Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Local Community Knowledge About Medicinal Plants in Ethnic Countries on Sumbawa Island Yuliana, Nila; Daro, Yasinta Aloysia; Fauzi, Muhammad; Astuti, Laily Widya; Utami, Seftiani; Ayu, Ieke Wulan
JURNAL KESEHATAN STIKes MUHAMMADIYAH CIAMIS Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan (April 2025)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52221/jurkes.v12i1.811

Abstract

Background & Objective: Local cultural wisdom on Sumbawa Island related to health is still lacking, in this case it is necessary to get attention from health workers, especially the materials used by the community regarding the safety of the materials used. The objectives of the study were (1) to find out the types of medicinal plants used daily by the people of Sumbawa Island (Sumbawa Ethnic Group, Bima Ethnic Group, Dompu Ethnic Group), (2) to reveal how the people of Sumbawa Island (Sumbawa Ethnic Group, Bima Ethnic Group, Dompu Ethnic Group) obtain and utilize medicinal plants as traditional medicine. Metode: The research approach used in this study is a qualitative approach with an exploratory survey. Result: The results of the interview on medicinal plants originating from Sumbawa are: Babak Pohon Juwet, Babak pohon kemang kuning, Serat Kuku, Mentawer, Babak Tapulet, Kapas Niwang, Sepeda Api, Turi Ungu, Sukun. Conclusion: (1) The types of medicinal plants used daily by the people of Sumbawa Island are 81 types. (2) The way the people of Sumbawa Island obtain and utilize medicinal plants as traditional medicine is obtained from around the house/yard, fields/gardens, and from the forest. The way to process medicinal plants is by boiling the parts of the plant that are utilized, such as tree bark, roots, and leaves, and drinking the water, making a paste to be applied, and drying them to be made into potions.
KARAKTERISTIK MASYARAKAT LOKAL PENGGUNA TANAMAN OBAT PADA ETNIS DI PULAU SUMBAWA Astuti, Laily Widya; Yuliana, Nila; Daro, Yasinta Aloysia; Fauzi, Muhammad; Utami, Seftiani
Jurnal Kesehatan Samawa Vol. 10 No. 1 (2025): JKS 2025
Publisher : Jurnal Kesehatan Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kearifan lokal budaya di Pulau Sumbawa yang berhubungan dengan kesehatan masih kurang, dalam hal ini perlunya mendapat perhatian dari tenaga kesehatan khususnya masyarakat yang menggunakan tanaman obat lokal. Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui usia masyarakat Pulau Sumbawa (Etnis Sumbawa, Etnis Bima, Etnis Dompu) yang menggunakan tanaman obat, (2) mengetahui jenis kelamin (Etnis Sumbawa, Etnis Bima, Etnis Dompu) yang menggunakan tanaman obat (3) mengetahui pendidikan (Etnis Sumbawa, Etnis Bima, Etnis Dompu) yang menggunakan tanaman obat, dan mengetahui lama tinggal (Etnis Sumbawa, Etnis Bima, Etnis Dompu) yang menggunakan tanaman obat. Metode pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian yaitu usia responden lebih banyak berusia 41-50 tahun, jenis kelamin lebih banyak perempuan, pendidikan lebih banyak yang berpendidikan Diploma/Sarjana, dan berdasarkan lama tinggal masyarakat di tempat tinggalnya paling banyak lebih dari 20 tahun.
The Influence of Moist Wound Healing on the Condition of Wounds in Patients with Diabetic Ulcers Alfian, Alfian; Astuti, Laily Widya
INDOGENIUS Vol 5 No 1 (2026): INDOGENIUS
Publisher : Department of Publication of Inspirasi Elburhani Foundation Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/igj.v5i1.886

Abstract

Background & Objective: Diabetic ulcers are a serious complication of diabetes requiring appropriate wound management to accelerate healing and prevent further complications. This study aims to determine the effect of the moist wound healing method on wound conditions in patients with diabetic ulcers. Method: A quasi-experimental design with a pretest-posttest one-group approach was used. Twelve diabetic ulcer patients were selected purposively. Wound conditions were observed directly on the first and seventh days after treatment using the moist wound healing method. Data were analyzed with a paired t-test to compare wound conditions before and after intervention. Result: There was a significant decrease in wound size (mean from 15.5 ± 0.45 cm² to 10.2 ± 0.53 cm²), wound depth, amount of exudate, and type of necrotic tissue. Granulation tissue increased significantly (mean from 1.6 ± 0.07 to 3.4 ± 0.07), indicating improved wound healing. Conclusion: The moist wound healing method significantly improves the wound condition in diabetic ulcer patients by accelerating healing, reducing wound size, exudate, and necrotic tissue, and promoting granulation tissue formation. This method is recommended as an effective therapy for managing diabetic ulcers.
PENERAPAN DIAPHRAGMATIC BREATING TERHADAP SATURASI OKSIGEN ARTERI PADA PASIEN ASMA DI RUANG IGD RSUD SUMBAWA Safilda, Raman; Farilya, Mita; Fauzi, Muhammad; Astuti, Laily Widya
Jurnal Kesehatan Samawa Vol. 10 No. 2 (2025): JKS
Publisher : Jurnal Kesehatan Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma merupakan penyakit pernapasan kronis heterogen yang ditandai dengan inflamasi saluran napas serta gejala periodik berupa sesak napas, batuk, dan keterbatasan aliran udara ekspirasi. Berdasarkan data WHO dan GINA, jumlah penderita asma secara global terus meningkat dan diperkirakan mencapai 400 juta orang pada tahun 2025. Salah satu tantangan utama dalam penatalaksanaan asma adalah menjaga saturasi oksigen pasien agar tetap optimal, karena penurunan saturasi dapat berujung pada komplikasi serius. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif pada dua pasien asma bronkial yang menjalani terapi diaphragmatic breathing di IGD RSUD Sumbawa. Hasil pengkajian awal menunjukkan keluhan sesak napas, batuk berdahak, dan kelemahan pada kedua pasien. Setelah diberikan terapi diaphragmatic breathing sebanyak tiga sesi dalam satu hari, terdapat peningkatan signifikan pada saturasi oksigen (SpO2 meningkat dari 94–95% menjadi 98%) serta penurunan gejala sesak napas dan kelelahan. Evaluasi menunjukkan terapi ini efektif memperkuat otot diafragma, meningkatkan efisiensi paru, menurunkan kerja pernapasan, serta menambah kenyamanan pasien. Kesimpulannya, penerapan terapi diaphragmatic breathing dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang bermanfaat dalam meningkatkan saturasi oksigen dan mengurangi gejala pada pasien asma, sehingga direkomendasikan sebagai terapi suportif dalam asuhan keperawatan pasien asma di fasilitas kesehatan.