Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) TERHADAP PENURUNAN SIMPTOM GENERALIZED ANXIETY DISORDER (GAD) Srifianti, Srifianti
Jurnal Psikologi Vol 16, No 02 (2018): JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractGeneralized anxiety disorder (GAD) is one of the most debilitating mental disorders, it was a psychological disorder characterized by chronic anxiety and its floating (free floating anxiety)(Barlow, 2001). GAD sufferers always feel the tension throughout his life to make him suffer, consequently daily activities - the sufferer becomes limited and inefficient. They are always worried about the various situations that they are facing in their lives. GAD sufferers are mostly women and is more common in early adulthood is a time where this time looking for a job, looking for spouse and being family. GAD also disorders usually appear in individuals who experience many stressful episode in life. That they lived as the pressure that can lead to emotional disorders such as anxiety. Anxiety disorder in the form of fear of bad luck, felt the pinch, both physical strain and psychological. According to Ellis (Jones & Nelson, 2011) between the mind and emotions have a strong bond. When a person thinks and emotionless negative then he tends to talk things - things that are negative to itself (self-talk) is then internalized to him, giving rise to irational beliefs which affect the behavior. Anxiety experienced by patients GAD started thinking - negative thoughts that accompanied the belief - often negative beliefs towards various problems faced in life. To help people with GAD in overcoming its irrational beliefs need to be an effective approach to cognitive one of them is the Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). REBT emphasis on how the mind affects the emotional feelings or someone who will form the individual to behave. The emergence of irrational thoughts later on in the process of REBT therapy will be transformed into rational thoughts so that the client / patient is able to develop themselves more effectively, and this is the goal of REBT therapy (Neenan in Palmer, 2011). This study aims to find empirical data about how much therapy REBT giving effect to decrease symptoms of Generalized Anxiety Disorder (GAD) GAD, so patients can live their lives in a more effective and develop themselves better. This study using pre-experimental design (one group pretest-post test design) with a number of research 2 subjects. Measuring instruments used to measure the Generalized Anxiety Disorder (GAD) is to use a measurement tool developed by researchers based on the concept of PPDGJ III (Guidelines for the Classification of Mental Disorder Diagnosis) and measurement tools supporting modified consisting of observations and interviews.Based on the calculation of descriptive statistics, the data can be obtained that there is a decrease symptoms of Generalized Anxiety Disorder (GAD) from before and after the therapy REBT is equal to 10.68%. Aspects of GAD symptoms most of the changes are aspects of motor tension by 21.4%. This shows the influence of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) to symptoms of Generalized Anxiety Disorder (GAD). Keywords: rational emotive behavior therapy, anxiety AbstrakGeneralized Anxiety Disorder (GAD) adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan kecemasan yang kronis dan sifatnya mengambang (free floating anxiety)(Barlow 2001). Penderita GAD selalu merasakan ketegangan sepanjang hidupnya yang dapat membuatnya menderita, akibatnya aktivitas sehari – hari penderitanya menjadi terbatas dan tidak efisien. Mereka selalu mencemaskan berbagai situasi yang sedang mereka hadapi dalam kehidupannya. Penderita GAD kebanyakan adalah wanita dan lebih banyak terjadi pada masa dewasa awal dimana masa ini merupakan masa mencari pekerjaan, mencari pasangan hidup dan berkeluarga. Gangguan GAD juga biasanya muncul pada individu yang merasakan banyaknya peristiwa stress dalam kehidupannya. Hal ini mereka hayati sebagai tekanan yang dapat menyebabkan gangguan emosional yang berupa kecemasan. Menurut Ellis (Jones&Nelson, 2011) antara pikiran dan emosi memiliki keterkaitan yang erat. Ketika seseorang berpikir dan beremosi negatif maka ia cenderung berbicara hal – hal yang bersifat negatif kepada dirinya sendiri (self talk) yang kemudian diinternalisasikan kepada dirinya sehingga menimbulkan irational beliefs yang berpengaruh kepada perilakunya. Kecemasan yang dialami oleh pasien GAD berawal dari pemikiran negatif yang disertai adanya keyakinan–keyakinan negatif pula terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk membantu penderita GAD dalam mengatasi keyakinan irrasional yang dimilikinya perlu dilakukan pendekatan kognitif yang efektif yaitu Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Penekanan REBT yakni pada cara pikiran mempengaruhi perasaan atau emosional seseorang yang akan membentuk individu dalam berperilaku. Munculnya pikiran-pikiran irrasional nantinya di dalam proses terapi REBT akan diubah menjadi pikiran-pikiran yang rasional sehingga klien mampu mengembangkan dirinya secara lebih efektif, dan inilah merupakan tujuan dari terapi REBT (Neenan dalam Palmer, 2011).Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data empiris tentang seberapa besar pemberian terapi REBT memberi pengaruh terhadap penurunan simptom Generalized Anxiety Disorder (GAD) sehingga penderita GAD dalam menjalani kehidupannya dapat lebih efektif dan mengembangkan dirinya lebih baik.Design yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-experimental design yaitu the one group pretest-post test design dengan jumlah subjek penelitian 2 orang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur simptom Generalized Anxiety Disorder adalah dengan menggunakan alat ukur yang disusun oleh peneliti berdasarkan konsep PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III) serta alat ukur penunjang yang terdiri dari observasi dan wawancara. Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif, dapat diperoleh data bahwa ada penurunan simptom Generalized Anxiety Disorder (GAD) dari sebelum dan sesudah diberikan terapi REBT yaitu sebesar 10,68%. Ini menunjukkan adanya pengaruh Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) terhadap simptom Generalized Anxiety Disorder (GAD). Kata kunci :terapi rational emotif, kecemasan
Pengaruh Parenting Stress terhadap Harga Diri Orangtua di JABODETABEK Lita Patricia Lunanta; Andi Rina Hatta; Veronica Kristiyani; Srifianti Srifianti
MANASA Vol 10 No 1 (2021): Juni, 2021
Publisher : Faculty of Psychology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.708 KB) | DOI: 10.25170/manasa.v10i1.2219

Abstract

Situations that parents handle affect how they parent their children and this will affect howtheir children develop later on. The aim of this research is to analyze how parenting stressaffects other factors in parent’s psychological condition, especially in their self-esteem. Thisresearch was held to parents with middle school children who live in JABODETABEK with241 participants. The scale that was used to measure parenting stress is the one that Berry andJones (1995) developed and to measure self-esteem is The Coopersmith Self-Esteem Inventorythat was developed by Ryden (1978). This research used a quantitative descriptive method todescribe parenting stress and self-esteem of participants and used simple regression analysisto measure how parenting stress affects self-esteem of middle school children’s parents. Fromthe statistical analysis it was found that parenting stress contributed negatively (t (241) = -7.330, p <0.005) to self-esteem of parents with middle school age children in JABODETABEK.The higher the parenting stress the lower self-esteem becomes. Parenting stress contributed 18percent to self-esteem that means the remaining 82 percent of a parent's self-esteem wasdetermined by other factors.
PENGARUH RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) TERHADAP PENURUNAN SIMPTOM GENERALIZED ANXIETY DISORDER (GAD) Srifianti, Srifianti
Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi Vol 16, No 02 (2018): Jurnal Psikologi
Publisher : Esa Unggul University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/jpsi.v16i02.7

Abstract

Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan kecemasan yang kronis dan sifatnya mengambang (free floating anxiety)(Barlow 2001). Penderita GAD selalu merasakan ketegangan sepanjang hidupnya yang dapat membuatnya menderita, akibatnya aktivitas sehari – hari penderitanya menjadi terbatas dan tidak efisien. Mereka selalu mencemaskan berbagai situasi yang sedang mereka hadapi dalam kehidupannya. Penderita GAD kebanyakan adalah wanita dan lebih banyak terjadi pada masa dewasa awal dimana masa ini merupakan masa mencari pekerjaan, mencari pasangan hidup dan berkeluarga. Gangguan GAD juga biasanya muncul pada individu yang merasakan banyaknya peristiwa stress dalam kehidupannya. Hal ini mereka hayati sebagai tekanan yang dapat menyebabkan gangguan emosional yang berupa kecemasan. Menurut Ellis (Jones&Nelson, 2011) antara pikiran dan emosi memiliki keterkaitan yang erat. Ketika seseorang berpikir dan beremosi negatif maka ia cenderung berbicara hal – hal yang bersifat negatif kepada dirinya sendiri (self talk) yang kemudian diinternalisasikan kepada dirinya sehingga menimbulkan irational beliefs yang berpengaruh kepada perilakunya. Kecemasan yang dialami oleh pasien GAD berawal dari pemikiran negatif yang disertai adanya keyakinan–keyakinan negatif pula terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk membantu penderita GAD dalam mengatasi keyakinan irrasional yang dimilikinya perlu dilakukan pendekatan kognitif yang efektif yaitu Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Penekanan REBT yakni pada cara pikiran mempengaruhi perasaan atau emosional seseorang yang akan membentuk individu dalam berperilaku. Munculnya pikiran-pikiran irrasional nantinya di dalam proses terapi REBT akan diubah menjadi pikiran-pikiran yang rasional sehingga klien mampu mengembangkan dirinya secara lebih efektif, dan inilah merupakan tujuan dari terapi REBT (Neenan dalam Palmer, 2011).Penelitian ini bertujuan untuk menemukan data empiris tentang seberapa besar pemberian terapi REBT memberi pengaruh terhadap penurunan simptom Generalized Anxiety Disorder (GAD) sehingga penderita GAD dalam menjalani kehidupannya dapat lebih efektif dan mengembangkan dirinya lebih baik.Design yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-experimental design yaitu the one group pretest-post test design dengan jumlah subjek penelitian 2 orang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur simptom Generalized Anxiety Disorder adalah dengan menggunakan alat ukur yang disusun oleh peneliti berdasarkan konsep PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III) serta alat ukur penunjang yang terdiri dari observasi dan wawancara. Berdasarkan perhitungan statistik deskriptif, dapat diperoleh data bahwa ada penurunan simptom Generalized Anxiety Disorder (GAD) dari sebelum dan sesudah diberikan terapi REBT yaitu sebesar 10,68%. Ini menunjukkan adanya pengaruh Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) terhadap simptom Generalized Anxiety Disorder (GAD). Kata kunci :terapi rational emotif, kecemasan
Peran Mindful Parenting Terhadap Parenting Stress Pada Ibu yang Bekerja Srifianti, Srifianti; Kristiyani, Veronica; Lunanta, Lita Patricia; Hatta, Andi Rina
Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi Vol 20, No 01 (2022): Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi
Publisher : Esa Unggul University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/jpsi.v20i01.161

Abstract

The increasing number of violence against children, which in February 2020 was reported to be 2,851, increased to 7,190 cases in December 2020. This shows that the psychological condition of parents can affect their behavior in parenting and greatly affect the development of children. Parents, especially working mothers, have challenges to carry out their role of caring for children while working. This will be a stressor for a mother as a parent who has a major role in raising her child. To reduce the stressful conditions experienced by parents in parenting, it is necessary to have training and awareness from within the parents. Awareness in parents can be trained and understood through parenting that is carried out with full awareness continuously called mindful parenting. The purpose of this study is to analyze the effect of mindful parenting on parenting stress. The population and sample in this study were parents, especially working mothers, amounting to 113 people. The measuring instrument used to measure mindful parenting is the Mindfulness in Parenting Scale (MIPQ) developed by McCaffrey, Reitman and Black (2017) with a reliability value of 0.865. Meanwhile, the measuring instrument for measuring parenting stress is the Parenting Stress Scale, a measuring instrument developed by Berry and Jones (1995) with a reliability value of 0.87. The research method used is the simple linear regression method, and the analytical test used is SPSS 25. The results showed that there was a significant negative effect between mindful parenting on parenting stress in working mothers.
Hubungan Antara Parenting Stress Dengan Strategi Regulasi Emosi Orang Tua yang Memiliki Anak Usia Sekolah Dasar (Middle Childhood) di JABODETABEK Lutfi, Srifianti
Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi Vol 18, No 02 (2020): Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi
Publisher : Esa Unggul University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/jpsi.v18i02.93

Abstract

AbstractThe increasing number of violence against children, which in 2015 was reported to be 1,975 increased to 6,820 cases in 2016. This shows that the psychological condition of parents can influence how their behavior is in care and greatly influences the child's development. Parents who have children who are at a critical stage of development that is the age of elementary school (Middle Childhood) where at this age is the first experience of school in children and various demands for development tasks and school work begins. This will be a stressor for parents. If parents can not regulate the emotions they feel it will be associated with higher levels of parenting stress. The purpose of this study is to analyze how the relationship between parenting stress and emotional regulation strategies of parents who have elementary school age children in Jabodetabek. The population and sample in this study are parents who have Elementary School Age Children (Middle Childhood), amounting to 241 people. The measuring instrument used to measure Parenting Stress is a measuring tool developed by Berry and Jones (1995) with a total of 18 items and after being tested into 16 items with a reliability value of 0.87. While the measuring tool to measure the Emotion Regulation was developed by Gross and John (2003) with 10 items. And after testing the reliability value of 0.75 obtained for aspects of cognitive reappraisal. As for the Expressive Suppression aspect, it has a reliability value of 0.71. The research method used is a quantitative descriptive study with correlational methods, and the analytical test used is to use correlation analysis from Charles Spearman. The statistical test results obtained -0.200 with a significance level of 0.01 which means there is a negative relationship between parenting stress with emotional regulation strategies of parents who have elementary school age children (Middle Childhood) in JABODETABEK. Keywords: Parenting Stress, emotion regulation, middle childhood  AbstrakMeningkatnya angka kekerasan pada anak, yang pada tahun 2015 dilaporkan berjumlah 1.975 meningkat menjadi 6,820 kasus di tahun 2016. Hal ini menunjukkan kondisi psikologis orang tua dapat memengaruhi bagaimana perilakunya dalam pengasuhan dan sangat memengaruhi perkembangan anak. Orangtua yang memiliki anak yang berada pada tahapan perkembangan yang kritis yakni usia Sekolah Dasar (Middle Childhood) dimana pada usia ini merupakan pengalaman pertama sekolah pada anak dan berbagai tuntutan tugas perkembangan dan tugas sekolah dimulai.  Hal ini akan menjadi stressor bagi orang tua. Apabila orang tua tidak dapat mengatur emosi yang dirasakannya maka akan berkaitan dengan tingkat stres orang tua yang lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis bagaimana hubungan  parenting  stress   dengan strategi regulasi emosi orang tua yang memiliki anak usia Sekolah Dasar (Middle Childhood) di kawasan JABODETABEK. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak Usia Sekolah Dasar (Middle Childhood) yang berjumlah 241 orang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur Parenting Stress adalah alat ukur yang dikembangkan oleh Berry dan Jones (1995) dengan jumlah aitem adalah 18 aitem dan setelah diuji coba menjadi 16 item dengan nilai reliabilitas sebesar 0.87. Sedangkan alat ukur untuk mengukur Regulasi Emosi dikembangkan oleh Gross dan John (2003) dengan jumlah aitem sebanyak 10 aitem. Dan setelah diuji coba didapatkan  nilai reliabilitas sebesar 0,75 untuk aspek Cognitive Reappraissal. Sedangkan untuk aspek Expressive Suppression memiliki nilai reliabilitas 0,71. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi deskriptif kuantitatif dengan metode korelasional, dan uji analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis korelasi dari Charles Spearman. Hasil uji statistik diperoleh hasil sebesar -0.200 dengan taraf signifikansi sebesar 0,01 yang berarti terdapat hubungan negatif antara parenting stress dengan strategi regulasi emosi orang tua yang memiliki anak usia Sekolah Dasar (Middle Childhood) di JABODETABEK. Kata kunci : Parenting Stress, regulasi emosi, middle childhood
PENGARUH PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TRAINING TERHADAP TARAF KECEMASAN DAN TEKANAN DARAH TINGGI PADA PENDERITA HIPERTENSI PRIMER Lutfi, Srifianti
Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi Vol 17, No 2 (2019): Jurnal Psikologi
Publisher : Esa Unggul University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/jpsi.v17i2.48

Abstract

sofianurkemala1981@gmail.comAbstractThis research is aimed to get description of the effect of Progressive Muscle Relaxation (PMR) Training toward the anxiety level and blood pressure of primary /essential hypertension patient. PMR is a systematic technique to attain a deep relaxation state. PMR was developed by Edmund Jacobson (1930), especially to help individual with anxiety that is strongly connected with muscle tension. He found that muscle can be relaxed by tense it in the beginning for few seconds and then release it. Anxiety, in this case anxiety state (A-state) is a temporary emotional condition or human condition which is variated in intensity and fluctuation for the whole of the time. This condition is signed by subjectivity, the acceptance of feeling of tense and fear consciously and also followed by or associated with the arousal of autonomic nervous system.  Meanwhile, hypertension is a medical condition which is signed by the excalation of blood pressure chronically (in a long time) in artery. Subject in this research is primary hypertension patient, which is 3 patients that characterized by : women between 40 until 50 years old, are not having another treatment except medicine from the doctor. These subjects are characterized by the researcher based on certain consideration/ criteria, and also found incidentally. This research is an experimental research using time series design. Subject is given PMR for 2 weeks long in succession, 2 times a day. Blood pressure of the subject is measured every two days when the researcher do the visit/ monitor. The measurement of anxiety is conducted before and after the treatment using STAI from Spielberger. During the relaxation training process, interview and observation is  conducted. Subject is also asked to make daily record during the training process as a supportive data. The result of the research shows that the measurement of STAI has differences in obtained score before and after the treatment, which is in Subject 1, from the score  11 becomes 1, Subject 2 from the score 11 becomes 3, meanwhile Subject 3 from the score 12 becomes 11. For the amount of blood pressure, based on the measurement before and after the given treatment, there is an alteration of classification toward Subject 1 and 3,  from hypertension stage 2 becomes hypertension stage 1. Subject 2 has no alteration of the classification which is remain at hypertension stage 1. Nevertheless, quantitatively there is descention of the amount of blood pressure in Subject 2. From the result of this research, concluded that Progressive Muscle Relaxation Training affects anxiety level to Subject 1 and 2, and Progressive Muscle Relaxation Training affects the classification of amount of blood pressure to Subject 1 and 3. Keywords : Progressive muscle relaxation training (PMR), anxiety, hypertension     ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai pengaruh Progressive Muscle Relaxation (PMR) Training terhadap taraf kecemasan dan tekanan darah tinggi pada penderita hipertensi primer. PMR merupakan teknik sistematis untuk mencapai keadaan relaksasi yang mendalam. PMR dikembangkan oleh Edmund Jacobson (1930), dan teknik ini khususnya dapat membantu individu dengan kecemasan yang secara kuat dikaitkan dengan ketegangan pada otot. Ia menemukan bahwa suatu otot dapat dirilekskan dengan diawali meregangkannya untuk beberapa detik dan kemudian melemaskannya. Kecemasan, dalam hal ini state anxiety (A-state) merupakan  kondisi emosional sesaat atau kondisi manusia yang bervariasi dalam intensitas dan fluktuasinya sepanjang waktu. Kondisi ini ditandai oleh subjektivitas, penerimaan perasaan tegang dan takut secara sadar dan disertai oleh atau diasosiasikan dengan aktifnya atau bangkitnya sistem syaraf otonom. Sedangkan hipertensi merupakan kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama) di dalam arteri. Subjek pada penelitian ini adalah penderita hipertensi primer, yaitu berjumlah 3 orang dengan karakterisitk wanita berusia antara 40 hingga 50 tahun, tidak sedang menjalani terapi apapun, terkecuali obat-obatan. Subjek penelitian ditentukan peneliti berdasarkan pertimbangan/ kriteria tertentu, dengan menggunakan subjek yang ditemukan di lapangan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian time series design. Subjek mendapatkan perlakuan berupa PMR yang dilakukan selama 2 minggu berturut-turut, sebanyak 2 kali sehari. Tekanan darah subjek diukur setiap 2 hari sekali saat peneliti melakukan kunjungan/ monitoring. Pengukuran kecemasan juga dilakukan sebelum dan sesudah treatment dengan STAI dari Spielberger. Selama proses pelatihan relaksasi, dilakukan juga wawancara dan observasi. Subjek juga diminta untuk membuat catatan harian selama proses pelatihan sebagai data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengukuran STAI ada perbedaan skor yang diperoleh sebelum dan sesudah treatment, yaitu pada subjek 1 dari skor 11 menjadi 1, Subjek 2 dari skor 11 menjadi 3, sedangkan subjek 3 dari skor 12 menjadi 11. Untuk jumlah tekanan darah, berdasarkan pengukuran sebelum dan sesudah diberikan PMR, terjadi perubahan klasifikasi dari hipertensi stage 2 menjadi hipertensi stage 1 yang terjadi pada subjek 1 dan 3. Untuk subjek 2 tidak terjadi perubahan klasifikasi, yaitu tetap di hipertensi stage 1, meskipun secara kuantitatif terjadi penurunan jumlah tekanan darah. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa PMR memberikan pengaruh terhadap penurunan taraf kecemasan pada subjek 1 dan 2, dan PMR berpengaruh terhadap klasifikasi jumlah tekanan darah pada subjek 1 dan 3. Kata kunci : Progressive muscle relaxation training, kecemasan, hipertensi
Hubungan antara Self Regulated Learning (SRL) dengan Stres Akademik Pada Mahasiswa Srifianti Srifianti; Lita Patricia Lunanta; Veronica Kristiyani
Jurnal Psikologi TALENTA Vol 9, No 1 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/talenta.v9i1.48092

Abstract

Meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami permasalahan psikologis, yang menurut survey PDKSJ pada 2 tahun terakhir dan dilaporkan berjumlah 14.988 pada tahun 2022. Dimana permasalahan psikologis seperti, cemas, stress dan depresi paling banyak ditemukan pada mahasiswa yang dituntut untuk melakukan tugas yang cukup kompleks sebagai bagian dari tuntutan akademiknya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara self regulated learning dengan stress akademik pada mahasiswa. Partisipan di dalam penelitian ini berjumlah 121 mahasiswa, dengan menggunakan nonprobability sampling yaitu teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur Self Regulated Learning adalah alat ukur yang dikembangkan oleh Pintrich (1991) dan alat ukur untuk mengukur Stres dikembangkan oleh S Purwati (2012) yang merupakan alat ukur yang dimodifikasi dari Kuesioner Stres Skala DASS 42 dari Lavibond and Lavibond (1995). Hasil analisis data menggunakan pearson product moment menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self regulated learning dengan stress akademik mahasiswa.
PSIKOEDUKASI MENGENAI PERKEMBANGAN, PENGASUHAN, DAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI PAUD/TK BERSINAR ABADI HKBP JATISAMPURNA Lunanta, Lita Patricia; Srifianti, Srifianti; Kristiyani, Veronica
Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas Vol 9, No 02 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat Abdimas
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/abd.v9i02.5841

Abstract

AbstractEarly childhood (3-5 years old) is an important phase in someone's life. This is a critical time for physical development, for language acquisition, for emotion learning, and for social interaction.  Psychoeducation about development, parenting, and education of early child development was needed so parents can deliver a developmentally-right parenting practice that covers all aspects of early childhood development. This psychoeducation is a service-to-community project that was held online with a visual interactive method. The result of this seminar showed that there were still some topics that needed to be explained to the participants considering their mean score of post-test in 77,14 %. Participants gave an excellent review for this psychoeducation with the mean total review of 97,85%. This seminar can be enhanced with a roleplay of how to parent those in early childhood involving parents and their children. Kata kunci : early childhood, parenting.AbstrakMasa usia dini (3-5 tahun) adalah masa yang penting dalam kehidupan seseorang. Masa ini adalah masa kritis untuk perkembangan fisik, pembelajaran bahasa, pengenalan emosi serta interaksi sosial. Psikoedukasi mengenai perkembangan, pengasuhan, dan pendidikan anak usia dini dibutuhkan agar orang tua dapat memberikan pengasuhan yang memperhatikan semua aspek perkembangan yang ada. Pengabdian masyarakat ini dilakukan secara daring dengan metode visual interaktif. Kegiatan ini menunjukkan adanya pemahaman terhadap perkembangan, pengasuhan, dan pendidikan anak usia dini serta memperlihatkan juga hal-hal yang masih harus diperjelas untuk orang tua dengan nilai rata-rata 77,14 % pada post test. Partisipan memberikan penilaian yang baik untuk kegiatan ini dengan total kepuasan sebesar  97,85%. Kegiatan ini dapat dilanjutkan dalam bentuk pelatihan praktek pengasuhan secara langsung dengan melibatkan roleplay dari orang tua dan anak  Kata kunci : masa usia dini, pengasuhan.
The Contribution of Emotion Regulation and Family Resilience Among Earthquake Survivors Kristiyani, Veronica; Sitinjak, Charli; Srifianti, Srifianti
Bulletin of Counseling and Psychotherapy Vol. 7 No. 2 (2025): Bulletin of Counseling and Psychotherapy
Publisher : Kuras Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/002025071508000

Abstract

Natural disasters, such as earthquakes, often lead to severe crises and adversity in family life due to significant psychological, economic, and social pressures. This situation has been experienced by families who survived the earthquake in Cianjur Regency, Indonesia. These families face profound challenges and crises that have left them in vulnerable conditions. In such circumstances, the ability of families to adapt and recover, referred to as family resilience becomes crucial to ensuring the ongoing well-being of all family members. One important factor that can influence the development of family resilience is the ability of family members to manage and regulate their emotions adaptively in the face of post-disaster stress and uncertainty. Emotion regulation strategies have been shown to play a significant role in coping and adaptation processes within families during various crisis situations. Understanding how the implementation of specific emotion regulation strategies influences the development of family resilience is essential for providing appropriate support to help families overcome adversity and recover more effectively. However, research specifically examining the role of these emotion regulation strategies on family resilience among populations affected by natural disasters in Indonesia remains limited. This quantitative, non-experimental study investigates the role of two emotion regulation strategies cognitive reappraisal and expressive suppression in predicting family resilience among 100 survivors. Participants completed standardized measures of emotional regulation and family resilience. Data were analysed using multiple linear regression. Results showed that both cognitive reappraisal and expressive suppression significantly and independently predicted family resilience, with expressive suppression contributing more strongly to the model. These findings challenge the conventional view that suppression is universally maladaptive and suggest that, in high-stress contexts such as post-disaster recovery, suppression may serve as a short-term stabilizing mechanism. The study contributes to disaster psychology literature by highlighting the contextual function of emotion regulation strategies in fostering family adaptation. Implications include the need for culturally sensitive resilience interventions that integrate flexible emotion regulation training for affected families.