Nabil
STIT Al-Marhalah Al-'Ulya Bekasi

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Implementasi Program Baznas Kota Bekasi Dalam Upaya Peningkatan Pendidikan Masyarakat Dhuafa Muhammad Aiz; Famelia Juniyati; Nabil Nabil
Almarhalah Vol 6, No 2 (2022): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v6i2.141

Abstract

AbstractThis study aims to describe that The National Zakat Board -BAZNAS as an Amil Zakat Institution, one of its duties and functions is for community empowerment. The issue of delinquent fee in educational institutions is a main concerns in this research. “Bekasi Cerdas”; as educational program from BAZNAS is helping the poor and needy so they would be able to continue their education. The research method used in this study is qualitative. The data in this study was obtained from 28 respondens of Baznas beneficiaries. The results can be concluded that there is a require for synergy between Baznas and the government in overcome educational problems in an effort to empower community in particular the poor. Keywords: BAZNAS, Bekasi City, Empowermwnt, Community.
Dinamika Guru Dalam Menghadapi Media Pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Nabil Nabil
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.26

Abstract

Teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, kemajuannya yang begitu pesat telah merambah ke dunia pendidikan. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga-lemabaga pendidikan yang terus tumbuh dan berkembang yang menerapkan media pembelajaran berbasis teknologi.Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan terus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar.
Model Pembelajaran Berbasis Zikrullah Analisis Kitab Sirrul Asrar Fima Yahtaju Ilaihil Abrar karya Syeikh Abdul Qadir Jailani Nabil Nabil
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 3, No 2 (2019): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v3i2.22

Abstract

Hal yang menjadi titik tekan pada model pembelajaran adalah penggunaan amalan - amalan zikir sebagai sarana untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Syeikh Abdul Qadir Jailani,  seorang pendiri tarikat yang hidup pada Abad Pertengahan, telah berhasil menemukan cara untuk mengatasi kemerosotan kualitas akhlak.Model pembelajaran berbasis, zikrullah menitikberatkan kepada penanaman atau  internalisasi   nilai   keagamaan yang bersumber dari Ilahi. Apabila dikaitkan dengan pembelajaran, konsep tauhid menjadi tolak ukur kemurnian   keberagamaan   yang  mengakar   pada   perilaku sehari - hari.Konsep ini merupakan bagian dari rumpun tazkiyah, yaitu ilmu yang membahas tentang penyucian diri. Sebab, model ini lebih menitikberatkan pada proses untuk mengenal Allah lebih dekat melalui amalan - amalan zikir yang dilakukan setiap hari (zikir harian), mingguan (khataman), dan bulanan (manaqiban).Pada praktiknya, model pembelajaran tersebut tidak bisa secara langsung diadopsi di dunia pendidikan formal, terlebih apabila titik fokus ada pada praktiknya. Akan tetapi, apabila titik fokusnya pada esensi dan pelaksanaan zikir, hal tersebut sangat mungkin untuk diterapkan melalui kegiatan - kegiatan keagamaan di lembaga pendidikan formal, seperti mengawali pembelajaran dengan berdoa, mengajarkan untuk melaksanakan shalat shunnah, dan menghubungkan materi - materi umum kepada konsep keagamaan. Artinya esensi dari zikir inilah yang kemudaian harus diterapkan dalam berbagai aspek, khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran. Konsep zikir ini harus diterapkan dalam semua mata pelajaran di kelas.
EPISTIMOLOGI MANAJEMEN DI ERA KEMAJUAN ISLAM Nayyif Sujudi; Nabil Nabil
Almarhalah Vol 5, No 2 (2021): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v5i2.61

Abstract

AbstractIn the context of Islam, science is the beginning of human substance in building world civilization. Islamic epistemology has similarities with the term science in Western epistemology. Just as science in Western epistemology is distinguished from knowledge, science in Islamic epistemology is distinguished from opinion (ra'y). Science is not arbitrary knowledge or just opinion, but knowledge that has been tested for truth. The understanding of science is actually not much different from science, only science is limited to physical or sensory fields, science goes beyond it in non-physical fields such as metaphysics. Historical metamorphosis is added to analysis and management knowledge. Muslim philosophers are used as a basic reference as the core paradigm of management based on humanity and human patterns. Keywords: Epistemology, Muslim Philosophers, Islamic Management Orientation
PERAN PENDIDIDKAN BAGI KEHIDUPAN MANUSIA DALAM PANDANGAN AL-QURAN Fahmi Sahlan; Nabil Nabil; Dariyanto Dariyanto
Almarhalah Vol 7, No 1 (2023): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThe process of cultural growth is triggered by education. Education is the key to all progress of human life throughout history. In the beginning, education developed from simple (primitive) with survival characteristics, surviving from the threats of the surrounding environment. From here humans develop the skills of the tools to find and produce the necessities of life and maintain them. Education here is not only for skills development but for the development of theoretical and practical abilities based on scientific thinking concepts.This study aims to determine the role of education for human life in the view of the Koran and its implementation related to the media of the verses of the Koran and its interpretation of the role of education.The results of the study show that education is an important issue for all people. Education has always been the cornerstone of hope for developing individuals and society. Education also functions as a tool to advance civilization, develop society and enable generations to do much for their interests. Therefore, the role of education according to the view of the Koran is as a means of transforming science and technology and especially as a means of internalizing the noble values of religious teachings and national culture in accordance with religious law. Keywords: The Role of Education, Human Life, Ayat-ayat Al-Quran
Pendidikan Negara Dari Marx ke Stalin Studi Pendekakatan Kritis-filosofis dan heuristika Nabil Nabil
Almarhalah Vol 1, No 1 (2017): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v1i1.4

Abstract

in this century, many people spontaneously label themselves to defend the State because there is an extreme ideology to divide the State in the name of religion, even the events of 1965 returned to the surface as if the State had to apologize for the atrocities and massacres after 1965. Basically, the State was something newly formed from individuals and then groups that have systems, institutions, bureaucracy and usually have sovereignty, both in and out. But in the end it will become absurd when the State is placed above our heads.The state as an independent institution and has political sovereignty, but as an instrument of oppression and administration that can be used for various purposes by the social classes that control its power. Engels saw the instrumentalist view when he saw that State power was always in the hands of a certain social class - the middle class - who used that power in the interests of maintaining economic and political dominance over other social classes.