum merdeka belajar yang terintegrasi dengan budaya daerah memiliki keunggulan karena lebih relevan dan interaktif dibandingkan dengan pendekatan pendidikan lainnya. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk menciptakan kurikulum merdeka belajar terintegrasi budaya lokal di utama widya pasraman astika dharma. Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian dan pengembangan (Research and Development). Percobaan pada penelitian dilakukan pada dua kali uji terpisah yang terdiri dari uji ahli dan uji pengguna. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan kuisioner. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis reflektif dalam menelaah hasil wawancara berdasarkan analisis kebutuhan. Hasil penelitian ini menghasilkan kurikulum yang sangat bermanfaat bagi prodi dalam penguatan projek mata kuliah desain pengembangan kurikulum pasraman. Berdasarkan penilaian dari pihak pengguna, dosen pengampu mata kuliah pengembangan kurikulum di pasraman, serta ahli materi dan ahli bahasa menyatakan bahwa kurikulum yang sudah selesai disusun layak digunakan.
EKSISTENSI TRADISI SEWON-SEWON UNTUK MENINGKATKAN SRADHA DAN BAKTI MASYARAKAT DESA SIDOMULYO KECAMATAN PRONOJIWO KABUPATEN LUMAJANG Cicik Andrinai; Ni Rai Vivien Pitriani; Ni Luh Purnamasuari
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 25 No 2 (2025): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/da30q666

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan tradisi Sewon-Sewon di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Tradisi yang dilaksanakan seribu hari setelah kematian seseorang ini bukan sekadar ritual adat, tetapi sarat makna spiritual, khususnya dalam penguatan nilai sradha (keyakinan) dan bakti (pengabdian) masyarakat Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan eksistensi tradisi Sewon-Sewon dalam kehidupan masyarakat Desa Sidomulyo, (2) menganalisis proses pelaksanaannya mulai dari tahap penentuan hari baik hingga prosesi puncak, dan (3) mengidentifikasi implikasi tradisi ini terhadap penguatan nilai sradha dan bakti dalam perspektif Pendidikan Agama Hindu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologi. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, sesepuh desa, serta masyarakat yang terlibat, serta dokumentasi dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan data melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tradisi Sewon-Sewon tetap eksis meskipun menghadapi tantangan modernisasi, dengan bentuk pelaksanaan yang lebih sederhana namun tetap mempertahankan makna spiritual; (2) proses pelaksanaan tradisi meliputi tahapan perhitungan hari baik, persiapan sesaji, penyembelihan hewan, pemasangan batu nisan (ngijing), serta doa bersama (pujapitara dan slametan); (3) tradisi ini memiliki implikasi penting bagi masyarakat Hindu, karena mencerminkan penerapan Tri Kerangka Dasar Agama Hindu: Tattwa melalui Panca Sradha, Susila melalui Tri Kaya Parisudha, dan Acara melalui Panca Yadnya. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi ini juga berfungsi memperkuat solidaritas sosial, menjaga harmoni masyarakat, serta menanamkan nilai pendidikan spiritual kepada generasi muda. Dengan demikian, pelestarian tradisi Sewon-Sewon memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara warisan budaya lokal dan pendidikan agama Hindu di era modern.
Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Dengan Model Discovery Learning Dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pada Siswa Kelas VII Di SMP Negeri 3 Singaraja Tahun Ajaran 2024/2025 Leni, Ketut; Sanjaya, Putu; Prapnuwanti, Ni Luh Purnamasuari
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 12 No 2 (2025): Volume XII Nomor 2 September 2025
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v12i2.5011

Abstract

This study aims to understand the learning of Hindu Religious Education using the Discovery Learning model in Strengthening the Pancasila Student profile in grade VII students at SMP Negeri 3 Singaraja, Buleleng District, Buleleng Regency. The theories used to analyze the formulation of the problem are cognitive learning theory, constructivist learning theory and contextual learning theory. This research is a type of fenomenology research with a descriptive research approach. The result of this study relate to the form of learning using discussion methods and the question and answer methods. The process of learning Hindu Religious Education using the discovery learning model in strengthening the profile of Pancasila student is carried out through six stages; 1. Stage of providing (stimulation), 2. Stage of stating or identifying problem (problem statement), 3. Stage of collecting data (data collection), 4. Stage of processing data (data processing), 5. Stage of proving (verification), and 6. Stage of drawing conclusions or generalizations (generalization). The implications of learning Hindu Religious Education using the discovery learning model are the implications of divine values, implications of human values, implications of school image, and implications of learning in cognitive, affective and psychomotor aspects.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA RANAH KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK PADA MATA PELAJARAN AGAMA HINDU SISWA KELAS XI TSM 3 SMKN 3 SINGARAJA: The Application of Contextual Teaching and Learning (CTL) Model to Improve Learning Outcomes in Cognitive, Affective, and Psychomotor Domains in Hindu Religious Education for Class XI TSM 3 Students at SMKN 3 Singaraja. Tika Indriani, Ni Luh Putu; Prapnuwanti, Ni Luh Purnamasuari; pitriani, Ni Rai Vivien
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 12 No 2 (2025): Volume XII Nomor 2 September 2025
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v12i2.6024

Abstract

AbstractThis study is a Classroom Action Research (CAR) conducted during teaching practice activities over a period of three months in the odd semester (Block 1), from July to September 2024, with the researcher acting as the teacher implementing the learning process. The study aimed to improve students’ learning outcomes in Hindu Religious Education across the cognitive, affective, and psychomotor domains through the application of the Contextual Teaching and Learning (CTL) model. The research subjects consisted of 22 students of Phase F/Grade XI TSM 3 at SMKN 3 Singaraja. The research was carried out in two cycles, each comprising the stages of planning, action implementation, observation, and reflection. Data were collected through learning outcome tests, observation, and documentation. Data analysis was conducted descriptively by examining the mean scores and the percentage of learning mastery.The results indicated an improvement in students’ learning outcomes in the cognitive domain. In the pre-cycle stage, the average score was 50 with a mastery percentage of 23%. This increased in Cycle I to an average score of 56 with 45% mastery, and further improved significantly in Cycle II to an average score of 80.6 with a mastery percentage of 91%. In the affective domain, students’ learning outcomes in the pre-cycle were categorized as low, with an average score of 1.75. In Cycle I, the score increased to 2.1 in the fair category, and in Cycle II it improved to 3.0 in the good category. This improvement indicates the development of students’ attitudes, activeness, and participation in the learning process. In the psychomotor domain, the pre-cycle results were categorized as low, with an average score of 1.58. In Cycle I, the score increased to 2.7 in the good category, and in Cycle II it reached 3.5 in the very good category. Based on these findings, it can be concluded that the application of the Contextual Teaching and Learning (CTL) model is effective in improving learning outcomes in Hindu Religious Education for Grade XI TSM 3 students of SMKN 3 Singaraja across the cognitive, affective, and psychomotor domains. Keywords: Contextual Teaching and Learning (CTL), Hindu Religious Education Learning Outcomes, Classroom Action Research (CAR)
Efektivitas Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Hindu pada Siswa Kelas XI SMKN 3 Singaraja Indriani, Ni Luh Putu Tika; Pranuwanti, Luh Purnamasuari; Pitriani, Ni Rai Vivien
Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu Vol 16 No 2 (2025): Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Acarya IAHN-TP Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/ba.v16i2.1540

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas model Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu bagi siswa kelas 1 di SMK Negeri 3 Singaraja, meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Latar belakang penelitian adalah rendahnya hasil belajar siswa karena kurangnya inovasi dalam strategi pengajaran, yang mengakibatkan siswa pasif kurang termotivasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain kuasi eksperimental. Sampel dipilih secara acak dari 21 kelas sebelas, dengan kelas XI TSM 2 sebagai kelas eksperimen dan XI TSM 1 sebagai kelas kontrol, masing-masing terdiri dari 24 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi (untuk aspek afektif dan psikomotorik), dokumentasi, serta pretest dan posttest (untuk aspek kognitif), yang telah diuji validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesulitan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa model CTL efektif. meningkatkan hasil pembelajaran secara komprehensif. Uji t Sampel Independen menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Kelas eksperimental menunjukkan peningkatan tidak hanya pada aspek kognitif tetapi juga pada sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) melalui keterlibatan aktif dalam pembelajaran kontekstual. Kata kunci: efektivitas, CTL, hasil belajar, psikomotorik, Pendidikan Hindu
Cerita Sabha Parwa NILAI-NILAI PENDIDIKAN MORAL DALAM CERITA SABHA PARWA PADA KISAH MAHABHARATA KARYA I GUSTI MADE WIDIA Astuti, Kadek Dwi; Sanjaya, Putu; Prapnuwanti, Ni Luh Purnamasuari
Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu Vol 16 No 2 (2025): Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Acarya IAHN-TP Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/ba.v16i2.1541

Abstract

The story of Sabha Parwa was made in the form of a scientific literary work by I Gusti Made Widia, packaged with 17 subtitles of the story. Sabha Parwa is the second parwa of the Mahabharata story which in its story is related to the teachings of moral education values. The conflict of the story of sabha parwa tells the story of gambling or dice games and the harassment of women that occurred in the Kingdom of Hastinapur. This research aims to answer the following problems: (1) The structure of the Sabha Parwa story by I Gusti Made Widia; (2) The values of moral education in the story of Sabha Parwa and (3) The meaning contained in the story of Sabha Parwa by I Gusti Made Widia. The theories used are Literary Structural Theory, Value Theory and Semiotic Theory. The approach used in this study is the qualitative method of literature. Research results (1) The structure of the Sabha Parwa story from intrinsic elements, themes of struggle and moral conflict, there are 19 Sabha Parwa story characters, the setting of the main place of the kingdoms of Indraprasta and Hastinapura, the time setting is related to the time of the event, the setting of the atmosphere reflects the aspect of the atmosphere that occurred, the point of view using the first and third person and the storyline is advanced and there is also a flashback plot. The Extrinsic Element has moral, religious, and social educational value. (2) The values of moral education in the story of Sabha Parwa are; Religious, Respect, Sacrifice, Hard Work, Integrity, Self-Esteem and Dignity, and The Enemy Within. (3) There are two meanings of the Sabha Parwa story, namely denotative and connotative meanings. Of the 76 data, 41 data showed denotative meaning and 35 connotative meaning