Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DIPLOMASI DAN NEGOSIASI KOREA SELATAN TERHADAP ISU COMFORT WOMEN PADA ERA MOON JAE-IN Zahra Ramadhani Fitria; Harmonis
Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2024): Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora
Publisher : Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/kultura.v2i2.967

Abstract

Diplomasi dan negosiasi Korea Selatan dalam menangani isu Comfort Women (wanita yang menjadi korban perbudakan seksual selama Perang Dunia II) selama pemerintahan Moon Jae-in. Isu tersebut telah menjadi sumber konflik antara Korea Selatan dan Jepang, dan pemerintahan Moon Jae-in dianggap sebagai periode penting dalam mencari solusi melalui pendekatan diplomatik. Dengan menggunakan pendekatan analisis kualitatif, penulis meneliti kebijakan pemerintah Moon Jae-in terhadap isu tersebut, hubungan diplomatik dengan Jepang, serta proses negosiasi yang terlibat. Hasil penelitian ini mengungkap dampak positif dan tantangan yang masih dihadapi, dengan mempertimbangkan respons masyarakat dan opini publik. Kesimpulan jurnal ini mencakup pencapaian diplomasi Korea Selatan, tantangan yang dihadapi, dan implikasinya terhadap hubungan internasional, sambil memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, termasuk peran potensial masyarakat sipil dalam penyelesaian isu Comfort Women.
Strategi Politik Media Untuk Membangun Citra Positif Presiden Prabowo-Gibran, Dalam Konten Seputar iNews RCTI Isnaini, Ahad; M. Harish Ishlah; Usman Mansur; Abdurrahman; Harmonis
CARAKA : Indonesia Journal of Communication Vol. 6 No. 2 (2025): CARAKA : Indonesia Journal of Communication
Publisher : Indonesian Scientific Journal (Jurnal Ilmiah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/caraka.v6i2.232

Abstract

Penelitian ini membahas strategi politik media dalam membangun citra positif Presiden Prabowo-Gibran melalui tayangan Seputar iNews RCTI di platform YouTube. Media, khususnya media digital seperti YouTube, memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik dan legitimasi politik melalui konten audiovisual yang menarik dan persuasif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis isi, penelitian ini mengungkap bahwa media Seputar iNews RCTI cenderung menampilkan narasi yang membingkai Presiden Prabowo dalam sorotan positif, baik melalui pemberitaan capaian kebijakan, kunjungan internasional, hingga kegiatan sosial. Strategi framing yang digunakan memperkuat personal branding dan legitimasi politik, namun juga mengaburkan batas antara pemberitaan objektif dan kepentingan politik. Keberpihakan media yang tampak sistematis ini menimbulkan pertanyaan mengenai independensi jurnalisme dan pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa media berfungsi bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai alat kekuasaan yang mampu mempengaruhi persepsi publik secara masif. Oleh karena itu, penting untuk menegaskan kembali peran media dalam menjaga integritas, objektivitas, dan keberimbangan dalam demokrasi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan akademik dalam kajian politik media kontemporer.
Komunikasi Politik dalam Lanskap Digital: Inovasi hingga Disinformasi Berita Politik Dharmajaya, Muhamad Agung; Harmonis
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i1.315

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mentransformasi komunikasi politik secara mendasar, memberikan peluang untuk inovasi dalam penyampaian pesan dan keterlibatan masyarakat. Namun, era digital juga menghadirkan tantangan serius, terutama disinformasi yang dapat merusak proses demokrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi inovasi yang muncul dalam komunikasi politik digital dan mengidentifikasi tantangan yang diakibatkan oleh penyebaran disinformasi. Dengan pendekatan kualitatif berbasis analisis data sekunder, penelitian ini mengungkap bahwa platform digital mampu memperluas akses informasi politik dan memperkuat partisipasi masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko manipulasi informasi. Artikel ini menawarkan rekomendasi strategis bagi aktor politik dan masyarakat untuk memaksimalkan manfaat teknologi digital sambil meminimalkan dampak negatif disinformasi.
Analisis Perlindungan Hukum Terhadap Kebebasan Pers Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers (Studi Kasus Teror Kepala Babi Terhadap Jurnalis Tempo) Dewi Rahmawati; Harmonis
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 5 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/z3j1dx93

Abstract

Press freedom constitutes one of the essential indicators of a democratic state that guarantees the public’s right to access information freely and responsibly. In practice, journalists frequently face threats, intimidation, and repressive actions while carrying out their role as social watchdogs over governmental power. This study aims to analyze legal protection for journalists who become victims of terror based on Article 18 paragraph (1) of Law Number 40 of 1999 concerning the Press and to examine the repressive efforts undertaken by journalists in responding to threats against press freedom. This research is normative legal research using statutory and conceptual approaches. Data were collected through library research consisting of legislation, legal literature, scientific journals, and official documents from press organizations. The findings reveal that Article 18 paragraph (1) of the Press Law normatively provides repressive legal protection through criminal sanctions against parties obstructing journalistic activities. However, its implementation remains ineffective due to law enforcement officers’ tendency to apply general criminal provisions in the Criminal Code rather than treating the Press Law as lex specialis. The pig-head terror case against TEMPO journalists demonstrates weak law enforcement and the persistence of impunity that creates a chilling effect on press freedom. In addition to relying on state protection, the press community has also developed collective protection mechanisms through organizational solidarity, strengthened safety protocols, and cooperation with legal protection institutions. This study emphasizes that journalist protection must be positioned as an integral part of the protection of human rights and constitutional democracy. Keywords: legal protection; press freedom; journalist; press law; media terror Abstrak Kemerdekaan pers merupakan salah satu indikator utama negara demokratis yang menjamin hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara bebas dan bertanggung jawab. Dalam praktiknya, jurnalis masih sering menghadapi ancaman, intimidasi, dan tindakan represif ketika menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum terhadap jurnalis korban teror ditinjau dari Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta mengkaji upaya represif jurnalis dalam menghadapi ancaman terhadap kebebasan pers. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap peraturan perundang-undangan, literatur hukum, jurnal ilmiah, dan dokumen organisasi pers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 18 ayat (1) UU Pers secara normatif telah memberikan perlindungan represif melalui ancaman pidana bagi pihak yang menghambat kerja jurnalistik. Akan tetapi, implementasinya masih belum efektif akibat kecenderungan aparat penegak hukum menggunakan delik umum dalam KUHP dibandingkan menerapkan UU Pers sebagai lex specialis. Kasus teror kepala babi terhadap jurnalis TEMPO memperlihatkan lemahnya penegakan hukum serta adanya fenomena impunitas yang menimbulkan chilling effect terhadap kebebasan pers. Selain mengandalkan perlindungan negara, komunitas pers juga membangun mekanisme perlindungan kolektif melalui solidaritas organisasi, penguatan protokol keselamatan, dan kerja sama dengan lembaga perlindungan hukum. Penelitian ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap jurnalis harus ditempatkan sebagai bagian integral dari perlindungan hak asasi manusia dan demokrasi konstitusional. Kata Kunci: perlindungan hukum; kebebasan pers; jurnalis; UU Pers; teror media