Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Application of Humic Acid and Gypsum Enhances Soil Nutrient Availability and Tomato (Solanum Lycopersicum) Yield in Mangrove-Derived Saline Soils Bahiro, Badriyatul; Mindari, Wanti; Arifin, Moch.
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 11, No 3: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus September 2025
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v11i3.7671

Abstract

Background: This Research aims to evaluate the effect of humic acid and gypsum application on organic matter availability and the yield of tomato plants cultivated on mangrove forest soil. Methods: The research employed a Completely Randomized Design (CRD) in factorial pattern involving two primary factors. Results: Indicate that applying humic acid (1,124 g) and gypsum (18,75 g) can significantly influence the growth, productivity, and nitrogen uptake in tomato plants. Furthermore, the combination treatments of H3G3 (humic acid 0,124 g and gypsum 18,75 g) and H3G4 (humic acid 0,124 g and gypsum 25 g) yielded the highest number of tomato fruits, at 14.33 fruits. Additionally, the highest Vitamin C content (37,84 %) was detected in tomato fruits from the 0,124 g humic acid treatment. Conclusions: The combination of humic acid and gypsum significantly improves mangrove soil conditions by reducing salinity and increasing essential macronutriens like nitrogen and phosphorus. This synergy enhances nutrient retention and uptake, while gypsum supplies calcium and sulfur to correct acidic of saline soils. As a result, it creates a more fertile environment that supports healthy tomato growth and improves both yield quality and quantity.
DAMPAK KOMBINASI JENIS TANAH, KOMPOS DAN Trichoderma sp. TERHADAP KERAPATAN SPORA Trichoderma sp. Subhan, Aprellia Sofiatul; Arifin, Moch.; Wijayanti, Fitri; Maroeto, Maroeto; Lestari, Safira Rizka
Jurnal Agrotek Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 13, FEBRUARI 2025
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v13i1.8626

Abstract

Trichoderma sp. merupakan jamur yang dapat berperan sebagai agen pengendali hayati karena dapat memarasit jamur lainnya dan mempercepat dekomposisi bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat proses dekomposisi bahan organik pada berbagai jenis tanah dengan bantuan Trichoderma sp. sebagai dekomposer. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari tiga faktor. Faktor pertama yaitu macam jenis tanah J1: Alfisol; J2: Inceptisol; dan J3: Vertisol. Faktor kedua yaitu dosis kompos K0: 0 ton/ha (0 gr/4,4kg tanah); K1: 10 ton/ha (15 gr/4,4 kg tanah); K2: 20 ton/ha (30 gr/4,4 kg tanah); dan K3: 30 ton/ha (45 gr/4,4 kg tanah). Faktor ketiga yaitu taraf pemberian Trichoderma sp. T1: 15 ml dari 106 spora/ml; T2: 15 ml dari 108 spora/ml; dan T3: 15 ml dari 1010 spora/ml. Hasil penelitian yang didapat pada perlakuan Jenis tanah, Kompos dan Trichoderma sp. tidak memberikan interaksi yang nyata terhadap kerapatan spora Trichoderma sp. pada perlakuan jenis tanah dan dosis kompos memberikan pengaruh nyata terhadap kerapatan spora Trichoderma sp. Pada jenis tanah Inceptisol memberikan nilai tertinggi di semua interval pengamatan kerapatan spora Trichoderma sp. dengan dosis kompos 20 ton/ha dan 30 ton/ha pada 14 Hari Setelah Inkubasi (HSI), 30 ton/ha pada 28 Hari Setelah Inkubasi (HSI) hingga 42 Hari Setelah Inkubasi (HSI) dan 20 ton/ha pada 56 Hari Setelah Inkubasi (HSI).
ANALISIS ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN DI WILAYAH KECAMATAN PUJON Ramadhani, Imzky Aulia; Arifin, Moch.; Wijaya, Kemal
Agros Journal of Agriculture Science Vol 25, No 1 (2023): edisi JANUARI
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v25i1.2364

Abstract

Konversi tata guna lahan merupakan konsekuensi yang logis dari peningkatan aktivitas penduduk dan jumlah penduduk. Konversi tata guna lahan pada dasarnya merupakan hal yang umum terjadi, namun jika konversi lahan dilakukan tanpa memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air akan menyebabkan degradasi lahan. Perkembangan jumlah penduduk di Kecamatan Pujon menyebabkan tingginya kebutuhan yang menuntut untuk melakukan alih guna lahan tanpa memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air sehingga mengalami degradasi lahan, hal ini dapat dilihat dari adanya dampak lanjutan akibat degradasi lahan yaitu terjadinya kekeringan panjang terjadi dimusim kemarau, longsor dan banjir pada musim hujan di wilayah Pujon menyebabkan terputusnya akses jalur Malang – Kediri. Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi kemampuan lahan dengan tujuan untuk menekan tingkat degradasi lahan di wilayah Kecamatan Pujon. Hasil penelitian menunjukan bahwa tiga kelas kemampuan lahan yaitu kelas III, IV, dan VIII. Faktor pembatas dominan yang mempengaruhi kelas kemampuan lahan yaitu kemiringan lereng dan permeabilitas tanah, terdapat pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kelas kemampuannya sehingga diarahkan untuk Hutan Lindung.
Sifat Fisik Tanah Pada Lahan Bawang Merah Di Kecamatan Gondang Nganjuk dan Kecamatan Kedungadem Bojonegoro Nugroho, Muhammad Vedo Prasetyo; Arifin, Moch.; Widjajani, Bakti Wisnu
Jurnal Solum Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsolum.20.1.20-28.2023

Abstract

Soil physical properties are those soil properties that affect plant growth and production, determining root penetration into the soil, soil water-holding capacity, drainage, soil aeration, and soil nutrient availability. Shallots prefer fertile soil, loose, and rich in organic matter. Loose and fertile soil produces large tubers. This research was conducted to determine and study the physical properties of the soil on shallots in Kecamatan Gondang, Nganjuk and Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro. Undisturbed and disturbed soil samples were taken at depths of 0-20 cm and 20-40 cm. Determination of the sampling point using the Purposive Random Sampling method based on the type of soil and land use as well as surveying the location of observations. The selected soil types are Vertisols and Inceptisols. Each soil type is represented by 3 sampling points. The results showed that the physical properties of the various shallot fields studied had a soil texture dominated by clay and silt with a silty clay texture class, moderate bulk density, good soil porosity, soil permeability has various classifications from slow to fast, very stable. aggregate stability, and has low C-Organic material. Several parameters of the physical properties of the soil are suitable for growing shallots. However, the C-Organic content is still in the low category and it cannot meet the need for organic matter for shallot cultivation.Key words : soil physical, shallot, Vertisols, Inceptisols
Kajian Degradasi Lahan Akibat Kegiatan Pertambangan Untuk Pengembalian Fungsi Lahan Gultom, Ignasius; Maroeto, Maroeto; Arifin, Moch.
Agrium Vol 19 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v19i1.6765

Abstract

Sumber daya lahan tidak dapat dipisahkan dengan tanah yang ada pada lahan tersebut di samping faktor-faktor luar yang akan mempengaruhinya. Lahan secara kualitas mengalami penurunan atau degradasi, namun lahan juga mengalami degradasi secara kuantitas, dengan berkurangnya ukuran lahan dengan bertambahnya kepemilikan lahan seiring berjalannya waktu. Wilayah penelitian yang dilakukan pada wilayah bekas tambang sirtu menunjukkan bahwa pada lokasi penelitian dengan tekstur Lempung sampai dengan Lempung Berdebu.Berdasarkan penilaian kekritisan lahan dengan menggunakan acuan Peraturan Nomor. P.32/Menhut-II/2009, didapatkan untuk wilayah W1 dan W2 masuk kedalam kelas kekritisan lahan Potensial Kritis, dan untuk W3 berada pada kelas kekritisan lahan Tidak Kritis. Berdasarkan acuan kerusakan tanah untuk produksi biomassa yang mengacu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.7 Tahun 2006, kerusakkan tanah pada wilayah penelitian berada RI (Rusak Ringan) untuk ketiga wilayah sampling (W1, W2, dan W3) dengan faktor pembatas, kebatuan permukaan, fraksi pasir, berat isi, permeablitias dan redoks. Rekomendasi dan arahan perbaikan untuk mendukung pemanfaatan lahan sebagai lahan pertanian produktif adalah dengan melakukan penggabungan konservasi tanah, yaitu dengan penggunaan teras bangku dengan bahan batu serta melakukan penanaman tanaman tegakkan dengan pola agroforestry
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN BUKIT LAMBOSIR TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI KABUPATEN KUNINGAN, PROVINSI JAWA BARAT Naufal, Priya Pratista; Arifin, Moch.; Maroeto, M.; Wijaya , Kemal
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7356

Abstract

Analisis kemampuan lahan dilakukan sebagai langkah pemanfaatan sumber daya lahan sesuai dengan kemampuannya. Penilaian terhadap kemampuan lahan menjadi sangat penting, terutama untuk merumuskan kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan. Penelitian dilakukan untuk menganalisis kemampuan lahan di wilayah Bukit Lambosir, Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bukit Lambosir memiliki ketinggian 800-1200 m dpl merupakan kawasan dengan topografi bervariasi dan terdiri dari hutan rimba serta semak belukar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Bukit Lambosir memiliki tiga kelas kemampuan lahan: kelas III (15.95%). kelas IV (67.99%). dan kelas VIII (16.05%). Faktor pembatas utama yang mempengaruhi kelas kemampuan lahan meliputi kemiringan lereng, kepekaan erosi, dan permeabilitas tanah. Lahan dengan kelas III dan IV memiliki potensi untuk pengelolaan terbatas, seperti penanaman tanaman semusim, tetapi memerlukan tindakan konservasi intensif, termasuk sistem terasering dan penambahan bahan organik. Sebaliknya, lahan kelas VIII disarankan untuk tetap dibiarkan dalam kondisi alaminya untuk tujuan konservasi. Penelitian ini memberikan informasi penting tentang potensi yang dimiliki wilayah Bukit Lambosir, meskipun adanya pembatasan aktivitas masyarakat akibat kebijakan taman nasional.