Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dalam Perspektif Filsafat Ilmu Hukum abidin, ratnasari fajariya
Az-Zarqa': Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 4 No. 1 (2012): Az-Zarqa'
Publisher : Sharia and Law Faculty of Sunan Kalijaga Islamic State University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/azzarqa.v4i1.1582

Abstract

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Manusia diberi kesempurnaan akal pikiran daripada makhluk hidup yang lain. Oleh sebab itu manusia seharusnya lebih bijak dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi dalam lingkup kehidupannya.Lingkungan hidup adalah anugerah Allah SWT yang sangat besar manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia, oleh karena itu wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat menjadi sumber penunjang hidup bagi manusia dan makhluk lainnya yang ada di muka bumi ini, semua itu demi kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Penegakan hukum lingkungan selama ini dirasakan masih amat jauh dari sasaran.Hal ini disebabkan masih belum tegasnya negara sebagai regulator hukum dalam bidang lingkungan untuk menegakkan hukum lingkungan.Negara masih dipengaruhi oleh kepentingan kapitalis yang berkedok Perusahaan swasta baik swasta dalam negeri maupun perusahaan swasta asing demi keuntungan pribadi maupun oknum pejabat negara yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan mencari di celah mana, kira-kira penegakan hukum lingkungan ini akan memberi keadilan bagi semua pihak, terutama masyarakat yang selama ini banyak merasakan dampak negatif dari pembangunan yang banyak mengeksploitasi lingkungan hidup mereka.
PENJUALAN LANGSUNG BERJENJANG KONVENSIONAL DAN SYARI’AH: ANTARA REGULASI, IMPLEMENTASI DAN EVALUASINYA DI INDONESIA Abidin, Ratnasari Fajariya; Wahyuni, Sri
Indonesian Journal of Shariah and Justice Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga dan Hukum Ekonomi Syariah, Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46339/ijsj.v4i2.145

Abstract

Penjualan langsung berjenjang (PLB) atau umumnya dikenal dengan multi level marketing (MLM) merupakan salah satu bentuk pemasaran perdagangan modern yang banyak dipraktikan di Indonesia. Maraknya kasus penipuan berbasis PLB/MLM kerap kali disebabkan oleh minimnya pemahaman masyarakat terhadap esensi PLB/MLM dan implementasinya yang legal di Indonesia. Dalam konteks Islam, melalui Fatwa No. 75/DSN-MUI/VII/2009 PLB Syari’ah, legitimasi beberapa perusahaan berbasis PLB/MLM telah diberikan oleh DSN MUI melalui sertifikasi syariah dan implementasinya dievaluasi secara berkala. Realitas perkembangannya, keberadaan perusahaan berbasis PLB/MLM yang diperuntukan bagi perdagangan barang ini kini telah melebar hingga ke perdagangan jasa. Salah satu implikasinya, dikeluarkan Fatwa No. 83/DSN-MUI/VI/2012 tentang PLB Syari’ah Jasa Perjalanan Umrah sebagai salah satu indikator perusahaan jasa umrah berbasis PLB/MLM. Hanya saja, implementasi PLB/MLM jasa ini menjadi suatu problematika ketika regulasi negara hanya mengatur model pemasaran PLB/MLM bagi perdagangan barang, serta baik evaluasi dan pengawasan usaha berbasis PLB/MLM dilakukan oleh masing-masing otoritas negara yang berbeda.
Bad Debt Restructuring Policy for Micro, Small, and Medium Enterprises in Yogyakarta: An Evaluative Study from the Maṣlaḥah Perspective Halim, Abdul; Wahyuni, Sri; Abidin, Ratnasari Fajariya
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 59 No 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v59i1.1448

Abstract

The Covid-19 pandemic has been declared over in recent years; however, economic activity—particularly among Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs)—has yet to stabilize, leading to challenges for some enterprises in fulfilling their credit obligations. Utilizing the maṣlaḥah (beneficial interest) framework, this study aims to evaluate the bad credit restructuring policy for MSME entrepreneurs in Yogyakarta. This research employs a normative juridical approach, incorporating observation, interviews, and document analysis to examine the implementation of Financial Services Authority Regulations No. 17/POJK.03/2020, which addresses bad credit restructuring for MSME entrepreneurs. The findings reveal that the restructuring and relaxation of bad credit measures following the Covid-19 pandemic function as policies intended to facilitate compromise between creditors and debtors amid ongoing economic instability. The study underscores that this policy yields significant benefits for all stakeholders involved and asserts that these benefits align with the concept of maṣlaḥah mu’tabarah (significant beneficial interest), indicating their endorsement and obligation within the Islamic legal framework.
Equitable Maritime Law Policy: A Study of the Blue Constitution and Environmental Fiqh Regarding Land Use Rights in Tangerang, Banten Tabrozi, Dhika; Fatimah, Siti; Alfarisi, Muhammad Adib; Mujib, Misbahul; Abidin, Ratnasari Fajariya
Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum Vol. 14 No. 1 (2026): Al-Mazaahib
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/al-mazaahib.v14i1.4215

Abstract

Environmental issues in Indonesia reveal signs of an ecological crisis that directly impacts humanity as the stewards of the earth. This situation is evident in the state’s failure to uphold ecological justice, as seen in extractivist practices such as the construction of a sea wall in Tangerang–Banten. The case of Building Use Rights (HGB) permits in this marine area indicates a disregard for the state’s constitutional obligation to protect environmental sustainability and potentially deviates from state and religious norms. This study aims to examine the political character of environmental law in the HGB permitting policy for the bamboo seawall in Tangerang–Banten using the “blue constitution” and environmental fiqh as analytical tools. The approach used is socio-normative through content analysis of legislation, Constitutional Court rulings, and environmental fiqh literature. The results of the study indicate that the granting of HGB to private parties in the marine area constitutes a deviation from constitutional norms, as it has the potential to privatize marine space—a practice explicitly rejected in Constitutional Court Ruling No. 3/PUU-VIII/2010. From an environmental fiqh perspective, such actions contradict the prohibition against destruction (ifsād) as stated in QS. al-A‘rāf: 56 and the principles of hifz al-bi’ah. Environmental fiqh in this study does not rely on maslahah mursalah, but rather on maslahah mu‘tabarah, which is reinforced by sharia evidences regarding the obligation to preserve ecosystem sustainability. The integration of the blue constitution concept and environmental fiqh provides an analytical framework for evaluating policies in a more eco-centric manner, viewing the sea not merely as an economic space, but as an ecological entity that possesses the right to protection. The implications of this study underscore the need for a licensing policy design that is more socially and ecologically just and consistent with the constitutional mandate and the principle of hifz al-bi’ah in Islamic law. Persoalan lingkungan hidup di Indonesia menunjukkan gejala krisis ekologis yang berdampak langsung pada kemanusiaan sebagai penjaga bumi. Kondisi tersebut tampak pada absennya negara dalam menjalankan peran menjaga keadilan ekologis, sebagaimana terlihat dalam praktik ekstraktivisme melalui pembangunan pagar laut di Tangerang–Banten. Kasus perizinan Hak Guna Bangunan (HGB) pada wilayah laut tersebut menunjukkan adanya pengabaian terhadap kewajiban konstitusional negara untuk melindungi kelestarian lingkungan serta berpotensi menyimpang dari norma negara dan agama. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakter politik hukum lingkungan dalam kebijakan perizinan HGB pagar bambu di Tangerang-Banten dengan menggunakan blue constitution dan fikih lingkungan sebagai alat analisis. Pendekatan yang digunakan adalah sosio-normatif melalui analisis konten terhadap peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Konstitusi, serta literatur fikih lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian HGB kepada pihak swasta di wilayah laut merupakan bentuk penyimpangan norma konstitusi, karena berpotensi memprivatisasi ruang laut yang secara tegas ditolak dalam Putusan MK No. 3/PUU-VIII/2010. Dari perspektif fikih lingkungan, tindakan tersebut bertentangan dengan larangan perusakan (ifsād) sebagaimana termaktub dalam QS. al-A‘rāf: 56 dan prinsip-prinsip hifz al-bi’ah. Fikih lingkungan dalam penelitian ini tidak bertumpu pada maslahah mursalah, melainkan pada maslahah mu‘tabarah yang diperkuat oleh dalil-dalil syar‘i mengenai kewajiban menjaga kelestarian ekosistem. Integrasi konsep blue constitution dan fikih lingkungan menyediakan kerangka analitis untuk menilai kebijakan secara lebih ekosentris, memandang laut bukan semata ruang ekonomi, tetapi entitas ekologis yang memiliki hak untuk dilindungi. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya desain kebijakan perizinan yang lebih adil secara sosial-ekologis serta konsisten dengan mandat konstitusi dan prinsip hifz al-bi’ah dalam hukum Islam.