Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENANGANAN LIMBAH PLASTIK PADA HUTAN BAKAU DI KAWASAN DAM ESTUARI DENPASAR SELATAN Sidhi Bayu Turker; Ni Kadek Widyastuti; Putu Steven Eka Putra; Ni Luh Christine Prawitha Sari Suyasa; I Nengah Rata Artana
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.331 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1440

Abstract

Kelompok Nelayan Segara Guna Batu Lumbang Denpasar merupakan salah satu kelompok nelayan yang secara tradisional mengelola satu area Kawasan Konservasi Wisata Taman Hutan Raya Mangrove Ngurah Rai Denpasar. Program Studi Sarjana Terapan D4 Manajemen Perhotelan Universitas Dhyana Pura telah bekerjasama dengan kelompok nelayan tersebut sejak tahun 2017 dan berlangsung sampai sekarang. Kawasan hutan mangrove tersebut memiliki permasalahan terkait limbah sampah kiriman dari beberapa sungai yakni Tukad Badung, Tukad Mati dan Dam Estuari Denpasar. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya keindahan dan keasrian kawasan hutan bakau Denpasar Selatan sebagai obyek dan atraksi wisata yang menjadi wilayah pelayanan Kelompok Nelayan Segara Guna Batu Lumbang Denpasar. Limbah kiriman yang cukup berbahaya adalah sampah plastic yang dapat menyebabkan gangguan serius pada pertumbuhan bibit mangrove jika tidak dilakukan tindakan pembersihan kawasan secara rutin dan berkelanjutan. Bentuk kegiatan ini merupakan sebuah upaya untuk turut menjadikan kawasan hutan bakau tersebut sebagai tempat atraksi wisata perairan dan tempat edukasi lingkungan perairan hutan mangrove .Untuk mengatasi dampak tersebut maka dilakukanlah kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk melakukan kegiatan pembersihan kawasan huta mangrove Ngurah Rai Denpasar bersama kelompok nelayan di atas mengatasi persoalan limbah plastic tersebut dengan melakukan kegiatan ceramah lingkungan edukasi dan diskusi, pembersihan secara langsung dan berkelanjutan sampah plastik dan sekaligus penanaman bibit bakau. Dan dari kegiatan itu dapat dihasilkan sebuah pembelajaran kegiatan edukasi lingkungan di kawasan tersebut yang dapat disosialisasikan dengan lembaga-lembaga pendidikan sebagai sebuah program edukasi lingkungan dalam mendukung sustainable tourism development.
Potential serum of lactic acid bacteria in horticultural community service entrepreneurs LKSA Widhya Asih, Blimbingsari Village Tourism Area, Jembrana Bali Ni Ketut Wiradnyani; I Nengah Rata Artana; I Wayan Susrama; Ni Made Rai Erawati
Proceeding of the International Conference on Family Business and Entrepreneurship 2022: Proceeding of the 5th International Conference on Family Business and Entrepreneurship
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.402 KB) | DOI: 10.33021/icfbe.v2i1.3571

Abstract

This paper explores the service to the horticultural community of LKSA Widhya Asih Blimbingsari located in the developing Blimbingsari Digital Tourism Village area, in the State district of Bali. Tells about the development of the community service program for empowering pre-adolescents and LKSA staff Widhy Asih Blimbingsari through the manufacture of fermented products and their derivatives based on rice washing water waste by the Dhyana Pura University team. This project has stimulated the home industry entrepreneurship movement among staff and pre-teens in the LKSA Widhya Asih Blimbingsari community. Using a logical framework in analyzing the steps in an effort to empower existing human resources through kitchen waste, horticulture and fermentation products from rice washing water waste, potentially supporting Blimbingsari tourism, this paper discusses the gap between the problems faced by LKSA Whidhya Asih in terms of kitchen waste. with the prolonged Covid-19 pandemic condition, as a long-term desired anticipation, then describes the activities taken followed by the outputs produced and the results achieved from the implementation of the program, and notes some real impacts that have occurred in the LKSA Widhya Asih Blimbingsari community since its inception program.
BALINESE GAMELAN LEARNING PROCESS DURING THE COVID-19 PANDEMIC: Proses Pembelajaran Gamelan Bali di Masa Pandemi Covid-19 I Nengah Rata Artana; I Made Dwi Wira Ardana; Ni Luh Christine Prawitha Sari Suyasa
SOSIOEDUKASI Vol 11 No 2 (2022): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.445 KB) | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v11i2.2150

Abstract

This research aims to find out the learning process of online Balinese Gamelan during the Pandemic Covid-19. Learning Balinese Gamelan online during the Covid-19 pandemic is a Balinese gamelam learning solution for foreigner where it can be conducted by adapting the digital era especially for artist who are able to adapt. To maintain the continuity of the art activities in the area of 4.0, innovation in Balinese gamelan is a must. Methods of online interviews and online observation at karawitan art studio and Dwara-Dwani in the Gianyar area are used in this research. The discussion on Balinese gamelan learning during the Covid-19 Pandemic will be discussed through the analysis of the process of Balinese gamelan learning activities carried out by a Balinese artist or a composer, Ida Bagus Made Widnyana, resulted that practice of Balinese gamelan during the Covid-19 pandemic did not face any obstacles because the artists are able to adapt to the development of information technology
PENGENALAN SENI MUSIK TRADISIONAL BALI PADA ANAK USIA DINI SEBAGAI WUJUD PENGUATAN BUDAYA BALI I Nengah Rata Artana
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 1 (2018): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.713 KB)

Abstract

ABSTRAKProses pendidikan anak sejak usia dini juga penting dibarengi dengan pengenalan seni dan budaya yang bersifat pelestarian, salah satunya adalah pelestarian seni budaya dalam bentuk kreativitas seni, baik seni tradisi maupun modern. Bentuk kreativitas yang dimaksudkan antara lain mengajak anak-anak bermain gamelan dari sejak dini. Kreativitas dan pengenalan gamelan sejak dini dilakukan mengingat makin banyaknya gempuran budaya asing yang suatu saat bisa mengakibatkan degradasi budaya dalam bentuk sikap apatis terhadap kesenian daerah, khususnya gamelan. Gempuran budaya yang tidak dibarengi dengan pembangkitan akan cinta pada kesenian, termasuk kesenian gamelan, tentu akan membuat generasi semakin lupa dengan kesenian yang diwariskan oleh masyarakat pendukung kesenian itu sendiri. Adapun tujuan penelitian ini antara lain untuk membangkitkan kecintaan terhadap kesenian daerah khususnya gamelan Bali pada anak usia dini, mengajak generasi muda dari sejak dini untuk melestarikan kesenian daerahnya, menggunakan kreativitas bermain musik sebagai media stimulan untuk kecerdasan anak mulai dari usia dini, serta bertujuan untuk menumbuhkan sikap/etika yang santun pada peserta didik. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi pada sebuah kelompok bermain musik yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Disamping observasi,dalam penelitian ini juga dilakukan wawancara dengan pelatih gemelan serta guru pendamping. Hasil penelitian menunjukan bahwa diantara anak-anak kecil yang sering diajak bermain gamelan, maka secara tidak langsung hal tersebut akan menimbulkan rasa cinta terhadap seni gamelan. Bila sejak kecil juga diajarkan untuk bermain gamelan, maka hal ini juga juga sebuah langkah nyata untuk melestarikan seni gamelan. Bermain gamelan juga bisa untuk digunakan sebagai media stimulan untuk kecerdasan estetika, etika dan kecerdasan sosial bagi anak usia dini.Kata Kunci: pengenalan seni musik, tradisional Bali, anak usia dini, penguatan budaya Bali
EKSISTENSI BLIMBINGSARI FESTIVAL: PERSPEKTIF KAJIAN SENI, PARIWISATA DAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA I Nengah Rata Artana; Ni Kadek Widyastuti; Made Darmayasa
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 5 (2022): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1401.783 KB)

Abstract

ABSTRAKBerbagai cara pemerintah desa untuk menunjukaan eksistensinya, terutama yang berkaitan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Desa Blimbingsari berada di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Letak desa ini juga berdampingan dengan hutan jati, dan merupakan desa yang mayoritas beragama Kristen. Jumlah penduduknya sampai tahun 2022 ini adalah 1013 jiwa, 271 keluarga (profile desa 2022). Desa Blimbingsari adalah desa wisata yang dominan menawarkan wisata rohani/religi dengan semboyannya promise of land (tanah perjanjian). Eksistensi desa Blimbingsari pasca pandemi Covid-19 diwujudkan dengan mengadakan festival (pesta) yang melibatkan masyarakat. Blimbingsari Festival adalah sebuah aktivitas religi, yang diharapkan akan dapat menghidupkan spiritual, seni, budaya yang bernafaskan kristiani (kontesktual), kunjungan wisata serta berperannya lembaga-lembaga desa (SDM) yang ada di desa setempat. Tujuan penelitian untuk mengetahui eksistensi kegiatan Blimbingsari Festival dari perspektif kajian seni, pariwisata dan sumber daya manusia. Penelitian dilakukan dengan metode observasi selama pelaksanaan kegiatan, baik observasi. Selain observasi, dalam penelitian ini juga dilakukan komunikasi secara daring, untuk mengetahui kegiatan yang berlangsung di lapangan. Selain observasi penelitan juga dilakukan dengan cara mengapresiasi melalui kanal youtube yang disediakan oleh tim media Blimbingsari Festival.Kata kunci: eksistensi, Blimbingsari Festival, religi, promise of land
PENDIDIKAN KARAKTER DI LINGKUNGAN MASYARAKAT BALI; PERSPEKTIF KAJIAN SENI I Nengah Rata Artana; Ni Ketut Wiradnyani; Maria Fransiska Ginting; Gede Nyoman Wiratanaya
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 3 (2020): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.293 KB)

Abstract

ABSTRAKProses pendidikan karakter di kalangan para seniman atau masyarakat Bali di era digitalsaat ini semakin menampakkan kuantitas. Kegundahan akan merosotnya etika, estetika dan logikamelatarbelakangi para seniman ingin ”membumbui” karakternya dengan halhal yang bersifat elok,indah secara etika dan logika. Kreativitas dan pengenalan seni kepada generasi muda perludilakukan mengingat makin banyaknya gempuran budaya asing yang suatu saat bisamengakibatkan degradasi moral yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Gempuranbudaya yang tidak dibarengi dengan sikap-sikap adiluhung akan dapat membawa dampakmerosotnya kepribadian yang bercirikan budaya lokal. Tujuan penelitian untuk mengetahuiaktivitas seni sebagai media pembentukan karakter yang adiluhung, mengajak masyarakatmenumbuhkan nilai-nilai sikap etis,estetis, logis melalui media seni,sehingga akan dapatmerangsang kecerdasan emosional,sosial,spiritual dan intelektual, mengajak masyarakat atauseniman mentransfer soft skill,hard skill dibidang seni. Penelitian dilakukan dengan metodeobservasi setelah munculnya satu bulan wabah corona pada beberapa orang tua secaradaring.Selain observasi,dalam penelitian ini juga dilakukan komunikasi melalui sosial media,untukmengetahui apa tujuan orang tua seniman atau masyarakat mengajak anaknya melakukankegiatan berkesenian.Hasil penelitian menunjukan bahwa jika anakanak sering disentuh atauberinteraksi dengan kegiatan-kegiatan seni budaya, maka akan timbul sense of art; antara lainmemiliki cita rasa dalam berkesenian, sehingga aktivitas tersebut mampu menunjangpembentukan jiwa atau mental generasi yang berbudaya.Kata kunci: pendidikan karakter, masyarakat Bali, kajian seni
PENGABDIAN KEMITRAAN MASYARAKAT PEMANDU LOKAL BUKIT LAHANGAN DI BANJAR SEGA, DESA BUNUTAN, KECAMATAN ABANG, KABUPATEN KARANGASEM I.N. Rata Artana; N.K. Wiradnyani
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 2 (2019): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.564 KB)

Abstract

ABSTRAKBukit Lahangan adalah salah satu nama dari gugusan atau barisan perbukitan yang terdapat di desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Permasalahan yang dihadapi adalah SDM pemandu lokalnya belum memiliki soft skill maupun hard skill antara lain permasalahan dalam berbahasa asing, hospitality, etika dan estetika, penanganan K3 peserta, kesehatan dan gizi seimbang pemandu dan peserta trekking, padahal betapa indahnya barisan perbukitan yang ada di 4 banjar yakni Bangle, Sega, Gulinten dan Cangwang (BSGC) tetapi Tujuan pengabdian kemitraan masyarakat bagi para pemandu lokal ”Suluh Bukit Wisata” di desa Bunutan, khususnya di Banjar Bangle, Sega, Bunutan dan Cangwang adalah dalam rangka memberikan soft skill dan hard skill serta motivasi kepada generasi mudanya yang tertarik menjadi pegiat pariwisata berbasis keindahan alam dan kreativitas budaya (local genius) untuk meningkatkan kontribusi masyarakat daerah setempat, khususnya banjar Sega, dan meningkatkan kwalitas maupun kuantitas SDM pemandu lokal. Metode yang dipergunakan adalah learning by doing, ceramah, simulasi dan demonstrasi. Pendampingan yang dilakukan adalah dengan cara memberikan kursus bahasa Inggris dasar, cara-cara memandu wisatawan menuju bukit Lahangan. Proses pemanduan sangat ditentukan dengan sumbangan 15 buah baju kaos warna oranye dan topi tiga warna berlogo Undhira dan nama kelompok pemandu. Pencapaian hard trekking di lancarkan/dipermudah dengan pemberian satu buah papan nama Lahangan diletakkan di daerah Cekek 2,5 Km sebelum Lahangan Hill, Satu unit papa nama pos pemandu ”Suluh Bukit Wisata” , 5 potong kayu papan, 5 batang kayu jati, 2 lembar atap, 5 unit bambu, satu unit tongkat pengaman pemandu dan peserta, 1engkel pasir dan 5 sak semen untuk penanaman papan nama, satu unit lampu senter, 5 unit obat-obatan dan 5 unit P3K. Serta memberikan asupa gisi seimbang sebelum dan sesudah setiap kegiatan melakukan soft tracking maupun hard trekking. Luaran selain kualitas peningkatan kemampuan pemandu, adalah publikasi pada proceeding skala Nasional.Keywords: bukit lahangan, trekking, soft skill, hard skill, BSGC.ABSTRACTBukit Lahangan is one of the names of clusters or rows of hills located in the village of Bunutan, District Abang, Karangasem Regency. The problem faced is the local guide SDM does not have soft skills or hard skills, among others, problems in foreign language, hospitality, ethics and aesthetics, handling K3 participants, health and nutrition balanced guide and trekking participants , but how beautiful the ranks of the hills in 4 Banjar namely Bangle, Sega, Gulinten and Cangwang (BSGC) But the goal of Community partnership devotion to local guides "Suluh Bukit Wisata" in Bunutan village, especially in Banjar Bangle, Sega, Bunutan and Cangwang are in order to provide soft skills and hard skills and motivation to the young generation who are interested to become tourism activists based on natural beauty and cultural creativity (local genius) to increase the contribution Local community, especially Sega's Banjar, and improved the quality and quantity of local human resources. The methods used are learning by doing, lectures, simulations and demonstrations. Mentoring is done by giving basic English courses, ways to guide tourists to the Bukit Lahangan. The driving process is very determined by the donation of 15 pieces of orange T-shirts and a three-color hat with Undhira logo and the name of the Guide group. Achievement of hard trekking on launch/simplified with the gift of one piece of the name of Lahangan is placed in the area Cekek 2.5 Km before Lahangan Hill, one unit Papa name guide "Suluh Bukit Wisata", 5 pieces wood Board, 5 teak sticks, 2 pieces of roof, 5 Bamboo units, a unit of guiding safety sticks and entrants, 1engkel sand and 5 bags of cement to plant a nameplate, one unit of flashlight, 5 drugs and 5 units of P3K. And give a balanced nutrition before and after each activity doing soft tracking or hard trekking. An external addition to the quality enhancement of the guide, is a publication on proceeding national scale.Keywords: Bukit Lahangan, trekking, soft skill, hard skill, BSGC.
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN SASUKA CATUR OIL PADA REMAJA YAYASAN AMARA BHAWANA SASTRA DESA SUSUT KAJA, KECAMATAN SUSUT, KABUPATEN BANGLI, BALI N.K. Wiradnyani; I.N. Rata Artana; I. P. Darmawijaya
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 2 (2019): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.04 KB)

Abstract

ABSTRAKPelatihan pembuatan sabun SASUKA bertujuan untuk memperdayakan minyak wajah produksi desa Catur dan bahan lokal sekitar Susut Kaje Bangli menjadi sabun cair untuk upaya peningkatan pendapatan rumah tangga. Permasalahan prioritas yang dihadapi oleh anak asuh Yayasan ABSA adalah kesenjangan sosial dan ekonomi kluarga, keterbatasan mengenyam pendidikan skill dan kebutuhan gizi seimbang serta pola hidup sehat. Metode yang dipergunakan adalah pendampingan, pelatihan, skill, pre tes dan post tes untuk mengetahui perkembanga kemampuan skill. Tahapan yang dilakukan adalah sosialisasi resep sabun, konversi, pengenalan alat-alat pembuatan sabun, Hygiene sanitasi dan keselamatan serta kesehatan kerja, pengadaan dan pengetahuan asupan gizi seimbang. Produk baru berupa sabun “SASUKA” yang diproduksi oleh anak-anak remaja Yayasan ABSA di banjar Susut Kaje, kecamatan Susut, kabupaten Bangli yang terdiri dari SASUKA Jepun, SASUKA Kelor, SASUKA Tumeron. Produksi sabun berjalan lancar diikuti dengan pemberian 5 unit bahan sabun, 5 unit perlengkapan K3 dan saniter, sumbangan 5 unit sembako dan 10 unit resep bahan pizza dan soto Madura. Luaran tambahan adalah skill kompetensi membuata pizza ala Yayasan ABSA.Kata Kunci: Sabun, SASUKA, Desa Susut, Remaja, Yayasan AbsaABSTRACTThe SASUKA soap making training aims to empower oil from the face of Catur village production and local materials around Susut Kaje Bangli to become liquid soap for efforts to increase household income. The priority issues faced by ABSA foster children are social and economic inequality of the family, limitations on education in skills and balanced nutritional needs and a healthy lifestyle. The method used is mentoring, training, skills, pre-test and post-test to determine the development of skill abilities. The steps taken are socialization of recipes for soap, conversion, introduction of soap making tools, sanitation hygiene and occupational safety and health, procurement and knowledge of balanced nutrition. The new product is "SASUKA" soap produced by teenagers from the ABSA Foundation in the Susut Kaje banjar, Susut sub-district, Bangli district, which consists of SASUKA Jepun, SASUKA Kelor, SASUKA Tumeron. Soap production went smoothly followed by the provision of 5 units of soap ingredients, 5 units of safety and sanitary ware, donations of 5 basic foods and 10 units of recipes for pizza and soto Madura. An additional output is the competency skill of making pizza in the style of the ABSA Foundation.Keywords: Soap, SASUKA, Susut Village, Teenagers, Absa Foundation
PKM PERAJIN ANCAK BANJAR SEGA, DESA BUNUTAN, KECAMATAN ABANG, KABUPATEN KARANGASEM BALI I.P.Steven Eka Putra; I .N. Rata Artana; N.K. Wiradnyani
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 2 (2019): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.012 KB)

Abstract

ABSTRAKPerajin ancak di daerah banjar Sega, Bunutan, Karangasem adalah perajin bambu yang membuat alas keranjang atau kurungan. Usaha ancak adalah salah satu yang dapat menopang kehidupan petani maupun peternak. Perajin ancak dengan nama kelompok “Sinar Karya” diketuai oleh Ketut Sutama, terdiri dari 10 KK di desa Bunutan pengerjaannya dilakukan secara berkelompok, serta menyebar di berbagai banjar di desa Bunutan antara lain di Banjar Sega, Gulinten, dan Bangle. Masalah yang dihadapi perajin ancak adalah di bidang produksi, manajemen penglolaan usaha, desain, limbah ancak, gizi dan kesehatan masyarakat perajin. Metode yang dipergunakan untuk mencapai tujuan adalah wawancara dalam bentuk pre tes dan pos tes untuk menggali pengetahuan anggota dan rancangan yang dipergunakan untuk dikembangkan adalah RAA (rural rapid appraisal) dan PRA (participant rapid appraisal). Learning by doing digunakan untuk mengukur tingkat skill saat pemberian mesin pemotong bambu, K3, Hygiene sanitasi dalam poses pengolahan, pembukuan sederhana dan penguasaan desain tas dan labeling, pembuatan arang aktif dari limbah ancak. Luaran tersebut sudah terpublikasi media online melalui TVRI daerah tgl 27 April 2019, agar produk baru dari limbah akan memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat luasKata Kunci: Ancak, Karangasem, Perajin, Betek, Arang aktifABSTRACTAncak artisans in the Sega area, Bunutan village district Karangasem province of Bali are bamboo craftsmen who make baskets or cages. Ancak business is one that can sustain the live of farmers and breeders. Ancak craftsmen with the name “Sinar Karya” group headed by Ketut Sutama, consisting of 10 families in Bunutan village, the process is done in groups, and spread in various banjar in the village of Bunutan, among others in banjar Sega, Gulinten and Bangle. The problem faced by craft makers are in the fields of production, management of business management, design, waste treatment, nutrition and public health of artisans.The method use to achieve the goal is an interview in the form of a pre test, and post test to explore the knowledge of members and the design used to be developed is RAA (Rural Rapid Appraisal) dan PRA (participant rapid appraisal). Learning by doing is used to measure skill levels when giving bamboo cutting machines, safety, health, sanitation hygiene in processing, simple bookkeeping and mastery of bag design and labeling, making activated charcoal from ancak waste. The online media has been published through regional TVRI on April 27, 2019, so that new products from waste will provide additional benefits to the wider community.Keywords: Ancak, Karangasem, Crafters, Betek, activated charcoal
PENGABDIAN KEMITRAAN MASYARAKAT DI TAMAN WISATA GERIH, DESA ADAT GERIH, DESA ABIANSEMAL, KECAMATAN ABIANSEMAL, KABUPATEN BADUNG I Nengah Rata Artana; Ni Ketut Wiradnyani; Christian Tonyjanto; I Made Dwi Wira Ardana
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 4 (2021): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.099 KB)

Abstract

ABSTRAKDesa adat Gerih yang berada di wilayah desa Dinas Abiansemal telah melahirkan sebuah obyekwisata yang disebut dengan Taman Wisata Gerih (TWG). Obyek ini tepatnya ada di perbatasanantara Desa Gerih dengan Subak Abian Blumbungan di Sibang Kaja, Desa Abiansemal, KecamatanAbiansemal Kabupaten Badung. Luas obyek wisata ini terdiri dari 58 lahan kering, 51,5 are lahanbasah (sawah aktif). Pemilik lahan adalah Laba Pura Kawitan Bendesa Adat Gerih. Permasalahanyang dihadapi adalah desa Abiansemal belum memiliki kelompok sadar wisata, belum memilikiobyek wisata yang sekaligus bisa dijadikan sebagai rintisan desa wisata Abiansemal, dan belumpaham tentang bagaimana merintis sebuah usaha menuju desa wisata dan persiapan membuatkonten digital yang sopan jika mempromosikan obyek wisata yang akan dikelola. Metode yangkami gunakan adalah metode wawancara dalam bentuk pre-test dan post-test, dan diskusi secaraoffline dan online. Diskusi online lebih sering dilakukan mengingat pengabdian ada pada masaPandemi Covid-19. Sedangkan rancangan pengabdian menggunakan pendekatan (rural rapidappraisal) dan (participant rapid appraisal). Di tengah masa pengabdian muncul obyek wisata yangbaru, yang selanjutnya dilakukan pendampingan. Kehadiran obyek wisata ini adalah untukmewujudkan Desa Abiansemal masuk dalam sejarah baru yakni perintisan sebuah desa wisatayang kegiatannya dimulai dan dipusatkan di desa Adat Gerih. Wahana baru ini telah diresmikansecara adat (di-pelaspas) pada hari Sabtu, 24 Juli 2021, bertepatan dengan hari Purnama SasihKaro. Wahana ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS Wahana Lestari Gerih)Dengan kehadiran Pokdarwis dan sarana prasarana yang dikelola dan ditawarkan ke masyarakat,maka wahana ini siap berkompetisi dan turut memajukan pariwisata secara khusus di desaAbiansemal, dan secara umum di Kabupaten Badung. Luaran yang sudah dilakukan adalah melaluimedia online di https://www.indonesianews.co.id pada tanggal 29 Agustus 2021, I News TV Balipada tanggal 23 September 2021 agar obyek Taman Wisata Gerih semakin dikenal olehmasyarakat Abiansemal, Badung dan bahkan masyarakat Bali.Kata kunci: Eco Wisata Terpadu, Wahana Lestari Gerih