Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dokter Gigi Muda dengan Tindakan Penggunaan Alat Pelindung Diri di RSIGM UMI Tahun 2018 Arifin, Nur Fadhilah; Aslan, Sarahfin; Selviani, Yusrini; Fairuz, Andy; Arifin, Fadil Abdillah; Hilyah, Hilyah
Sinnun Maxillofacial Journal Vol. 1 No. 01 (2019): April 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.854 KB) | DOI: 10.33096/smj.v1i01.41

Abstract

Latar belakang: Infeksi merupakan bahaya yang sangat nyata pada praktik pelayanan kedokteran gigi. Pada kenyataannya, prosedur kebersihan tangan merupakan komponen paling penting diantara program pencegahan dan pengendalian infeksi. Dalam menjalankan profesinya, dokter gigi bukan tidak mungkin berkontak secara langsung ataupun tidak langsung dengan mikroorganisme dalam saliva dan darah pasien. Kedokteran gigi merupakan salah satu bidang yang rawan untuk terjadinya kontaminasi silang antara pasien-dokter gigi, pasien-pasien,dan pasien-perawat.Tindakan pertama pencegahan infeksi silang adalah pemakaian pelindung oleh operator misalnya masker, sarung tangan,dan kacamata pelindung yang memiliki standar yang bersifat proteksi,murah, dan secara universal digunakan pada dental surgeries sebagai barrier yang efektif. Tujuan: Untuk mengetahui tentang hubungan pengetahuan dokter gigi muda dengan penggunaan alat pelindung diri di RSIGM UMI. Metode: penelitian ini menggunakan jenis penelitian bersifat observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Sampel penelitian ini adalah dokter gigi muda di RSIGM Fakultas Kedokteran Gigi UMI Hasil: Sebagai dokter gigi muda memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 76,7%, tingkat pengetahuan cukup yaitu sebanyak 16,7%, dan tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 6,7% dengan tindakan dokter gigi muda tentang penggunaan alat pelindung diri terhadap pencegahan penularan ifeksi silang di RSIGM UMI memiliki tindakan baik yaitu sebanyak 56,7%, tindakan cukup yaitu sebanyak 30%, dan tindakan kurang sebanyak 13,3%. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan analisis Chi Square menunjukan nilai p = 0.191 (p ? ? = 0.005). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan tingkat pengetahuan dokter gigi muda dengan penggunaan alat pelindung diri terhadap pencegahan penularan infeksi silang di RSIGM UMI tahun 2018.
Repeating an Obligatory Prayer when One Finds a Congregation in the Mosque Sri Ujiana Putri; Andi Indra Puteri; Khusnul Khotimah; Hilyah, Hilyah
NUKHBATUL 'ULUM: Jurnal Bidang Kajian Islam Vol. 11 No. 2 (2025): NUKHBATUL 'ULUM: Jurnal Bidang Kajian Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/nukhbah.v11i2.2169

Abstract

In everyday Muslim devotional life, it is not uncommon for an individual who has already performed an obligatory (farḍ) prayer—either privately or elsewhere—to arrive at a mosque where congregational prayer (ṣalāt al-jamāʿah) is being established. This situation raises a recurring jurisprudential question: should the individual repeat the obligatory prayer with the congregation, and what is the legal status (ḥukm) of such repetition (iʿādah)? This article aims to conceptualize the practice of repeating an obligatory prayer upon encountering a congregation and to examine the legal rulings and juristic reasoning surrounding it across the major Sunni schools of law. The study employs a qualitative, library-based methodology using a normative juridical approach, drawing on classical and contemporary works of fiqh, uṣūl al-fiqh, and ḥadīth. A comparative analysis is conducted of the positions held by the Ḥanafī, Mālikī, Shāfiʿī, and Ḥanbalī schools. The findings reveal that repeating an obligatory prayer with a congregation after having already fulfilled it—either individually or in another congregation—is generally regarded as a recommended (mandūb or sunnah) act rather than a renewed obligation. The repeated prayer is typically classified as supererogatory (nāfilah) or confirmatory in nature, intended to attain the additional merit of congregational worship, while the initial prayer remains the one that fulfills the legal obligation. Nevertheless, juristic disagreement persists regarding specific details, including the permissibility of repeating certain prayers such as ʿAṣr and Maghrib, as well as the ruling on repetition for those who have already prayed in congregation. By clarifying these differences and their evidentiary bases, this study provides a clearer jurisprudential framework for contemporary mosque communities and fiqh educators in addressing the practice of iʿādah of obligatory prayer.