Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

STRATEGI PENCEGAHAN EIGENRECHTING DI LINGKUNGAN MASYARAKAT Kasmanto Rinaldi; Fajar Azhari; Ikhsan Alwafi; Novita Sari; Rezky Nugraha; Sherly Andrika Putri; Ucok Matsudi; Hilda Mianita
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 24 No 1 (2022): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v24i1.237

Abstract

Orang Indonesia pada umumnya mengenali perilaku main hakim sendiri sebagai suatu tindakan sewenang-wenang yang dilakukan terhadap individu atau sekelompok orang, dilakukan dengan cara menyakiti, menyusahkan, menumpas dan lain sebagainnya. Jika dilihat dari asalnya, perilaku main hakim sendiri di dunia internasional dimaknai sebagai perampasan yang dilakukan secara sengaja dan kejam terhadap hak dasar yang mana hal itu bertentangan dengan hukum internasional dengan alasan identitas kelompok. Tindakan main hakim sendiri meruntuhkan moral masyarakat. Di Indonesia sendiri, ada Undang-Undang yang mengatur tentang eigenrecthting atau tindakan main hakim sendiri ini. Eigenrecthing merupakan perbuatan melanggar hukum dan juga bertentangan dengan hak asasi manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif , yang mana pada tahap ini penulis melakukan wawancara kepada narasumber terkait. Hasil penelitian ini yaitu kasus eigenrechting sering terjadi di Kabupaten Kampar, Ada beberapa strategi pencegahan terhadap perilaku eigenrechting, antara lain yaitu memberikan edukasi atau pemahaman kepada masyarakat sekitar terkait proses peradilan pidana dengan tujuan meminimalisir perilaku eigenrechting pada masyarakat. Kata Kunci: Strategi Pencegahan, Masyarakat, Eigenrechting
FENOMENA PENCURIAN KELAPA OLEH ANAK (Studi Kasus di Polsek Tembilahan Hulu) Hilda Mianita; Kasmanto Rinaldi
SISI LAIN REALITA Vol 5 No 2 (2020): SISI GELAP EKSPLOITASI ANAK BAWAH UMUR DI KOTA PEKANBARU
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.47 KB) | DOI: 10.25299/sisilainrealita.2020.vol5(2).7630

Abstract

Juvenile delinquency is a common problem in society. There are norms or rules that lived in society. And it must be obeyed by society. Violation of norms and rules in society is not only committed by adults but also by juvenile. The violations of norms or rules that is often occurs by juvenile is theft. The theft that often occurs in Tembilahan is theft of coconuts, and it causes unrest in community. The majority of people in Tembilahan work as coconut farmers when the price of coconuts increases, coconut theft often occurs, not infrequently the perpetrators of coconut theft are the underage child or juveline. The purpose of this research is to determine what is the factors that cause the theft of coconuts by juvenile. This research uses a qualitative method by conducting interviews with key informants and informants that related to the topic. Referring to the theory used in this research, namely social control theory, this theory can explain why the phenomenon of coconut theft by juvenile occurs. The result of this research is that the theft of coconuts by juvenile occurs due to economic factors, in order to earn money the child or juvenile steals coconuts, it can also be explained through social control theory, which according to this theory, the child commits crimes or deviations due to the absence of attachment elements, commitment, involvement, and belief in theirself.
Enviromental Criminology : Penerapan Defensible Space Sebagai Alternatif Pencegahan Kejahatan Kasmanto Rinaldi; Diky Prayoga; Hilda Mianita
Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Mahupiki April 2022
Publisher : Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17778.349 KB) | DOI: 10.51370/jhpk.v3i1.66

Abstract

Defensible Space dapat menjadi alternatif pencegahan kejahatan dimasyarakat khususnya di khawasan perumahan. Nuansa Gria Flamboyan menjadi perumahan kelas menengah yang terdapat dikahwasan padat penduduk, memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi disektor daerah Tampan, Pekanbaru menjadikan area tersebut termasuk dalam sektor potensi gangguan keamanan yang tinggi di Pekanbaru. Defensible space menjadi alat pencegahan yang berfokus kepada menghilankan potensi-potensi kriminalitas dengan mempersempit gerak-gerik pelaku melalui desain lingkungan, Bagi pelaku kriminal faktor lingkungan menjadi alat bantu sekaligus menjadi ancaman terhadap dirinya untuk mengoperasikan aksi kejahatan. Penelitian ini termasuk kualitatif deskriptif dengan menganalisa strategi pencegahan situsional yang dilihat dari bagaimana penerapan konsep komponen-komponen Defensible space menjadi alat pencegahan kejahatan. Perumahan Nuansa Gria Flamboyan menunjukan keberadaan komponen Defensible space menjadi alternatif pencegahan kejahatan yang disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan maupun sosial didalamnya Kata Kunci : Defensible space, perumahan, strategi pencegahan kejahatan
The Role of the Family and Social Networks as Agents of Social Control in Correctional Institution Class I (A case Study in Sukamiskin, Bandung) Hilda Mianita
Ilomata International Journal of Social Science Vol 4 No 3 (2023): July 2023
Publisher : Yayasan Ilomata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52728/ijss.v4i3.820

Abstract

Family and social networks have a role in providing support to those in need. With the support from family and social networks, motivation in the training phase in Correctional Institution should be encouraged. However, people do not realize the importance of providing support for inventions, even though this can prevent a number of violations of use while undergoing training in Correctional Institution, such as escaping or other violations. In addition, Class I Correctional Institution at Sukamiskin is an Institution for corruptors in Indonesia, where stress level tends to be high. The former luxurious lives they used to have and enjoy are now the lives full of tension, worries and restlessness. The purpose of this research is to analyze the roles of family and social networks as social control to help them create a better situations. The method used in this study is the mixed method, a combination of both qualitative and quantitative. In this study, the sample was taken randomly, comprising 30 inmates in Class I Correctional Institution in Sukamiskin. The theory used is Hirchie's theory of social control and the stress-coping mechanism. The results of this study indicate that 66.6% of inmates believe that the presence of family and social networks are crucial. With reference to Hirchie's theory of social control, it is concluded that discouraging situations in which convicts may commit irregularities or crimes in Correctional Institution can be prevented.
Fenomena ‘Unruly Girl’ dan Pergeseran Makna Kenakalan pada Anak Perempuan Hilda Mianita
Proceedings National Conference Sinesia Vol. 1 No. 2 (2025): Accelerating SDGs Implementation in Indonesia towards a Golden Indonesia 2045
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/ncrcs-sinesia.v1i2.116

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena “Unruly Girl” sebagai representasi pergeseran makna kenakalan pada anak perempuan di Indonesia. Secara tradisional, kenakalan dipahami sebagai pelanggaran hukum, namun dalam praktik sosial, perilaku menyimpang anak perempuan semakin dimaknai melalui kerangka moral dan nilai patriarki. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pergeseran makna kenakalan dari ranah yuridis ke ranah moral-sosial, serta mengkaji mekanisme kontrol sosial yang membentuk konstruksi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menelaah jurnal ilmiah, buku akademik, dokumen kebijakan, dan laporan institusional yang relevan dengan kajian kriminologi feminis, kontrol sosial, representasi media, dan sistem peradilan anak. Data dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif tematik untuk mengidentifikasi pola regulasi berbasis gender dan wacana moral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak perempuan lebih sering diposisikan sebagai penyimpangan moral daripada pelanggaran hukum, yang mencerminkan kuatnya bias gender dalam konstruksi kenakalan remaja. Media, keluarga, agama, dan institusi hukum berperan sebagai agen kontrol sosial informal yang memperkuat pengawasan moral terhadap anak perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena “Unruly Girl” tidak sekadar mencerminkan perilaku menyimpang remaja, tetapi juga merepresentasikan kecemasan sosial terhadap perubahan peran gender. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang sensitif gender, berbasis pemberdayaan, dan berorientasi pada hak anak untuk menggantikan paradigma moralistik yang selama ini dominan.
Peningkatan Kesadaran Hukum Pada Remaja Sebagai Implementasi Program Zero Street Crime Di Lingkungan Sekolah Askarial; Candra, Anton Afrizal; Mianita, Hilda
Journal Of Rural Community Development Vol. 3 No. 1 (2026): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/4cpanz81

Abstract

Fenomena street crime yang melibatkan remaja menunjukkan kecenderungan peningkatan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Kampar. Rendahnya kesadaran hukum pada pelajar menjadi salah satu faktor kriminogenik yang mendorong munculnya perilaku menyimpang di ruang publik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hukum siswa SMAN 2 Bangkinang Kota melalui pendekatan edukasi hukum berbasis pengalaman (experiential legal learning) sebagai bagian dari implementasi program Zero Street Crime di lingkungan sekolah. Metode pelaksanaan dilakukan melalui lima tahapan utama, yaitu sosialisasi, pelatihan interaktif, penerapan teknologi kampanye digital, pendampingan komunitas pelajar sadar hukum, serta evaluasi dan keberlanjutan program. Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman hukum sebesar 46%. Program ini efektif dalam memperkuat literasi hukum remaja dan membangun budaya sadar hukum berbasis partisipatif.