Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan Tingkat Kelebihan Berat Badan dengan Uji Toleransi Glukosa Oral pada Siswa SMP di Kota Padang Eka Agustia Rini; IGM Afridoni A
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.159 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.417-22

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak merupakan masalah gizi dan sukar diatasi. Peningkatan obesitaspada anak dan remaja menimbulkan peningkatan insiden diabetes melitus tipe 2. Pemeriksaan uji toleransiglukosa oral dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan metabolik.Tujuan. Mengetahui hubungan derajat obesitas dengan uji toleransi glukosa oral (TTGO) pada siswaSMP di kota Padang.Metode. Penelitian dilakukan Juli – September 2006 terhadap 109 siswa SMP kota Padang. Subjek terdiridari 2 kelompok yaitu overweight (indeks massa tubuh (IMT) p=85-95) dan obesitas (IMT p >95). Dilakukanpengukuran berat badan, tinggi badan, gula darah puasa dan gula darah 2 jam posprandial. Data dianalisisdengan uji t-test, chi-square dan korelasi dengan tingkat kemaknaan p <0,05.Hasil. Didapatkan 10,1% siswa kelebihan berat badan, overweight 6,1% dan obesitas 4,0%. Berat badansiswa overweight berkisar (44,0–74,0) kg. IMT 2(1,6–27,8) m2. Berat badan siswa obesitas berkisar (55,5–96,0) kg, IMT (24,6–42,9) %. Tidak terdapat perbedaan rerata gula darah antara kelompok overweightdengan obesitas (p 0,146). Begitu juga rerata gula darah 2 jam posprandial (p=0,26). Pada obesitas 3(2,7%)kasus dengan uji toleransi glukosa (TGT). Terdapat hubungan lemah antara berat badan dengan kadargula darah puasa (p=0,045;r 0,192)Kesimpulan. Tidak didapatkan hubungan antara kelebihan berat badan dengan uji toleransi glukosa
Hubungan Kadar Plasma Chemerin dengan Homeostasis Model Assessment Insulin Resistance pada Remaja Obesitas Silvy Dioni; Eka Agustia Rini; Eti Yerizel
Sari Pediatri Vol 22, No 1 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.1.2020.24-9

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak berhubungan dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik, seperti resistensi insulin. HOMA-IR merupakan marker yang sering digunakan untuk menilai resistensi insulin. Chemerin merupakan protein 18 kDa yang dihasilkan jaringan adiposa, berfungsi sebagai chemoatractant memegang peran penting berkontribusi terhadap perkembangan inflamasi dan resistensi insulin. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar chemerin dengan HOMA-IR pada remaja obesitas.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan pada 3 sekolah menengah umum (SMU) di kota Padang. Jumlah sampel berjumlah 28 remaja obesitas dan 28 remaja dengan IMT normal. Obesitas ditentukan berdasarkan nilai IMT, HOMA-IR dihitung berdasarkan rumus yang menggunakan nilai glukosa dan insulin puasa. Glukosa diukur dengan metode glucose hexokinase fotometrik, insulin diperiksa dengan metode chemiluminessence immunoassay dan kadar plasma chemerin dengan metode ELISA. Data dianalisis dengan sistem komputerisasi dengan uji korelasi.Hasil. Kadar plasma chemerin lebih tinggi pada kelompok obesitas dibandingkan kontrol 121,52 (SD 2,09) ng/ml vs 97,23(SD 2,41) ng/ml, p: 0,001 dan pada kelompok obesitas dengan resistensi insulin dibandingkan non resistensi insulin 133,1(SD 19,24) vs 115,09 (SD 19,52), p=0,001. Terdapat hubungan lemah kadar chemerin dengan nilai HOMA-IR pada obesitas(r=0,382;p=0,045) dan hubungan lemah kadar chemerin dengan nilai HOMA-IR pada obesitas resistensi insulin (r=0,297;p=0,405).Kesimpulan. Terdapat hubungan lemah kadar chemerin dengan nilai HOMA-IR pada remaja obesitas, dan hubungan lemah kadar chemerin dengan nilai HOMA-IR pada obesitas resistensi insulin.
Usia Awitan Pubertas dan Beberapa Faktor yang Berhubungan pada Murid SD di Kota Padang Eka Agustia Rini; Elza Desdamona
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.639 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.227-32

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian mendapatkan kecenderungan usia awitan pubertas akhir-akhir inimenjadi lebih cepat dari beberapa tahun yang lalu. Banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain ras,indeks massa tubuh (IMT), tingkat sosial ekonomi, penyakit kronis dan sebagainya.Tujuan. Mengetahui rerata usia awitan pubertas anak laki-laki dan perempuan di daerah urban dan sub-urbankota Padang, mengetahui apakah IMT dan tingkat sosial ekonomi berhubungan dengan usia awitan pubertas.Metode. Penelitian cross sectional study dilakukan terhadap 400 murid SD di kota Padang yang dipilihsecara multistage random sampling meliputi daerah urban dan sub-urban. Tingkat maturasi pubertasditentukan berdasarkan skala Tanner, IMT berdasarkan BB/TB2.Hasil. Rerata usia awitan pubertas anak laki-laki di daerah urban 132,50 ± 10,65 bulan (11,04 tahun),sub-urban 133,25 ± 9,13 bulan (11,1 tahun), anak perempuan di daerah urban 129,13 ± 11,71 bulan(10,76 tahun), sub-urban 134,41 ± 9,08 bulan (11,2 tahun). Secara statistik tidak ada perbedaan bermaknausia awitan pubertas anak laki-laki dan perempuan di daerah urban dan sub-urban. Tidak ada hubunganyang bermakna antara IMT dan tingkat sosial ekonomi dengan usia awitan pubertas, meskipun didapatkananak dengan IMT yang lebih tinggi dan tingkat sosial ekonomi cukup lebih cepat memasuki usia awitanpubertas dibandingkan dengan IMT yang lebih rendah dan tingkat sosial ekonomi kurang.Kesimpulan. Rerata usia awitan pubertas anak laki-laki 11,06 tahun, rerata usia awitan pubertas anakperempuan 10,95 tahun. Tidak terdapat perbedaan bermakna usia awitan pubertas anak laki-laki danperempuan antara daerah urban dan sub-urban. Tidak ditemukan hubungan antara usia awitan pubertasdengan IMT dan tingkat sosial ekonomi.
Pengaruh Pemberian Omega-3 Terhadap Kadar C-Reactive Protein pada Remaja Obes Resistensi Insulin Wilson Wilson; Eka Agustia Rini; Hafni Bachtiar
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.047 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.41-6

Abstract

Latar belakang. Obesitas berperan penting terhadap terjadinya sindrom metabolik yang dapat menyebabkan resistensi insulin,dislipidemia, diabetes mellitus dan hipertensi yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Jaringan adiposa padaobesitas akan memproduksi berbagai sitokin antara lain TNF-α dan IL-6 yang selanjutnya merangsang hati untuk menghasilkanC-RP. Omega-3 mempunyai efek anti inflamasi, dapat meningkatkan sensitifitas insulin, mengurangi resistensi insulin, perlemakanhati dan memperbaiki profil lemak serta menurunkan kadar C-RP.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian Omega-3 terhadap kadar C-RP pada remaja obesitas resistensi insulin.Metode. Penelitian eksperimental dari November 2011 sampai Maret 2012 dengan disain pre and post-test group. Obesitas ditentukanberdasarkan pengukuran indek massa tubuh (IMT) >p-95 WHO-NCHS, resistensi insulin menurut kadar homeostasis model assesmentinsulinresistence (HOMA-IR) >3,16. Sampel terpilih diperiksa kadar C-RP sebelum dan sesudah pemberian Omega-3. Omega-3diberikan selama 3 bulan dengan dosis 250 mg perhari. C-RP diperiksa secara Elisa dengan metode CMIA (chemiluminescentImmunometriz assay), sensitivitas 0,01 mg/dL. Data diolah menggunakan paired t-test (α=0,05).Hasil. Didapatkan 75 orang remaja obesitas dan 21 orang di antaranya (50,7%) mengalami resistensi insulin. Sebanyak 21 sampeldiuji, lebih dari separuh laki-laki (57,1% vs 42,9%). Rerata umur 16±0,68 tahun, rerata IMT 32,88±2,44 kg/m2. Rerata kadarglukosa, insulin puasa dan HOMA-IR, masing-masing adalah 90,36±14,94 mg/dl, 20,89±4,19 μIU/L dan 4,52±0,89. Terdapatpenurunan kadar C-RP sebelum dan sesudah pemberian Omega-3, yaitu 8,69±5,46 mg/dL menjadi 6,41±4,77 mg/dL. Penurunanini bermakna secara statistik (p=0,018).Kesimpulan. Konsumsi Omega-3 selama 3 bulan menurunkan kadar C-RP remaja obesitas resistensi insulin.
Hubungan Kadar Ferritin Serum dengan Fungsi Tiroid pada Anak dengan Thalassemia beta Mayor Melisha Lisman Gaya; Eka Agustia Rini; Amirah Zatil Izzah
Sari Pediatri Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.1.2023.27-31

Abstract

Latar belakang. Thalassemia beta mayor merupakan penyakit yang ditandai dengan anemia kronik, hipoksia kronik jaringan, dan pemberian transfusi darah seumur hidup. Penumpukan besi akibat pemberian transfusi berulang berefek toksik pada berbagai organ, termasuk kelenjar tiroid.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kelebihan beban besi dengan kejadian hipotiroid pada anak yang menderita thalassemia beta mayor.Metode. Penelitian cross-sectional terhadap 43 subjek dengan thalassemia beta mayor dan mendapat transfusi darah rutin pada periode April 2018-Februari 2019. Subjek dipilih secara total sampling dan dikelompokkan berdasarkan kadar ferritin serum <2500 µg/L dan >2500 µg/L. Hasil kadar tiroksin dan thyroid stimulating hormone dikelompokkan menjadi eutiroid dan hipotiroid. Hasil analisis statistik bermakna bila p<0,05.Hasil. Kadar ferritin serum <2500 µg/L dan >2500 µg/L terdapat pada masing-masing 19 (44,2%) dan 24 (55,8%) subjek. Hipotiroid terjadi pada 13 (38,1%) subjek dengan kadar ferritin >2500 ?g/L dan delapan (38,1%) subjek dengan kadar ferritin <2500 µg/L. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara ferritin serum dengan fungsi tiroid pada subjek (p=0,432).Kesimpulan. Persentase hipotiroid meningkat seiring peningkatan kadar ferritin serum, tetapi tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar ferritin serum dengan fungsi tiroid pada anak dengan thalassemia beta mayor.