Ni G.A. Diah Ambarwati Kardinal
Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Hindu Indonesia

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

RUANG BUDAYA PADA HARI RAYA MAULUD NABI DI DESA PEGAYAMAN BULELENG BALI Ni G.A.Diah Ambarwati Kardinal; I Komang Gede Santhyasa; I Nyoman Harry Juliarthana
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 20 No 1 (2020): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.547 KB) | DOI: 10.32795/ds.v20i1.635

Abstract

Desa Pegayaman merupakan salah satu desa muslim tertua di Bali yang masih kuat dalam memegang tradisi nya. Pelaksanaan hari besar keagamaan serta tradisi-tradisi oleh umat Islam Pegayaman menciptakan ruang-ruang budaya di Desa Pagayaman. Seperti yang terlihat pada saat perayaan hari besar keagamaan Maulud Nabi yang memiliki arti penting bagi masyarakat desa dimana hari raya ini dirayakan secara meriah oleh masyarakat Desa Pegayaman. Ruang budaya tak hanya tercipta di skala mikro yakni hunian atau masjid , tetapi hingga ke skala makro kawasan dengan digunakannya ruas-ruas jalan sebagai bagian dari pawai Sokok. Ruang-ruang budaya ini memberikan ciri khas permukiman Desa Pagayaman. Hal ini sejalan dengan dengan yang dinyatakan oleh Dansby dalam Sasongko (2005) bahwa pembentukan suatu lingkungan permukiman pada dasarnya sangat ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah budaya masyarakat setempat. Bagaimana individu berhubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya sudah tentu berbeda antara satu budaya dengan budaya lainnya, selanjutnya bagaimana ruang itu ditata dan dirancang sangat tergantung pada pandangan hidup masing-masing. Identifikasi ruang budaya yang terbentuk pada saat perayaan Hari Raya Maulud Nabi dilakukan melalui superimpose ruang-ruang budaya pada skala makro dan mezzo yang terbentuk pada rangkaian pelaksanaan hari raya sehingga didapatkan ruang budaya yang utuh pada Perayaan Maulud Nabi tersebut.
EVALUASI PROGRAM RUMAH SUBSIDI BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH (MBR) DI KABUPATEN BULELENG Ruth Cahyaninghati; I Made Gde Sudharsana; Ni Gusti Ayu Diah Ambarwati Kardinal
Jurnal ENMAP Vol. 2 No. 1 (2021): Maret, Jurnal ENMAP
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/em.v2i1.33262

Abstract

Kabupaten Buleleng merupakan kabupaten yang memiliki backlog perumahan yang sangat tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Bali. Pemerintah memberikan bantuan rumah subsidi kepada masyarakat berpenghasilan rendah dengan bantuan FLPP. Pelaksanaan program rumah subsidi dengan bantuan FLPP di Kabupaten Buleleng sudah berjalan selama 5 tahun.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pelaksanaan program rumah subsidi di Kabupaten Buleleng dan mengetahui tingkat kelayakan huni rumah bagi rumah subsidi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan dukungan data kuantitatif yang diperoleh melalui wawancara dan parameter dari masing-masing aspek tingkat kelayakan huni rumah, wawancara dan observasi. Data akan dianalisa dengan metode analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dalam pelaksaan rumah subsidi dengan program FLPP sudah tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sesuai dengan syarat yang di tetapkan pemerintah dan sudah layak huni meskipun untuk jangka panjang rumah ini tidak sangat membantu dikarenakan luasan rumah yang kurang memadai.
DAMPAK PARIWISATA TERHADAP PEMANFAATAN RUANG PERMUKIMAN DI KAWASAN PESISIR CRISTO REI DESA METIAUT, KOTA DILI - TIMOR LESTE Jeovanio Dos Santos Ribeiro; I Komang Gede Santhyasa; Ni. G. A. Diah Ambarwati Kardinal
Pranatacara Bhumandala: Jurnal Riset Planologi Vol 3 No 2 (2022): Pranatacara Bhumandala: Jurnal Riset Planologi
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/pranatacara_bhumandala.v3i2.3558

Abstract

Developments in Cristu rei have been very rapid in the 11 years since the arrangement. Lastly, the increasing use of built-up space in coastal areas caused by the development of the Cristo rei tourism sector of tribe will affect the carrying capacity or environmental capacity problem formulation how to use space in coastal areas Cristo rei ethnic group Metiaut moment and how tourism impacts on spatial patterns settlement coastal area Cristo rei tribe Metiaut Destination from this research for identify use of space in the coastal area of ??Cristo rei tribe of Dili, Timor Leste and to know how is the impact of tourism on the spatial pattern of settlements in the coastal area of ??Cristo rei tribe benefits from this research providing input to the district government (Kabupaten ) Dili for policies related to the development of the coastal area Cristo rei tribe of Dili Timor Leste and provide understanding to the community on the importance of their role in supporting government programs, thus bringing positive impact on the economy of the Cristo rei community tribe , Dili Timor Leste, the approach used is a qualitative and quantitative approach with a collection technique data using visual plotting observations in the Cristo rei coastal tribes Metiaut and interview via zoom (zoom application) literature study documentation of data analysis techniques with descriptive methods and plotting maps. impacts that affect land change from the physical aspect, namely the change in land use from undeveloped to built is improving the community's economy from the impact of tourism activities in tribe Metiaut Cristo rei, while the change in land use to trade and services is affected by the location of the land close to tourist attractions, accessibility to Cristo rei, and the existence of tourism activities in the Cristo rei coastal area of tribe Metiautthe results of this study 1. at present the impact of the use of built space in the coastal area of ??Cristo rei Suku Metiaut has not had a big impact on the environment. 2.land use change from vacant land into settlements due to the increasing number of people working in the tourism sector residing in the Metiaut tribe and population growth, changes land use from vacant land into tourism facilities is caused by increased tourism activities that are growing in the 11 years since the arrangement Lastly, the use of space from residential houses into trade and service facilities caused by a tourist attraction, transforming the residence into a guest house hotel bars and cafes as a necessity to support tourism activities in Cristo rei tribe Metiaut.
PENERAPAN PENATAAN RUANG TRADISIONAL DI DESA ADAT KESIMAN, KOTA DENPASAR. Gede Taji Iswara Sakti; Ni. G. A. Diah Ambarwati Kardinal; I Gusti Putu Anindya Putra
Pranatacara Bhumandala: Jurnal Riset Planologi Vol 3 No 2 (2022): Pranatacara Bhumandala: Jurnal Riset Planologi
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/pranatacara_bhumandala.v3i2.3559

Abstract

This study tries to identify the traditional spatial elements in the spatial structure and pattern in the Kesiman Traditional Village. Through qualitative methods and descriptive approaches, this study produces a spatial analysis that focuses on the application of Catuspatha and Sanga Mandala in the Kesiman Traditional Village. Catuspatha, which is the embodiment of cultural spatial symbols, in its application is transformed into a center for environmental activities with the roles and functions of each of its elements. Puri as the center of government, wantilan as a cultural center, peken as an economic center and open space as a social center. The four elements are divided by crossroads with the values contained in each quadrant. While Sanga Mandala consists of nine zones with a cosmologically hierarchical values from sacred, neutral and profane. This value order is formed from the vertical and horizontal ties of the three parts Utama, Madya, Nista, which form nine zones. Traditional spatial planning in every traditional village in Bali has its own characteristics and uniqueness, including the Kesiman Traditional Village which is rich in heritage from previous kings. The results of the study show that these traditional values are now experiencing changes in their spatial aspects along with the times from the ancient kingdom to the current era of modernization.
IDENTIFIKASI SEBARAN SPASIAL TINGGALAN ARKEOLOGIS DI DESA BATUAN KALER, KABUPATEN GIANYAR Ampur, Maria Gracia; Kardinal, Ni G.A Diah Ambarwati
Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 5 No. 2 (2024): Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/space.v5i2.6971

Abstract

Desa Batuan Kaler merupakan desa yang berada di Kabupaten Gianyar yang memiliki tinggalan arkeologis yang sangat banyak dan tersebar di Pura-pura, namun belum berpola dengan baik. Hal ini dikarenakan Desa Batuan Kaler belum memiliki peta sebaran tinggalan arkeologis. Tinggalan arkeologis di Desa Batuan Kaler memiliki potensi yang dapat mendukung kegiatan pariwisata serta pemetaan peta sebaran tinggalan arkeologis dapat membantu dan mempermudah wisatawan maupun pemerintah setempat dalam mengakses tempat tersebut. Metode penelitian yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggalan arkeologis di Desa Batuan Kaler memiliki kriteria sebagai obyek pelestarian serta memiliki unsur signifikansi budaya. Tinggalan arkeologis tersebut menyebar secara berkelompok dan terdapat di pura-pura yang ada di Desa Batuan Kaler, yang dibagi menjadi 3 kelompok kawasan arkeologis diantaranya, Kawasan 1 Pura Hyang Tibha, Kawasan 2 Pura Wasan, Kawasan 3 Pura Puseh Ganggangan Canggi. Desa Batuan Kaler juga memiliki tinggalan-tinggalan arkeologis yang menurut cerita Jro Mangku Batur, masih terkubur dibawah tanah dan terletak Kawasan 3 Pura Puseh Ganggangan Canggi.