Yulianti, Karina
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbandingan Implementasi Pembelajaran Daring dan Luring di Sekolah Dasar Yulianti, Karina; Utomo, Utomo
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i2.2231

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan dari implementasi pembelajaran daring dan luring. Penelitian ini dilakukan pada tingkat sekolah dasar yaitu di SDIT Adda’wah dengan sampel yang digunakan adalah para tenaga pendidik di SDIT Adda’wah, dengan kategori 1 guru kelas rendah dan 1 guru kelas tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis fenomenologi, data yang digunakan bersumber dari data primer berupa wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder berupa dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan berkaitan dengan implementasi pembelajaran daring dan luring di SDIT Adda’wah. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran luring lebih cocok diimplementasikan di tingkat sekolah dasar utamanya di SDIT Adda’wah karena pembelajaran luring/tatap muka dapat memberikan pengalaman belajar secara komprehensif atau utuh. Selain itu dibandigkan dengan pembelajaran luring, peimplementasian pembelajaran daring di tingkat sekolah dasar mengalami hambatan yang berkaiatan dengan proses pembelajaran pada umunya yaitu masalah interaksi antara peserta didik dan pendidik juga antar peserta didik, tuntutan penguasaan teknologi, masalah bimbingan siswa, pencapaian tujuan pembelajaran, proses pembelajaran cendurung membosankan, siswa cenderung pasif dan masalah kejujuran siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Perbandingan Implementasi Pembelajaran Daring dan Luring di Sekolah Dasar Yulianti, Karina; Utomo, Utomo
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i2.2231

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan dari implementasi pembelajaran daring dan luring. Penelitian ini dilakukan pada tingkat sekolah dasar yaitu di SDIT Adda’wah dengan sampel yang digunakan adalah para tenaga pendidik di SDIT Adda’wah, dengan kategori 1 guru kelas rendah dan 1 guru kelas tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis fenomenologi, data yang digunakan bersumber dari data primer berupa wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder berupa dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan berkaitan dengan implementasi pembelajaran daring dan luring di SDIT Adda’wah. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran luring lebih cocok diimplementasikan di tingkat sekolah dasar utamanya di SDIT Adda’wah karena pembelajaran luring/tatap muka dapat memberikan pengalaman belajar secara komprehensif atau utuh. Selain itu dibandigkan dengan pembelajaran luring, peimplementasian pembelajaran daring di tingkat sekolah dasar mengalami hambatan yang berkaiatan dengan proses pembelajaran pada umunya yaitu masalah interaksi antara peserta didik dan pendidik juga antar peserta didik, tuntutan penguasaan teknologi, masalah bimbingan siswa, pencapaian tujuan pembelajaran, proses pembelajaran cendurung membosankan, siswa cenderung pasif dan masalah kejujuran siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Analysis of STAD model on students with low abilities in learning geometry Pahmi, Samsul; Priatna, Nanang; Yulianti, Karina; Nurulaeni, Fitria; Kumar, Akash Satish
UNION : Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/union.v11i1.13723

Abstract

This research is based on the mathematics learning outcomes of elementary school students which are still low in terms of student learning outcomes. The current study reveals that as many as 66.67% of students have not been able to achieve the minimum requirements, especially in the section of geometry; reflecting a need to improve mathematics learning outcomes. This gap in learning outcome is due to the fact that a majority of students tended to be passive during learning. The STAD learning model is a learning model that emphasizes student activities and interactions for learning mathematics in the classroom. The research design used in this study is a one group pretest posttest design. The sampling method used in the study was purposive sampling from a class of thirty elementary school students with issues related to mathematical abilities. Data collection techniques consist of primary sources in the form of tests, interviews, and observations, while secondary sources include documentation and literature studies. The data analysis technique used is the t-test (or using the Wilcoxon test if the data is not normally distributed), and the Gain Test. The results showed that there is a positive influence of STAD model on learning outcomes.
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Peradaban Yulianti, Karina; Wirasti, Kalinaya Dwinda; Arsita, Amalia Dea; Nurlina, Laily
DIALEKTIKA JURNAL PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA Vol 5 No 1 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58436/jdpbsi.v5i1.2608

Abstract

This study aims to describe the forms of code-mixing that appear in digital communication and analyze the social factors that influence them. The method used is a literature study by reviewing journals and scientific articles published between 2017 and 2025. The results of the study indicate that code-mixing occurs at the word, phrase, and clause levels, in both external (Indonesian-English) and internal (International regional language) forms. The use of code-mixing is influenced by bilingual ability, educational background, group identity, informal communication context, and digital cultural trends. This phenomenon reflects linguistic creativity and the formation of social identity, but still requires attention to prevent it from displacing the function of Indonesian as a unifying language.